
Setelah lumayan jauh dari kelas Bella langsung menghentak kan tangan Alvaro dan melipat kedua tangannya sambil membelakangi Alvaro.
"Kamu ini kenapa lagi sih Bel, apa lagi salah aku setiap ada masalah kamu pasti marah terus-menerus. Emang harus ya semuanya diselesaikan dengan marah ,kamu udah tahu kan alasannya aku kenapa gak kayak gitu lagi sama Sani, aku mau fokus sama pertandingan aku l, kalau aku ke sana kemari yang ada aku gak akan fokus"
"Apaan sih ya udah sih kalau kamu emang mau fokus ya fokus , ya aku aneh aja kok tiba-tiba ya Sani bisa ada dalam gudang itu sama kamu lagi, aneh banget kan "
"Udah aku bilang itu gak di sengaja dia aja yang masuk. Aku juga gak tahu kalau dia masuk ke dalam gudang, aku
mau ngambil barang-barang buat latihan kesana "
"Gak biasanya kamu ambil sendiri, biasanya kamu nyuruh anak-anak yang lain, kok ini kamu dengan tiba-tiba ambil barang sendiri sih"
"Ya kali-kali aku juga mau ambil sendiri kali Bel, kenapa sih masalah cuman ambil barang aja dipermasalahin kayak gini, kali-kali doang aku mau ngambil dan gak nyuruh anak-anak terus aku juga pengen tahu di mana letaknya, udahlah yang kayak gini kenapa sih malah dipermasalahin "
"Siapa coba yang dipermasalahin enggak kok aku cuman tanya aja"
"Udah deh Bel kalau kayak gini terus mending kita Break dulu aja , aku capek tahu gak sih urus ini urus itu dan kamu juga yang selalu apa-apa marah, apa-apa marah ubah dulu aja deh sikap kamu jangan kayak gini aku gak suka "
Bella yang mendengar kata-kata itu langsung membalikkan badannya dan mengejar Alvaro namun Alvaro dengan cepat langsung pergi dan tak mendengarkan teriakan Bella yang histeris memanggilnya.
"Sialan sialan sialan ini gara-gara Sani awas aja tuh anak"
"Makannya Bel kalau apa-apa tuh jangan marah, gitu juga Alvaro masih mau lah bujuk lo setiap lo marah tanpa alasan. Laki-laki itu punya batas kesabarannya lo Bel. Gue cuman kasih tau aja ya" ucap Rizki memberi nasihat pada Bella
"Apa sih Rizki lo jadi ikut-ikutan lagi, lo mau kayak Alvaro juga kayak gitu, kalian itu ya laki laki yang gak pernah bisa ngertiin perempuan tau "
Bella langsung pergi meninggalkan Rizki dan Rizki yang bingung pun akhirnya pergi juga, kenapa dirinya yang jadi disalahkan seperti ini.
Padahal kan cuma memberi nasihat saja, memang salah ya memberi naseha, memang benarkan seperti itu laki-laki juga punya batas kesabaran sama seperti perempuan punya batas kesabaran.
Jadi ya imbang ajalah Jangan keras kepala dan mau menang sendiri kan benar kan kata-katanya tak ada yang salah, masa sih kata katanya ada yang salah tak mungkin kan.
**
Fatimah yang sedang melihat-lihat status teman-temannya tak sengaja melihat status dari Rizki ya memang dirinya satu kontak dengannya dan dia melihat Alvaro dan Sani, apa mereka berdua di dalam sebuah ruangan.
"Ini gak salah ya pelukan kayak gini Alvaro sama Sani bukannya mereka musuh ya, kok bisa sih. Kalau tuan Cio tau gimana ya, bukannya tuan Sena lagi deket ya sama Sani ya menurutku sih dekat mereka seperti bukan dekat biasa"
__ADS_1
Fatimah terus memperbesar video itu dan menjedanya dan benar ini wajah Sani, bukan wajah Bella dan ini juga laki-lakinya Alvaro tidak salah. Rizki ini keterlaluannya kenapa sampai mengupload dan menjadikannya sebuah status di whatsapp-nya
"Sedang apa kamu Fatimah bukanya bekerja malah main ponsel " marah Sena yang tiba-tiba saja datang dan mengambil ponsel Fatimah dan tak sengaja dia melihat itu. Ya video yang Rizki jadikan status whatsapp-nya.
"Apa ini Fatimah Alvaro dan Sani ? "
"Tuan saya juga tidak tahu , tadi saya tidak sengaja sih lihat di statusnya Rizki dan saya melihat itu saya juga tidak tahu apakah itu tuan Alvaro dan nona Sani saya tidak tahu tadi hanya lihat-lihat saja sih itu tuan Sena "
Sena langsung mengembalikan ponsel itu pada Fatimah "Kirimkan video itu pada saya sekarang juga "
"Baik Tuan"
Sena langsung kembali masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintunya cukup keras, sampai-sampai Fatimah kaget mendengar itu.
"Apakah ayah dan anak ini tidak akan melakukan perang dunia kedua. Masa sih tidak mungkin kan cuman karena seorang perempuan mereka bertengkar dan memperebutkan, tidak-tidak itu tidak akan pernah mungkin karena aku yakin Tuan Sena itu bijaksana tidak mungkin dia seperti itu dan malah berperang dengan anaknya. Ya baik lebih baik simpan dulu video ini dan aku kirim kepada Tuan dari pada dia marah ya seperti itu saja"
Fatimah segera mengirimkan videonya dan setelahnya langsung menyimpan ponselnya dan mengerjakan tugas-tugasnya yang sangat menumpuk itu.
Sedangkan Sena yang baru saja mendapatkan pesan dari Fatimah langsung membukanya dan melihat video itu dengan sangat teliti dan sangat fokus. Lalu setelah yakin kalau itu anaknya dan juga Sani dirinya Langsung melempar ponselnya ke arah meja.
Sena menghembuskan nafasnya dan menggaruk kepalanya dengan kesal "gaak mungkin aku bisa bersaing dengan anakku sendiri, kalau aku seperti ini aku harus menanyakan kebenarannya ini pada Sani, ya aku harus menanyakannya tidak mungkin mereka ada hubungan dibelakangku dan aku juga harus menghapus semua video ini di sekolah. Rizki kurang ajar yang telah menyebarkan video seperti ini"
Sena langsung mengambil ponselnya kembali dan pergi dari ruangannya. Fatimah yang kaget hanya bisa mengusap dadanya untuk kedua kalinya dia dikagetkan dengan tuannya yang menutupi pintunya dengan sangat keras.
"Sepertinya aku harus siap setiap hari akan senam jantung"
**
Sani yang akan pulang masih menunggu angkutan umum, tiba-tiba saja mobil Bella melewat dan mencipratkan air ke arah pakaiannya.
"Rasain tuh gara-gara lo hubungan gue sama Alvaro jadi taruhannya kan, lo inget ini belum seberapa gue bisa lakuin lebih dari ini, lo jangan macam-macam sama gue ya gara-gara video itu gara-gara lo yang sama Alvaro berduaan jadi kacau tau gak sih. Video kalian tuh udah kesebar ke mana-mana"
Sani membersihkan pakaian sedikit-sedikit "Aku sudah menjelaskannya kan padamu, kalau aku tidak sengaja masuk ke dalam ruangan itu, harus berapa kali lagi aku menjelaskan kepadamu, aku sudah berkata jujur kalau aku tidak melakukan apa-apa bersama Alvaro Jadi kau jangan takut kalau hubungan kalian akan menjadi hancur"
"Karena aku tidak akan pernah mungkin menghancurkan hubungan kalian jika kalian berdua memang saling percaya hubungan itu tidak akan hancur. Mungkin itu salah mu sendiri yang terlalu mengekang Alvaro dan terlalu banyak marah padanya makanya seperti ini kan" sambung Sani panjang lebar
Setelah mengatakan itu Sani langsung pergi meninggalkan Bella yang marah di dalam mobil"mulai berani sekarang Si Sani ini, gara-gara Alvaro yang terlalu cemen dan gak ngurusin dia lagi jadi gini kan berani sama gue, awas aja gue akan buat Alvaro makin benci sama loh dan gak akan pernah ada rasa simpati sama lo lagi lihat aja gue akan lakukan itu"
__ADS_1
**
Sani yang sedang berjalan merasa sedang diawasi oleh seseorang ,dengan cepat Sani mempercepat langkahnya dirinya takut.
Tadi sengaja jalan karena mau bagaimana lagi pakaiannya ini kotor tidak mungkin kan kalau naik angkotan umum yang ada orang-orang malah tidak mau kan duduk dekatnya.
Pakainnya sangat kotor gara-gara Bella untuk kedua kalinya dirinya diperlakukan seperti ini lagi oleh Bella, di hari yang sama ingin melawan tapi tak mungkin dirinya bukan siapa-siapa yang bisa melawan Bella.
Bisa-bisa nanti dikeluarin dari sekolah, jadi harus kuat sebentar lagi dirinya akan keluar dan tak akan ada disini lagi disekolah ini, dan tak akan bertemu dengan anak anak nakal itu.
Sani menengok ke belakang namun tidak ada siapa-siapa, kembali Sani mempercepat langkahnya, menjadi makin takut jalan sepi tak ada mobil atau motor yang lewat makin makin mencekam kan jalanan ini.
Karena Sani yang tak fokus berjalan dia sampai-sampai tersandung namun kok gak sakit ya dan gak jatuh-jatuh ya, Sani langsung membuka kedua bola matanya dan alangkah kagetnya saat di hadapannya sudah ada om Sena.
" Om apaan sih ngagetin aja, jadi om yang tadi ngikutin aku"
Sani segera melepaskan pegangan Sena dan berdiri tegak kembali sambil sedikit menjauhi Sena.
"Enggak kok saya gak ikutin kamu mungkin kebetulan aja kita ketemu, ngapain saya ikutin kamu gak penting juga kan"
"Iya yah gak penting juga mau apa ya udah aku pulang"
Sani kembali berjalan meninggalkan Sena yang ada di belakangnya, namun tiba-tiba Sena langsung menarik tangannya berbalik arah.
"Apaan sih Om aku tuh mau pulang , om pulang aja sendiri kita kan gak satu arah dan kata om juga tadi kebetulan kan bukan disengaja"
"Sudah, sudah terlanjur kita ketemu biar saya antar kamu pulang dan saya juga mau minta penjelasan dari kamu"
"Penjelasan apa sih om. Emangnya aku lakuin apa emangnya aku punya salah lagi sama om. Aku gak cari gara-gara lagi kok sama om. Beneran aku gak cari gara-gara apa apa terus aku mau diapain ini"
"Udah kamu gak usah banyak bicara sekarang kamu cuman ikut saya aja, itu aja gak usah bantah dan banyak tanya kamu ikut saya aja, saya ada sesuatu yang ingin ditanyakan pada mu dan hanya kamu saja yang mengetahui jawabannya"
" Ya sudah tanyakan saja di sini .Kenapa harus Om capek-capek mengantarkan aku pulang"
"Sambil makan siang kamu lupa kalau saya ini mendapatkan makanan dari kamu, kamu yang memasakannya jadi saya wajar kan menemui kamu dan datang ke rumah kamu"
Sani baru ingat dan akhirnya dia mau juga dibawa oleh Sena meskipun tadi ya sudah ditarik-tarik tapi dirinya masih mempertahankan dirinya untuk tidak berjalan cepat dan mau dibawa begitu saja oleh Sena yang menyebalkan ini.
__ADS_1