Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Kena juga


__ADS_3

"Mira saya mau berbicara dengan kamu mungkin kita harus berbicara berdua"


"Tidak, saya tidak mau anak saya berbicara denganmu saja Tuan. Saya takut nanti anak saya malah diintimidasi olehmu. Lebih baik kau netral saja berbicara langsung di sini di hadapanku ibunya dan juga guru-gurunya" ucap mamihnya Mira


"Baiklah apakah kau yakin Sani yang melakukannya kau sudah berteman dengan Sani hampir 3 tahun apakah mungkin sahabatmu bisa melakukan itu padamu yang jelas-jelas baik dan selalu bersama dengan mu "


Mira masih saja menundukan kepalanya " iya Sani yang melakukannya karena aku sadar "


"Tatap mataku, jika kau tidak bersalah dan memang kau adalah korban maka lihat mataku jangan menunduk seperti itu seolah-olah kalau kau memang mempunyai kesalahan"


Mira dengan perlahan melihat mata ayahnya Alvaro, seram sekali, Mira kembali menunduk namun mamihnya menyenggol lengannya otomatis Mira langsung menatap kembali mata Sena.


"Kau ceritakan padaku yang terjadi sebenarnya sekarang, atau aku akan membawamu ke kantor polisi biar polisi sendiri yang mengintrogasi, kau tau yang kau lakukan ini mencoreng nama baik Sani, kau sudah menjatuhkannya dihadapan semua orang, kalau tidak aku akan membawakan orang spesialis yang bisa membaca setiap gerak gerik mu apakah kau sedang berbohong atau jujur aku pun akan melakukannya pada Sani, bagaimana ibu Mira apakah kau setuju dengan usul ku agar semuanya tau siapa yang salah dan benar , Sani sudah berbicara tidak dan kau berbicara Sani yang melakukannya jadi di sini siapa yang benar dan siapa yang salah kan masih belum ketahuan kan "


"Baiklah aku setuju dengan mu tuan, yang pasti anakku tak salah "


"Baiklah aku akan menelfon kenalanku "


Mira sudah takut wajahnya sudah tegang kenapa mamihnya berkata seperti itu, kenapa mamihnya menyetujuinya dengan gampang seharusnya mamihnya tak melakukan ini.


Saat Sena akan beranjak Mira langsung memberhentikannya " tunggu om jangan panggil siapa-siapa aku akan memberitahu siapa di sini yang salah dan siapa yang benar"

__ADS_1


Sena langsung duduk dan langsung menatap Mira dengan tatapan intimidasi nya " baiklah saya ingin dengan kau harus jujur dan jangan berbohong ingat jujur tidak berbohong "


"Iya aku akan jujur aku janji akan jujur aku tak akan bohong om, sebenarnya aku sendiri yang melakukan itu, semua yang dikatakan Sani pada kalian semua memang benar aku melakukannya sendiri untuk menjebak Sani. Aku ingin memberikan sebuah pelajaran padanya agar dia tidak mendekati Arzan lagi dia tidak menggoda Arzan lagi di sini aku yang salah bukan Sani aku yang telah melakukan semuanya"


Mira langsung menundukan kepalanya Sena sudah mengepalkan tangan kesal, dan mamihnya Mira langsung mencubit anaknya, bisa bisanya Mira melakukan ini, awas saja dia akan habis dirumah.


"Memangnya kau pernah melihat Sani menggoda Arzan kau tahu kan dia sedang berduka mana mungkin dia menggoda Arzan, seharusnya kau ini memilih temanmu bukan memilih laki-laki yang belum tentu mencintaimu, Sani sudah tentu menjadi sahabatmu teman terbaikmu tapi laki-laki belum tentu akan terus ada di sampingmu ingat itu, kalau memang sudah menjadi suami ya pantas dia ada di sampingmu tapi kau masih mengejarnya belum mendapatkannya kan, jadi jangan terlalu berharap dengan laki laki yang tak menginginkan mu "


Mira masih saja menunduk dan tak tahu harus berbicara apa, namun tiba tiba mamihnya menariknya keluar dan meninggalkan orang orang yang ada disini tanpa berbicara satu kata pun.


"Dengarkan bu Sesil dan kepala sekolah saya tidak mau kalian salah menilai lagi orang mana yang benar dan salah lagi, jika ini terjadi pada anak saya dan juga Sani maka saya tidak akan segan-segan untuk memberhentikan sumbangan saya di sini. Saya dengar lagi kalian melakukan kesalahan seperti ini maka saya tidak akan segan-segan melakukan itu sekarang Sani walinya adalah saya jadi kalau ada masalah apapun dengannya kabari saya"


"Maaf tuan sungguh kami dari pihak sekolah meminta maaf atas keteledoran kami, kami janji tak akan melakukan ini lagi " ucap kepala sekolah


"Di mana Sani Fatimah"


"Tadi saya sudah mengeceknya ke kantin tapi Sani tidak ada di sana Tuan, tapi Alvaro dan teman-temannya sedang mencarinya"


"Baiklah mulai sekarang kau jangan panggil Sani dengan sebutan nama saja, dia sekarang istriku tapi jika di hadapan Alvaro dan teman-temannya kau bebas memanggil namanya saja"


Fatimah yang sedang berjalan kaget sampai sampai dia tersandung, apa Sani istri tuanya sejak kapan, kapan mereka menikah apakah telinganya masih normal kan benarkan apa yang dirinya dengar kalau Sani sekarang adalah istri tuanya.

__ADS_1


"Fatimah apakah kau mendengar ku "


"Ya tuan saya dengar baik saja akan mengikuti apa yang tuan suruh, saya akan memanggilnya nyonya Sani "


"Bagus, apakah ada hal penting di kantor sekarang "


"Tidak ada ruan, semuanya sudah selesai. Tapi besok akan ada meeting jam 7 pagi tuan "


"Baiklah kau boleh langsung pulang sekarang "


"Baik tuan terimakasih "


Sena hanya mengangguk saja, dimana sekarang istri kecilnya itu, dirinya ingin segera menghampirinya dan berbicara kalau semuanya sudah selesai dan baik baik saja, istrinya tak salah.


**


Fatimah yang ada didalam taksi masih tak menyangka kalau tuanya Sena sudah menikah dengan Sani, jadi tadi perempuan yang dimaksud tuannya adalah Sani, jadi istrinya yang ada disekolah adalah Sani.


"Kapan mereka menikah kenapa aku tidak tahu, apakah sudah lama mereka menikah apakah Sani hamil dan tuan menikahinya tapi masa sih perutnya saja rata tidak kelihatan sedang mengandung kenapa tiba-tiba seperti ini, dan aku juga harus tutup mulut pada Alvaro berarti memang Alvaro tidak mengetahui kalau Ayahnya sudah menikahi temannya"


"Ah sudahlah biarkan aku jangan ikut campur, aku jangan sampai berbicara pada siapa pun termasuk Gea aku harus tutup mulut " gumam Fatimah.

__ADS_1


Dari tadi dia berbicara sendiri tapi tenang suaranya begitu pelan dan pak supir juga tak akan mengetahuinya, kepalanya masih mencerna tentang pernikahan tuan dan juga Sani, apakah mereka menikah karena ayahnya Sani meninggal.


Hemm bisa saja kan, ya bisa terjadi itu, sudahlah pusing juga memikirkan tentang kehidupan orang lain, lebih baik memikirkan diri sendiri saja bagaimana menghilangkan traumanya agar bisa menjalin kasih lagi dengan laki laki, bagaimana itu, sudah mencoba terapi kemana mana tapi tak ada hasilnya.


__ADS_2