
Alvaro yang sudah sampai sekolah dan sudah ada didepan kelasnnya segera mencoba membuka pintunya namun sulit karena dikunci.
Alvaro melihat kearah kaca namun gelap, tak terlihat "Sani lo didalam kan, Sani "
Alvaro kembali kearah pintu dan akan mendobrak pintu namun Rizki datang "jangan dulu Alvaro ini gue bawa kunci "
Tanpa bicara pada Rizki Alvaro langsung membuka pintu itu, dan benar ada Sani yang tergeletak "Sani bangun San " teriak Alvaro sambil menguncang tubuh Sani.
Namun Sani sama sekali tak merespon, Alvaro menyobekan seragam putihnya dan menalikannya kejidat Sani agar tak mengeluarkan darah lagi, semoga saja bisa.
Alvaro langsung mengangkat Sani di ikuti oleh Rizki yang ketakutan "Lo nyetir ya cepetan "
Rizki mengangguk dan mengambil kunci mobil Alvaro dan langsung masuk menyusul Alvaro yang sudah ada didalam.
"Sani bangun San bangun "
"Kenapa sekarang kau menjadi peduli sama Sani Alvaro"
Alvaro melihat kearah Rizki lalu kembali melihat keadaan Sani " kenapa aku bisa peduli karena aku manusia. Bukan setan seperti kalian berdua, aku masih peduli meskipun aku tidak suka padanya"
"Aku tadi ingin menolongnya tapi Bella tidak memperbolehkan aku untuk menolongnya, makanya aku membiarkannya begitu saja"
"Kau lebih takut pada Bella dari pada menyelamatkan nyawa orang lain, padahal itu lebih penting. Kenapa kau tidak menyelamatkan dahulu Sani setelah Bella pergi. Kenapa kau melakukan itu Rizki. Kenapa tadi saat aku bertanya padamu kau tidak menjawab , seharusnya kau bilang telah melukai Sani. Mungkin kita sudah bisa membawanya ke rumah sakit lebih cepat, kau lihat darahnya begitu banyak. Apakah kalau terjadi sesuatu kau akan bertanggung jawab"
"Aku minta maaf tolong maafkan aku, aku tidak tahu kalau kejadiannya akan seperti ini. Aku hanya takut saat akan berbicara padamu . Aku takut sekali aku minta maaf padamu"
"Sudahlah lebih cepatlah kau membawa mobilnya kerumah sakit "
__ADS_1
Rizki mengangguk dan kembali menambah kecepatan mobilnya, dirinya sangat takut sekali, takut sekali kalau terjadi sesuatu pada Sani, nanti kalau dipenjara bagaimana coba, bagaimana dirinya masih sekolah.
**
Sedangkan Sena masih saja tak enak hati, dirinya masih memikirkan tentang keadaan Sani, wajahnya begitu gelisah, tak tau harus melakukan apa " Tuan apa kau baik-baik saja"
Sena langsung menatap kearah Fatimah "entahlah aku tiba tiba sangat khawatir dengan keadaan Sani, apa ada sesuatu yang terjadi padanya aku begitu khawatir dengannya"
"Mungkin itu hanya perasaan Tuaan saja"
"Tidak ini sangat berbeda, berbeda sekali tidak biasanya aku sangat khawatir sekali pada Sani, biasanya aku tidak seperti ini, ini melebihi saat aku khawatir saat kakinya yang terkirir"
Sena kembali melihat kearah jendela, Sebenarnya apa yang terjadi padamu Sani aku begitu kuatir dengan keadaanmu. Apakah kau di sana baik-baik saja .Apakah ada yang melukaimu sampai-sampai aku seperti ini, semoga saja kau baik-baik saja dan ini hanya sebuah firasatku saja semoga saja.
**
Sani sudah siuman dia sudah sadar dan kepalanya sudah diobati " Iya tidak apa-apa aku pun sudah baik-baik saja kan"
Alvaro yang mendengar jawaban Sani segera menoyur kepala Sani "lo bicara baik-baik aja sedangkan kepala lo berdarah seperti itu gila ya"
"Ya mau jawab apa lagi Alvaro . Terus aku harus marah-marah gitu sama Rizki nggak mungkin kan semuanya udah kejadian"
"Gimana lo aja cepetan makan. Setelah itu kita pulang"
Alvaro langsung membawa Rizki keluar dari dalam ruangan "ada apa Alvaro "
"Gue mau lo rahasiain semua ini , lo jangan pernah bilang sama Bella kalau gue yang selamatin Sani, ingat gue nggak mau dia malah lukain Sani lagi. Bukannya gue suka sama Sani atau gimana. Gue cuman kasian aja sama dia gue juga udah menyesal karena udah Bully dia waktu itu, makanya gue pengen baik sama dia tuh karena gue malu dengan kelakuan gue yang dulu"
__ADS_1
"Iya lo tenang aja, gue nggak akan bilang sama Bella tapi gue juga minta sama lo, lo jangan bilang sama Bella kalau gue juga kasih tahu tentang masalah ini, gue juga nggak mau dia marah-marah sama gue, lo tau sendiri kan pacar lo gimana dia itu egois banget"
"Iya gue tahu kita jaga rahasia masing-masing aja ya, jangan sampai terbongkar dan jangan sampai ada yang tahu kalau kita berdua yang nolongin Sani"
"Deal "
Mereka segera bersalaman dan perjanjian pun akhirnya di buat oleh mereka berdua.
**
Alvaro masuk lagi ke dalam ruangan Sani sendirian karena tadi Rizki berpamitan untuk pulang.
"Cepetan makan kok belum dimakan sih, tadi kan gue suruh buat makan"
"Aku nggak berminat makan Alvaro, bisa nggak kamu anterin aku buat ke tempat kerja sekarang, aku harus kerja, aku sudah telat beberapa jam, aku harus kerja aku nggak bisa berleha leha kayak gini"
"Lo itu ya terus aja mikirin kerjaan, sedangkan diri lo lagi sakit kayak gini udah lu tenang aja kalau kehilangan pekerjaan itu lo bisa nyari lagi , nanti gue yang bantu sekarang tuh kesehatan lo udah cepetan makan"
"Emang dengan secepat itu kamu bisa dapetin kerjaan buat aku ya itu kesempatan aku buat kerja, aku baik-baik aja kok aku beneran sehat. Aku udah baik-baik aja aku mau kerja aja Alvaro aku nggak bisa kayak gini terus"
Alvaro bukannya menjawab dia malah menyuapkan satu sendok nasib pada Sani " udah makan aja ngomong terus dari tadi makan bukan disuruh ngoceh"
Sani dengan cepat mengunyah makanannya saat akan menjawab lagi Alvaro malah menyuapkan satu sendok lagi nasi pada mulutnya akhirnya Sani diam saja tidak berbicara lagi menerima satu suap satu suap makanan dari Alvaro.
"Nah gini dong makan habisin bukannya susah banget disuruh makan itu banyak banget alasannya, kalau di suruh makan tuh ya makan bukannya mikirin kerjaan terus kerjaan terus, emang dengan kerjaan lo bisa kenyang nggak kan tenang aja cuman libur 1 hari nggak akan buat lo dipecat kok ,nanti juga bisa bilang kan telepon sama bos lo kalau lo tuh Tadi ada kecelakaan, bilang itu aja susah banget sih"
Sani tak menjawab dia hanya mengangguk saja, dari pada nanti panjang ceritanya dengan Alvaro lebih baik mengiyakannya saja dari pada kepalanya pusing ini tuh lagi.
__ADS_1
Pusing dibikin pusing lagi makin pusing dah ikutin aja apa mau Alvaro, dari pada berdebat terus-menerus karena dirinya tahu akan kalah dengan Alvaro.