Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Tak rela


__ADS_3

Dokter keluar "disini siapa keluarga bapak Bara "


Sani segera menghampiri dokter itu bersama ibu tirinya dan juga Anggia, "bagaimana keadaan ayah saya dok "


"Bapa Bara sudah sangat kritis apa beliau tidak pernah meminum obat ya"


Sani langsung mengalihkan pandangannya kepada dua perempuan yang ada disampingnya, ibunya hanya diam saja tak berbicara apa apa. "tapi ayah saya suka minum obat dok " ucap Sani


"Hemm baiklah kita tunggu bapak Bara sampai siuman, dia sudah kritis dan kita tak punya harapan banyak "


"Tolong ayah saya dok "


"Akan saya usahakan nona, saya permisi dulu "


Dokter itu langsung pergi, Sani langsung menghapus air matanya dan menatap ibu tirinya dengan muka yang sudah memerah "aku tanya sekali lagi sama ibu dan Anggia apa kalian suka kasih ayah obat atau beliin ayah obat"


Mereka masih saja diam tidak menjawab apa pertanyaan dari Sani mereka seperti tidak salah apa-apa. Sani yang kesal langsung mengguncang-guncang tumbuh ibunya "aku tanya pada ibu apakah ibu selalu memberi ayah obat. Kenapa ayah bisa kritis ini"


Ibu tirinya yang kesal langsung mendorong Sani, sampai tersungkur, Alvaro yang akan membantu tak jadi karena Sani sudah bangkit sendiri dengan masih menatap ibunya.


"Mana cukup uang yang kau berikan tidak cukup sama sekali untuk membeli obat ayahmu untuk sekolah Anggi ya untuk kebutuhanku untuk makan kita saja tidak cukup"

__ADS_1


Sani langsung tersenyum getir dengan air mata yang mengucur "ibu mengatakan itu dengan sangat ringan sekali ya, aku bekerja untuk ayahku bukan untuk kalian berdua aku bekerja untuk membeli obat ayahku bukan untuk menghidupi kalian berdua, kenapa ibu begitu tega pada ayah. Kenapa harus seperti ini Bu, aku banting tulang mencari uang untuk kelangsungan ayah untuk kesehatan ayah tapi kenapa ibu nggak beliin obat buat dia .Kenapa Bu"


Ibunya hanya diam, dan tangis Sani makin menjadi jadi saja sampai sampai dia terduduk dilantai dan menangis, Alvaro langsung berjongkok untuk menenangkan Sani, lalu menatap kedua orang yang tak punya hati itu.


"Kenapa kalian begitu jahat, kenapa kalian tak punya hati " tanya Alvaro dengan suara pelan


"Jangan kau ikut campur, kau tak tau bagaimana susahnya kelurga kami "


"Itu karena hidup kalian yang terlalu glamor makannya susah, kau tak melihat bagaimana Sani banting tulang mencari uang untuk ayahnya, dan kalian malah memakainya untuk kepentingan kalian sendiri "


Ibu Sarah langsung membawa anaknya Anggia pergi dari sana setelah Alvaro mengatakan hal itu, dirinya tak suka diceramahi oleh anak kecil, sungguh tak suka sekali. Wajar lah dirinya tak membelikan obat, uangnya saja tak cukup untuk dirinya dan juga anaknya.


Alvaro berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Sani, Sani masih saja menangis Alvaro menepuk-tepuk bahunya "kamu jangan nangis terus kayak gini San, kamu harus kuat ini mungkin sebuah ujian buat kamu kita doain aja semoga ayah kamu nggak kenapa-napa ya kalau kamu kayak gini terus siapa yang akan kuatin ayah kamu"


Sani langsung mendongakan kepalanya ke arah Alvaro "aku tuh sakit hati Al, aku kerja buat ayah aku, aku banting tulang buat dia berobat tapi uang yang selama ini aku serahin sama ayah aku ternyata nggak dibeliin obat malah dipakai foya-foya sama ibu aku dan juga kakakku, maksudku boleh uang itu diambil tapi setidaknya setelah beli obat ayah aku maka sisanya bebas mereka belikan apapun, semua yang aku lakukan semuanya sia-sia aku melakukan semua ini buat ayah aku Al, semuanya berantakan Al, aku pengen ayahku sembuh lagi, tapi karena keegoisan ibu tiriku ayahku malah jadi kayak gini"


Alvaro untuk kedua kalinya mengusap air mata Sani "Iya aku tahu kamu banting tulang buat ayah kamu tapi sekarang kamu harus kuat dia butuh kamu, aku akan selalu di samping kamu, kamu tenang ya San "


Tiba-tiba ponsel Alvaro berdering Alvaro langsung membawa Sani untuk duduk dan setelah itu dia pergi agak jauh untuk mengangkat telepon dari papinya, pasti papihnya akan menanyakan dirinya dimana, soalnya dirinya dan papihnya sudah janjian akan makan siang diluar, baru ingat dirinya.


"Hallo pih "

__ADS_1


"Kamu di mana Al , papih tadi ke sekolah kamu tapi kamu katanya udah pulang katanya mau pergi makan siang sama papi sekarang kamu di mana, papih harus tunggu kamu Diaman Al "


"Kayaknya nggak bisa dulu deh pih hari ini soalnya Alvaro lagi di rumah sakit, soalnya ayahnya Sani masuk rumah sakit, ngedadak banget nih pih "


"Apa terus keadaannya sekarang gimana apakah ayah Sani udah baik-baik aja Al "


"Kata dokter sih kritis dan aku juga lagi tenangin Sani, dia lagi nangis pih, nanti deh aku ceritain semuanya pokoknya aku sekarang nggak bisa makan siang bareng, papih makan siang aja sendiri maaf ya pih "


"Ya udah kamu temenin dulu aja Sani disana "


"Iya pih makasih"


Alvaro langsung memutuskan sambungannya dan duduk di samping Sani masih dengan mengusap-ngusap bahu Sani.


Sedangkan Sena sendiri dia menjadi kalang kabut, calon mertuanya sedang kritis lalu anaknya ada di sana terus apa yang harus dirinya lakukan sekarang, tidak mungkinkah dirinya pergi ke sana dan membuat anaknya curiga. Pasti Sani sangat terpuruk dan sangat rapuh sekali seharusnya dirinya ada di sana seharusnya dirinya yang menemani Sani.


Sena mengatur nafasnya dan mencoba untuk berpikir "aku tidak mungkin menelpon Sani yang ada Alvaro akan curiga, terus bagaimana ini aku khawatir sekali dengan keadaan Sani lebih baik aku ke rumah sakit saja lah, aku tak bisa diam terus seperti ini "


Sena langsung pergi ke arah rumah sakit dia harus pergi ke sana mau bagaimanapun nanti keadaannya, bagaimana nanti sajalah dirinya harus melihat keadaan Sani pasti dia sangat membutuhkan seseorang ya meskipun sekarang sudah ada anaknya yang pasti akan selalu membuat Sani tenang tapi tetap saja dirinya tidak rela Sani ditenangkan oleh laki-laki lain meskipun laki-laki itu adalah anaknya sendiri. Tak akan rela dirinya ini.


Sena tak lupa menelpon dulu Fatimah dia menyuruh Fatimah untuk mengerjakan semua tugas yang ada di kantor dan jika ada tugas yang memang harus dirinya kerjakan maka telepon saja dirinya, tidak mungkin dirinya langsung meninggalkan kantor begitu saja harus ada yang memantaunya dan Fatimah lah yang harus memantau semuanya karena dia asistennya.

__ADS_1


__ADS_2