
Singkat cerita kehamilan Sani sudah menginjak 5 bulan, bahkan dirinya sudah tak kuliah lagi, untuk Anggia dia juga sudah betah dan menikmati semua kegiatannya memang pada awalnya Anggia selalu mengeluh padannya namun lambat laun Anggia pun sudah terbiasa.
Dirinya tahu Anggia baru pertama kali kerja sambil menimba ilmu, dirinya juga dulu seperti itu, tapi karena kebutuhan dirinya harus bisa dan mampu melakukan itu dan pada akhirnya dirinya juga terbiasa kan.
"Sayang kau melamun saja bagaimana bila tangan mu terpotong "
Sani tersenyum dan mengusap tangan suaminya yang melingkar diperutnya " aku gak melamun kok bee aku hanya sedang memotong motong wortel, aku akan memasak hari ini, aku janji gak akan cape cape aku janji sama kamu, pokoknya kamu tenang aja "
"Jangan cape cape ya sayang, inget perut kamu udah besar"
"Iya iya aku ngerti bee aku gak akan cape cape kok, ini kan cuman masak aja jadi gak akan cape kok, tenang aja aku gak akan kecapean bee "
Sena yang akan menjawab malah mendengar suara ketukan pintu " sebentar biar aku yang buka "
__ADS_1
Sani hanya mengangguk dan kembali melanjutkan memasaknya bersama bibi. Saat Sena membuka pintu alangkah kagetnya Sena saat melihat anaknya Alvaro.
Dirinya belum sempat menemui anaknya saat mengetahui sang istri mengandung dirinya begitu senang sampai sampai melupakan tujuannya, melupakan tujuan utamanya untuk bertemu dengan anaknya dan menjelaskan semuanya.
"Bee siapa kenapa lama " ucap Sani sambil berjalan kearah suaminya
"Sani kamu ada disini, dan perut kamu kenapa besar siapa yang hamili kamu"
Alvaro yang masih binggung dan ingin tahu kejelasannya segera duduk dan Sani pun duduk berjauhan dengan Alvaro dan juga Sena.
"Jadi apa yang terjadi, dan apa yang Alvaro gak tahu, apa benar kata mantan istri papih kalau papih udah menikah sama Sani, apakah bener hah "
"Iya bener papih sama Sani sudah menikah, kami sudah menikah awalnya papih akan memberitahu mu tapi papih takut kamu marah, papih dan Sani menikah saat ayah Sani meninggal, papih menyanggupi kemauan ayahnya Sani, dan juga papih mencintai Sani, maaf bila papih telah melanggar perjanjian kita "
__ADS_1
Diam Alvaro menggelengkan kepalanya menatap ayahnya lalu menatap kearah Sani.
"Bukannya kita temen ya San, tapi kenapa diumpetin kayak gini kenapa nggak jujur dari awal dan papi juga kenapa nggak jujur dari awal, kenapa nggak bicara dulu sama Alvaro terus kenapa nggak bicara dulu apakah Alvaro nerima atau enggak, kenapa kalian tiba-tiba mutusin ini , terus Alvaro harus tahu saat Alvaro lagi pulang kayak gini kenapa coba " teriak Alvaro dengan marah.
"Papih sudah menjelaskan nya Alvaro ini bukan salah Sani, ini papih yang salah "
"Keterlaluan kalian berdua terutama kamu San, kamu bener bener ya, aku kecewa sama kamu, "
Alvaro langsung pergi, dan Sani mengejarnya " Al tolong dengerin dulu Al "
Namun Alvaro langsung menghempaskan tangan Sani yang memegang tangannya dan pergi begitu saja, sedangkan Sani dipegang oleh suaminya untuk yang mengejar Alvaro.
Sani sudah menangis histeris sambil berteriak teriak memangil nama Alvaro ,dirinya takut Alvaro pergi dari sampingnya dirinya tak mau pertemanannya rusak.
__ADS_1