Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Pernikahan dan kematian


__ADS_3

Sena langsung maju dan menggenggam tangan ayahnya Sani " Saya bersedia untuk menikahi Sani sekarang juga"


Sani yang mendengar kata-kata dari Sena langsung mendongakan kepalanya dan menatap langsung ke arah om Sena yang menyanggupi semuanya apakah ini benar apakah ini tidak mimpi.


"Terima kasih nak "


"Baiklah Bara aku akan menyediakan semuanya dulu aku harus pulang bersama Sena harus membeli cincin dan juga mas kawin"


"Cukup cincin saja Ariana aku tidak akan meminta mahar besar ataupun mas kawin yang banyak"


"Shut diam biar aku yang urus, Sani ayo kau juga harus bersiap "


Sani hanya bisa mengikuti ibu Ariana, dirinya masih binggung, kenapa harus tiba tiba seperti ini, dirinya ingin berbicara pada ayahnya namun ibu Ariana sudah terlanjur membawanya pergi dari ruangan sang ayah.


**


"Apakah ayah yakin akan menikahkan mereka berdua, lihatlah Sena itu lebih cocok untuk menjadi ayahnya bukan untuk menjadi suaminya"


"Sudah lah bu ini sudah pilihanku, aku sudah memilih untuk anakku Sani dan aku percaya kalau Sena bisa menjaga Sani dengan baik saat aku pergi nanti Sani tidak akan kesusahan lagi dia akan bahagia bersama orang pilihannya dan pilihanku juga. Aku tahu Ariana aku mengenal dekat dengannya jadi aku yakin Ariana akan menjaga Sani dengan begitu baik dan akan menganggapnya seperti anaknya sendiri, kau tidak usah takut anakku akan baik-baik saja aku tidak akan pergi dengan tenang jika anakku masih belum menikah memang dia sekarang masih sekolah tapi tidak apa sebentar lagi juga dia lulus dan semuanya beres"


"Lalu bagaimana dengan Anggia dia juga masih sekolah dan harus kuliah lalu siapa nanti yang akan membiayai semuanya, memangnya Sani mau membiayai Anggia saat sudah menikah nanti "


"Tentu saja aku tidak akan membiarkan anakku untuk membiayai kalian berdua saat aku pergi anakku juga harus lepas dari kalian berdua, anakku tidak akan pernah membiayai kalian berdua lagi sudah cukup bu kau membuat Sani seperti sapi perah sudahi semuanya"


"Kau yahh "


Sarah langsung mendekat suaminya dan akan memukulnya namun keburu datang 2 orang laki laki, Sarah langsung membalikan badannya.

__ADS_1


"Siapa kalian kenapa kalian masuk kemari, keluar kalian salah ruangan "


"Saya diperintahkan oleh ibu Ariana untuk menjaga bapak Bara di sini jadi kami berdua tidak bisa keluar jika memang ibu keberatan dengan saya maka ibu dan juga perempuan ini boleh keluar dari ruangan ini"


"Sialan kalian semua memang sama saja tak ada bedanya akhhh "


Sarah langsung menarik anaknya keluar dari ruangan itu, sungguh dirinya kesal sekali. Sani selalu mendapatkan apa yang dia mau sedangkan Anggia sama sekali tidak.


**


"Sah "


Pernikahan Sani dan juga Sena sudah terlaksana di rumah sakit hanya ada ibu ayahnya Sena dan juga Anggia dan ibu Sarah serta ayahnya Sani dan tak lupa penghulu, akhirnya ayah Sani lega saat sudah melihat anaknya menikah bahkan dia sampai menangis.


Ayahnya langsung memegang tangan Sani dan juga Sena " tolong jaga Sani Sena ayah tolong kamu selalu bahagiakan dia"


"Pasti ayah tenang saja, Sani akan bahagia dengan saya, Sani akan baik baik saja dengan saya, sekarang ayah lekaslah sembuh "


Sena langsung memencet tombol merah dan datanglah dokter dan juga suster.


"Tolong bisa tunggu diluar saya akan mengecek pasien "


Sena langsung membawa Sani keluar, sekarang sudah sah menjadi istrinya, anaknya Alvaro sama sekali tidak diberitahu mana mungkin diberitahu yang ada Alvaro akan mengamuk dan marah-marah pada Sani dan dirinya lebih baik sekarang Alvaro tidak tahu dulu daripada dia marah-marah dan membenci mereka berdua.


Sani langsung memeluk Sena dengan air matanya yang sudah mengalir "om ayah "


"Shut tenang ya pasti ayah akan baik baik saja "

__ADS_1


Sena menatap wajah cantik istrinya dan mengecup keningnya memang pernikahan yang mendadak dan sederhana namun dirinya senang bisa memili Sani seutuhnya.


Dokter belum juga keluar, keluarga sudah khawatir, sedangkan ibu Sarah dan juga Anggia mereka malah duduk dan memainkan ponselnya tidak peduli dengan keadaan suaminya yang sedang kritis sekarang mereka hanya asyik pada dunianya masing-masing.


Tiba tiba dokter keluar dan membuka maskernya lalu menghembuskan nafasnya dengan berat "maaf kami tidak bisa menyelamatkan bapak Bara "


"Apa tidak tidak mungkin dokter cek lagi pasti keliru ayah nggak mungkin tinggalin Sani gitu aja, coba dokter periksa lagi"


"Sudah sayang ayah sudah tak ada "


Sani langsung berlari masuk ke dalam ruangan itu dan melihat ayahnya yang sudah ditutupi kain putih Sani langsung memeluk tubuh ayahnya "kenapa ayah tinggalin Sani, kenapa ayah pergi dengan cepat Sani juga baru aja nikah tapi kenapa ayah udah tinggalin Sani harusnya ayah tuh bahagia sama Sani "


"Ayah bangun " ucap Sani sambil mengguncang guncang tubuh ayahnya.


ibu Ariana langsung mendekati Sani dan mengusap punggungnya "sudah nak ayahmu sudah tidak ada kita harus ikhlas " sambil menghapus air matanya.


Namun Sani masih saja menangis, dia menggoyang goyangkan tubuh ayahnya lebih kencang lagi, dia masih tak menerima, baru saja ayahnya tadi berbicara dengannya tapi kenapa secara tiba-tiba ayahnya meninggal kenapa seperti ini kenapa takdir selalu mempermainkan dirinya.


Sani tiba tiba pingsan dan untung saja bisa tertahan oleh ibu Ariana Sena segera mengangkat tubuh istrinya dan membawanya keruangan sebelah yang kebetulan kosong.


Sedangkan Sarah dan Anggia masih tidak percaya kalau ayah tirinya itu meninggal bagaimana dengan sekolahnya bagaimana dengan biaya-biaya kehidupannya Sani saja sekarang sudah menikah dengan lelaki kayak itu lalu bagaimana dirinya dan ibunya.


"Ibu ini bagaimana suamimu itu sudah meninggal lalu aku harus sekolah bagaimana, aku harus kuliah dan kebutuhanku pasti akan banyak dan Sani juga sekarang sudah menikah dia tidak akan dengan sukarela memberikan uangnya pada kita, bu bagaimana ini bu semuanya kacau"


"Sudah sudah kau tenang saja surat rumah sudah di tangan ibu kita jual saja rumah itu, untuk biaya masuk sekolah dan yang lain-lainnya kita jual kau tenang saja sekarang pura-pura menangis, pura-pura lah kah kalau kau kehilangan cepat-cepat pura-pura lah, bayangkal hal sedih"


"Baiklah bu tapi benar ya kita akan seperti biasa hidup seperti biasa dan tidak akan kekurangan apapun"

__ADS_1


"Iya iya tidak akan cepat kau berlari ke ayah tirimu dan peluk dia cepat-cepatlah membuatlah drama sedikit cepat


Anggia dengan patuh segera melakukan apa yang ibunya katakan. Dia berlari ke arah ayah tirinya memeluknya dengan erat dia juga menangis dengan meraung Raung.


__ADS_2