
Singkat cerita pagi pagi sekali Sani sudah siap akan berangkat kesekolah, tentang kejadian yang kemarin ya sudahlah dirinya tak terlalu fikirkan, untung aja kan Alvaro tak melihat dirinya dengan om Sena, kalau sampao kelihatan sudahlah habis dirinya ini.
Mau menjauhi om Sena bagaimana coba sulit dirinya kan masih punya hutang pada om Sena, jadi mau tak mau harus terus berurusan terus dengan om Sena.
Seperti biasannya Sani menaiki angkotan umum untuk pergi kesekolah, meskipun tadi Arzan menawarkannya untuk dijemput namun dirinya sama sekali tak mau, dirinya tak mau malah dianggap memanfaatkan kedekatanya dengan Arzan.
Sani yang sudah sampai disekolah segera masuk kedalam sekolah, dan sudah banyak yang datang, tiba tiba saat melewati ruangan penyimpanan alat alat olahraga dirinya mendengar ada sesuatu yang jatuh.
"Apa ya itu, jangan sampai orang "
Sani yang takut itu orang yang jatuh segera berlari masuk dan sangat sepi tak ada siapa siapa, saat menyalakan saklar pun tak nyala, "hallo apa ada orang "
Namun tak ada jawaban namun tiba tiba saja ada seseorang yang membuatnya kaget, sampai sampai Sani reflek memukulkan tasnnya kearah orang itu "ahhh hantu " sambil memekulinya bukannya keluar.
"Heyy apa apaan nih hey "
Orang itu segera menangkap tas Sani dan menarik tangan Sani sampai sampai Sani ada dalam pelukan orang itu, saat Sani mendongangkan kepalanya dirinya kaget ternyata itu Alvaro.
Dengan cepat mereka melepaskan pelukan itu namun malah rambut Sani yang tersangkut dan tanpa Alvaro sadari ponselnya masih menyala dirinya masih melakukan vidio Call dengan teman teman basketnya, dirinya tadi ingin mengambil bola, kali kali kan ambil sendiri.
Orang orang yang melihat itu kaget melihat Alvaro berpelukan sampai sampai mereka berkumpul, Alvaro langsung menyalakan saklar lampu yang satu lagi dan terang, mereka semua kagdt ternyata Alvaro sedang bersama Sani.
"Ngapain sih loh kayak gini, lepasin anjir lo ya kesempatan, ngapain coba masuk " masih sambil memegang pinggang Sani, karena badannya tertarik kearah Sani, gara gara rambut yang tersangkut.
"Apaan sih aku juga ke sini gara-gara tadi denger ada yang jatuh kirain aku ada orang yang jatuh ternyata cuman barang aja, aku tuh khawatir takutnya ada yang celaka itu aja kok aku gak maksud masuk ke sini kalau tahu itu kamu aku gak akan masuk kok"
"Ya udahlah jangan banyak bicara Ini lepasin rambut lu gue gak mau ya terus kayak gini cepetan nanti kalau ada orang yang Lihat mereka akan bicara yang enggak-enggak lagi, gue gak mau ya digosipin sama lo "
"Iya aku juga tau, dan aku juga gak mau digosipin sama kamu, udah cari gunting dulu "
__ADS_1
"Istt ribet deh tinggal tarik aja apa sulitnya " sambil menarik rambut Sani
"Sakit Alvaro "
Alvaro menghembuskan nafas kesalnya, kasian juga ya, dengan malas Alvaro mundur dan Sani mencari gunting dan setelah menemukannya Sani langsung menguntingnya.
"Selesai "
"Bagus deh ngapain lo masih disini "
"Apaan sih ini juga mau keluar kok "
Dengan cepat Sani langsung keluar meninggalkan Alvaro yang menyebalkan sekali, Alvaro langsung mencari ponselnya dan saat dirinya melihat Alvaro langsung mematikannya dan berlari kelapangan.
"Sialan pagi pagi gini udah kenapa sial aja gara gara s Sani"
"Ehh Mir"
"Kayaknya lagi ada masalah nih ada apa "
"Aku lagi kesel nih sama Alvaro pokoknya kesel banget "
"Kenapa emang "
Sani langsung menceritakan semuanya dengan berbagai eksperesi sampai sampai Mira yang mendengarnya malah tertawa.
"Loh kenapa sih malah ketawa Mir "
"Ya lucu aja kalian kayak Tom and Jerry aja "
__ADS_1
"Gak ah, kamu mau kemana sih Mir kok buru buru banget "
"Mau cari kamu, tapi kamunya udah ada yu masuk "
"Ayo "
Mereka segera masuk dan duduk, baru juga Sani duduk tiba tiba saja ada yang menyiramnya, sampai sampai Sani kaget dan berdiri.
"Ada apa sih sama loh Bell " bentak Mira
"Nih lihat kelakuan teman lo, dia berduan sama pacar orang, sekarang jadi penggoda ya apa gak cukup emang Arzan yang udah lo goda, sekarang lo mau goda pacar gue juga hah. Ini lihat video kalian berdua di dalam gudang tuh udah kesebar tau gak sih gila ya lo "
"Ini semua cuman sangka, kamu tanya sama Alvaro ini cuman salah sangka, aku gak goda Alvaro buat apa "
"Ahh bodo amat gue gak pernah percaya dengan kata-kata lo San, gila ya, beneran deh waktu itu lo sama ayahnya Alvaro sekarang sama anaknya apa sih sebenarnya mau lo"
"Gak ada yang aku mau, aku udah jelasin ini tuh salah sangka kenapa sih Bell kamu gak pernah percaya sama aku,"
Tiba tiba saja datang Alvaro, Arzan dan Rizki "udah sayang udah udah jangan diperpanjang, stop diem ini cuman gak sengaja aja " ucap Alvaro
"Apaan sih kamu sekarang malah jadi bela dia, apa kamu suka juga sama Sani aku lihat sekarang kamu udah terlalu longgar deh sama di, kamu udah gak kayak Alvaro yang dulu deh sekarang tuh kamu terlalu baik sama Sani. Bahkan aku gak pernah tuh lihat kamu bully dia lagi. Kamu sekarang berubah jadi cinta sama dia iya ? "
"Apaan sih mana ada aku suka sama anak miskin ini ya gak akan mungkin lah , udahlah kita gak usah bully dia dulu itu cuma salah sangka aja, aku mau fokus dulu dalam pertandingan aku Bel, jadi aku gak mau urusin dulu dia atau pun yang lainnya, udah jangan kayak gini lah malu-maluin ini juga cuma salah paham kok, aku juga kalau gak rambutnya nyangkut gak mungkin tuh pegang-pegang dia aku juga udah cuci tangan kok. Ya udah ayo cepetan jangan kayak gini malu dilihatin sama orang lain"
Alvaro sudah menarik Bella namun Bella masih menatap Sani dengan mata tajamny, Arzan yang melihat Sani basah kuyup segera mengambil sapu tangannya dan membantunya mengalapnya namun Sani langsung mengambilnya dan mengalaminya sendiri " makasih Zan "
Dan dibelakang mereka ada orang yang tersenyum getir melihat itu semua, ada yang sakit namun tak berdarah, rasannya dirinya ingin berubah menjadi Sani dan merasakan bagaimana di cintai oleh orang yang kita cintai.
Namun semua itu tak akan mungkin terjadi, bagaimana membuat orang yang mencintai kita bisa mencintai kita juga, bagaimana ini caranya, kenapa begitu sulit.
__ADS_1