
Mira yang kesal teleponnya tidak diangkat-angkat oleh Arzan segera pulang ke rumahnya saat sampai rumah kembali maminya memberhentikan langkahnya sudah kesal ditambah maminya yang selalu saja ikut campur.
"Bagaimana apakah kau sudah bertemu dengan Sani sayang "
"Sudah mi aku sudah bertemu dengan Sani dan tadi juga Sani lagi banyak yang datang keluarganya jadi aku nggak enak kalau terus diam di sana jadi aku lebih baik pulang aja. Aku kesana juga cuman mau lihat keadaan Sani aja, itu aja kok mih "
"Terus dia gimana baik-baik aja kan, "
"Ya gitu deh mi tahu sendiri kan orang yang baru ditinggalin sama keluarganya gimana mami ini kayak nggak pernah ditinggalin sama keluarganya aja ih "
"Kenapa sih mami kan cuma tanya aja, emang mamih salah nanya kayak gitu sama kamu "
"Ya udah sih mami juga tahu kan gimana situasinya kalau ada orang yang meninggal dari keluarga kita, udah deh aku mau istirahat nih"
Mira langsung pergi meninggalkan mamihnya dirinya sedang ingin marah-marah sekali lihat saja kalau besok Sani masuk sekolah dia akan memberi perhitungan pada perempuan itu.
**
Sani terbangun dia tidak melihat suaminya lagi, Om Sena sudah tidak ada di sampingnya saat Sani melihat jam dinding sudah menunjukan jam 10.00 malam mungkin om Sena sudah pulang ke rumahnya tidak mungkin kan om Sena menginap di sini sedangkan Alvaro pulang sendiri"
Sani bangkit dan menuju ke arah lemari saat dibuka ada beberapa pakaian dan juga ada baju tidur Sani segera mengganti pakaiannya menjadi baju tidur dan mencuci wajahnya sikat gigi dan yang lainnya dirinya tadi tak sempat untuk membersihkan diri apalagi untuk mandi. Tapi perutnya sekarang keroncongan ingin segera diisi"
Sani dengan memberanikan diri keluar dari dalam kamar dan melihat rumah yang begitu sepi dan gelap Sani mencoba untuk mencari dapur dan ketemu "apakah aku sopan di rumah orang seperti ini, tapi aku lapar tapi bagaimana ya sudahlah lebih baik aku pulang lagi saja ke kamar aku malu kalau tiba-tiba memasak atau makan ini kan bukan rumah aku, jadi aku tidak bisa leluasa"
Sani akan kembali lagi dia malah akan bertabrakan dengan Alvaro yang tiba tiba saja muncul "ngapain San malam-malam di dapur"
"Kamu sendiri ngapain ada di dapur"
__ADS_1
"Lapar nih San bikin mie dong ayo pasti kamu juga ke dapur pengen makan kan dari tadi belum makan bikin mie dong sekali-kali"
"Ye setiap hari juga kan suka makan masakan aku kamu "
"Iya iya udah cepat bikin makanan dong lapar nih biasanya ya kalau jam 10.00 gini aku tuh suka dimasakin mie sama bibi atau enggak dibikinin nasi goreng pokoknya enak deh. Tapi karena di sini omah nggak ngebolehin kita untuk bangunin ART jadi kita harus mandiri"
"Ya udah nggak papa aku yang masak tenang aja di mana nih mie telur dan yang lain-lainnya aku nggak tahu tempatnya Alvaro"
"Sebentar aku ambilin dulu"
Alvaro segera pergi ke arah persediaan mie telur dan sayur-sayuran sosis bakso dan banyak lagi Alvaro mengeluarkan semuanya.
"Ini Sani udah aku sediain semuanya aku tunggu ya di meja makan"
"Iya iya makasih"
"Sama sama "
Mereka segera memakan mie itu masing-masing "San besok mau ke sekolah nggak. Tapi sih emang gak ada acara tapi cuman mau siapin acara perpisahan aja kamu mau ke sekolah"
"Iya aku lebih baik ke sekolah aja ngapain juga aku di rumah ngelamun aja udah deh aku mau sekolah aja"
"Beneran yakin mau sekolah"
"Iya aku beneran mau sekolah, aku nggak mungkin di rumah terus jenuh tahu nggak sih aku juga pengen lihat dong gimana persiapannya"
"Oke deh " Alvaro kembali fokus memakan mienya.
__ADS_1
Sedangkan Sani masih memikirkan keberadaan suaminya sedangkan Alvaro ada di sini tapi kok om Sena nggak ada ke mana dia apakah om Sena pulang sendiri. Tapi kenapa tidak memberikan dirinya pesan atau apapun gitu sekarang dirinya merasa aneh di hadapan Alvaro yang menjadi anak tirinya aneh kan ibu tiri dan anak tiri berteman.
Bagaimana nanti kalau Alvaro tahu lambat laun pasti Alvaro akan mengetahui semua ini, tidak mungkin kan dirinya menyembunyikan hubungan ini bersama Om Sena itu tidak akan pernah mungkin.
"San kenapa ngelamun terus makan dong mienya nanti kalau udah dingin nggak enak, lagi mikirin apa sih ngelamun aja dari tadi ditanya juga nggak jawab"
Sani langsung mengalihkan pandangannya ke arah Alvaro dan mengusap wajahnya "maaf maaf aku cuman lagi kepikiran ayahku aja"
"Iya aku tahu kamu pasti akan terus kepikiran tentang ayah kamu, tapi setidaknya kamu makan dulu ya jangan terus mikirin ayah kamu dulu dia udah tentang di sana dan kamu harus ikhlas aku tahu ini berat tapi mau gimanapun harus ikhsan, kita juga nanti akan pulang kita juga nanti akan mati. Ya udah cepet habisin itu makanannya setelah itu tidur katanya mau sekolah emang mau besok kesiangan gitu enggak kan"
"Iya Al"
Sani segera memakan mienya itu dan tanpa mereka sadari ada yang melihat mereka yang sedang makan lalu orang itu berbalik lagi dan tidak jadi untuk pergi ke dapur.
"San udah belum mangkoknya sini aku cuci "
"Iya ini udah sebentar"
Sani dengan cepat menghabiskan makanannya itu lalu membawa mangkoknya cepat-cepat ke arah Alvaro, memang Alvaro sendiri yang tadi mau mencuci piring katanya gantian tadi kan Sani yang masak jadi dia yang mencuci piring Sani hanya diam menunggu Alvaro sampai beres setelah itu Sani masuk kamarnya dan Alvaro juga pergi ke lantai atas untuk masuk ke kamarnya.
Sani tak lupa mengunci pintu kamar karena tak terbiasa tidur tanpa mengunci pintu setelah itu Sani mematikan lampunya.
Sani yang penasaran dengan keberadaan om Sena segera mengecek ponselnya tapi tidak ada sama sekali pesan whatsapp dari om Sena kosong Sani dengan memberanikan diri segera menchat suaminya itu.
"Om Sena"
Om ke mana apa Om pulang ke rumah kok aku bangun tidur om kok nggak ada di samping aku sih, Om itu sebenarnya ke mana sih tiba-tiba menghilang terus nggak kasih kabar juga sama aku atau Om emang sengaja ya buat aku kepikiran terus tentang om yang tiba-tiba menghilang.
__ADS_1
Sani menunggu balasan dari Om Sena namun tidak ada balasan sama sekali, karena jenuh ya sudahlah simpan saja ponselnya dan mencoba untuk tidur kembali. Karena besok harus sekolah.