Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Pergi dari rumah


__ADS_3

Saat Sani masuk dirinya sudah disambut dengan rengekan Angia yang entahlah sepertinya sedang meminta sesuatu.


"Kamu gimana udah dapet kerja belum Sani, Anggi harus pergi sama temen temennya "


"Udah baru aja dapet dan gak mungkin kan aku langsung dapet gajih "


"Ist kamu ini gimana sih, kenapa kamu gak kasbon dulu, kamu tau kan kebutuhan rumah banyak, kalau gak minta deh sama Sena, cepet kasian kakak kamu mau pergi gak ada uang, kamu jangan pelit lah Sani sama kakak kamu ini "


"Bu jangan buat diri aku malu didepan orang dong, aku gak mau minta minta uang, emangnya aku apa, aku bukan pengemis bu "


Sarah segera bangkit dan mendorong Sani sampai tersungkut, dan kakinya yang sakit sampai mentok, Sani memegang kakinya yang sakit dan mengusap gusapnya.


Sarah langsung mengambil tas Sani dan mengobrak ngabrik barangnya "akhh tidak ada apa apa, kamu ini ya tak berguna sekali Sani, tak berguna kamu ini seharusnya bawa uang, untuk apa dekat dengan orang kaya namun tak di manfaatkan, anaknya sudah menabrak kamu seharusnya kamu terus menerus minta uang padanya "


Sani tak menjawab, dia mengusap ngusap kakinya dan sedikit mengurutnya, Sarah yang marah menendang kaki Sani yang sakit "akhhh bu kenapa ibu terus menerus menyakitiku, sudah aku tidak punya uang "


"Bohong kau waktu itu bisa membeli baju baru, bahkan banyak ada beberapa potong, pasti kau mempunyai uang, pasti kau diberikan uang oleh Sena, kau mulai pelit pada ibu dan juga kakak mu, harusnya kau berbaik hati pada kami berdua "


Sani menghembuskan nafasnya dan menatap kedua orang itu "lebih baik ibu suruh Anggia kerja juga agar tak ada yang menjadi tulang punggung, semua anak ibu kerja tak ada yang diam dirumah, "


"Ibu Anggia tidak mau "


Sarah langsung menepuk nepuk bahu anaknya sambil tersenyum "enak saja Anggia sekolah dia harus fokus sekolah, dia harus fokus mengejar mimpinya, dia harus selalu cantik "

__ADS_1


"Ibu selalu saja pilih kasih, katanya tidak akan pilih kasih, ini bukitnya ibu tak membiarkan Anggia bekerja, aku juga sama bu masih sekolah kenapa aku harus kerja disaat Anggia dia enak enakan hanya belajar dan jalan jalan saja, sedangkan aku harus melakukan segala hal "


"Ini gara gara ayah kamu, dia cacat dan tak bisa mencari uang jadi kau gantinya, kau adalah penganti ayah mu, jadi kau yang harus mengantikan semuanya, "


Sani yang kesal segera masuk kedalam kamar, mengemas semua pakaiannya dan yang lainnya, setelah semuanya siap Sani segera pergi dari rumah.


Sarah ibunya hanya tersenyum miring saja melihat kepergian Sani "sana kau pergi Sani, aku muak dengan mu, eh tapi uang Sani tinggalkan uang Sani untuk kami "


Namun Sani sama sekali tak mengubrisnya dia terus saja berjalan dengan kemarahan yang sudah memuncak.


Tiba tiba saja ayahnya Sani keluar dari kamar dan melihat sang istri yang masih berteriak teriak " ada apa bu. ada apa ini berteriak teriak seperti ini, ada apa "


"Anak mu tuh kabur, hebat ya kamu punya anak tapi hobinya kabur kaya gitu, dia tidak peduli sama kamu yang lagi sakit anak kamu durhaka ya "


"Itu pasti gara gara kamu bu, kenapa kamu selalu saja mengusik kehidupan Sani, kenapa kamu tidak membiarkan dia hidup dengan tenang, jangan seperti itu bu, kamu juga bekerja harusnya kamu yang bekerja bukan Sani, kamu jangan pilih kasih bu, jangan seperti itu "


"Aku lagi sakit, aku sakit kenapa kau tak melihat aku yang sedang seperti ini, kalau aku sehat aku pasti kerja seharusnya kau yang membantu aku, seharusnya kau yang menjadi tulang punggung bukan anak ku, "


"Ahh sama saja kalian ini, sama saja ayah dan anak sama saja, sampai kapan pun aku tak akan bekerja kau saja sana "


**


Sani masih berjalan kaki, tadinya mau balik lagi tapi gak jadi, karena dirinya ingat kalau dirinya tak akan pulang sebelum ibunya berubah, kesal sekali dirinya ini.

__ADS_1


Tapi ayahnya bagaimana, namun Sani akhirnya meneguhkan hatinya untuk tidak kembali lagi, untuk masalah ayahnya dirinya sudah menyimpan uang di saku celana ayahnya, semoga saja ayahnya yang menemukan uang itu bukan ibunya atau Anggia.


Tiba tiba saja hujan turun dan membuat Sani langsung berlari kearah pinggir jalan dan diam disana "kenapa bisa hujan seperti ini, ist aku belum menemukan tempat berteduh "


Sena yang ada didalam mobil, dia melihat diluar ada Sani, "Sani" gumam Sena.


Alvaro langsung mengalihkan pandangannya, dan benar ayahnya sedang melihat Sani, dengan cepat Alvaro mengalihkan pandangan papihnya.


"Pihh gimana pih. papih gak ada kerjaan diluar negri gitu, "


Sena langsung mengalihkan pandangannya dan lampu merah sudah hijau, Sena langsung melajukan mobilnya.


"Engga Varo papih gak ada kerjaan di luar negri emangnya kenapa Varo "


"Enggak aku cuman udah kangen aja gak jalan-jalan ke luar negeri sama papih, kapan-kapan kita jalan-jalan yuk ajak juga Bella Rizki ya teman-teman aku lah, teman teman dekat aku pih, kita main-main ke sana bareng bareng, yu udah pih kapan kapan ajak temen temen aku pih, biar seru biar rame kalau banyakan pih "


"Kalau untuk Arzan kamu gak mau ajak dia "


"Udahlah Pih jangan bawa-bawa Arzan lagi kita udah gak berteman lagi, dia udah berteman sama Sani udah biarin aja dia berteman sama anak miskin itu, Arzan itu sekarang udah berubah Pih bukan Arzan yang dulu bukan temen kita yang dulu dia tuh udah bener-bener berubah , di itu udah lebih mihak sama Sani, udahlah biarin gak usah diungkit-ungkit dia pih "


"Gak boleh gitu dong kalau berteman tuh sama semuanya kamu jangan pilih kasih berteman sama yang ini sama yang itu, mungkin Arzan mau bikin kamu berubah mau bikin cara pandang kamu sama Sani itu berubah jadi kamu jangan pernah putusin persahabatan kalian yang udah lama banget kalian jalin ya"


"Hemm pih "

__ADS_1


Tak ada lagi pembicaraan dan Sena kembali mengigat Sani yang ada dijalan, dia sedang berteduh membawa tas kemana dia, dirinya harus cepat cepat pulang dan menelfon orang suruhannya itu.


Dengan cepat Sena mempercepat laju mobilnya untuk segera sampai dan menanyakan keberadaan Sani dimana sekarang, sungguh hatinya tak tenang sama sekali, ingin sekali putar balik dan melihat keadaan Sani, namun itu mustahil sang anak pasti tak akan mengizinkan.


__ADS_2