
Sena yang terbangun malam malam keluar dari kamarnya dan menatap istrinya yang tertidur, Sena dengan perlahan turun dari tempat tidur dan pergi keluar dari kamar tiba-tiba saja perutnya begitu lapar biasanya dirinya kelaparan di tengah malam, padahal tadi sudah makan malam loh tapi perutnya malah keroncongan lagi aneh sekali kan ada apa dengan dirinya ini tak biasanya.
Sena mencari-cari makanan dan untungnya masih ada masakan maminya yang tersisa dengan cepat Sena mengambil piring dan juga nasi, mengambil lauk pauknya lalu memakannya dengan lahap, rasanya begitu nikmat tak ada yang berubah.
"Sena kamu ngagetin mami aja"
Sena yang juga kaget langsung terbatuk-batuk dan mengambil minumannya "mami yang ngagetin tiba-tiba bicara kayak gitu mami kok belum tidur sih, ngagetin aja tahu "
"Ya tadi mami kebangun karena dengerin ada suara ternyata kamu lagi di dapur, kayak gini kah kebiasaan baru kamu setelah menikah Sen "
"Nggak tahu nih tiba-tiba aja lapar tiba-tiba pengen makan bawaan bayi mungkin mih, aku gak biasannya makan malam malam loh "
"Ah itu mah kamunya aja kelaparan gimana keputusan kalian berdua Sani mau kan tinggal di rumah dan jangan kuliah dulu, dia mau kan ambil keputusan mamih "
__ADS_1
"Gini mih, aku sudah memutuskan semuanya dan ini memang keputusanku sendiri Sani lebih baik kuliah dulu saja sampai kandungannya 7 bulan atau 6 bulan lah setelah itu baru cuti kuliah, dia juga kan baru masuk mih, pasti dia juga bisa jaga kandungannya dengan baik dia juga bisa bergaul dengan orang yang baik, mami tidak usah mengkhawatirkannya ya" Sena sengaja mengatakan itu agar maminya juga tidak marah pada Sani atas keputusannya.
"Padahal mami maunya Sani itu tinggal di rumah aja Sen dia kan baru pertama hamil, apalagi di luar sana tuh nggak aman takutnya ada orang jahil gitu yang tiba-tiba dorong Sani atau Sani kesenggol terus jatuh kan orang yang lagi hamil tuh kadang rentan banget loh"
"Iya mih Sani ngerti kalau mami khawatir dengan keadaan Sani dan juga bayinya tapi nggak apa-apa kok mih, biarin dia kuliah biarin dia bergaul dulu dengan teman-temannya yang lain umur Sani itu masih muda mih, dia tuh seharusnya sekarang tuh lagi main-main sama temennya, ya hangout sama teman-temannya udah nggak apa-apa dia juga pasti bisa jaga kok anaknya dengan baik, ya mami nggak usah khawatir pokoknya semuanya akan baik-baik aja."
"Ya sudah deh mami juga nggak bisa ubah keputusan kalian berdua. Sani kan istri kamu semua keputusan ada di tangan kamu, mami nggak mau egois lagi mami tidak akan mengatur lagi tentang rumah tangga kamu kalau memang itu yang terbaik untuk kalian berdua mami akan terima tapi Sani harus selalu bekal dari rumah ya jangan makan sembarangan"
Sena tersenyum senang akhirnya maminya sudah berubah tidak seegois dulu, tidak mau menang sendiri akhirnya mamihnya bisa menerima keputusan seseorang. Dulu dia sangat sulit untuk menerima keputusan siapapun termasuk dirinya.
"Baiklah mamih senang mendengarnya, ya sudah kau habiskan makanan mu itu, lalu kembalilah tidur kasihan Sani tidur sendirian jangan banyak-banyak tinggalin dia kamu harus jaga ibu hamil itu ya, apalagi kan kadang ibu hamil tuh suka kelaparan tengah malam suka pengen ini itu dan kamu harus stand by 24 jam buat ibu hamil itu ya, kasian dia "
"Iya mih siap "
__ADS_1
mamihnya langsung pergi dari hadapan Sena untuk melanjutkan tidurnya kembali, sedangkan Sena kembali memakan makanannya perutnya masih lapar dan ingin terus mengunyah mungkin apa saja akan dirinya kunyah, tapi tidak dengan kursi keras yang ada giginya patah.
***
"Ke mana ini Anggia kenapa tidak pulang-pulang ini sudah jam 12.00 malam tapi Anggia belum pulang juga. Apakah benar ada yang menerimanya untuk bekerja. Apakah benar ada yang membantunya bagaimana kalau tidak ada orang yang membantunya, dia akan tidur di mana ya ampun anakku di mana kau kenapa kau begitu nekat aku juga bodoh kenapa tidak mengikuti Anggia tadi, ya maksudnya mengikutinya dengan sembunyi-sembunyi kalau udah gini susah kan mau cari Anggia ke mana udah malam juga dari tadi ditungguin nggak datang-datang hujan lagi tadi mau cari sekarang jam 12 mau cari ke mana, Anggia juga gak punya ponsel lagi "
Sarah terus saja membuka tutup horden, dia khawatir dengan keadaan Anggia, "Anggia ayo cepat pulang Ibu menunggumu jangan membuat Ibu khawatir seperti ini kamu di mana, kamu sama siapa sekarang maaf ibu khawatir dengan keadaan mu "
Sarah keluar dari rumah lalu mengunci pintu dan berjalan mencari anaknya Anggi, tanpa memikirkan ini sudah jam 12.00 malam yang terpenting adalah sekarang anaknya ketemu di mana Anggia kenapa dirinya bodoh membiarkan Angga pergi begitu saja tanpa menahannya, kenapa Anggia melakukan ini, padahal diam saja disampingnya hidupnya akan senang, hidupnya akan bahagia.
Sarah sudah berjalan begitu jauh, namun tidak menemukan anaknya sama sekali Sarah celingak celinguk ke arah kanan kiri lalu melihat ke depan ke belakang sepi sudah tidak ada orang lain tidak ada orang lagi.
Sarah segera berputar arah dan kembali lagi ke arah rumah Sonia "aku tak bisa mencari malam-malam seperti ini, takutnya nanti ada orang yang jahat tiba-tiba, aku tidak mau mati konyol aku harus pulang dulu, besok aku akan mencari lagi Anggia. Aku khawatir sekali dengan keadaannya jangan sampai pagi-pagi aku mendapatkan kabar buruk tentangnya, jangan sampai itu terjadi yang ada nanti Sani akan senang dengan keadaan anakku, dia sekarang sudah bahagia dan tidak membawa keluarganya dia bahagia di atas penderitaan keluarganya sendiri, dasar anak tidak tahu diri dia itu padahal dari kecil yang mengurusnya adalah aku, tapi Sani tidak membalasnya dia malah asik sekarang dengan suaminya dan juga mertuanya seharusnya dirinya ada di sana bersama, bukannya begini luntang-lantung dan tinggal di rumah orang lain" tiba-tiba saja Sarah mengomel pada Sani, padahal Sani tidak ada sangkut pautnya kan tapi dia merambat pada Sani karena keadaan yang seperti ini.
__ADS_1
Padahal kan semua ini terjadi karena kesalahannya, bukan karena Sani, kalau saja dia dulu menyayangi Sani dengan tulus mungkin jalan ceritanya tak akan seperti ini.