
Kita tengok Alfa dan Rini yuk!
Alfa masih sibuk menangani beberapa pasien di dalam ruang prakteknya.
Rini kekasihnya Alfa yang sudah jarang ke kampus untuk kuliah karena, sudah masuk ke tahap skripsi, kini menunggu Alfa di ruang khusus yang terletak di belakang meja kerjanya Alfa.
"Dokter Alfa, saya boleh memegang hidungnya dokter?" tanya seorang ibu hamil salah satu dari pasiennya Alfa.
Alfa nampak canggung dan memandang suami dari ibu yang tengah dia periksa itu.
Suami ibu tersebut langsung melotot ke istrinya.
"Pak, calon anak kita yang pengen nih, lagian ibu pengen kalau nanti anak kita mancung hidungnya kayak dokter Alfa. Kita kan pesek semua hidungnya" kata ibu tersebut dengan polosnya.
Alfa cuma bisa tersenyum lebar sembari menuliskan nama nama vitamin untuk pasiennya tersebut, di atas kertas resepnya.
"Baiklah terserah kamu saja!" kata suami dari ibu tersebut.
"Dok, boleh pegang hidungnya dokter?" tanya ibu tersebut.
Alfa pun tersenyum dan memajukan wajahnya ke arah ibu itu "silakan, bu" ucap Alfa.
Ibu itu pun memencet hidungnya Alfa alih alih memegang.
Alfa kaget dan meringis kesakitan kena kuku jari si ibu.
"Aah, maaf saya melukai dokter ya, maaf. Saya terlalu gemas dengan hidungnya dokter sih, maaf ya" kata si ibu.
Alfa menghela napas panjang menyerahkan resep ke ibu tersebut dan berkata "nggak apa apa bu, semoga bayinya sehat terus juga ibunya, satu bulan lagi kontrol ya bu"
Suami dari ibu tersebut langsung berdiri dan menarik pelan lengan istrinya dan ingin buru buru keluar dari ruang prakteknya dokter Alfa karena, malu. "Kami permisi Dok, terima kasih dan maafkan kelakuan istri saya" bapak itu menganggukkan kepalanya ke arah Alfa.
"Nggak apa apa pak, heeee" jawab Alfa sambil mengulas senyum.
Bapak dan ibu itupun pergi meninggalkan Alfa.
Tidak begitu lama masuk pasien baru yang merupakan pasien terakhirnya Alfa di hari itu.
Pasien itu datang sendirian dan tidak ditemani suaminya.
"Selamat siang, dok" sapa si pasien.
"Siang" jawab Alfa sambil tersenyum
"Mari ikut saya, bu!" kata seorang suster yang mendampingi Alfa dalam berpraktek.
Setelah suster Rika selesai menyiapkan si pasien untuk diperiksa Alfa, dia menyibakkan tirainya. "sudah siap, dok"
Alfa pun berdiri dan melangkah menuju ke bed dan mulai memakai sarung tangan dan menggerakkan stik USG-nya.
"Bagus bu, usia kandungan ibu memasuki Minggu kedelapan. Bayinya sehat, detak jantungnya pun bagus. Selamat ya, Bu" kata Alfa sembari terus menatap layar USG-nya. Setelah selesai, Alfa melepas sarung tangannya dan membuang sarung tangan tersebut ke dalam tong sampah khusus untuk alat medis dan mencuci tangannya, kemudian melangkah kembali ke meja kerjanya.
Setelah selesai merapikan si pasien, suster Rika kembali menyibak tirainya dan si pasien turun dari bed kemudian melangkah menuju ke meja kerjanya Alfa.
Setelah duduk dan menghadap Alfa, tiba tiba ibu tersebut terisak lirih.
Alfa menghentikan tulisannya di atas kertas resepnya. "Lho ada apa bu? ada yang sakit di perutnya ibu?" Alfa langsung panik.
Ibu itu menggelengkan kepalanya dan berkata "saya merasa sedih aja kalau melihat wajah tampannya dokter"
Alfa langsung terbatuk karena kaget mendengar ucapan polos dari pasiennya "uhuk uhuk"
__ADS_1
"Kenapa sedih bu?" tanya suster Rika.
"Karena saya cuma bisa memandangnya, padahal saya ingin sekali memegang wajahnya dokter Alfa" ucap si pasien dengan santainya.
Alfa menghela napas panjang dan mengusap kasar wajahnya.
"Pegang aja gak papa bu, itu keinginan si jabang bayi pastinya. Boleh kan, dok?" tanya suster Rika sembari mengulum senyum.
"Huffft, okelah kalau itu keinginan si jabang bayi. Silakan pegang muka saya bu" Alfa memajukan wajahnya ke arah si ibu.
Si ibu langsung kegirangan dan memencet hidungnya Alfa, kemudian mencubit pipinya Alfa, yang kanan dan yang kiri "semoga anak saya cowok dan tampan seperti pak dokter" ucap ibu tersebut langsung mengelus elus perutnya setelah berhasil mengobok obok wajah tampannya Alfa.
"Amin" jawab suster Rika.
Alfa meringis dan mengelus elus kedua pipinya yang terasa sedikit perih akibat dari cubitan si ibu tadi.
Setelah ibu tersebut berterima kasih dan meninggalkan ruang kerjanya Alfa. Alfa menghempaskan tubuhnya di sandaran kursinya.
Suster yang mendampingi Alfa dalam berpraktek, mengulum bibir sedari tadi, menahan tawanya.
"Sepertinya aku salah ambil jurusan nih, hancur wajah aku lama lama" Alfa kemudian berdiri sembari melepas baju dinasnya.
"Hahahaha, lebih lucu tuh ketika ada pasien yang ingin menusuk lesung pipit di pipinya dokter. Dia ngeyel kalau dia melihat ada lesung Pipit di pipinya dokter. Padahal kita tahu dokter nggak ada lesung pipitnya, hahaha. Kemudian dokter berdebat dengan si pasien kala itu, hahahaha, sungguh lucu, jiaaaahahahaha" suster itu langsung menggemakan tawanya.
Rini kemudian masuk ke dalam ruangannya Alfa. Rini yang sedari tadi berada di dalam ruang khusus yang letaknya tepat di belakang meja kerjanya Alfa, ikutan tertawa geli.
"Tertawalah kalian sepuasnya, selagi tertawa itu belum dilarang" Alfa mengerucutkan bibirnya.
"Sayang, bikin senang orang itu banyak pahalanya lho" kata Rini.
"Iya sweety" Alfa mencium keningnya Rini.
"Dok, jangan cium cium di depan Rika dong! Rika jadi kangen sama suami nih" suster Rika langsung cemberut dan melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Alfa dan Rini.
Rini langsung menggemakan suara tawanya nan merdu ketika mendengar guyonan calon suaminya.
"Sayang, kita jemput papa sekarang yuk!" kata Rini.
"Hmm, ayok!" Alfa kemudian menggandeng tangannya Rini.
"Sweety, aku gugup nih, baru pertama kali ini aku bertemu sama papa kamu" kata Alfa sembari menyetir si yellow bee.
"Papa itu baik kok. Walaupun wajahnya tampak tegas dan galak tapi sebenarnya baik. Tenang saja, papa pasti menyukaimu" kata Rini.
"Papa kamu, kalau pulang ke Indonesia memangnya cuma setahun sekali?" tanya Alfa.
"Enggak sebenarnya. Tapi tahun ini papa memang nggak bisa pulang karena, sedang menangani proyek baru di Singapore. Mama yang mengalah seminggu sekali menyambangi papa ke sana" jawab Rini.
"Kamu sudah bilang ke papa kamu soal hubungan kita, kan?" tanya Alfa.
"Sudah, mama juga sudah cerita" jawab Rini.
"Apa komentar papa kamu soal aku?" Alfa melirik Rini penuh rasa penasaran.
"Papa nggak berkomentar apa apa, heeee" jawab Rini.
"Gleeekkk" Alfa menelan salivanya dengan sangat berat.
"Aku gugup nih, serius! baru kali ini aku merasa panik, gugup dan berkeringat dingin kayak gini"
"Tenang aja. Rini sudah bilang kalau kamu sudah melamar aku, aku sudah tunjukkan juga cincin pertunangan kita ke papa, biar papa tahu kalau hubungan kita tuh serius dan nggak main main" kata Rini.
__ADS_1
"Terus, apa reaksinya papa kamu?"
"Jujur ya, heeee, papa protes saat itu, kata papa, berani beraninya melamar anaknya tanpa minta ijin dulu, dan main pakai cincin seenaknya, heeee"
"Kita balik dulu ke rumahku ya" Alfa hendak memutar balik si yellow bee.
"Jangan! kita terus aja, nggak apa apa, ada aku di samping kamu. Aku akan lindungi kamu kalau papa galak sama kamu" Rini mengusap lembut pundaknya Alfa yang nampak menegang.
"Aku melamar kamu karena dadakan saat itu, aku takut kehilangan kamu karena, ternyata kamu lumayan populer juga di kalangan cowok. Dan memang hanya ada kita berdua aja saat aku pasang cincin pertunangan kita. Aku pikir kalau papa kamu sudah pulang maka aku akan melamar kamu secara resmi. Aku juga sudah sampaikan niatku itu, ke mama kamu, kan?" kata Alfa.
"Iya aku juga sudah bilang gitu ke papa. Mama juga sudah sampaikan ke papa kok" sahut Rini.
"Dan?"
"Dan papa hanya diam, heeeee"
"Aku bakalan masuk ke dalam ujian hidup terberat dalam hidupku, nih" ucap Alfa.
"Soal mama aku yang dipenjara, kamu juga sudah sampaikan ke papa kamu?" tanya Alfa.
"Belum" jawab Rini.
"Semakin gugup nih aku, hadeeehhh, Mo, bantu aku" Alfa langsung teringat Moses.
"Kok manggil tuan Moses sih, hahaha" Rini tertawa geli melihat tingkah konyolnya Alfa.
"Entahlah, kalau manggil nama Mo, aku langsung merasa sedikit tenang, heeee" Alfa terus melajukan yellow bee.
"Sweety, kalau misalnya papa kamu tidak merestui hubungan kita karena aku anak seorang narapidana, jangan khawatir ya, aku akan terus berjuang merebut hati papa kamu, sampai papa kamu merestui kita" Alfa menggenggam tangannya Rini.
"Iya, kita akan berjuang bersama. Mama pasti juga akan membantu kita karena, mama sangat menyukaimu"
"Aku mencintaimu Sweety" Alfa mengecup tangannya Rini.
"Aku juga mencintaimu" kata Rini.
Mereka akhirnya sampai di Bandara Internasional.
Alfa menggandeng tangannya Rini dan melangkah menuju ke ruang tunggu.
Mereka akhirnya berhadapan dengan bapak Sammy Wijaya, pamannya Raymond Wijaya. Wajahnya memliki karakter yang sama dengan Ray, kaku, keras dan selalu tampak serius.
"Lepaskan tangan kamu dari tangan anakku! nggak baik bergandengan tangan di tempat umum" Ucap papanya Rini dengan wajah datar.
Alfa langsung melepaskan tangannya Rini kemudian meraih tangan pak Sammy dan mencium punggung tangan calon papa mertuanya itu.
Pak Sammy langsung berkata "ayok pulang!" setelah Alfa melepaskan tangannya.
Fotokopinya Ray nih. Kalau sama Ray, aku masih berani ajak bercanda, tapi sama seniornya Ray yang ini, hiks hiks, aku nggak tahu harus bagaimana mengambil sikap. Bantu aku Mo. Batin Alfa.
Moses yang sudah berada di dalam private jetnya terus bersin bersin.
"Sayang, kamu sakit?" tanya Melati tampak khawatir.
"Nggak sayang, kata Ray kalau kita tiba tiba bersin tuh ada orang yang tengah memanggil manggil nama kita" jawab Moses.
"Siapa yang memanggil manggil nama kamu?" tanya Melati.
"Kalau bukan Alfa siapa lagi, memang suka banget tuh anak membuatku bersin bersin kayak gini" kata Moses.
Melati langsung terbahak bahak tiada henti "kok kamu bisa seyakin itu kalau kak Alfa yang tengah memanggil manggil nama kamu, hahahahaha"
__ADS_1
"Feeling aja" kata Moses sembari meringis.