
"Mira kamu bener bener ya buat malu mamih, bukan kamu udah janji sama mami nggak akan pernah kejar lagi Arzan, sekarang apa kamu tiba-tiba pura-pura lakuin hal yang sangat menjijikan itu dan kau menuduh Sani yang melakukannya dari awal mami udah nggak percaya dengan kata-kata kamu, tapi karena mami ingin membela kamu tapi nyatanya benar kan apa yang mami duga, kalau kamu melakukannya sendiri apakah kamu gila hanya karena laki-laki kamu melakukan ini semua, di mana otak kamu hah di mana pikiran kamu Mira, kamu sudah menjatuhkan harga diri mami di depan guru-guru kamu dan juga Tuan Sena. Apakah kamu senang melakukan ini hanya karena seorang laki-laki hanya karena seorang Arzan kamu bisa mencelakai temanmu sendiri, kamu bisa memfitnahnya segila ini mami bersyukur tadi Sani melakukan itu padamu dia melakukan apa yang kau tuduhkan"
"Mami ini malah memarahiku saat pulang ke rumah, kenapa seperti ini mi bukannya mami menyemangatiku atau apa kenapa mami malah seperti ini aku juga gini gara-gara mami nggak restuin aku sama Arzan"
"Emangnya Arzan nya mau sama kamu kalau emang dia mau dan kejar kamu pasti mami akan restuin tapi, ini kamu yang kejar laki-laki mana mungkin mami mau restuin nggak ada sejarahnya ya perempuan ngejar-ngejar laki-laki, apalagi kamu itu anak mami, kamu ini anak yang mami selalu manjain dan selalu mami beli apapun yang kamu tapi kenapa pada akhirnya kamu malah kayak gini kejar-kejar laki-laki, mami nggak nyangka kamu bisa sebegitunya sama laki-laki Mira, laki-laki ini di dunia banyak seharusnya kamu itu cari laki-laki yang mencintai kamu menyayangi kamu seperti ayah kamu menyayangi mami tidak seperti ini, kamu yang terlebih dulu mengejar Arzan yang ada kamu terlihat seperti perempuan murahan Mira"
Mira diam saja , dia menundukan kepalanya dan mengusap air matanya, kenapa sih sesulit ini mendapatkan laki laki yang dirinya inginkan, padahal dirinya ingin sekali ada di samping Arzan, apa yang sebenarnya dirinya tak punya, kenapa Sani selalu mendapatkan apa yang dia inginkan sedangkan dirinya tidak sama sekali.
"Iya aku tahu aku salah mih, tapi setidaknya mami jangan marahin aku kayak gini. Aku emang salah udah lakuin hal itu. Aku emang salah udah mau jelek-jelekin Sani di depan semua orang aku udah nggak tahu bagaimana lagi caranya buat dapetin Arzan. Aku benar-benar pengen ada di sampingnya mi aku nggak bisa hidup tanpa dia"
"Waktu kecil kamu tanpa Arzan bisa hidup kamu bisa hidup sampai sekarang umur 17 tahun, lalu sekarang setelah umur 17 tahun kamu nggak bisa hidup tanpa Arzan emangnya Arzan nasi bukan kan, dia manusia kamu itu seharusnya tidak bisa hidup tanpa nasi bukan karena laki-laki kamu ini aneh-aneh aja Mira, kamu ini masih kecil dan nggak tahu apa-apa lebih baik lupakan Arzan dan fokus buat kuliah mami nggak mau kuliah kamu kacau gara-gara dia dan kamu lebih baik pulang aja ke Jepang kamu sekolah aja di sana dan diam sama nenek kakek kamu"
"Enggak mi aku mau di sini aja, aku mau kuliah di sini aku nggak mau di Jepang aku mau diam di sini sama mami sama papih"
__ADS_1
"Yang ada kamu akan buat ulah lagi dan buat malu papi sama mami sekarang aja mami udah malu, mau disimpan di mana muka mami ini saat ketemu sama Tuan Sena dan juga guru-guru kamu, mami juga nanti saat kelulusan kamu kayaknya nggak akan datang di ke sekolah mami malu tau nggak sih ada di samping kamu, kamu ini udah buat malu keluarga hanya demi laki-laki saja bisa seperti itu. Papi kamu juga kalau udah tahu pasti dia marah sama kamu dan akan marah-marah kayak mami kayak gini. Untung aja mami yang datang ke sana bukan papih kamu
"Ya udah mami jangan bicara sama papi"
"Oke mami nggak akan bicara sama papi tapi kamu harus pergi ke Jepang dan sekolah di sana, satu lagi lupain Arzan mami nggak mau kamu terus mikirin laki-laki itu kalau emang dia suka sama kamu cinta sama kamu dia yang ngejar-ngejar kamu bukan kamu ini adalah kesalahan terakhir kamu dan buat mami malu jangan pernah terulang lagi Mira. Mami tidak akan pernah mentoleransi lagi jika kamu melakukan kesalahan seperti ini lagi, kamu ini seperti anak yang tidak dididik melakukan hal sebodoh itu dengan menyakiti diri sendiri hanya untuk dapat simpati dari orang-orang "
Setelah mengatakan itu maminya langsung pergi meninggalkan Mira, sedangkan Mira sendiri dia menangis dan menyesali apa yang telah dirinya lakukan, tapi bagaimana caranya dirinya untuk bisa mendapatkan Arzan seutuhnya.
Kenapa begitu sulit kenapa harus seperti ini dirinya hanya ingin bisa ada di samping Arzan saja tapi kenapa Tuhan tidak bisa mengabulkan apa yang dirinya inginkan kenapa, apakah dirinya harus seperti Sani dulu menjadi yatim piatu lalu semuanya akan dirinya dapatkan apakah itu yang harus dirinya lakukan untuk mendapatkan Arzan.
Sani yang sudah ada di rumah ibunya Sena segera mengganti pakaiannya dan segera keluar dari dalam kamar, sedangkan diruang tamu sudah ada teman-temannya yang sedang mengobrol dan ada dimeja ada kue tapi belum dipotong potong.
"San tolong potong-potongin dong buat kita " ucap Arzan
__ADS_1
Sani segera mengangguk dan duduk di kursi singel dia segera memotong-motong kuenya menjadi kecil-kecil lalu mengambil salah satu untuknya "udah nih ayo kalian makan"
Arzan dan Alvaro kompak mengambil kue yang di samping yang Sani ambil mereka malah berebut yang itu, Sedangkan Rizki sendiri dia mengambil yang lainnya Rizki menatap aneh pada teman-temannya ada apa dengan mereka berdua, kue ini banyak tapi mereka memperebutkan salah satu kue itu "kalian ini kenapa sih rebutin kue yang ada di sana ini banyak loh yang dipotong bukan satu atau dua, malah semua dia potong potong loh sana Sani, ini malah ngerebutin yang satu itu.
"Bodo ah " ucap mereka serempak.
Mereka masih saja berebut namun tiba tiba saja kue itu ada yang mencomot , Alvaro dan juga Arzan langsung mendongak dan melihat orang yang mengambil kue mereka.
"Papi kenapa ambil "
"Daripada kalian berdua rebutan kue yang satu itu mending papi aja yang makan"
"Bener Om bener makan aja Om mereka dari tadi rebutan aja kue yang ada di samping kuenya Sani, padahal tuh Sani udah makan kuenya " celetuk Rizki
__ADS_1
Sena menatap sekilas istrinya lalu duduk dan menatap kedua anak muda ini yang sedang saling senggol seperti anak kecil saja.