
Setelah mengusir Bella dari sini Alvaro langsung membawa Sani duduk dan menutup wajahnya "sungguh aku meminta maaf sama kamu kita malah jadi gagal gara-gara Bella yang datang ke sini ini bukan salah kamu aku minta maaf banget sama kamu malah jadi kayak gini "
"Ya udah sih nggak apa-apa Alvaro mau kayak gimana lagi kita juga nggak akan bisa mengubah Bella untuk bisa berteman sama aku atau dia menjadi baik sama aku. Emang dia dari dulu kan udah benci sama aku. Meskipun aku nggak tahu alasannya apa benci sama aku tapi aku nggak akan bertanya lagi. Apalagi setelah aku sama kamu selalu main bareng ke mana-mana pasti Bella tuh makin benci dan menjadi-jadi apalagi kamu udah putusin hubungan kamu sama Bella menurut aku lebih baik kamu kembali lagi sama Bella Alvaro aku enggak mau Bella makin marah dan bisa aja celakain kamu juga kan lebih baik kamu kembali aja sama dia"
"Aku kembali lagi sama dia yang ada aku bisa stress dia itu udah keterlaluan banget aku pusing kalau harus balik lagi sama dia, emang kamu yakin suruh aku buat balik lagi sama dia, dia tuh kelakuannya kayak anak kecil banget. Aku harus kayak gimana lagi supaya dia berubah nggak ada cara yang bisa buat dia berubah Sani "
Sebelum Sani menjawab tiba tiba ponsel Alvaro berdering dengan cepat Alvaro segera mengangkatnya ternyata papihnya Vidio Call " Alvaro kamu baik-baik aja kan kenapa setiap papih telepon kamu nggak angkat. Ada apa, kalian gak apa apakan disama gak terjadi apa apakan disana"
"Nggak kok pih kita berdua baik-baik aja kita nggak terjadi apa-apa. Tadi emang lagi jalan-jalan aja kok pih. Maaf ya kalau aku sama Sani nggak bisa hubungin Papi. Ya udah ini Alvaro juga mau ke kamar Alvaro dulu tadi lagi main di kamar Sani kebetulan sambil anterin dia "
"Yaudah papih matikan dulu sambungannya "
"Iya siap pihh "
Setelah sambungan itu terputus Alvaro kembali menatap Sani "sekali lagi aku minta maaf ya sama kamu San, aku balik dulu ke kamar ya mau beres-beres dulu. Nanti pokoknya kalau ada yang ketuk pintu atau apa-apa kamu lihat dulu aja dari lubang kecil itu, kalau aku mau samperin kamu pasti aku telepon kamu ya kamu di sini aja jangan kemana-mana pokoknya aku takutnya Bella nanti malah balik lagi ke sini"
"Iya Alvaro aku pasti akan hati hati dan inget kata kata kamu "
__ADS_1
"Yaudah aku kekamar dulu "
Setelah Alvaro pergi Sani mendudukan bokongnya sungguh hari ini sangat melelahkan sekali, apalagi tadi Bella sudah menamparnya kenapa hidupnya begitu apes sekali, padahal kan kesini cuman mau anter Alvaro aja.
Apa karena aku yang bodoh mau aja diajak pergi sama pacar orang tapi kan kalau berteman ya bebas sama siapa aja aku pun sama Alvaro nggak ada hubungan apa-apa, aku nggak mungkin tolak apa yang Alvaro minta bisa-bisa dia nanti bully aku lagi dan marah sama aku.
Aku nggak mau sampai harus dibully lagi tapi juga aku nggak mau bikin Bella marah jadi harus gimana. Aku kok jadi pusing sendiri ya. Aku yang pusing lngsung beralih ke arah meja rias dan melihat pipiku yang sebelah kanan merah sekali bekas ditampar oleh Bella.
Saat aku akan masuk kekamar mandi, aku malah mendapatkan telfon dari om Sena, dan vidio Call lagi, aku dengan takut mengangkatnya terlihat wajah khawatir om Sena.
"Kamu ini dari tadi saya telepon kamu tapi kamu nggak pernah angkat dan tunggu itu pipi kamu kenapa merah kayak gitu apa Alvaro lakuin sesuatu sama kamu"
"Apa aku apa kalau kamu nggak mau jawab saya bisa tanya sama Alvaro dan saya bisa marahin dia juga jawab sekarang kenapa pipi kamu merah kayak gitu. Kayak habis ditampar kenapa kalian berantem Alvaro kasar sama kamu "
"Eh jangan om ini bukan salah Alvaro, ini bukan salah tadi Bella datang ke sini dan marah-marah karena aku pergi sama Alvaro gitu deh ceritanya om, om yah nyebelin banget sih tiba-tiba mau telepon Alvaro aja kalau dia tahu gimana om selama ini deketin aku apalagi sekarang om tinggal di sebelah rumah aku gimana kalau dia nanti marah. Om ini kadang-kadang suka nyebelin banget tau nggak sih ngelakuin sesuatu hal yang bisa membuat diri om celaka nanti kalau Alavro tahu kan bisa berabe juga om "
"Emang siapa yang lagi deketin kamu " Sani yang mendapat jawaban seperti itu dari Sena rasannya ingin sekali menyentil mulutnya om Sena yang menyebalkan itu.
__ADS_1
"Tau ah terus selama ini om ngapain suka deketin aku kalau bukan deketin ya udah om matiin aja sambungannya nggak usah telepon-telepon aku lagi aku mau mandi sekarang mau istirahat juga capek"
Jadi bad mood kan gara gara om Sena padahal aku ingin jawaban kalau dia pindah karena ingin mendekati aku, tapi ini malah kayak gini kesel kesel deh ah.
"Nanti saya belum selesai bicara sama kamu nanti dulu dong santai dulu saya bakal susul kamu sama Alvaro kesana "
"Mau apa om susul aku sama Alvaro ke sini jangan aneh-aneh deh om, lebih baik nggak usah om ini cari penyakit aja ya jangan dong aku juga sama Alvaro nggak lama-lama di sini, Alvaro juga nanti bakal aneh kenapa om tiba-tiba susul dia ke sini biasanya kan kalau Alvaro pergi kata Alvaro om juga bebasin dia kan"
"Iya buat awasin kalian berdua lah jangan sampai nanti kamu direbut sama Alvaro, kamu belum mengerti juga ya saya kenapa pindah rumah di dekat rumah kamu atau kamu harus saya ajarin dulu gitu buat ngerti bahasa saya"
Sani langsung tersenyum apakah benar om Sena pindah rumah untuk dekat bersamanya untuk bisa mendekatinya, apa om Sena mencintaiku.
"Heyy kenapa sekarang malah senyum senyum kamu gak apa apa kan, gak kesambet hantu disana "
"Apaan sih om enggak ihh, udah ah aku matiin dulu dadah om nyebelin aku mau mandi "
Sani dengan sepihak mematikan sambungannya, Sani tersenyum senang mendengar perkataan Sena tadi, apakah benar om Sena menghawatirkan dirinya karena cinta padannya sampai takut dirinya direbut Alvaro.
__ADS_1
Semoga saja benar agar cintanya tak bertepuk sebalah tangan aneh gak ya suka sama om om ganteng kayak om Sena ?