Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Serba salah


__ADS_3

Anggia yang sedang membawakan kopi untuk Arzan menyimpannya di meja tapi tatapan Arzan terus saja melihat ke arahnya. Anggia yang bingung melambaikan tangan tepat di wajah Arzan " Ada apa, kenapa kamu lihat aku kayak gitu emangnya ada yang salah ya sama penampilan aku atau di muka aku ada cemong atau apa gitu"


"Kamu bilang waktu itu Sani nggak nikah sama papinya Alvaro tapi sekarang Alvaro bilang Sani nikah sama papinya kok kamu bisa bohong sih sama aku kita kan pacaran, kita harusnya saling terbuka ini kok malah kayak gini sih Anggi"


Anggia dia diam membenarkan rambutnya dan duduk langsung berhadapan dengan Arzan, mungkin Sani sudah memberitahu Alvaro, sudahlah dirinya juga tidak mungkin menjawab tidak lagi, sedangkan Arzan sudah tahu kebenarannya dari Alvaro.


"Gimana ya aku juga bingung mau kasih tahunya gimana, karena itu kan masalah Sani bukan masalah aku dan aku juga nggak berhak buat kasih tahu dia udah nikah sama siapa sama orang lain ya maksudnya sih kamu emang temannya Sani tapi kalau seandainya enggak bilang sendiri aku nggak enak kan tiba-tiba bilang sama kamu ini ini bla bla bla, emang dalam hubungan kita enggak boleh ada kebohongan tapi kan ini masalah keluarga Sani, masalah besar aku enggak bisa tiba-tiba bocorin"


"Tapi kan nggak gitu juga kali Anggi, kamu bicara dong sama aku kalau Sani udah nikah sama papinya Alvaro"


"Ya udah sekarang kamu udah tahu kan nggak usah bertanya-tanya lagi semuanya udah clear kan, kamu juga udah tahu kalau Sani nikah sama ayahnya Alvaro. Alvaro sendiri kan yang bilang sama kamu yang terpenting yang bilang itu dari keluarga intinya aja, kalau aku kan cuma sampingan aja aku ini cuman kakak tirinya Sani jadi nggak berhak buat bicara apapun tentang kehidupan Sani. Aku juga udah janji sama Sani enggak akan pernah bilang sama siapapun kalau dia menikah dengan ayahnya Alvaro karena aku nggak mau ada masalah biarin lah sekarang Sani hidup nyaman dia dulu hidupnya benar-benar capek benar-benar berantakan dan sekarang waktunya dia untuk menikmati hidupnya"


"Sini dong duduk di pinggir aku pacar, kamu kok gemesin banget sih jadi lebih dewasa banget sekarang"


Tapi Anggia malah diam saja dia tidak mau mendekati Arzan dan mau tidak mau Arzan sendiri sekarang yang mendekati Anggia dan merangkul bahunya.


"Kenapa sih kamu nggak pernah mau deketin aku duduknya selalu gini jauh-jauhan berseberangan gini"


"Ya biar nggak ada setan nanti kalau kita tiba-tiba tergoda sama setan gimana kita kan masih kuliah dan kita juga harus sukses, masih banyak waktu kan buat kita meniti karir dari nol"

__ADS_1


"Iya juga sih tapi kan nggak apa apa cuman kayak gitu aja, gak akan terjadi apa apa juga kan Anggi "


"Emangnya kamu mau kayak gimana kalau lebih aku nggak mau karena aku akan memberikan semuanya pada suamiku nanti"


"Kan aku calon suami kamu"


"Ya kan belum tentu kita nikah, belum tentu kita jodoh benerkan"


"Kok gitu sih. Ya pastilah kita jodoh udah ah jangan bilang kayak gitu. Aku nggak mau ya atau kamu mau aku lamar sekarang juga biar aku telepon keluarga aku datang ke sini"


"Jangan aku belum siap buat ketemu sama keluarga kamu, ya aku belum siap nanti aja kita juga pacaran kan baru sebentar aku belum siap buat ketemu sama keluarga kamu, aku takutnya keluarga kamu nggak terima aku, mungkin di hadapan kamu mereka akan terima aku tapi kan di belakang beda aku nggak mau nanti aja ya"


"Hemm tetep aja "


Dengan lesu Arzan segera bangkit dan duduk di tempat semula lalu menatap Anggia sambil bersedekap. "tapi kamu bener kan cinta sama aku Anggi, kamu terima aku bukan semata-mata karena takut aku marah sama kamu kan"


Anggia menyimpan pulpennya lalu menutup bukunya "tentu, aku emang suka sama kamu. Aku juga buat apa terima kamu karena cuman takut kamu marah kalau emang aku nggak cinta aku pasti nggak akan terima kamu. Aku tuh nggak akan pernah memaksakan apa yang aku nggak mau kita mau bahas ini aja atau mau belajar nih kalau kayak gini kita nggak akan beres-beres kamu juga akan pulang malam, nggak baik laki-laki pulang malam"


"Bener ya, kamu nggak terpaksa terima aku ya takutnya kamu tuh cuman terpaksa aja"

__ADS_1


"Enggak aku enggak terpaksa. Ya udah ayo kita kerjain semuanya, mau bagi tugas nggak biar kita cepat nih besok juga ada kuis lagi ya kita harus hafalin semuanya nih biar dapat nilai gede"


"Ya udah kita bagi ya ini kan ada 20 soal aku kerjain 10 kamu juga kerjain 10 ya, nanti kalau ada yang nggak tahu kita harus saling tanya ya"


"Boleh ya udah gitu aja deh"


Arzan menganggukkan kepalanya dia segera membagi soal mana saja yang akan Anggia kerjakan dan soal mana saja yang akan dirikannya kerjakan


***


"Sayang kenapa belum tidur juga"


Sani menatap suaminya yang sedang duduk di tempat tidur, lalu mendekatinya "aku masih mikirin gimana Alvaro gimana dia apakah akan menerima keputusan mami"


Sena menarik Sani untuk duduk di pangkuannya "udah semuanya biar aku yang urus kamu nggak usah mikirin apa-apa sayang, semuanya pasti akan baik-baik aja jika memang Oma tidak mau biar kita rundingkan dulu gimana caranya aku juga nggak tahu kalau Alvaro akan ngejar kembali Bella saat dia kembali"


"Namanya juga pacarnya ya pasti dikejar lagi lah apalagi waktu itu kan masalah mereka belum tuntas, tapi Bella kan udah nggak ada ilang terus tiba-tiba katanya Bella meninggal tapi nyatanya Bella masih ada kan. Apalagi Alvaro tuh merasa bersalah banget sama Bella atas kehilangan Bella ini"


"Nah itu aku ingin bertanya pada Alvaro dia itu pengen sama Bella karena rasa bersalah atau emang karena cinta sama dia, itu yang sangat ingin aku tanyakan pada Alvaro, kalau memang karena rasa bersalah aja dia nggak usah nikahin Bella karena kedepannya pun enggak akan benar"

__ADS_1


Sani diam dan memeluk leher suaminya benar juga kalau menikah karena rasa bersalah itu tidak akan benar, bagaimana kalau nanti tiba-tiba Alvaro menyukai perempuan lain kan Bella juga yang akan disakitin.


__ADS_2