
Ayahnya Sani masih saya diam, merenung tentang kata kata anak tirinya dan istrinya, tadi dirinya tak sengaja mendengar ucapan dari sang istri dan juga anak tirinya..
Tak terasa air matanya sampai mengalir kenapa mereka berdua begitu jahat pada anaknya apa salah anaknya sebenarnya, padahal Sani membiayai mereka berdua tapi mereka begitu membenci Sani, memakai Sani seperti sapi perah saja mereka tidak memikirkan bagaimana Sani. Apakah dia sudah makan, apakah dia lelah apakah dia sudah belajar, tidak ada rasanya yang mereka pikirkan tentang hal itu mereka hanya memikirkan tentang dirinya sendiri.
"Ibu maafkan ayah yang tidak bisa menjaga anak kita dengan baik, maafkan ayah seharusnya Ayah tidak menikah lagi waktu itu dan membiarkan Sani malah menjadi sapi perah seperti ini maafkan ayah, ayah terlalu bodoh Ayah kira dulu Sani akan senang jika memiliki ibu tiri dan juga adik tiri. Namun nyatanya tidak Sani malah diperlakukan seperti tak adil seperti ini, aku perhatian sedikit pada anak kita pasti mereka mengoceh dan mengatakan kalau aku tidak adil pada anaknya Anggia. Sebenarnya aku ini harus bagaimana aku ingin kembali bersama anakku tapi aku sulit bahkan untuk pergi keluar saja aku tidak bisa Bu, aku kecelakaan bu, dan aku malah jadi beban anak kita "
Ayah Sani mencoba untuk mencurahkan semua isi hatinya pada istrinya terdahulu yang sudah meninggal ibunya Sani, meskipun memang dia tidak bisa mendengar tapi setidaknya hatinya senang bisa bercerita pada ibunya Sani, meskipun dia sudah tidak ada tapi tetap saja Ibu Sani ada dalam hatinya dia akan terkenang selalu dalam hati dan jiwanya tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan ibunya Sani dalam hatinya dirinya dulu menikahi ibunya Anggia karena ingin membuat Sani lebih nyaman dan lebih tenang saja ada ibu yang mengurusnya kembali tapi nyatanya malah tidak seperti itu, anaknya malah diperlakukan tidak adil sangat tidak adil mereka hanya memikirkan tentang diri mereka sendiri dan tidak memikirkan suami dan anak sambungnya, begitu egois dan tidak tahu diri sekali.
**
Sena yang baru saja pulang dari makan malannya yang begitu panjang mendapatkan terus menerus telfon dari nomor asing, mana mungkin dirinya akan mengangkatnya biarkan saja tak penting, untuk apa mengangkatnya.
__ADS_1
"Siapa sih ganggu dari tadi telfon terus aja, angkat dulu deh biar gak berisik, nih telinggu udah sakit dari tadi dengan nada dering, kalau ponselnya dimatikan bagaimana kalau ada Alvaro atau Sani menelfonkan "
Dengan kesal Alvaro segera mengangkat telfonya " Halo dengan siapa saya bicara kenapa dari tadi anda terus menelpon nomor saya, ada kepentingan apa sampai-sampai anda menelpon saya seperti ini, jika tidak ada kepentingan jangan menelepon saya di malam hari seperti ini tidak sopan"
"Sena ini aku Sonia tolong aku, aku diculik tolong aku lepaskan aku Sena aku tidak bisa menelpon siapa-siapa lagi yang aku ingat hanya nomor teleponmu saja tolong bantu aku, aku begitu butuh bantuanmu tolong aku"
"Kau hanya mengingat nomor teleponku saja waktu dulu kau ingat tidak nomor telepon suamimu tidak kan kau pergi bersama laki-laki, harusnya kau sekarang ingat dengan laki-laki itu bukan nomor teleponku, sudahlah kau jangan membohongiku, jangan menelponku seperti ini aku tidak suka jika kau sekali lagi menelponku dan menggangguku aku akan melaporkannya kepada polisi"
Tau saja dia kalau diriku akan mematikan sambungannya "apa lagi, kau hanya sedang membodohiku tidak usah meneleponku lagi aku tidak suka ditelepon olehmu dan jangan pernah meminta tolong padaku, karena aku ini bukan siapa-siapamu kau hanyalah mantan istriku kau tidak ada gunanya lagi buatku dan kau tidak akan berguna sampai kapanpun untukku dan kau juga jangan harap akan bisa lagi kembali padaku dan juga Alvaro karena itu hanyalah sebuah lamunanmu saja, kita tidak akan pernah kembali lagi sampai kapanpun tidak akan pernah kembali"
Setalah mengatakan kata pedas itu Sena langsung mematikan sambungannya, untuk apa coba dia minta tolong pada dirinya karena sampai kapanpun dirinya tak akan mau kembali bersama Sonia, tak akan terjadi kembali kesalahan yang sama itu.
__ADS_1
"Sonia tahu nomor teleponku dari siapa. Aku tidak pernah menyebarkan nomorku selain ke teman kantorku dan teman dekatku saja Sheila juga tidak mungkin memberikannya tapi bisa saja dia yang memberikannya, sepertinya aku harus mengganti nomorku kalau nanti saat aku ganti nomor Sonia masih menelponku, masih menghubungiku berarti ada orang kantor yang bekerjasama dengannya pasti ada seseorang yang membantu Sonia, aku yakin itu "
Kembali ponsel Sena berdering namun kali ini dengan nomor yang berbeda, Sena tak mau mengangkatnya pasti ini kembali Sonia dirinya tak akan pernah mau mengangkat telfon dari Sonia si pembohong dan pemeras uang laki laki.
"Kau terus saja telfon aku Sonia karena sampai kapan pun aku tak akan mengangkat telfon dari mu, aku tak akan mengangkatnya, mau kau menganti nomormu seribu kalipun aku tak akan menjawabnnya keparat "
Sena yang kesal akhirnya mematikan ponselnya juga, biarkan saja nanti kalau anaknya butuh pasti akan menelfon ketelfon rumah, ya begitu sajalah dirinya cape sekali ingin segera beristirahat, cape dari tadi jalan jalan terus.
Sena pergi kekamar mandi dan membersihkan diri sebentar lalu menganti pakainnya dan naik keatas tempat tidur "Kapan tempat tidur di sampingku akan ada yang menempati, aku tidak mungkin kan tidur sendirian terus-menerus sepanjang seumur hidupku semoga saja Sani adalah jodohku tidak semoga tapi harus Sani harus menjadi jodohku aku harus menikah dengan Sani, apapun resikonya aku harus menikah dengan perempuan kecil itu aku tak akan melepaskannya sampai kapanpun"
Sena membaringkan badanya dan mengambil guling guling " sekarang aku memeluk dulu guling nanti aku akan memeluk Sani, sekarang kau yang gantikan dahulu Sani karena dia belum siap untuk menikah dia masih sekolah, kau akan aku peluk sebelum aku mempunyai istri sebelum aku menikah dengan Suni, jadi kau harus bangga karena kau sering ku peluk setiap malam aku ini laki-laki tampan kau harus bangga guling-guling bisa dipeluk bisa tidur denganku ada di sampingku setiap hari"
__ADS_1
Sena memejamkan matanya sambil memeluk guling guling itu dengan nyaman, lalu mengambil selimbutnya dan tertidur sambil memeluk guling yang begitu empuk dan nyaman sekali, guling guling memang teman paling setia diseluruh dunia dia selalu ada dan selalu menemani tidur siapapun, tapi jangan sampai guling guling ini berubah menjadi pocong mumun, seperti difilm film dulu masih ingat dirinya dengan pocong mumun.