Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Tau rasa


__ADS_3

"Kalian ini kerjanya apa kenapa rumah ini berantakan sekali, aku sudah bilang kan pada kalian berdua untuk membereskan rumah setiap hari, aku tidak suka rumah yang berantakan seperti ini apa kalian berdua tidak punya telinga "teriak Sonia pada Anggia dan juga ibunya Sarah.


Sonia begitu cerewet dan membuat ibu serta anak itu seperti pembantu tak memikirkan perasaan mereka atau bagaimana apakah mereka menerima atau tidaknya diperlakukan seperti ini olehnya, oleh dirinya.


Sarah bangkit dan menatap Sonia dengan kesal " kami juga sudah beres-beres dari tadi tapi kau selalu saja memberantakan rumah ini. Kau bisa tidak menghargai kami berdua di sini memang kami menumpang di rumahmu tapi setidaknya hargai kami yang selalu membereskan rumahmu yang berantakan ini, kau hanya makan dan makan dan makan tapi kau tidak memberikan kami uang kau tidak melakukan apa yang sudah kita sepakati. Bukannya kau akan membantu kami bahkan kami sudah memberikan uang yang tuan Sena berikan pada kami berdua kepadamu seharusnya kau memberi kami makanan enak bukannya seperti ini kami berdua di sini itu bukan pembantu, dan kami berdua tak berniat untuk menjadi pembantu "


"Ya sudah kalau kalian tidak terima dan tidak mau membereskan rumahku lebih baik kalian sekarang pergi dan jangan pernah ada di rumah ini lagi, aku tidak membutuhkan orang-orang seperti kalian yang hanya ingin menumpang tidur dan tidak mau membayar sudah enak aku menampung kalian berdua, kalau bukan aku yang menolong kalian siapa coba, anggap saja uang yang kalian berikan padaku itu adalah uang sewa dan uang sewa kalian sudah habis jika kalian tidak mau terus bekerja padaku maka pergilah aku tidak peduli aku bisa mengerjakan tugasku sendirian tanpa bantuan kalian berdua, aku bisa "


"Kau ya " teriak Sarah


Namun Anggia segera mengusur ibunya dan membawanya kedalam kamar, dirinya harus berbicara pada ibunya jangan sampai terbawa emosi.


"Sudahlah Bu kita mengalah saja kalau kita pergi, kita mau tinggal di mana, aku tidak mau ya tinggal di kolong jembatan ataupun di luaran sana luntang lantung, aku malu jika nanti bertemu dengan temanku aku ini lulusan sekolah terbaik aku tidak mau membuat diriku malu Bu, aku ini punya harga diri bu, aku tidak mau diejek dan direndahkan bu"


"Tapi kenapa hidup kita seperti ini kacau sekali. Ibu kira setelah Sani menikah dengan laki-laki itu dia akan membawa kita ke rumah besarnya, tapi nyatanya tidak kita malah terjebak dengan perempuan penyihir itu dia mengambil uang kita, harusnya ibu lebih memelas lagi pada Sani, pasti dia akan menerima kita, diakan tak tegaan anaknya "


"Bukannya ibu sendiri yang memberikan uang itu. Anggia sudah bilang kan jangan Ibu kasih uang itu pada perempuan itu kita simpan saja, tapi ibu malah memberikannya pada dia alhasil kita nggak punya uang sedikitpun Bu, kita nggak punya uang sepeserpun. Padahal kita bisa nyewa rumah pakai uang itu untuk satu tahun tapi ibu dengan gegabah kasih uang itu sama orang lain yang baru kita kenal, bahkan kita kenal pun enggak sengaja sama dia dan saat ibu tahu itu mantan istrinya Tuan Sena ibu dengan senang langsung mengajaknya kerja sama, tapi pada akhirnya kita kan yang di sini yang menderita bukan dia


"Ya ibu tahu, ibu tahu ibu yang salah, maafkan ibu, ibu tak tahu kalau ujung ujungnya akan seperti ini, ibu kita semuanya akan lancar lancar saja sayang, sudahlah ibu juga pusing, baiklah kita kerjakan saja pekerjaan rumah yang sangat melelahkan ini"

__ADS_1


Sarah keluar dari kamar dan berhadapan dengan Sonia yang sedang menatap mereka dengan angkuh.


"Jadi bagaimana keputusan kalian berdua, ingin pergi atau mengikuti apa yang aku mau membereskan semua pekerjaan yang ada di rumah ini, ayo cepat katakan aku tak punya banyak waktu untuk mendengarkan kalian berdua "


"Kami akan tetap membereskan rumah ini tapi seperti apa yang pernah kau janjikan pada kami, kau harus menjodohkan anakmu dengan anakku dan kau harus memberikan kami upah yang besar kami ini kerja bukan cuma-cuma, kami juga ingin punya upah kamu juga ingin punya uang bukannya malah kami yang membayarkan kau, terbalik sekali kan


"Hemm baiklah baiklah sekarang kerjakan "


Sonia segera keluar dari dalam rumah, dirinya sekarang akan bertemu dengan orang yang sudah memata matai. anaknya.


Dirinya harus mendapatkan dimana anaknya sekarang kuliah maka dirinya akan mudah untuk mengatakan semuanya.


"Tidak Bu aku cape, ibu saja aku lelah membereskan rumah ini terus, Aku ingin tidur siang Bu sekali-kali aku tidur siang selama tinggal di sini aku belum pernah tidur siang, maka Ibu kerjakanlah sendiri ini juga salah ibu kan menerima tawarannya aku sudah mencoba untuk membujuk Ibu untuk tidak mengikutinya tapi Ibu dengan gegabah malah mengikuti perempuan itu"


Anggia langsung masuk kamar tanpa mendengarkan kata kata dari ibunya yang pasti hanya mengeluh saja nantinya.


**


"Bagaimana kau sudah menemukan di mana anakku sekarang, aku butuh dia "

__ADS_1


"Sudah Sonia dia sekolah di luar negeri bersama temannya Rizki aku sudah melacaknya dan aku juga sudah mendapatkan nomor teleponnya yang terbaru"


"Ya ampun kerjamu begitu cepat sungguh aku sangat berterima kasih mana nomornya"


"Ets tunggu dulu, mana upahnya"


"Kau ini baru saja aku pekerjakan sudah minta upah, nantilah setelah aku berbaikan dengan anak ku, aku pasti akan membayar mu, sekarang lebih baik kau berikan dulu nomor itu padaku setelah aku bisa menghasut anakku dan buat dia kembali padaku aku pasti akan membayar semuanya, anakku orang kaya dan suamiku juga orang kaya kau tenang saja"


"Tapi kau awas jangan berbohong padaku aku tidak mau ya kau berbohong dan mengelabui ku nantinya"


"Tidak tidak tidak aku tidak akan berbohong aku berjanji padamu, aku tidak akan berbohong maka berikanlah nomornya padaku sekarang dan kau boleh pergi setelah itu aku pasti akan memberimu dua kali lipat atau tiga kali lipat seperti apa yang kau mau aku janji akan membayar semuanya"


"Baiklah ini aku berikan padamu"


Sonia dengan senang segera mengambil kertas itu dan pergi dari hadapan laki-laki itu, dia begitu senang akhirnya dirinya mendapatkan nomor telepon anaknya memang sengaja sepertinya anaknya mengganti nomornya hanya untuk tidak dihubungi olehnya.


Pasti ini adalah ajaran neneknya atau ajaran Sena agar tidak menerimanya sebagai ibunya, padahal dirinya berhak atas Alvaro dirinya adalah ibunya dirinya yang melahirkannya, maka dirinya yang lebih berhak atas anak itu.


"**

__ADS_1


__ADS_2