
Tepat jam satu siang, Melati beserta rombongannya, telah sampai di Indonesia dengan selamat. Di saat cewek cantik itu hendak melangkah pergi meninggalkan Bandara Internasional, dia berpapasan dengan Awan.
Awan tersenyum senang ketika melihat mantan kekasihnya, yang masih sangat dia cintai, muncul di hadapannya saat ini.
"Mel, apa kabar? kamu dari mana?" tanya Awan.
Pramono dan Delia langsung berhenti di belakangnya Melati dan menatap Awan.
"Dia siapa, nyonya?" tanya Delia.
Melati menoleh ke Delia dan berkata "teman kuliahku, mbak"
Aaahh, iya aku hanyalah seorang teman bagi kamu sekarang ini, Mel. Batin Awan sedih.
"Aaaa, emm, aku baru saja pulang dari Jepang. Kabarku baik baik saja, terima kasih" jawab Melati sembari mengelus ngelus punggungnya Chery.
Chery menoleh dan melihat Awan kemudian tersenyum cantik ke arah Awan.
"Hai, Chery, kamu makin cantik ya dan ramah kayak mama Melati, heeeee" ucap Awan sembari melempar senyuman terbaiknya untuk Chery dan mencubit pelan pipinya Chery.
Mamanya Awan kemudian melangkah mendekati mereka dan berkata "nak Melati apa kabar?"
Melati menganggukkan kepalanya ke mamanya Awan dan berucap "baik tante, maaf saya tidak bisa menyalami tante karena, saya tengah menggendong anak saya, nih"
"Nggak apa apa cantik, santai saja. Ucapkan terima kasih untuk suami kamu, tuan Moses Elruno ya, berkat tuan Moses, Awan bisa pergi ke Jerman untuk memulai kehidupan kami yang baru di sana"
"Aaah, baik tante pasti saya sampaikan" ucap Melati dan memberikan senyum termanisnya untuk mamanya Awan.
"Maafkan suami tante ya sayang, maafkan Awan juga karena, telah memilih wanita lain" mamanya Awan melangkah mendekati Melati dan memeluk Melati beserta Chery.
Beberapa detik kemudian mamanya Awan melepaskan pelukannya "semoga kamu selalu bahagia dan pernikahan kamu dengan tuan Moses Elruno langgeng sampai maut memisahkan kalian"
"Amin, terima kasih untuk doanya tante. Saya dan suami saya sudah memaafkan papanya Awan dan saya juga sudah memaafkan Awan, tante. Semoga tante dan Awan sukses di Jerman dan bahagia selalu"
"Amin" ucap mamanya Awan.
Awan merasa terharu mendengar ucapannya Melati dan merasa ingin sekali bisa berbicara berdua saja dengan Melati saat ini sembari menunggu penerbangannya, dua jam lagi. Dia kemudian memberanikan diri untuk bertanya "Mel, bisa aku bicara berdua saja dengan kamu?"
Pramono langsung berkata "tidak bisa!"
Melati tersenyum dan berkata "kalaupun bisa, aku juga tidak bersedia Wan. Aku sudah menikah dan tidak baik jika seorang wanita yang sudah menikah bicara berdua saja dengan mantan kekasihnya"
Awan mengantungkan kekecewaan di wajah gantengnya.
"Tante maaf, saya permisi pulang kasihan Chery dia sangat lelah saat ini dan Wan, aku doakan kamu selalu bahagia dan sukses di Jerman, tante jaga kesehatan ya"
"Terima kasih cantik" ucap mamanya Awan.
Arah pandangnya Awan, terus mengikuti langkahnya Melati.
Hati kecilnya Awan menangis sedih. Betapa inginnya dia memeluk Melati saat ini dan mengucapkan kata perpisahan karena, mungkin ini adalah terakhir kalinya dia bisa berjumpa dengan Melati. Wanita teristimewa di dalam hidupnya yang telah dia lepaskan begitu saja. Memang penyesalan datangnya selalu terlambat.
Mamanya Awan menepuk pundaknya Awan dan mengajak Awan untuk masuk ke dalam bandara.
Delia nampak sumringah berjalan di sampingnya Melati untuk menuju ke mobil yang dibawa oleh pak Joko untuk menjemput mereka.
"Nyonya, tadi itu mantannya nyonya ya? Ganteng banget ya? Nyonya putus dengannya karena apa?" tanya Delia yang mulai ceriwis sembari melangkah masuk ke dalam mobil.
Melati tersenyum dan menjawab "dia selingkuh mbak"
__ADS_1
"Walah, nggak jadi ganteng kalau gitu. Ternyata tukang selingkuh" ucap Delia dengan polosnya.
"Hahahaha, aku bilangin ke kak Ray lho, kalau mbak Delia mengatakan cowok lain ganteng" Melati tertawa geli mendengar ucapannya Delia.
"Ga ga ga ga" Chery ikut nimbrung dalam percakapan mereka dan membuat Delia dan Melati terkekeh geli menatap Chery. Melati langsung mencium pipinya Chery, Delia juga melakukan hal yang sama.
Chery tertawa senang menerima ciuman dari mama cantiknya dan juga ciuman dari tante Delia.
"Bilang aja nggak apa apa. Delia juga pengen lihat kak Ray itu kalau cemburu seperti apa, hihihihi" Delia melanjutkan ucapannya.
"Hahahaha, kak Ray sama suamiku itu memang sebelas dua belas ya, sama sama keras dan kaku"
"Beda, kalau tuan Moses masih romantis dan perhatian sama nyonya, nah kalau kak Ray itu super parah kakunya, mirip banget kayak gunung es, hadeeehhh" Delia menempelkan tangan di atas dahinya.
Melati menggemakan tawanya dan berucap "mungkin setelah kalian menikah nanti, sikapnya kak Ray akan berubah, mbak. Makanya buruan ajak kak Ray, nikah"
"Aaah, iya ide bagus itu" Delia langsung bersemangat ketika mendengar kata nikah.
Moses menggeram kesal menatap Chiko "bangun! dan lawan aku bocah?"
Chiko berdiri dan menyeringai persis di depan wajahnya Moses "kamu yakin bakalan menang kalau melawan aku?"
Moses semakin tertantang dan nekat mendengar ucapannya Chiko "kita ke roof top!"
"Oke!" Chiko melangkah lebar mengikuti Moses.
Itachi dan Ray bersitatap, mereka lalu berucap secara bersamaan "kita biarkan atau kita susul?"
Ray menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya, kemudian bekata "huuufftt, oke kita susul aja" mereka berdua berlari kecil menyusul ke roof top.
Sesampainya di roof top, Ray dan Itachi sudah terlambat untuk mencegah Moses menghajar Chiko. Chiko jatuh terjerembab dan langsung berteriak "stop! aku mengaku kalah" Chiko berdiri dan mengangkat kedua tangannya ke udara sebagai tanda kalau dia menyerah.
Moses masih mengeraskan bibir dan terengah penuh emosi menatap Chiko.
"Jangan mencoba mengganggu dan mengikuti istriku lagi"
"Hahahaha, maaf aku tidak terbiasa menjadi penurut jadi..........." Chiko tersenyum penuh arti menatap Moses.
Moses melangkah maju ke arah Chiko lagi tapi ditahan sama Ray.
"Tuan ingat dia putranya Kaage, ingat bisnis tuan di sini"
Moses menghempaskan tangannya Ray dari pundaknya dan berkata dengan penuh emosi "aku sudah tidak peduli dengan apapun, kalau aku harus kehilangan bisnis ini aku juga tidak peduli! yang aku pedulikan saat ini hanyalah hartaku yang paling berharga di dalam hidupku, yaitu Melati dan anak anakku"
"Hahahahaha" Chiko tertawa terbahak bahak dan pergi meninggalkan Moses.
Chiko menelepon anak buahnya ketika turun kembali menuju ke kantornya "Anata wa mōse no ie ni ikimasu Kare no tsuma o watashinoie ni tsurete ikimasu!" (kamu pergi ke rumahnya Moses dan culik istrinya bawa ke rumahku).
Ray dan Itachi mencoba untuk meredakan emosinya Moses dan membuat Moses kembali menyadari akan pentingnya bisnis dia dan Itachi sekarang ini.
Moses menoleh ke Itachi dan memegang pundaknya Itachi "kamu benar, maafkan aku yang tidak berpikir panjang dan terlalu emosi tadi. Aku akan menghadapi Kaage, kalau dia tidak terima aku telah memukuli anaknya"
"Kalau Kaage tidak terima dan meminta kamu untuk menemuinya di rumahnya, aku akan temani kamu dan kita harus bawa beberapa anak buah karena, Kaage adalah kepala gangster yang cukup disegani di sini. Jangan gegabah dalam menghadapinya?"
Ray kemudian menelepon kenalannya yang merupakan kapten polisi di Jepang. Ray mengatakan kalau nanti ada masalah, dia meminta tolong temannya itu untuk membantunya dan temannya itu pun bersedia.
Mereka akhirnya turun kembali ke ruang kerja mereka yang berada di lantai dua dari gedung tersebut dan menjumpai Chiko yang nampak tersenyum senang seolah olah akan memperoleh sebuah hadiah yang sangat bernilai. Tetapi Moses tidak menghiraukannya dan kembali berkutat dengan berkas berkasnya begitu pula dengan Itachi dan Ray.
Kemudian ponselnya Chiko berbunyi sangat nyaring, Chiko melihat layar ponselnya dan langsung melangkah lebar keluar meninggalkan Moses, Ray dan Itachi untuk menerima panggilan dari salah satu anak buahnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian setelah menerima panggilan ponselnya dia membanting ponselnya di atas lantai dan mengumpat kesal karena, anak buahnya memberitahukan kalau rumahnya Moses telah kosong. Istri dan anaknya Moses Elruno tidak berada di dalam rumah.
"Shit! aku gagal mendapatkanmu Mel" Chiko meraup kasar wajahnya "kamu di mana sekarang ini? aku merindukan wajah ayu kamu, Mel"
Kemudian Chiko, masuk kembali ke dalam dan melotot kesal ke arah Moses.
Kamu memang cerdas Moses Elruno dan itu membuatku sangat kesal. Batin Chiko.
Chiko kemudian membanting pintu dan meninggalkan Moses, Ray dan Itachi yang terlonjak kaget sembari menautkan alis mereka, menatap kepergiannya Chiko.
Moses melirik jam tangannya dan mulai memencet ponselnya untuk menghubungi istri tercintanya "halo sayang, kamu sudah sampai?"
"Sudah sayang, ini sudah berada di dalam mobil menuju ke rumah"
"Aaah, syukurlah. Salam untuk mama dan peluk ciumku untuk Elmo nanti ya"
"Iya, kamu baik baik ya di sana. Jaga pola makan, jangan lembur terus!"
"Iya cintaku, aku akan turuti semua perintah kamu, kamu kan bos aku, heeee" kata Moses yang nampak seperti anak kecil yang polos dan sangat lembut kalau sedang bersama dengan istrinya. Berbeda tiga ratus enam puluh derajat, dengan seorang Moses Elruno di dalam dunia bisnis.
Itachi tersenyum senang ketika melihat partner bisnis terpercayanya yaitu Moses Elruno sangat mencintai istrinya. Itachi lega karena dia yakin, Chiasa alias Keiko tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk merebut kembali hatinya Moses Elruno.
"Nanti malam aku VC ya, aku masih banyak kerjaan nih, I Love You" Kata Moses.
"I Love you too, tapi sebentar sayang, mbak Delia ingin bicara dengan kak Ray, tolong kamu kasih ponsel kamu ke kak Ray, ya!?" ucap Melati.
"Kenapa nggak nelpon Ray pakai ponsel dia sendiri, waahhh kacau tuh anak" Moses mulai mendengus kesal.
"Sekalian kan sayang, lagian sayang di pulsa katanya mbak Del nih, heeee, mumpung kamu yang nelpon jadi mbak Del sekalian nebeng ngomong sama kak Ray, heeee"
Moses berucap "oke kalau kamu yang meminta aku akan turuti, aku cinta kamu"
"Tapi saya cintanya sama kak Ray, tuan, heeeee" sahut Delia yang sudah memegang ponselnya Melati.
"Eh, gila ya kamu main nyamber aja, aku potong gaji kamu nanti, bikin kesal aja!" Moses mengomel kesal.
"Maaf tuan, jangan potong gaji saya, kalau anda potong gaji saya, maka saya akan minta ke nyonya tambahannya, heeeee"
"Dasar gila! Ray nih!" Moses menyerahkan ponselnya ke Ray.
Ray menautkan alisnya "untuk apa ponselnya tuan?"
"Terima nih, cewek gila Lo, cari kamu nih!" Moses melemparkan ponselnya ke arah Ray. Untungnya Ray bisa menangkapnya dengan tangkas.
Ray menghela napas panjang dan berucap "halo, ada apa Del? Kenapa nggak nelpon pakai ponsel kamu sendiri?"
"Heeee, lebih hemat kalau nebeng. Dan kamu aneh ya, cewek kamu nelpon kok tanya ada apa, ya tentu saja kangen, pengen denger suara kamu, lagian kamu ya, tadi belum ucapkan kata perpisahan, belum memeluk aku dan belum mencium aku, dasar gunung es!" Delia langsung nyerocos tanpa henti.
Pramono, pak Joko, dan Melati terkekeh geli.
Ray bisa mendengarkan suara tawa lirihnya Melati, pak Joko dan Pramono kemudian cowok ganteng itu menutup wajahnya dengan tangan kirinya lalu menghela napas panjang. "Del, ada banyak orang kan di sana? jangan ngomong sepolos itu!"
"Bodo amat! katakan kalau kamu kangen aku, cinta aku!"
Melati, pak Joko dan Pramono kembali terkekeh geli.
"Iya, iya, kamu tahu kalau aku seperti itu"
"Seperti apa?" Delia berucap penuh harap, kalau Ray akan mengatakan kata kangen dan cinta untuknya.
__ADS_1
"Yang seperti kamu bilang barusan, kan. Aku tutup teleponnya, nanti aku telpon lagi, aku masih banyak kerjaan" Ray langsung menutup sambungan telponnya
Delia mengembalikan ponsel ke Melati dan mengerucutkan bibirnya, dia gagal mendengar kata cinta dan kangen dari Ray.