
Sena sudah ada dikantor tapi dirinya masih kefikiran Sani, kefikiran tentang Sani yang berdua dengan Arzan.
"Shitt apa mereka punya hubungan, kenapa ini aku selalu kefikiran Sani dan ponselnya apa Sani sudah memakai ponsel itu "
Sena langsung menghubungi no ponsel Sani namun tidak aktif "Kenapa dia tak memakainnya untuk apa aku membelikannya kalau tak di pakai oleh Sani, apa yang harus aku lakukan supaya Sani mau memakainya, sepertinya aku harus meminta sekolah untuk mewajibkan seluruh siswa siswi membawa ponsel , hemm apa itu tak akan merugikan orang lain, tidak tidak jangan sampai aku menyusahkan orang lain, kan banyak yang seperti Sani di sekolah itu, aku tak boleh membebaninya jangaan lah "
Sena yang sudah terlajur pusing akhirnya pergi lagi dari ruangannya hari ini dirinya akan memantau Sani, pokoknya harus dipantau, untuk urusan perjanjian dari Alvaro dia tak memikirkannya yang terping sekarang adalah Sani.
Hatinya begitu resah dan tak tentu arah saat melihat Sani tadi berduan dengan Arzan, dan selalu bersama Arzan, bukannya teman Sani perempuan hanya satu tak ada lagi, dan Arzan bukannya bersama sang anak Alvaro namun sekarang kenapa bersama Sani.
Pasti ada sesuatu antara mereka berdua, makannya Sani bersama Arzan, pasti tak mungkin kalau tak ada apa apa mereka tak mungkin bersama seperti itu. Dia harus gerak cepat jangan sampai Sani terlanjur mencintai Arzan..
Sena sudah sampai disekolah Sani, dia menunggu diluar gerbang, bahkan dirinya memakai mobil Fatimah kemari untuk mengecoh sang anak agar tak tau kalau dirinya kemari, kesekolah bisa gawat kalau Alvaro tau.
Sena akhirnya melihat Sani tapi bersama teman perempuannya dan juga Arzan tentunya mereka berjalan bersam sama,"tuh kan pasti ini ada yang aneh, pasti mereka pacaran. " Sena dengan fokus menagao mereka bertiga yang berhenti tak jauh dari mobilnya.
"Aku duluan ya San, Zan aku udah di jemput nih "
"Iya hati hati ya " ucap Sani.
"Iya San dadah "
Setelah melambaikan tangan pada sahabatnya, Sani berhadapan denyan Arzan. "Kamu pulang bareng aku ya, aku udah di jeput kok, "
__ADS_1
"Engga usah Zan, aku harus ketempat kerja aku dulu, "
"Kamu beneran kerja "
"Iya aku kerja, aku harus bicara dulu sama mereka, kalau selama ini aku sakit, bukan sengaja gak masuk, aku pergi dulu ya Zan dadah "
Sani langsung berlalu dengan cepat meninggalkan Arzan yang diam melihat kepergian Sani yang menyebrang dan naik ojek.
Sena yang melihat kepergian Sani segera mengikutinya dari belakang "sebenarnya kamu mau kemana Sani, kenapa ini bukan jalan kamu pulang, bukannya ini jalan ke cafe waktu itu ya, iya bener tempat Sani kerja, bener bener apa dia mau kerja lagi, masa sih kerja tau ah ikutin aja dulu lah "
Sena melihat Sani berhenti dan dirinya langsung memarkirkan mobil, mengikuti Sani yang masuk kecafe lalu Sena duduk menunggu Sani, duduk tak jauh dari Sani.
"Kamu ngapain kesini lagi, saya udah pecat kamu ya, kamu udah gak masuk kerja lama, sekarang mau apa kesini, udah udah sana pulang jangan disini, sata udah gak terima kamu, kamu ini ya kerja seenaknya emangnya kamu maneger disini, emang kamu yang punya cafe ini, lebih baik kamu pergi dari sini, jangan ada disini ayo cepat pergi" teriak maneger disana
"Bu saya kecelakaan saya gak punya ponsel dan gak banyak yang tau kalau saya kecelakaan tolong kasih satu kesempatan lagi untuk saya, saya janji tak akan mengecewakan ibu lagi, saya akan terus masuk kerja tolong saya bu, tolong saya butuh pekerjaan tolong bu "
"Bu tolong kalau saya gak kerja, gimana orang tau saya, gimana keluarga saya, tolong kasiani saya bu, tolongg "
"Gak bisa Sani udah saya gak mau terima kamu kenapa ya geyel banget " sambil mendorong Sani.
Namun ada yang menahannya, Sani mendongak dan teryata om Sena." kau ini seorang perempuan kenapa begitu kasar pada perempuan lainnya, kau bisa berbicara dengan baik baik tidak usah berteriak seperti itu dan kasar mendorongnya"
"Kamu siapa tidak usah ikut campur, saya di sini hanya ingin semuanya adil dia sudah tidak masuk beberapa hari, seenaknya saja memangnya dia yang punya Cafe ini, bukan kan jadi saya memecatnya dan menggantinya dengan orang lain .Jadi kamu tidak usah ikut campur saya tidak punya urusan dengan kamu saya punya urusan dengan anak perempuan ini"
__ADS_1
"Saya tahu tapi kamu terlalu kasar dengan dia. Saya ingin ketemu dengan atasan kamu sekarang juga pemilik dari kafe ini saya ingin bertemu dengan dia"
"Untuk apa kau bertemu dengan atasanku, tidak usah ayo kalian berdua pergilah dari sini jangan mengganggu kami yang sedang bekerja "
"Om om udah ayo pulang om ayo "
"Gak bisa gitu San dia udah keterlaluan sama kamu, gak bisa saya harus bicara dengan atasannya, tak bisa didiamkan seperti ini "
"Tolong om udahh "
"Sudah sudah sana, kenapa kalian malah membuat drama disini ayo keluar "
"Lihat saja besok kau sudah tak bekerja disini "
"Ya ya terserah kau saja pergi sekarang " sambil mendorong Sani.
Sena segera menghentakan tangan perempuan itu dan menuntuk Sani untuk segera pulang dari sana, percuma kalau diteruskan.
Sena membuka pintu depan dan memasukan Sani, setelah Sani masuk barulah dirinya yang masuk. Lalu menjalankan mobilnya. Sani mengeluarkan sesuatu dan memberikannya pada Sena.
"Om meninggalkan uang dan juga ponsel di tas ku waktu di rumah sakit, ini aku kembalikan tapi maaf aku sudah memakai uangmu Rp200.000 tapi aku janji aku akan mengganti semuanya, nanti setelah aku mendapatkan pekerjaan baru. Maafkan aku Om"
Sena hanya menatap sekilas lalu menatap kembali kearah Sani " aku memang sengaja menyimpannya untukmu pakailah untuk sekolahmu dan untuk keperluan lainnya, sudah kau tak usah bekerja lagi, fokuslah sekolah aku akan membiayai semuanya membiayai keluargamu juga"
__ADS_1
"Tidak tidak bisa Om, aku tidak mau merepotkanmu lebih baik aku bekerja, tidak aku akan bekerja saja Om, tidak usah repot-repot sampai harus membiayaiku dan keluargaku. Aku tidak mau Alvaro makin marah padaku dan makin membenciku lebih baik tidak jangan dan ini tolong terima ponsel dan uangmu aku tidak membutuhkannya"
Sena langsung membehentikan mobilnya, menatap Sani dengan tajam, melihat sekilas uang dan ponsel itu, Sena main mendekat makin mendekat dann..