
Alfa dan Rini akhirnya sampai di gedung mewah kantornya Moses Elruno. Alfa dan Rini langsung masuk ke dalam lift khusus CEO.
"Baru kali ini, Rini masuk ke dalam lift mewah dan tenang seperti ini"
"Hmm, lift ini cocok juga untuk sepasang kekasih jika ingin bermesraan, heeee"
"Kok bisa?"
"Lift ini nggak ada kamera CCTVnya"
Rini langsung memerah wajahnya saat membayangkan dia dan Alfa berciuman di dalam lift saat ini.
Alfa melirik Rini "kenapa wajahmu memerah? kami sakit demam, Rin?" tangan Alfa langsung menyentuh keningnya Rini.
Rini langsung menepis pelan tangannya Alfa dari atas keningnya "a....a...aku tidak apa apa"
Ting
Lift pun terbuka dan mereka melangkah keluar menuju ke ruang kerjanya Moses.
Ceklek
Ray dan Moses langsung menoleh ke arah pintu.
"Fa?" ucap Moses
"Rini?" kata Ray.
Alfa dan Rini tersenyum menatap Moses dan Ray.
"Tumben ke sini?" tanya Moses sembari berdiri dan melangkah untuk duduk di depannya Alfa dan Rini, Ray mengekor tuannya.
"Kenapa kamu bisa bareng datang ke sini sama tuan Alfa? kamu nggak ada kelas lagi?"tanya Ray ke arah Rini.
Rini tersenyum "sudah nggak ada kelas lagi kak, emm, tadi........"
"Aku yang jemput dia tadi di kampus, aku nggak ada teman jadi aku ajak dia" Alfa menyambung ucapannya Rini.
"Oke ada apa ini?" tanya Moses.
"Mo, papa masuk rumah sakit, pingsan kemarin, opname di rumah sakitnya om Erlangga" kata Alfa.
"Lalu?" ucap Moses sembari menyandarkan tubuhnya di sofa dan bersedekap.
"Papa pengen ketemu sama kamu, ada yang papa pengen omongkan sama.kamu, Mo"
Moses membungkukkan wajahnya dan memegang tengkuknya dia merasa sedih sebenarnya mendengar papanya Alfa jatuh sakit. Tetapi kalau mengingat semua perlakuan dan penolakan omnya selama ini, membuat Moses menghela napas panjang. Moses menatap Alfa dengan sorot mata sedih bercampur dengan rasa kecewa yang bertumpuk dan terpendam jauh di dasar lubuk hatinya selama ini.
"Mo, tolong maafkan papa dan temui beliau ya, aku mohon, Mo!?"
"Aku sebenarnya sangat menyayangi papa kamu, aku ingin mendekatinya dulu sewaktu aku masih kecil, dan di saat papa dan mama aku meninggal dunia, betapa aku sangat ingin bisa memeluk papa kamu karena, wajah papa kamu mirip dengan mamaku, aku ingin memeluknya sebagai ganti kerinduanku sama mamaku. Tetapi papa kamu selalu menolak aku, mengusir aku, dan tidak mempedulikan aku"
Alfa menghela napas.dengan sangat berat, keharuan mulai memeluk batinnya dengan sangat erat "iya, aku tahu Mo, walaupun waktu itu aku masih kecil, masih berumur lima tahun tapi aku sudah bisa memahami situasinya. Papa dan mama aku tidak mau menerima kamu, tidak mau mengasuh kamu, bahkan aku juga tidak diijinkan untuk bermain dengan kamu"
Moses kembali menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Maafkan papa, Mo. Kita ini sedarah, papa sudah membuka tangannya saat ini, maka berlarilah masuk ke dalam pelukannya" ucap Alfa sambil tersenyum.
__ADS_1
Moses kembali mengembuskan napasmya "oke, aku akan ke rumah sakit menengok papa kamu besok sebelum ke kantor"
"Waaahh, terima kasih brother!" Alfa.berdiri dan hendak memeluk Moses.
"Stop! jangan peluk peluk!"
"Hahahaha, dasar aneh, oke aku pamit ya, ada acara sama Rini. Sekali lagi terima kasih banyak ya brother, kamu sudah bisa memaafkan papa"
"Hmm" sahut Moses.
"Mau ke mana?" tanya Ray.
"Rahasia dong, kenapa? mau ikut?" Alfa berujar sembari berdiri.
Rini ikutan berdiri dan tersenyum.
"Rin, ati ati sama dia. Dia playboy kelas kakap"
"Mantan playboy Ray, aku dah bertobat sama seperti Moses" Alfa mendengus kesal menatap Ray.
Rini terkekeh geli "Rini percaya kok sama.kak Alfa, Rini pamit tuan Moses, kak Ray"
Alfa dan Rini pun akhirnya pergi meninggalkan Moses dan Ray.
"Tuan, anda serius ingin menemui om anda?"
"Iya, aku siap menemui om aku, apapun yang akan beliau sampaikan nanti. Toh aku juga sudah kebal dengan semua penolakan dan kata kata kasarnya selama ini"
"Saya doakan semoga om anda benar benar membuka diri untuk anda"
"Hmm, makasih Ray"
Alfa dan Rini mengantri karena Alfa pengen memakan es krimnya di lain tempat.
Setelah mereka mendapatkan es krim pilihan mereka, Alfa mengajak Rini untuk berjalan jalan di sepanjang trotoar di dekat kedai es krim tersebut.
Mereka akhirnya duduk di sebuah taman.
Rini sudah menghabiskan es krimnya dan melirik es krimnya Alfa "kok masih utuh es krimnya? kakak nggak suka es krim ya?"
"Suka kok" kata Alfa.
"Kok nggak dimakan? keburu meleleh tuh"
"Iya, bentar lagi aku makan. Emm, aku pengen berbagi kebahagiaan dulu sama kamu"
"Ada apa kak?"
"Kamu sudah tahu kan, kalau aku lulusan kedokteran tapi selama ini aku cuma jadi kacungnya papa, padahal passionku jadi dokter"
"Iya, lalu kak?" ucap Rini.
"Hari ini papa sudah mengijinkan aku untuk mencapai impianku, untuk mulai berkarir sebagai dokter, aku bahagia banget Rin"
"Waaah, selamat ya kak, Rini beneran ikut senang nih"
"Terima kasih, ya. Terus satu lagi, papa juga sudah bersedia membuka diri untuk Moses, aku sangat terharu dan bahagia Rin, mereka akhirnya bisa saling menyayangi sebagai om dan keponakan sebentar lagi" Alfa berucap sambil menahan tangis haru.
"Iya kak, Rini juga merasa terharu tadi. Rini ikutan bersyukur dan bahagia"
__ADS_1
"Terima kasih, Rin sudah mau berbagi kebahagiaan denganku. Rasanya aku enteng banget saat ini"
"Kak, kalau es krimnya tidak dimakan sayang tuh, biar Rini yang makan ya?" Rini mencoba meraih es krim yang sedari tadi dipegang Alfa, tanpa dimakan sama sekali oleh Alfa.
Tetapi Alfa menghindarinya "aku akan makan es krimnya" dan pluk........tangan Rini mengakibatkan es krim tersebut, terjatuh di atas taman tersebut.
Posisinya Rini berada di depan wajahnya Alfa dan hanya berjarak satu centi saja.
Mereka saling memandang. Debaran jantungnya Alfa dan Rini seolah berlomba di lintasan pacu dengan begitu cepat.
"Rin, jika kamu tidak bergerak dan berpindah posisi, maka aku akan hitung sampai tiga kali lalu aku akan mencium kamu" kata Alfa dengan sorot mata yang sangat serius.
Rini menjadi mematung setelah mendengar kata katanya Alfa Elruno. Cewek manis tersebut semakin lekat menatap Alfa
"Rin?"
"Uhm" Rini tanpa sadar memasang wajah menggemaskan karena, merasa kebingungan harus bagaimana saat ini, dia menjadi terpaku dan tiba tiba kelu.
"Satu......." Alfa berucap dan memandang Rini dan Rini semakin mematung masih belum merubah posisinya "dua.........."
Cup
Alfa langsung mendaratkan bibirnya di atas bibirnya Rini. Mencium dengan sangat lembut dan hati hati karena Alfa bisa mengetahui dan merasakan kalau Rini belum berpengalaman.
Alfa kemudian menarik bibirnya dari bibirnya Rini. Alfa melihat Rini masih memejamkan matanya.
"Rin, maafkan aku kalau aku tidak bisa menahan diri, habisnya kamu itu sangat manis dan menggemaskan"
Rini masih bergetar dan mulai membuka matanya untuk menatap Alfa.
Tetapi Rini masih kelu dan membeku.
"Rin, katakan sesuatu please, atau mau tampar aku, silakan!"
Rini menggelengkan kepalanya "Rini bingung mesti ngomong apa, kak"
"Maafkan aku" kata Alfa dengan sangat serius.
Rini tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kita sekarang sepasang kekasih"
"Hah?!" Rini langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Hahahaha, kok malah panik gitu? aku serius nih, aku sudah mencium kamu, jadi kita sepasang kekasih sekarang"
"Tapi, bukannya kak Alfa, baru saja patah hati dan........."
"Iya, kamu benar. Tapi aku sudah mencium kamu maka aku harus bertanggung jawab dong, aku yakin bersama kamu ke depannya Aku akan bisa melupakan cinta pertamaku"
"Apa Rini boleh tahu siapa nama cewek itu?"
"Nggak boleh karena nggak penting juga kan kalau kamu tahu namanya, toh aku juga akan berusaha melupakan cewek itu"
Mana mungkin aku mengatakan ke kamu kalau cinta pertamaku adalah Melati, Rin. Kalian kan bersahabat. Aku tidak ingin merusak persahabatannya kalian. Batin Alfa.
Rini tersenyum dan merasa kalau di detik ini juga, rasa sukanya untuk Alfa naik tingkat menjadi rasa cinta.
__ADS_1