
"Maaf mengganggu" suara seorang wanita nan merdu menginterupsi ciumannya Moses.
Melati langsung menarik diri dari pelukannya Moses tepat di saat Moses melepaskan ciumannya.
Moses mengerutkan dahi dan langsung menarik pinggangnya Melati, dia gelungkan lengan kekarnya di pinggang ramping istrinya itu dengan erat. Dia kemudian menatap tajam ke wanita cantik, muda dan seksi, yang berdiri di depannya.
"Selamat datang. Kenalkan ini istri tercinta saya" Moses menekan ucapannya lalu mencium pelipisnya Melati, "cantik dan imut, bukan? dan saya sangat mencintainya, hanya istri saya ini lah, satu satunya wanita yang ada di hati, jiwa dan hidup saya"
Melati mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah tampan suaminya, "sayang aku malu nih, kamu berkata begitu di depan klien kamu"
Moses menundukkan wajah tampannya dan mendaratkan kecupan di wajah cantiknya Melati, "kenapa malu, kalau perlu aku akan teriakkan di seluruh dunia kalau aku hanya mencintaimu, sayang" Moses berkata lantang penuh perasaan.
Wanita muda nan cantik berumur dua puluh delapan tahun itu pun tersenyum, "iya istri anda benar benar cantik dan cute, kenalkan nama saya Arumi Hirohito, dan anda....?"
Melati menyambut tangan wanita muda nan cantik itu dengan senyum lebar, "wah! nama kita sama, saya Melati Arumi Putri"
Wanita muda nan cantik itu pun tersenyum senang menerima sambutan hangat dari Melati, "iya nama kita sama"
"Andai suami kita pun sama nyonya, saya akan sangat bahagia. Batin Arumi Hirohito.
Flashback on
Beberapa hari sebelum kepulangannya Moses ke Indonesia.
Pada waktu itu, Ray masuk ke dalam ruang kerjanya Moses dengan seorang wanita muda, cantik dan seksi, keturunan Jepang.
Wanita itu langsung terpana menatap Moses ketika Moses berdiri, melangkah mendekati dirinya dan menyambut uluran tangannya, "Arumi Hirohito" ucapnya.
Moses tersenyum, "kebetulan yang menyenangkan, nama anda sama dengan nama istri saya. Nama istri saya Melati Arumi Putri. Arti nama Arumi di dalam bahasa Jepang itu, baik, cantik, dan elok" Moses mengatakan arti nama Arumi sembari membayangkan istri tercintanya.
Tetapi ucapannya Moses itu membuat Arumi Hirohito menjadi melambung dan setitik harapan terpercik di hatinya. Harapan untuk mendapatkan perhatian lebih dari seorang Moses Elruno.
"Silakan duduk! kita akan mulai membahas kesepakatan kerja sama kita" ucap Moses.
Arumi Hirohito terus menatap Moses dalam kekaguman, tampan, matang, gagah dan sangat cerdas, tipe pria idamanku. Batin Arumi.
"Oke! terima kasih untuk kerja samanya. Ray akan mengantarkan anda keluar" ucap Moses sembari mengulurkan tangannya.
Arumi Hirohito menyambut uluran tangannya Moses dan berkata, "bisakah kita makan malam bersama untuk merayakan kerja sama kita?"
Moses nampak ragu lalu menatap Ray. Ray menganggukkan kepalanya tanda setuju karena, papa Arumi, tuan Hirohito merupakan penanam modal terbesar untuk perusahaan barunya Moses Elruno.
"Baiklah!" ucap Moses.
Celakanya di saat itu, Arumi Hirohito terlalu bahagia karena, dia bisa makan malam dengan seorang Moses Erluno, bisa bercengkerama lumayan lama, dan oleh karena itu, membuat dia terlalu banyak minum wine. Moses memerintahkan Ray untuk mengantarkan Arumi Hirohito pulang dan Moses pun langsung pulang meninggalkan Ray dan Arumi. Ray yang mengantarkan Arumi Hirohito pulang ke rumahnya.
Tetapi di dalam mabuknya, Arumi Hirohito mengira Moses Elruno yang mengantarkannya pulang karena, di saat Arumi Hirohito berucap "terima kasih tuan Moses Elruno sudah mengantarkan saya pulang" Ray hanya menjawab "hmm" kala itu. Ray tidak menjelaskan bahwa dia adalah Ray, bukannya Moses Elruno. Tetapi itulah Ray, cowok yang tidak suka banyak bicara dan selalu malas untuk menjelaskan panjang lebar segala sesuatunya apalagi menjelaskannya ke orang yang tengah mabuk berat.
Keesokan paginya Arumi Hirohito kembali berkunjung ke kantornya Moses Elruno sembari membawakan bingkisan, "terima kasih tuan Moses untuk makan malamnya kemarin dan terima kasih telah mengantarkan saya........" Arumi Hirohito merona saat dia mengingat, Moses lah yang telah mengantarkannya pulang.
__ADS_1
"Duduk! untuk makan malam bukan masalah besar, sama sama lah, saya juga berterima kasih karena, papa anda sudah bersedia bekerja sama dengan saya" ucap Moses ramah.
"Tuan apa tuan ada waktu siang ini?" tanya Arumi Hirohito.
"Saya sepertinya ada beberapa pertemuan dengan klien, memangnya ada apa?" tanya Moses sembari bersedekap dan bersandar di sofa.
Aaaah, keren dan tampan sekali sih kalau dia bersedekap kayak gitu. Batin Arumi Hirohito.
"Saya diutus papa untuk meninjau kembali lokasi perusahaan baru anda, hanya untuk memastikan semuanya oke untuk pembukaannya nanti, sekalian melihat kesiapannya" kata Arumi Hirohito.
"Aaah, begitu ya, emm, sebentar biar Ray yang antarkan anda ke lokasi" Moses mengambil ponsel dari saku kemejanya dan hendak menelepon Ray tetapi ditahan sama Arumi Hirohito.
"Saya ingin pergi dengan anda karena, pastinya anda lebih paham tentang semuanya jika dibandingkan dengan tuan Ray, asisten pribadi anda" ucap Arumi Hirohito.
"Emm" Moses mengerutkan dahi nampak ragu.
"Tuan, ini demi kerja sama kita" ucap Arumi Hirohito.
Moses masih menatap ragu ke Arumi Hirohito dan mulai mengetuk ngetukkan jari jemarinya di atas sofa.
"Baiklah jika anda keberatan, saya akan pergi sendiri ke lokasi" Arumi bangkit dan membungkukkan badan ke Moses.
"Tunggu! baiklah saya temani, tapi saya nggak bisa berlama lama di sana" ucap Moses.
"Iya tuan, saya juga cuma butuh waktu sekitar lima belas menit saja kok" ucap Arumi Hirohito sembari tersenyum senang.
Mereka sampai di lokasi perusahaan barunya Elruno. Moses berjalan beriringan dengan Arumi sembari menjelaskan beberapa hal yang penting yang perlu Arumi Hirohito pahami.
Grap
Arumi Hirohito nekat menggelungkan lengannya di pinggang kekarnya Moses Elruno.
Moses Elruno terlonjak kaget dan secara spontan berusaha melepaskan kedua lengan itu dari pinggangnya, "nona, jangan macam macam! saya pria beristri"
Arumi Hirohito semakin mempererat dekapannya dan membenamkan wajahnya di punggungnya Moses Elruno menghirup aroma mint dan maskulin yang menguar dari tubuhnya Moses Elruno, "saya tidak peduli anda sudah beristri, saya sangat tertarik pada anda, tuan maukah anda menjadikan saya yang kedua?"
Moses menggeram kesal dan dengan agak kasar dia memaksa kedua lengan rampingnya Arumi Hirohito lepas dari pinggangnya. Moses kemudian melangkah maju menjauhi Arumi Hirohito lalu memutar badan dan memandang Arumi Hirohito.
"Dengar nona! saya sangat mencintai istri saya, saya mau menua bersama istri saya, dan saya tidak pernah tertarik sama sekali dengan wanita lain, apalagi anda. Jika sikap saya tidak berkenan bagi anda dan anda hendak mencabut modal anda, silakan saja! saya lebih mementingkan istri saya di atas segalanya" Moses kemudian melangkah pergi meninggalkan Arumi Hirohito begitu saja.
Arumi Hirohito menatap kepergiannya Moses Elruno dengan hati merana penuh kekecewaan.
Setia, tidak kenal takut, dan keren.
Kenapa kita berjumpa di saat kamu sudah beristri. Batin Arumi Hirohito kala itu.
Flashback off
"Silakan masuk! tinjaulah kesiapannya! tapi maaf saya tidak bisa mendampingi anda karena, saya dan istri saya akan makan siang bersama, permisi" ucap Moses.
__ADS_1
Melati hendak melepaskan diri dari rangkulannya Moses, hendak menyalami dan memeluk Arumi Hirohito tetapi ditahan sama Moses dan Moses langsung mengajaknya pergi meninggalkan Arumi Hirohito. Melati hanya bisa menggangguk dan tersenyum ke Arumi Hirohito.
"Sayang, cewek tadi masih muda udah hebat ya udah berbisnis dan namanya sama dengan namaku" ucap Melati sembari mengunyah makanannya.
"Walaupun kalian punya nama yang sama tetapi Arumi ku tetaplah yang tercantik dari semua Arumi di dunia ini" ucap Moses.
"Hahahaha, kalau kata Celyn, lebay nih!" Melati mencebikkan bibirnya ke Moses.
"lho kok lebay sih? beneran di mataku kamulah yang tercantik" ucap Moses.
"Makasih ya, kamu juga cowok paling ganteng sedunia" ucap Melati.
" Hahahaha, jelas dong! aku paham betul itu, dari dulu aku memang udah ganteng"
"Sombong amat yaaakk?" Melati tergelak geli.
Moses langsung menggemakan tawanya.
"Gimana Awan? dia kenapa?" tanya Moses kemudian.
"Sayang, aku akan ceritakan semua yang aku alami tadi, tapi janji jangan emosi dan jangan bertindak gegabah ya?" ucap Melati.
"Ada kejadian apa? kamu nggak kenapa kenapa, kan?" Moses langsung bangkit dan memeriksa badannya Melati mulai dari kaki, tangan dan wajahnya Melati.
"Duduklah dulu! aku nggak apa apa kok" ucap Melati.
Moses kembali duduk dan menatap Melati.
Melati menarik napas panjang dan mulai bercerita.
Di bagian cerita Awan mencium Melati, Moses langsung menggebrak meja dan berucap "kurang ajar!" dan hendak bangkit tetapi Melati berhasil menahan dan menenangkannya.
"Aku kemudian menggigit Awan sampai berdarah dan aku berhasil melepaskan diri dari Awan. Dia sakit, sayang, Awan sakit. Dengarkan isi rekamannya ya, sebentar aku ambil dulu!" kata Melati.
Melati kemudian mengambil alat rekam keduanya dari dalam tasnya dan mulai memutarkannya untuk moses dengarkan. Melati memang selalu begitu membuat dua rekaman, satu untuk pasiennya dan satu lagi untuk dirinya sendiri.
Moses akhirnya bisa memahami Awan dan tidak tersulut emosi karena sebuah kecemburuan.
"Rumi, aku juga punya rahasia. Maaf jika aku baru bisa ceritakan sekarang" kata Moses.
"Apa itu?" Melati mulai menautkan kedua alisnya.
"Cewek tadi, Arumi Hirohito, beberapa hari yang lalu sebelum aku balik ke Indonesia, dia, emm, menyatakan cinta ke aku" ucap Moses.
Melati langsung menutup mulutnya yang ternganga dengan kedua tangannya.
"Maaf aku baru cerita sekarang, tapi aku tolak dia. Aku katakan ke dia kalau aku sudah beristri dan aku sangat mencintai istriku" ucap Moses sembari terus menatap wajahnya Melati dan bersiap lari mengejar Melati karena, dia takut kalau Melati marah lalu berlari pergi meninggalkan dia seperti waktu dulu ketika Melati cemburu pada Chiasa.
Melati tersenyum dan berucap, "aku percaya sama kamu sayang. Nggak usah takut kalau aku bakal lari pergi meninggalkan kamu karena cemburu. Aku paham kamu baru sempat cerita ke aku karena, kamu sibuk dan masih fokus dengan perusahaan baru kamu, aku nggak marah, kok" kata Melati.
__ADS_1
Moses kemudian menarik kursinya dan menaruh kursi itu berdempetan dengan kursinya Melati, kemudian dia duduk dan merangkul istrinya, "aku mencintaimu Rumi, sangat mencintaimu"
Melati menyandarkan kepalanya di bahu Moses dan berucap, "aku juga sangat mencintaimu"