
Kelas Sani sudah bubaran bahkan Alvaro langsung keluar dengan cepat sekali ingin menemui Sani, bahkan sudah menelfon Sani tapi tak diangkat.
Mira yang terus saja mengikuti Arzan saat Arzan berhenti sampai menubruk punggungnya "Zan kenapa kamu berhenti tiba tiba kayak gini "
"Kamu yang kenapa dari tadi ikutin aku terus, jangan ikutin aku terus dong "
"Apaan sih aku sama sekali nggak ikutin kamu kan jalan keluar ke gerbang emang kesana ke depan kamu kegeeran banget sih, aku gak ngikutin kamu kok"
"Oh gitu ya, ya udah kamu jalan duluan aja "
"Gak kamu dulu aja Zan "
"Ehh kenapa kamu aja dulu silahkan "
Arzan langsung kepinggir dan Mira masih saja diam "kenapa masih diam, udah aku kasih jalan loh "
Mira dengan kesal langsung pergi begitu saja dan Arzan kembali berjalan lagi, pelan sekali jalannya, karena Mira yang ada didepannya jalannya juga sangat pelan sekali.
Arzan langsung berbelok kekantin saja, kalau misalnya dirinya jalan seperti siput terus menerus yang ada akan lama sampainya. Bisa bisa besok dirinya sampai kerumahnya kan gila ya.
Mira yang tidak melihat kembali Arzan di belakangnya langsung menghentak hentakan kakinya dan berjalan lebih cepat lagi "Kenapa sih dia terus hindarin aku apa gara-gara Sani juga , ya pastilah gara-gara anak itu siapa lagi kalau nggak gara-gara dia"
Mira langsung berjalan cepat kearah mang Asep yang sudah menunggu dan pergi dari sekolah, setelah Mira pergi ada seorang ibu-ibu yang turun dari mobil lainnya dan masuk ke dalam sekolah dia berjalan-jalan dan melihat anak yang akan dirinya temui ada tak jauh dari pengliahatannya. Memang sengaja dirinya datang langsung ke sekolah agar semuanya selesai dan laki-laki itu mengerti dan menjauhi anaknya untuk selamanya.
Arzan yang sedang makan melihat ada kaki seseorang tapi durunya yakin itu bukan temannya, Arzan mendongakan kepalanya ternyata itu mamihnya Mira "saya boleh duduk disini "
"Tentu ini bukan meja saya, jadi bebas siapapun duduk disini"
__ADS_1
Mamihnya Mira langsung duduk dan menatap Arzan yang masih acuh tak acuh, dia masih melahap makannya " Aku ingin kau menjauhi Mira untuk selama-lamanya dan jangan membuat harapan untuk Mira"
Arzan memberhentikan makannya dan menatap maminya Mira "dengarkan saya tante mohon maaf mungkin kata-kata saya akan sedikit kasar, tapi saya selama ini tidak mendekati Mira atau membuat harapan untuk Mira, saya sama sekali tidak melakukan itu bahkan setelah Mira mengatakan kalau dia mencintai saya, saya sudah menolaknya dan meminta dia untuk tidak berharap lebih pada saya, tapi anak tante saja yang terus mengejar saya, seharusnya yang diberitahu bukan saya tapi Mira "
"Ya intinya saya mau kamu jauhi anak saya Mira, saya tidak mau dia terus tergantung sama kamu dan malah membantah saya terus-menerus karena hanya mencintai kamu, saya sudah pernah bilang sama dia untuk melupakan kamu tapi dia malah balik marah pada saya. Mungkin nanti kalau kamu sudah jauh dari dia, dia akan bisa melupakan kamu bahkan gara-gara kamu hubungan persahabatan anak saya bersama Sani itu mulai renggang dan berantakan"
"Kenapa tante jadi menyalahkan saya, mungkin tante terlalu memanjakan Mira jadi dia berani menjawab setiap apa yang tante katakan dan untuk masalah persahabatan mereka berdua saya tidak tahu apa-apa, Miranya saja mungkin yang terlalu cemburu makanya seperti itu pada Sani, bahkan kalau Tante mau tahu saat tadi Sani sedang dibully oleh temannya Mira sama sekali tidak membantu dia hanya menengoknya sambil tersenyum-senyum Apakah anak tante itu tidak menakutkan, bahkan saya saja takut dekat dengannya takut-takut nanti saya malah dicelakain olehnya saya sudah menjauhi Mira tapi mungkin saja anak tante mengancam Sani sampai-sampai Sani menyimpan tas saya di meja Mera dan menyuruh saya duduk bersama Mira, Sani juga sekarang menjauhi saya, anak tante saja yang terlalu baperan dan terlalu cemburuan saya itu bersama Sani itu hanya teman tapi. Mira seolah-olah bertindak kalau saya ini pacarnya padahal nyatanya bukan saya sama sekali tidak ada hubungan dengan Mira"
Arzan kembali memakan makanannya lagi setelah menelannya Arzan kembali melanjutkan kata katanya " dan satu lagi tanpa tante suruh saya akan menjauhi Mira tapi tante juga harus beritahu anak tante jangan membawa-bawa orang lain dalam masalah ini, dengan dia yang menjahati Sani atau menjauhi Sani, mereka kan teman kenapa bisa seperti itu seharusnya Mira lebih dewasa tan nggak kayak gitu sikapnya, terlalu kekanak-kanakan saya malah jadi ilfil kalau misalnya kayak gitu lebih baik tante bicara sama anak tante jangan bicara sama saya. Karena tanpa tante suruh pun saya pasti akan menjauhi Mira dan tak akan pernah mendekati Mira sampai kapanpun, jadi tante bisa tenang saja kalau dari pihak saya pasti tidak akan mendekati Mira,jadi tinggal dari tantenya saja. Jelaskan dengan baik-baik pada anak tante yang manja dan tidak mengerti kalau diberitahu"
Setelah mengatakan itu semua Arzan langsung pergi meninggalkan Maminya Mira, tentu saja dirinya tadi sudah membayar saat memesan sedangkan maminya Mira masih duduk di sana dan memikirkan tentang kata-kata Arzan.
Anaknya sudah nekat ternyata hanya sebuah cinta hanya karena sebuah cinta dia sampai melakukan itu pada Sani, awal yang tidak baik sepertinya ini Mira akan membuat masalah sepertinya ya dirinya yakin Mira akan membuat masalah di sekolah ini.
Dirinya harus bertindak jangan sampai anaknya menjadi perempuan licik dan kejam, jangan sampai itu. Mamihnya Mira segera bangkit dan pergi dari sekolah sanh anak.
Sani yang sedang ada didalam mobil bersama Sena dikagetkan dengan dering ponsel dari ponsel Sani, Sani segera mengambil ponselnya dan ternyata itu dari Alvaro.
Sani melihat dulu kearah Sena "siapa "
"Alvaro om "
"Angkat saja jangan gugup, ingat jangan gugup sama sekali biasa biasa saja ya "
Sani hanya bisa menganggukan kepalanya dan mengangka telfon dari Alvaro "Hallo All "
"Kau dimana kenapa sulit untuk dihubungi "
__ADS_1
"Aku lagi di perjalanan pulang nih, tadi ponselnya didalam tas"
"Kamu baik-baik aja kan tadi Bu Sesil sampai ngambilin tas kamu kamu nggak kenapa-napa kan, kamu baik baik aja kan San "
"Iya aku baik baik aja kok, tadinya emang aku mau ambil tas aku sendiri tapikata bu Sesil biar dia aja yang ambil, jadi aku tunggu di uks sambil obatin luka aku"
"Syukur kamu baik baik aja, udahlah kamu gak usah kerja "
"Gak bisa Al aku kan udah ambil cuti jadi aku gak bisa kalau gak kerja kamu tenang aja aku baik baik aja kok "
"Ok deh kalau ada apa apa hubungi aku ya "
"Iya pasti All "
"Yaudah aku matiin dulu, aku lagi dijalan nih "
"Iya All kamu hati hati ya "
Setelah itu sambungan pun berakhir, Sani kembali menyimpan ponselnya kembali dan Sena menatapnya sekilas lalu "kamu gak usah kerja "
"Nggak bisa om aku harus kerja, aku mau kerja om tahu sendiri kan aku udah libur lama banget, jadi aku nggak mau deh tiba-tiba aja nggak masuk lagi udah Om tenang aja aku baik-baik aja, jangan berdebat aku nggak mau berdebat ya Om"
"Okk tapi ingat kamu harus hati hati "
"Iya om pasti "
Akhirnya Sena tak jadi berdepat awalnya ingin berdebat tapi Sani sudah lebih dulu mengitruksikan untuk dirinya tak banyak bicara dan mengajak Sani berdebat jadi ya sudahlah tak apa.
__ADS_1