Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Mengaku juga


__ADS_3

Rizki dari tadi main basket sama sekali tidak fokus, saat sudah istirahat Alvaro langsung mendekati Rizki.


"Kenapa sih dari tadi nggak fokus banget mainnya ada apa sih apa yang lagi lho pikirin, apa lo sama Bella lagi lakuin sesuatu sampai-sampai lagi mikirin rencana"


Rizky langsung menatap Alvaro dan menggelengkan kepalanya "Nggak kok gue nggak lagi bikin rencana apa-apa. Apaan sih lo Alvaro tiba-tiba tanya kayak gitu gue emang lagi nggak fokus aja sih, lagi capek aja gitu badan gue jadinya kurang fokus sorry sorry gue bakal bener kok sekarang mainnya, benar-benar minta maaf deh ya udah yuk main lagi lanjut lagi"


"Nantilah mainnya kok buru-buru banget , baru juga minum sebentar, apa sih yang sebenarnya lo sembunyian apa yang udah lo lakuin sama bella coba lo bilang sama gue "


"Enggak kok gue nggak lakuin apa-apa sama Bella. Kamu itu kenapa sih jadi curigaan banget sama gue sama Bella, gue gak ngelakuin apa-apa kok, kita berdua baik-baik aja dan kita juga nggak lakuin apa-apa, apaan sih lo tiba tiba tanya kayak gitu "Rizki langsung pergi meninggalkan Alvaro dia tadi terbata-bata berbicara pada Alvaro


"Kayaknya ada yang dilakuin Rizki dan Bella deh sampai-sampai Rizki terbata-bata gitu ngomongnya gue harus cari tahu apa yang mereka lakuin, sebenarnya pasti ini masalah besar nggak mungkin Rizki kayak gitu"


Alvaro kembali lagi ke lapangan dia akan mencari celah untuk mencari tahu apa sebenarnya yang Rizki dan Bella lakukan, mereka berdua sangat mencurigakan sekali.


**


Suni terbangun dia memegang kepalanya dan ternyata kepalanya berdarah " ya ampun Bella apa-apaan sih sampai kayak gini kepalaku sakit banget, aku harus hubungi siapa, aku harus minta tolong sama siapa, tolong tolong apakah masih ada orang disini"


Sani langsung mengambil ponselnya dan dia melihat beberapa panggilan dari om Sena. Sani segera menghubunginya kembali namun Om Sena namun tidak aktif nomornya.


Sani membuka kembali kontak temannya dan menghubungi Mira tapi Mira sama sekali tidak mengangkatnya juga"apa aku telepon Arzan aja ya siapa tahu Arzan bisa bantu aku, aku pusing banget berdiri pun lemes banget"

__ADS_1


Sani langsung menelpon Arzan namun sama saja tidak diangkat tiba-tiba Sani kembali pingsan kepalanya memang sakit sekali darah pun sudah bercucuran di keningnya cukup banyak.


**


Alvaro yang sudah pulang latihan basket dia tidak langsung pulang tapi pergi ke cafe tempat Sani bekerja, namun dia sama sekali tidak melihat keberadaan Sani dengan berani Alvaro mendekati teman Sani yang waktu itu pernah mengantarkan makanannya kemejanya beserta meja teman-temannya .


"Maaf Mbak saninya afa nggak saya Alvaro temannya "


"Sani dari tadi ditelepon gak diangkat-angkat dan dia juga nggak masuk hari ini. Kirain lagi ada tugas kelompok atau gimana gitu nggak biasanya sih Sani nggak bilang atau nggak izin dia nggak masuk hari ini "


"Beneran kan Mbak Sani nggak masuk apa Mbak belum lihat gitu , siapa tau Sani ada disini tapi belum ketemu sama mba "


Alvaro dengan khawatir segera menghubungi Sani namun sama sekali tidak diangkat sama "ke mana Si sani. Kamu ke mana kenapa tiba-tiba enggak diangkat kayak gini, cepetan angkat dong "


Alvaro lalu ingat tentang Rizky yang sepertinya sangat ketakutan dengan cepat Alvaro segera menghubungi Rizky dan pada panggilan pertama Rizky langsung mengangkatnya.


"Lo udah lakuin apa sama Bella, lo udah sakitin Sani di mana "


"Apa sih Alvaro tiba-tiba lo tanya di mana Sani ya mana gue tahu, emangnya gue pacarnya gitu tiba-tiba lo tanya Sani sama gue "


"Jujur sama gue lo udah lakuin apa sama Bella sama Sani cepetan bilang gue bisa laporinlah ke polisi lo bilang sekarang atau gue sekarang lapor polisi, kalau Sani hilang dan pelakunya lo sama Bella "

__ADS_1


"Emang lo punya buktinya kalau gue sama Bella yang lakuin, mana buktinya sebelum mau lapor polisi lo harus punya bukti dulu "


"Banyak CCTV dan banyak bukti lu nggak ingat di sekolah banyak CCTV atau lo emang pura-pura nggak ingat gue bisa lakuin apa aja, papi gue adalah orang penyumbang nomor satu di sekolah itu dan gue bisa ambil rekaman itu kalau emang bener-bener lo lakuin kejahatan sama Sani "


"Jangan gitu dong lu kan temen gue. Aduh gue minta maaf banget ini tuh gara-gara Bella tapi lo jangan sampai marah sama Bella ya gue enggak mau disalahin sama dia please lo jangan bilang sama Bella"


"Ya udah lu bilang apa yang udah lo lakuin sama Bella sama Sani, benar kan lu udah lakuin sesuatu sama Sani jujur sama gue"


"Iya tadi Bella marah-marah sama Sani gara-gara kalian terlalu deket, terus Bella jedotin kepala Sani ke tembok dan dia sekarang ada di kelas. Pingsan nggak tahu mati soalnya darahnya tuh banyak banget keluar dari keningnya"


"Lu gila ya lakuin itu, lo sama aja mau bunuh orang tahu nggak sih , lo udah lakuin itu dari jam berapa ini udah jam berapa sekarang ini udah sore banget, lo pasti sama Bella lakuin tadi kan waktu pulang sekolah, gila ya itu bukannya dibawa ke rumah sakit malah didiemin kayak gitu aja, meskipun lo benci sama Sani seharusnya lu punya rasa empati sedikit aja"


"Gue takut gue takut diapa-apain sama Bella dia ngancam gue kalau gue sampai nolongin Sani dia bakal laporin kalau gue yang lakuin itu semua, makanya gue enggak bisa bilang sama siapa-siapa , gue enggak bisa nolong Sani. Sebenarnya gue juga khawatir dengan keadaan Sani"


"Pokoknya sekarang lo ke sekolah gue nggak mau tahu, dulu gue sebenci bencinya sama Sani nggak pernah kayak gitu ya gue nggak pernah lukain secara fisik sama dia"


"Iya gue tahu gue minta maaf ini juga karena Bella, gue lakuin ini karena Bella beneran, gue minta maaf banget "


"Udah pokoknya sekarang lo ke sekolah, gue juga sekarang mau ke sana"


Alvaro langsung mematikan sambungannya dan masuk ke dalam mobil dia menjalankan mobil dengan ugal-ugalan untuk melihat keadaan Sani. Bagaimana keadaannya sekarang bagaimana kalau benar kalau Sani sudah tiada bagaimana coba, kenapa Bella begitu tega.

__ADS_1


__ADS_2