
Pagi pagi sekali saat Sani keluar dia melihat ibunya dan juga Anggia tidur dimeja makan, Sani yang khawatir segera membangunkan mereka berdua.
"Bu Anggia kalian kenapa, ibu Anggia "
Mereka berdua langsung terbangun dan menatap Sani dengan kesal " Kamu ini gimana sih Sani, kita ini kelaparan gara-gara kamu kasih nasi goreng ke tetangga, kita aja di sini masih butuh kenapa kamu kasih kasih orang, kamu udah merasa jadi orang kaya gara-gara deket sama si Sena itu"
"Bukannya kalian bardua udah gak mau ya, kata Ayah takutnya nanti mubazir. Mending dikasih ke orang lain aja itu kan belinya juga pakai uang bu, kalau misalnya didiemin nanti gimana gak enak makanya sama ayah dikasih aja sama tetangga yang lewat"
"Ya tetep aja kali mau kita makan mau gak seharusnya simpan aja di sini, gak usah dikasih sama orang lain , kalian ini gimana sih lama-lama saya gila tinggal disini "
Mereka berdua bangkit Anggia langsung mendorong Sani dan pergi dari hadapan Sani "sabar Sani, sabar kalau ayah gak ada disini mungkin aku udah pergi "
Sani segera bangkit dan berjalan kearah dapur dengan masih kaki yang sakit, dia sampai lupa belum belanja, dengan cepat Sani keluar rumah dan pergi kewarung sayur yang dekat dengan rumahnnya.
"Bu "
"Eh neng Sani, kenapa aja gak keliatan kakinya kenapa neng "
"Ini bu saya kecelakaan jadi gini deh kakinya, bu saya mau beli sayur bayam, bawah merah, bawang putih, ikan kembung, sama itu bu cabe merah, "
"Siap neng, ini "
Sani segera memberikan uangnya dan mengambil belanjaannya serta kembaliannya "makasih ya bu "
"Sama sama neng "
Sani kembali kedalam rumah, memetik sayur bayam dan membersihkan ikan kembungnya, Sani sesekali melihat jam, lalu kembali fokus memasak.
Dan setengah jam kemudian selesai juga, Sani menyiapkan semuanya dan pergi kekamarnya, mandi, setelah semuanya selesai, Sani memakai seragam mengendong tasnya, sebelumnya dirinya sudah mengoleskan bedak bayi diwajahnya, itu saja yang dia pakai.
Saat Sani akan makan, semua makanan sudah habis, bahkan untuk ayahnya tidak ada "ibu Anggia kenapa semua makanan habis, aku dan ayah belum makan "
"Apaan sih kamu Sani, siapa suruh nasi goreng ibu dan Anggia kamu kasih sama orang lain, sekarang tak ada jatah makan untuk kamu dan ayah kamu "
"Yaudah deh sekarang ibu aja yang masak, Sani gak akan mau masak lagi "
Sani langsung pergi dari rumahnya dan menutup pintu cukup keras, selama perjalanan air mata Sani terus saja menetes.
Sekuat tenaga Sani menyembunyikan tangisnya, mengusap air matanya dan masuk kedalam angkot, masih dengan kepala yang menunduk menyembunyikan kesedihannya.
"Sani "
Sani mengusap air matanya dan mendongakan kepalanya "Arzan kamu ada disini, kamu naik angkot "
"Iya Sani, kamu kenapa kayanya udah nangis "
"Engga kok aku baik baik aja Zan, kamu gak biasannya naik angkot "
"Iya nih soalnya mobil aku lagi rusak, gak apa apa kali kali aku naik angkot mau coba "
"Emm iya Zan "
"Kiri " ucap Sani,
Mereka berdua segera keluar dari dalam angkot dan Arzan melihat Sani yag berjalan pincang "kenapa kamu sekolah kalau masih sakit "
"Emm aku harus sekolah kalau engga aku ketinggalan pelajaran Zan "
"Tapi kan kamu nanti bisa ngejar "
"Saniii "
Sani mengalihkan pandangannya ternyata Mira yang dateng "Mirr kamu ngagetin aja"
"Maafin aku ya, kamu kenapa masuk sekolah, padahal nanti aja jangan sekarang "
"Udah aku baik baik aja kok Mir "
"Eh ada Arzan kenapa ada disini, kalian berangkat bareng "
"Engga tadi gak sengaja ketemu diangkot "jawab Arzan sambil mengaruk kepalanya
"Hahh kamu naik angkot Zan "
"Iya emang kenapa Mir "
"Engga , gak biasannya aja"
__ADS_1
"Heheh iya nih mobil lagi rusak tadi cari taxi juga agak susah jadi berangkat pake yang ada aja deh "
"Ohh ok deh Zan "
Tiba tiba saja saat mereka sudah masuk kelas teman teman yang lain menatap Sani dengan kesal, bahkan ada Bella, Rizki dan juga Alvaro.
"Ini nih temen temen yang buat gue masuk kepenjara, perempuan ini s Sani, dia juga rayu papih gue, dasar perempuan murahan ya, ayo lempar dia pake telur ayo "
Sani yang masih diam terkena lemparan telur di jidatnya dan Arzan langsung melindungi Sani.
"Heh apa apaan sih udah udah " teriak Mira
Namun dirinya juga malah kenapa telur juga, dengan kesal Mira mengambil telur yang tadi mengenai kepalanya dan melemparnya kearah Alvaro.
Alvaro langsung memelotokan matanya dan membalas perbuatan Mira, namun Mira sudah keburu lari keluar dia akan memberitahu bu Sesil tentang kekacawan ini.
Sani mendongak menatap Arzan yang masih melindunginya, meskipun sudah dilindungi Arzan Sani masih terkena lemparan telur itu. Pakainnya sudah kotor dan baju Arzan apa lagi.
"Arzan udah gak usah lindungi aku Zan udah "
"Engga aku akan tetap lindungi kamu, " Arzan langsung mempererat pelukannya pada Sani.
**
Mira sudah sampai di ruangan bu Sesil dengan nafas yang gos gosan "ada apa dengan kamu Mira "
"Bu Sani dia dilempari telur sama satu kelas sama anak kelas kita bu "
"Apa kenapa bisa" sambil bangkit dan berlari kearah kelas Sani dan Mira.
"Ini gara gara Alvaro bu, dia biang keroknya bu "
"Apa itu anak gak pernah ada jera jeranya "
Saat sudah sampai dikelas alangkah kagetnya bu Sesil melihat keadaan kelas yang berantakan dan bau anyir "stopppppp kalian semua stopp "
Serentak mereka memberhentikan aksinya "apa yang kalian lakukan, apa kalian sudah tidak punya rasa malu, dengan melakan ini kalian seperti tak disekolahkan saja, "
Mereka hanya diam menunduk, bu Sesil mendekati Sani dan juga Arzan"kalian tidak apa apa "
"Tubuh kami berdua sakit bu, dilempari telur yang begitu banyak"
"Gak bisa gitu dong bu " teriak Alvaro
"Kamu Alvaro selalu saja membuat ulah, saya akan memberikan sp 1 sama kamu, cepat kalian semua pergi kelapangan, hari ini akan ada tamu tapi kalian malah membuat ulah "
"Gak adil bu Sesil ini selalu bela Sani "
"Kalian masih mau disini saya akan tambah hukuman kalian "
"Tidak bu "
Mereka semua pergi kelapangan dan mendumal selama perjalanan kelapangan.
"Sani kamu baik baik saja kan, ayo cepat kekamar mandi bersihan dirimu dan juga Arzan kamu juga ya "
"Iya bu " ucap Sani dan Arzan dengan kompak.
Saat bu Sesil melihat Sani berjalan pincang langsung memberhentikan langkahnya "kalau masih sakit kamu jangan sekolah Sani "
"Aku baik baik saja bu "
"Arzan tolong gendong Sani "
"Baik bu "
"Tidak usah bu aku baik baik saja "
Namun Arzan langsung mengendong Sani, "Zan udah turunin aku aja, udah aku baik baik aja "
"Udah kamu gak usah banyak bicara, biar kaki kamu gak sakit "
Akhirnya Sani diam saja dan menurut dan Sani malah melihat Sena, Sena yang melihat Sani berlumuran telur langsung memberhentikan langkahnya, Fatimah yang belum siap berhenti menumbruk pungkung tuannya.
"Ada apa ini dengan Sani, kenapa dia berlumuran telur dan digendong oleh Arzan "
"Begini tuan mohon maaf ini ulah dari Alvaro yang membuat Sani seperti ini "
__ADS_1
"Alvaro ? "
"Iya tuan "
Sena langsung mengambil alih Sani dari gendongan Alvaro dan membawannya begitu saja. Orang orang yang ada disana menatap kearah Sani dan Sena, bahkan Alvaro yang sedang dihukum dilapangan melihat papihnya membawa Sani.
"Om sudah turunkan aku, lepaskan aku, aku jalan saja tak enak dilihat oleh teman teman ku "
"Diam tak usah banyak bicara kau hanya perlu diam "
"Tapi om "
"Diam Sani aku bilang diam "
Sena membawa Sani masuk kedalam uks dan disana ada dokter yang biasa mengecek murid murid yang sakit "bisa kau keluar dari sini "
"Baik tuan "
Dokter itu segera keluar dan membiarkan Sena dan Sani berdua didalam sana. Sena langsung membawa Sani kekamar mandi "kenapa kau sekolah kau belum sembuh "
"Aku harus sekolah om, aku tak bisa diam dirumah saja"
"Tapi kau masih sakit "
"Aku baik baik saja om, sungguh aku baik baik saja "
Sena langsung membuka tas Sani dan juga jaketnya, saat akan membuka seragan Sani, Sani langsung menahannya. "aku bisa sendiri om, apakah om bisa keluar "
Sena langsung saja keluar dan menutup pintunya, sungguh dirinya kesal saat melihat Sani di gendong oleh laki laki lain, dan juga dia tak terima Sani di pegang.
Dia tak menyangka akan ketemu dengan Sani, dia sudah memikirkan Sani dari tadi pagi dan berharap bertemu Sani dan benar saja bertemu kan, tapi dengan keadaan yang menyedihkan.
"Sani Sani bagaimana aku tak bisa kalau tak melihat mu sehari saja, aku harus bagaimana aku binggung Sani, "
Sena langsung mengeluarkan ponselnya dia sampai lupa untuk memberi pakaian ganti pada Sani.
"Hallo Fatimah "
"Iya tuan ada yang bisa saya bantu "
"Belikan seragam baru untuk Sani di koprasi sekolah dan pakaian dalamnya "
"Memangnya ada pakaian dalam di koprasi sekolah tuan "
"Kau fikir saja, cepat pergi dan belikan apa yang minta "
"Ukurannya berapa pak "
"Entahlah aku tak tau mungkin M , kau bisa lihatkan bagaimaan ukuran tubuh Sani kau kira kira saja "
Sena langsung memutuskan sambungannya dan menatap kamar mandi, mendengar gemericik air yang ditembulkan Sani.
**
Fatimah yang binggung segera pergi dan ke koprasi sekolah dan bertemu dengan bu Sesil, "bu apa ibu tau ukuran pakain Sani "
"Tentu kenapa bu Fatimah "
"Saya disuruh sama tuan Sena untuk membeli pakaian seragam baru untuk nona Sani dan juga pakaian dalamnya memangnya disini ada ya pakaian dalam "
"Kalau untuk pakaian dalam tak ada, tapi kalau untuk ukuran seragam Sani M, tapi M juga masih terlalu besar longgar, tapi apa itu saja agar kepakai lama "
"Baik bu Sesil makasih, lalu untuk membeli pakaian dalam dimana, "
"Disebrang sekolah ada toko pakaian coba ibu kesana, ini pakaiannya bu "
"Baik ini uanganya terimaksih bu atas informasinya sangat membantu sekali "
"Sama sama bu "
Fatimah segera berlari kembali dan keluar dari sekolah membeli pakaian dalam dan juga beberapa setelah pakaian, entahlah untuk apa.
Setelah semuanya selesai Fatimah segera berlari kedalam sekolah lagi dan mencari ruangan uks, "dimana sih ruangan uks, pusih deh ah "
Fatimah melihat petunjuk yang ada di sampingnya, ternyata uks ada disebelah kanan, kembali Fatimah berlari dan mengetuk pintu uks.
Pintu terbuka dan menampakan Sena"ini tuan saya juga membeli beberapa pakain "
__ADS_1
"Ok "
Pintu langsung ditutup kembali oleh Sena "apakah tak ada terimakasih terimakasihnya "