
Sena setelah pulang dari rumah Sani, selalu saja memikirkannya bahkan sekarang saat dirinya makan bersama sang anak.
Dirinya hanya mengocek ngocek makanannya saja, tak memakannya "pih papih kenapa sih, nasinya malah di aduk aduk aja "
Sena masih belum sadar, Alvaro langsung menepuk bahu papihnya "eh iya kenapa Alvaro"
"Papih tu kenapa sih nasi malah diaduk aduk kaya gitu "
"Papih belum lapar, papih kekamar dulu "
Setelah Sena pergi Alvaro lanjut makan, dan tak menghiraukan papihnya sedikit pun.
Setelah masuk kedalam kamar Sena langsung kebalkon dan diam disana.
"Sekarang kamu lagi apa ya Sani, aku aku gak tau kenapa kefikiran kamu terus, kamu gimana keadaannya dirumah apa baik baik aja atau engga "
Sena mengusap wajahnya lalu diam dikursi dan menatap lagit "kenapa dalah hidup selalu ada perpisahan dan kenapa juga harus ada kata memilih dan kenapa Alvaro membenci Sani "
**
Sedangkan Sani yang ada dirumah dikejutkan dengan ibunya yang membangunkannya "Sani ayo bangun jangan enak enakan tidur gini, cepetan masak, kita lapar "
Sani langsung membuka kedua bola matanya, sebelumnya Sani mengosok dahulu kedua matanya " iya sebentar bu "
"Kamu ini gimana sih, malah enak enakan tidur udah tau kamu harus masak, malah diem aja, kamu ini jangan jadi anak yang males dong "
"Iya iya bu , "
Sani bangkit tanpa duduk dikursi roda, Sani berjalan dengan perlahan sambil memegang tembok untuk bisa menuju dapur.
Saat sudah sampai diruang tamu, tiba tiba saja ada Anggia yang keluar dari kamarnya, langsung menyenggol Sani sampai dia terjatuh.
Gedebruk
"Buu liat Sani dia jalan gak hati hati, tangan aku kan jadi sakit, gimana sih kamu Sani kalau jalam tuh hati hati "
"Udah udah sini anak ibu, ibu bantuin bangun , gak usah hirauin dia, udah udah ayo "
Anggi bangun dengan wajah menatap kearah Sani, Sani pun sama jatuh, dia merasakan kakinya yang sakit cenat cenut, tapi tiba tiba saja Anggia sebelum pergi malah menendang kakinya, bahkan cukup keras.
"Aww Anggia " teriak Sani
"Ehh kamu berani ya bentak anak ibu "
"Gimana aku gak teriak bu, sedangkan Anggia tendang kaki aku bu, kaki aku kan lagi sakit ibu tau sendiri "
__ADS_1
"Cuman di tendang sedikit aja udah kesakitan gimana kalau anak saya tendang yang keceng, dasar cenggeng baru luka sedikit aja udah kayak gitu menjetit jerit lebay, ayo Anggia kita tunggu dia selesai masak, lalu kita makan "
"Yaudah ayo bu, kita tunggu dia masak, awas janngan lama Sani, kita gak mau tunggu ya "
Sani mengusap air matanya dan mengusap kakinya, dengan perlahan Sani bangkit dan berjalan sambil mengusur kakinya, saat dibuka lemari es kosong tak ada apa apa, saat membuka tempat beras juga kosong.
"Terus harus masak apa coba kalau semuanya gak ada, apa aku harus masak batu "
"Bu kenapa gak ada apa apa " teriak Sani dari dalam dapur
"Ya udah kamu sana belanja dulu aja pakai uang kamu. Saya gak punya uang. Ayah kamu tuh yang bodoh tidak menerima uang dari Sena, kalau dia terima kan kita sekarang makan enak gak kayak gini, udah kamu tanggung tuh kesalahan ayah kamu cepat belanja sekarang. Ibu gak mau tahu makanan harus secepatnya tersaji di sini Ibu dan Anggia sudah lapar"
Sani kembali lagi kekamarnya, mengecek dompetnya yang kosong "ya allah aku harus membelinya dengan apa, uangku saja tak ada, lalu aku harus melakukan apa "
Sani membuka tasnya, yang berisi beberapa baju, namun ada sebuah amplop dan sebuah ponsel didalamnya.
"Hah ini punya siapa, uang dan poselnya punya siapa "
Sani melihat kearah pintu aman, saat Sani buka ada segepok uang dan Sani langsung mengitungnya" hah ada 10 juta banyak banget "
"Uang siapa ini "
Sani membuka ponselnya, masih kosong tak ada nomor siapa siapa, siapa yang harus dirinya hubungi pasti ini dari om Sena.
Sani langsung menyembunyikan uang itu, ditempat dirinya menyembunyikan barang barang berhargannya, yang pasti ibu dan Anggia tidak akan tau.
Sani memakai jaketnya dan segera pergi dari rumah, dengan masih kaki yang pincang satu.
Saat Sani sudah keluar dari gang dirinya melihat nasi goreng, dengan perlahan Sani menyebrang dan segera memesan "mas nasi goreng nya 4 ya, yang tiga pake pedes yang satu engga "
"Iya siap neng Sani tunggu ya "
"Iya mas "
"Neng kenapa kakinya beberapa hari ini gak kelihatan ya neng Sani keluar "
"Ini aku kecelakaan mas, tapi udah gak apa apa kok. "
"Astaghfirullahaladzim, kenapa bisa begitu neng, "
"Ada yang menabrak saya mas, tapi untungnya ada yang nolong saya dan Bawa saya ke rumah sakit, alhamdulillah saya udah gak apa-apa sekarang, tapi ya masih ada lah ya mas sakit dan kaki saya juga belum berjalan dengan normal tapi saya bersyukur saya selamat dan masih diberikan hidup sama Allah"
"Iya Neng bener Alhamdulillah ya, cepet sembuh ya neng kenapa coba malam-malam malah keluar. Bukannya ibu atau neng Anggia gitu yang ke sini beli masa neng Sani yang lagi sakit disuruh beli nasi goreng ke depan"
"Ini saya yang mau kok mas, soalnya kan saya mau gerakin kaki saya supaya gak kaku gitu biar cepet sembuh, saya juga kan harus sekolah mas, masa saya absen banyak, kan gak mungkin mas, saya udah banyak banget ketinggalan pelajaran "
__ADS_1
"Iya bener banget ya neng sekolah penting, tapi neng saya denger-denger Neng juga kerja ya"
"Iya mas saya kerja saya juga harus bantu kedua orang tua saya kan soalnya Ayah lagi sakit juga. Terus siapa nanti yang cari uang gak ada kan"
"Kenapa gak ibu aja neng, kenapa gak semuanya ikut kerja kenapa harus neng aja "
"Ibu kan urus ayah, Anggia juga sekolah dia pengen kuliah nantinya jadi dia harus fokus, aku gak apa-apa sih ya mas karena aku juga sadar kalau Ayah aku yang sakit jadi aku yang harus menanggung semuanya"
"Neng kenapa baik banget mau berkorban untuk keluarga, ini neng udah selesai "
"Eh iya mas, ini uangnya makasih ya mas "
"Iya sama sama neng "
Sani celingak celingguk lalu menyebrang dan berjalan kearah rumahnya sambil menahan sakit dikakinya.
"Lama banget sih kamu Sani kemana dulu " teriak ibunya
"Aku beli nasi goreng bu "
"Yaudah cepet bawa sini "
Sani mengambil 4 piring dan menyajikannya di meja makan, ayahnya pun sudah duduk berhadapan dengan Sani
"Ini untuk ayah "
"Makasih nak "
"Tuh bu benerkan s Sani punya uang, dari mana uangmu, ayo bagi bagi dong buat jajan nih "
"Anggia Kamu ini kenapa sih uang uang terus Sani itu lagi sakit. Segitu juga dia punya uang buat kita makan pentingin dulu makan bukannya jajan jajan dan jajan, kamu ini udah dewasa harusnya kamu meniru apa yang Sani lakukan , kamu ini lebih tua dari Sani tapi sikap kamu tidak dewasa sekali"
"Kenapa sih Ayah tiba-tiba aja marah sama Anggia terus Anggi harus apa harus kerja gitu kayak Sani. Terus sekolah Anggia gimana. Udah ah jadi gak mood kan makannya" sambil mengebrak meja
"Nah ini nih yang aku gak suka dari ayah itu berat sebelah terlalu sayang sama Sani tapi sama Agya gak, Ibu juga jadi gak mood makan"
"Udah nak jangan hiraukan mereka ayo makan, biarkan saja mereka, kalau bisa nanti kamu bungkus lagi nasi gorengnya dan lebih baik kasih ketetangga biar tau rasa mereka "
"Tapi yah mereka berdua kan belum makan "
"Udah gak usah difikirin biar mereka sadar dan gak seenaknya lagi sama kamu, ayo makan nak, maafkan aya yah tak becus menjadi ayah dan malah membuat kamu harus banting tulang seperti ini "
"Gak apa apa yah Sani iklas kok, ayo makan ayah "
"Iya nak "
__ADS_1