Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Kembali datang


__ADS_3

Mira sudah ada di bandara bahkan dia celingak celinguk takut ada polisi atau apa gitu, dirinya tak mau sampai tertangkap dan malu.


"Kamu cari apa Mira " tanya mamihnya


"Nggak ada mi Mira cuman pengen lihat aja gitu buat terakhir kalinya. Mira juga bakal lama kan di Jepang mungkin Mira akan pulang 1 tahun sekali atau mungkin nggak akan pernah pulang sampai selesai kuliah. Mira pasti akan kangen sama mami papi dan semuanya yang ada di sini"


Mamihnya Mira langsung memeluk anaknya dengan begitu erat "kamu di sana jangan nakal ya, jangan ulangi kesalahan yang pernah kamu lakuin di sini jangan kejar-kejar laki-laki terlebih dahulu, mami udah bilang kan kamu harus menjadi perempuan yang dewasa, perempuan mahal jangan murahan kamu jangan kejar-kejar laki-laki udah cukup sekali ini aja kamu kejar kejar laki laki "


Mira menganggukan kepalanya dalam pelukan maminya padahal kalau tak ada masalah ini dirinya tak akan mau pergi ke Jepang dirinya masih ingin mengejar Arzan tapi karena takut ketahuan dirinya lebih baik pergi saja, itu akan lebih baik hidupnya akan lebih tenang.


Semoga saja Arzan tak kenapa Napa, semoga saja Arzan tak terluka parah, sebenarnya ingin melihat Arzan tapi tak mungkin berita tentang penusukan sudah disiarkan dirinya takut tiba tiba Arzan mengenalinya.


Mamihnya Mira langsung melepaskan pelukannya dan mencium kening anaknya " kamu hati hati ya "


Kembali Mira menganggukan kepalanya dan segera mengusut kopernya dia terus saja berjalan tanpa melihat kebelakang lagi tanpa melihat mamihnya, dirinya terus saja berjalan lurus.


**

__ADS_1


Sani yang baru saja bangun didekapan suaminya segera bangun karena mendengar suara keributan diluar, dengan cepat Sani mencuci wajahnya dan keluar dari kamar, ada apa ini kenapa begitu ribut.


Saat Sani keluar dari ruang omah Ariana sedang memarahi ibu dan juga kakaknya, Sani segera melerainya "ada apa ibu dan Anggi kemari "


"Sani tolong kami, kami tidak mempunyai tempat tinggal lagi kami harus tinggal di mana kalau kami tidak bertemu denganmu, kami sudah tidak punya apa-apa lagi Sani kami hidup di jalanan. Apakah kau tidak kasihan pada kami berdua lihat lah Anggia kasihan ni Anggia "


"Memangnya rumah yang aku serahkan pada kalian berdua ke mana, kenapa bisa kalian hidup di jalanan bukannya aku sudah memberikan harta satu-satunya peninggalan dari ayah pada kalian berdua, memangnya kalian apakan rumah itu apa kalian jual aku sudah menyerahkan semuanya pada kalian kan, lalu apalagi yang harus aku beri"


Ibu Sarah langsung memeluk Sani dengan begitu erat dan Sani hanya bisa diam saja kenapa ibu tirinya menjadi seperti ini, ada apa ini "ya ibu tahu kamu sudah menyerahkan semuanya tapi rumah itu sudah habis karena berobat ayah kamu, ayah mu mengadaikan rumah itu, karena kami tidak bisa menebusnya makannya rumah disita Sani "


Sani segera melepaskan pelukan itu dan menatap ibu tirinya lekat lekat " sejak kapan ayah meminjam uang, ayah tak pernah bilang, apapun yang ayah lakukan dia selalu berbicara, ibu bilang untuk berobat bukannya aku selalu memberi uang untuk berobat, kenapa bisa rumah digadaikan, kemarin juga biaya rumah sakit om Sena yang bayar lalu kenapa kalian bisa kehilangan rumah, kalian keterlaluan sekali, kalian tak bisa membohongiku, tak mungkin ayah mengadaikan rumah pasti ini kalian yang lakukan "


Sarah langsung membukanya dan menengok uang itu lalu menutupnya kembali " Baiklah Tuan terima kasih atas uangnya tapi kalau kamu butuh uang lagi bagaimana kami juga harus hidup dan anak saya juga Anggi harus sekolah"


"Itu adalah tanggung jawabmu bukan tanggung jawab kami, di sini Sani sudah tanggung jawabku karena dia adalah istriku dan kalian berdua bukan siapa-siapa aku dan bukan siapa-siapa Sani, jadi kami tidak punya tanggung jawab untuk kalian berdua kau masih muda nyonya dan kau masih bisa bekerja kau masih kuat bekerja untuk menafkahi anakmu dan anakmu pun sudah dewasa sudah umur 17 hampir 18 tahun dia juga bisa mencari uang sendiri dia bisa bekerja sambil sekolah seperti Sani dahulu kenapa tidak semuanya bisa terjadi jika kalian memang ingin mengerjakannya dan tidak malas seperti ini, kalian jangan hanya ingin minta-minta saja Sani ini bukanlah pohon uang yang terus bisa memberikan kalian uang, ingat itu dia bukan pohon uang "


Sena mengatakan itu dengan kesal sekali, saat tadi mendengar keributan diluar rumah dirinya keluar ternyata orang orang ini lagi, apa sebenarnya yang mereka inginkan tapi yang pasti yang diinginkan mereka adalah uang, sungguh membuat harinya menjadi kacau saja.

__ADS_1


Apakah mereka berdua tak punya malu sampai sampai harus seperti ini, kenapa dirinya memberi uang agar mereka tak kembali lagi dan menganggu lagi, sekali ini dirinya memberi uang kasian dengan mamihnya yang dari tadi marah marah terus.


"Tapi tuan, ini hanya untuk beberapa hari saja "


"Mih Sani masuk kalian kedalam rumah "


Sani dan juga mamihnya Sena segera masuk kedalam rumah tanpa banyak tanya dan bantah mereka menutup pintu juga, Sani wajahnya sudah begitu murung, dirinya malu dengan kelakuan ibunya kenapa harus seperti ini, kenapa harus menjual rumah kenapa harus meminta uang kenapa harus menerima uang yang suaminya berikan.


Akan disimpan dimana wajahnya ini, dirinya yang malu disini, dirinya takut malah dibilang perempuan matre dan tak tahu diri, sudah dinikahi tapi malah minta yang lain lagi, sepertinya dirinya harus bekerja untuk berjaga jaga kalau ibunya datang, dirinya akan memberikan uang hasil kerjanya.


Jangan sampai suaminya kembali yang memberikannya itu sungguh memalukan sekali, dirinya tak mau membuat keluarga seperti pengemis.


"San kamu baik baik saja kenapa kamu jadi murung ada apa "


Sani melihat kearah mamih dan menggelengkan kepalanya " aku baik baik saja mih aku hanya malu saja dengan kelakuan ibuku, "


"Dia bukan ibumu dia hanya ibu tiri yang tak tau diri kau sudah jangan memikirkannya ya, Sena pasti bisa menanganinya kau tak usah khawatir ok "

__ADS_1


Sani mengangguk saja dan mamihnya Sena langsung memeluknya dengan erat.


__ADS_2