
"Sini dong Mir gabung " ucap alvaro dengan wajah tengilnya.
Mira dengan kesal duduk dan menatap Alvaro "mami nggak percaya sama aku , kalau aku ini udah berubah aku nggak kaya dulu lagi aku bukan Mira yang dulu mih, kenapa sih mami nggak percaya aku udah bawa Sani kesini, katanya kalau Sani dibawa ke sini mami akan merubah segalanya nggak usah lah mamih ikutin kata-kata Alvaro dia itu cuman ikut campur aja"
"Kan namanya juga pendapat Mira gue itu ke sini cuman mau kasih pendapat aja, emangnya lo udah 100% berubah gitu nanti kalau tiba-tiba lo ngejar Arzan lagi jangan salahin bunda gue nanti dia yang disalahin lagi lo itu kan orangnya licik ups Maaf keceplosan "
"Gue udah berubah ya jadi lo nggak usah ikut campur mami gue cuman bilang Sani aja yang ke sini tapi lo nya aja yang mau ikut"
"Kalau bunda gue nggak ke sini juga gue nggak akan ikut, gini aja Tan kasih dulu aja dia kesempatan satu tahun di sini sekolah ya maksudnya kuliah gitu, kalau dia nggak berubah kuliahin aja dia di padang pasir sekalian "
"Lo ya Al "
"Udah Mira kamu jangan gitu sama tamu, kalian ini berantem terus gimana kalau jodoh "
"Amit amit " teriak mereka serentak
"Yaudah yaudah yu makan dulu aja, Tante udah masak banyak ayo ayo kita makan "
Mira lebih dulu pergi dia begitu kesal dengan Alvaro yang ikut campur seperti itu, kenapa coba harus ikut campur dia kan tidak tau apa apa.
**
"Anggia semenjak kamu ketemu sama Mira kenapa kamu banyak diemin aku,apa aku ada salah apa ada kata kata aku yang buat kamu gak enak, bicara sama aku ya biar aku gak binggung, aku gak bisa gini terus Anggia ayo bicara sama aku ya jangan diem aja, ayo bicara "
Anggia menatap Arzan dan kembali menulis catatan ya, tapi Arzan dengan cepat mengambil buku Anggi dan menyembunyikannya. Dirinya perlu berbicara dengan Anggia dirinya perlu meluruskan semua ini.
"Sini Zam aku lagi nulis cepetan aku nggak punya waktu, aku juga harus cepet-cepet berangkat kerja ayo sini kasihin bukunya sama aku "
"Ya jawab dulu kenapa kamu jadi kayak gini sama aku semenjak kamu ketemu sama Mira, apa kamu percaya aku ini pacaran sama Mira aku udah bilang kan sama kamu aku nggak pernah ada hubungan apa-apa sama Mira, kalau kamu nggak percaya kamu tanya aja sama Sani dia tahu semuanya dia tahu tentang aku dan juga Mira, jangan gini lah sayang, aku beneran gak punya hubungan apa apa sama Mira "
"Ya aku cuman ngerasa kalian berdua itu cocok aku ini bukan apa-apa aku ini bisa kalah kapan aja sama Mira, Mira itu cantik dia punya uang punya segalanya, sedangkan aku, aku nggak punya apa-apa kamu lebih cocok sama Mira deh dibanding sama aku karena dari segi apapun kita nggak sama, kita itu jauh beda banget "
__ADS_1
"Selalu saja ini yang kamu bahas, aku nggak perlu perempuan cantik aku nggak perlu perempuan kaya yang aku mau tuh cuman kamu kenapa sih kamu nggak bisa stay sama aku, jangan berubah kayak gini lah cuman gara-gara Mira, sebelum ada Mira kamu gak pernah gini, kamu berubah tiba tiba apa Mira datengin kamu lagi hah"
Anggia menghembuskan nafasnya dan menatap kearah Arzan "ya udah kita jalanin aja seperti dulu, kita jalanin hubungin ini "
"Ya kalau mau jalan kayak dulu kamu jangan berubah kayak gini dong, tiba-tiba berubah dan aku juga nggak selingkuh aku harus kayak gimana buktiin sama kamu kalau aku nggak selingkuh, aku nggak ada hubungan apa-apa sama Mira aku nggak suka sama sekali sama dia kalau emang aku suka Mira dari dulu mungkin aku udah sama dia"
"Ya aku tahu aku ngerti kok, udah yah "
"Ya udah jangan kayak gitu dong, jangan tiba-tiba menghindar dari aku tiba-tiba nggak mau dijemput tiba-tiba nggak aktif nomornya, kamu tuh bikin aku khawatir tahu nggak sih. Kamu sebelumnya gak pernah kayak gini "
"Maaf "
Anggia menjawab seadanya saja, fikiran Anggia begitu banyak belum orang tuanya dimana sekarang mamahnya, apakah dia baik baik saja apakah dia tak kenapa napa, kemana sebenarnya ibunya ini kenapa tiba tiba pergi seperti itu.
Dan kenapa juga ibunya tak menenuinya terlebih dahulu saat pergi kenapa tak mencarinya, kenapa ibunya malah jadi keluyuran seperti itu kenapa coba.
"Kamu punya masalah apa Mira biar aku bantu "
Anggia bangkit dari tempat duduknya namun Arzan memegang tangannya dengan sangat erat "jangan menghindar lagi Anggia "
Anggia duduk kembali dan menyenderkan kepalanya kebahu Arzan, sejenak dirinya ingin menenangkan pikirannya yang runyam ini.
***
"Sesuai apa yang dikatakan oleh Alvaro kamu akan sekolah disini, kamu akan kuliah disini, mamih akan uji kamu beberapa bulan kalau mamih liat kamu ngejar Arzan lagi mamih akan pindahkan kamu kuliah di tempat yang jauh, sampai sampai kamu gak akan bisa pulang "
"Kenapa mamih tega sama aku, kenapa mamih ikutin kata kata dia sih "
"Yaudah kalau kamu gak mau, kamu pulang lagi ke Jepang dan sekolah disana saja, mamih sudah lelah dengan sikap kamu "
"Hemm oke aku akan buktiin sama mamih kalau perkataan laki laki ini gak bener aku gak akan kejar Arzan lagi "
__ADS_1
"Kita lihat aja Tan, sekalian kita pantau dan nanti aku tanya sama Arzan apakah Mira ganggu Arzan atau ngejar lagi "
"Alvaro " teriak Mira.
"Mira kamu gak sopan ya, gak boleh kayak gitu kenapa kamu teriak sama Alvaro gak boleh kayak gitu "
"Serba salah "
"Mamih tak jadi menyekolahkan mu disini "
"Ya ampun maaf mih maaf aku minta maaf sama mamih, tolong jangan kayak gitu aku janji gak akan bentak bentak orang lagi aku minta maaf "
"Mamih pikirin dulu "
"Mihh "
Mamihnya Mira langsung bangkit dan memberikan piring piring yang ada dimeja dan Mira mengikuti kemana langkah mamihnya.
"Liat kasian kan, kamu ini jail banget "
"Gak apa apa Bun, biarin aja lah dia mohon mohon sama mamihnya, biar bisa mikir dia dan berusaha sendiri "
"Kasian "
"Udah jangan banyak kasian, ngapain Mira dikasihani dia itu nyebelin "
"Awas jodoh "
"Enak aja ya Bun gak mungkin aku jodoh sama perempuan kayak Mira bisa bisa aku mati "
"Ist gak boleh gitu "
__ADS_1
Alvaro hanya nyengir saja mendengar itu