My Cute Nanny

My Cute Nanny
Aku siap mendengarkan


__ADS_3

Akhirnya si hitam kesayangannya Moses Elruno memasuki pekarangan rumah megah bak istana itu. Moses langsung menginjak gas semakin dalam dan memberhentikan mobilnya di depan rumah utama dengan sangat kesal sampai ban mobil tersebut berdecit cukup keras.


Awan mulai merinding. Jantung dia mendadak berdetak dengan sangat cepat dan dia merasa enggan untuk melangkah turun dari mobilnya bos besar itu.


"Turun!!" Moses mengeluarkan suara tenornya.


Dengan sangat terpaksa, Awan melepas seat beltnya dan membuka pintu mobil tersebut kemudian melangkah keluar.


Moses segera turun dan menghampiri Awan. Papa tampannya Chery itu pun langsung menggandeng lengannya Awan dan memaksa langkahnya Awan untuk masuk ke dalam rumahnya, menuju ke ruang tamunya.


"Duduk!" kali ini suara bass yang Moses keluarkan.


Awan hanya bisa pasrah dan duduk.


Raymond nampak berdiri dan langsung bertanya "untuk apa dia dibawa kemari, tuan?"


"Dimana Alfa?" tanya Moses sambil mengedarkan pandangannya.


"Sudah pulang. Begitu saya kembali, tuan Alfa langsung pamit pulang, tuan" jawab Ray.


"Lalu Melati?" Moses mulai melunak saat menyebut nama Melati.


"Melati dan Chery sudah masuk ke kamar" jawab Ray.


"Awasi dia! aku akan menemui Melati!" ucap Moses dan langsung melangkah lebar meninggalkan Ray, untuk menuju ke kamarnya Melati.


"Kak, tolong aku!" Awan menoleh ke arah Ray.


Ray hanya membalas permintaannya Awan dengan tatapan tajam dan senyuman sinis.


Aaah, sial! nggak ada yang berdiri di pihak aku nih. Batin Awan mulai panik.


Tok tok tok


"Mel, ini aku" kata Moses lembut dari arah luar kamarnya Melati.


Ceklek


Melati membuka pintu kamarnya dan Moses langsung masuk.


"Tolong tidurkan Chery di atas ranjang, biar aku bisa menjaga Chery sambil rebahan!" kata Moses.


Melati nampak bingung tapi langsung menuruti perintah tuannya. Merengkuh Chery dari dalam boxnya lalu merebahkan Chery di atas ranjang.


"Terima kasih, Mel. Sekarang kamu temui Awan. Dia menunggu kamu di ruang tamu!" kata Moses sembari melangkah mendekati putri kecilnya, setelah dia selesai mencuci tangannya.


"Awan?" Melati bertanya dengan heran.


"Iya, dia menunggumu di ruang tamu. Temui dia, aku akan jaga Chery!" kata Moses sembari merebahkan diri di samping putri cantiknya.


"Baik, tuan. Saya permisi" Melati menganggukkan kepala dan hendak melangkah keluar, tiba tiba.......

__ADS_1


"Sebentar Mel, kamu panggil aku apa barusan?" ucap Moses bernada protes.


Melati membalikkan badannya kembali untuk menatap tuannya dan berkata "Maaf, kak. Melati permisi dulu" lalu cewek cantik itu pun tersenyum dan berbalik badan meninggalkan tuan tampannya.


Moses tersenyum sumringah mendengar Melati memanggil dia, kakak.


Awan tetap duduk sembari melihat Melati yang tengah melangkah semakin dekat dengannya, berbarengan dengan detak jantung Awan yang berdetak semakin cepat.


Melati duduk di sampingnya Awan dan langsung memegang sudut bibirnya Awan "kenapa bibir kamu, biru nih. Sebentar aku ambil kotak obat dulu ya, untuk mengobati luka kamu" Melati hendak berdiri tetapi Awan langsung menahannya.


"Ada yang ingin aku katakan sama kamu, tolong jangan kemana mana dan dengarkan aku baik baik" kata Awan sambil melirik Raymond yang masih duduk di ruang tamu sembari memainkan ponsel.


"Kak, bisa tinggalkan kami?" ucap Awan.


Ray mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya dan menatap Awan. Berkatalah Ray dengan sangat tegas "tidak bisa, aku akan tetap di sini, anggap saja aku tidak ada"


Aaah, sial! Awan mengumpat kesal di dalam hatinya.


"Ada apa? lalu kenapa dengan bibir kamu?" tanya Melati sembari mengelus elus pelan pipinya Awan.


Awan meraih tangan Melati dari pipinya lalu menggenggam erat tangannya Melati.


Awan menghela napas panjang dan mulai berkata "maafkan aku" kata yang sering Awan ucapkan selama ini jika ada selisih paham di antara Melati dan Awan. Melati sudah terbiasa mendengarkan kata itu dan langsung berkata "aku sudah memaafkan kamu"


Awan kembali menghela napas dan berkata dengan berat hati "bukan masalah perdebatan kita kemarin, Mel. Ini masalah lain. Shit! bagaimana aku harus memulainya nih?"


"Ada apa sih?" Melati semakin kebingungan.


"Selingkuh" sahut Raymond tanpa dosa sambil terus menatap layar ponselnya.


"Kak!" Awan mulai menatap Raymond dengan kesal.


Raymond tidak menggubris protesnya Awan. Dia terus memainkan ponselnya.


"Hah? benar itu, Wan?" tanya Melati sambil menatap tajam ke arah Awan.


"Oke, aku cerita dulu sama kamu, ya. Kemarin malam aku bertemu dengan Miracle dan........


"Siapa Miracle?" Melati langsung memotong ucapannya Awan.


Awan mendengus kesal dan berkata "dengarkan dulu ya, jangan potong perkataanku sampai aku selesai, oke!?"


Melati menganggukkan kepalanya.


"Aku bertemu dengan Miracle secara tidak sengaja. Miracle adalah mantan pacar aku. Sebenarnya disebut mantan juga kurang tepat karena, belum pernah ada kata putus. Aku dan Miracle dipisahkan secara paksa dan......." Awan mulai menatap bola mata indahnya Melati. Awan merasa tidak tega. Dan entah kenapa di saat dia menatap bola mata indahnya Melati, dia merasa kalau dia sebenarnya sangat mencintai dan menyayangi Melati.


"Dan aku bertemu dengan dia lagi pagi tadi. Aku mengajak dia untuk makan bareng di sebuah restoran. Aku tersihir akan kenangan masa laluku dengannya lalu kami pun berciuman" Awan menyelesaikan kalimat terakhirnya dengan sangat berat.


Air mata mulai mengambang di pelupuk matanya Melati. Melati langsung menarik tangannya dari genggaman tangannya Awan.


"Mel, aku khilaf. Aku minta maaf" kata Awan mencoba meraih tangannya Melati kembali tetapi Melati malah berdiri dan melangkah untuk duduk di sampingnya Raymond.

__ADS_1


Awan yang kini duduk di depannya Melati dan Raymond, mulai mengusap kasar wajahnya.


Hawa panas di luar seakan membakar sanubarinya Melati. Air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya kini mulai memercik di kedua pipinya.


Awan menatap Melati dengan sangat sedih.


"Mel, aku menyesalinya. Tapi, aku juga merasa telah berlaku tidak adil sama kamu. Untuk itu aku minta putus. Aku masih sangat mencintai Miracle. Aku mendekati kamu selama ini karena, kamu mirip banget sama dia. Maaf, Mel" kata Awan sedih.


Melati menatap Awan sembari menyunggingkan senyum kesedihan.


"Tega kamu, Wan. Selama ini, aku hanya sebagai pelarian untuk kamu, tiga tahun hubungan kita ternyata tidak ada artinya buat kamu, hah!?" Melati mulai meninggikan suaranya.


Raymond mulai memasukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya dan bersedekap sembari bersandar di sofa. Raymond menatap tajam ke arah Awan.


"Iya, aku harus jujur sama kamu. Itu yang sebenarnya terjadi. Maaf, kita harus putus dan maaf kalau aku selama ini tidak sungguh sungguh mencintai kamu. Miracle tetaplah yang terpenting dalam hidupku, aku tidak pernah bisa melupakan Miracle" ucap Awan.


Melati langsung menyadari rasa sakit yang mulai menjalar di dalam relung hatinya. Tubuhnya mulai meremang dan gemetar. Entah karena kecewa atau karena amarah.


"Mel?" Awan memanggil nama Melati dengan lirih.


"Aku juga setuju kalau kita putus. Mulai sekarang aku akan menghapus kamu dalam hidupku. Jangan temui aku lagi, selamanya!" Melati langsung bangkit berdiri dan meninggalkan Awan.


Awan menghela napas panjang menatap kepergiannya Melati.


"Mobilku sudah datang, kak?" tanya Awan dengan raut muka sedih dan kecewa.


"Sudah" jawab Raymond datar.


"Baiklah, aku permisi pulang" Kata Awan lemas dan langsung bangkit berdiri dan melangkah keluar dari ruang tamunya Moses.


Ceklek


Melati melangkah masuk ke dalam kamarnya. Tetapi gadis cantik itu tidak melanjutkan langkahnya. Melati mematung di depan pintu kamarnya dan pecahlah tangisnya.


Moses langsung menata guling di kedua sisinya Chery lalu bangun dan berjalan menghampiri Melati.


Moses memeluk melati dan berkata "maaf, aku memelukmu. Aku hanya ingin membantu kamu untuk lebih tenang"


Tanpa Moses duga, Melati membalas pelukannya Moses. Melati melingkarkan kedua lengannya di pinggangnya Moses dengan sangat erat dan menenggelamkan wajahnya di dada bidangnya Moses.


"Menangislah sampai kau puas" ucap Moses sambil menepuk nepuk pelan punggungnya Melati.


Melati semakin sesenggukan di dalam pelukannya Moses.


Moses terus menepuk nepuk pelan punggungnya Melati dalam diam dan dengan penuh kasih sayang.


"Kalau kamu butuh curhat, aku siap jadi teman curhat kamu. Jangan aku terus yang harus jadi pasiennya. Sekali kali jadi seorang psikolog kayaknya cocok juga buat aku" kata Moses dengan polosnya.


Tanpa Moses duga Melati memukul dada bidangnya Moses dan tertawa lirih. Melati mulai melepaskan diri dari pelukannya Moses. Mundur ke belakang dan menatap tuan besarnya itu sembari tersenyum.


"Baiklah, kak. Melati akan mulai curhat" Melati kemudian melangkah menuju ke ranjang untuk duduk di atas ranjangnya, di samping tubuhnya Chery. Moses pun ikutan duduk di sisi ranjangnya yang lain menghadap Melati.

__ADS_1


"Aku siap mendengarkan" ucap Moses sembari tersenyum manis menatap Melati.


__ADS_2