
Elmo bersikeras turun tangan langsung ke lapangan untuk menawarkan produk dan jasanya. Dia berusaha merebut pangsa pasar di rumah sakit swasta tempat Jelita Adijaya magang. Elmo berharap dia bisa bertemu dengan Jelita Adijaya di sana.
Linda menoleh ke Elmo di saat mereka masih diharuskan untuk menunggu direktur utama dan direktur penjualan dari rumah sakit swasta tersebut, di sebuah ruangan yang mewah dan cukup besar.
Elmo bisa merasakan kalau Linda terus menoleh ke dia. Elmo kemudian menghela napas dan menoleh ke Linda, "ada apa? kenapa menatapku terus?"
"Kita akan kalah sebelum berperang. Pemasok utama di rumah sakit ini nggak bisa disaingi oleh pemasok lain karena, mereka bermain kotor. Mereka menyuap sana dan sini jadi posisi mereka sangat kuat di sini" Linda masih mencoba membuat Elmo untuk berubah pikiran melawan pemasok utama dan satu-satunya di rumah sakit swasta itu.
"Aku adalah Elruno, pantang menyerah sebelum berjuang" ucap Elmo.
"Pejuang angkatan empat lima nih. Perlu bambu runcing nggak, Bro?" sahut Bagas karena, terus terang Bagas juga kesal sama sikap keras kepalanya Elmo.
Elmo menoleh ke Bagas dan langsung memukul pelan keningnya Bagas.
"Habisnya kamu ngeyel sih. Pemasok di sini tuh seorang gangster, dia mempunyai banyak bisnis kotor di luar sana dan bisnis legalnya ya hanya ini jadi, dia nggak akan diam saja jika kamu mengusiknya seperti ini"
"Aku nggak akan menyerah sebelum berjuang, titik" ucap Elmo tegas.
"Huuuufftt susah melawan si kepala batu" ucap Bagas sembari mengikuti Elmo dan Linda, bangkit ketika sang direktur utama dan direktur penjualan dari rumah sakit swasta tersebut berjalan memasuki ruangan, menyalami Elmo dan kawan-kawannya lalu mempersilakan mereka semua untuk duduk.
Elmo memperkenalkan diri dan mulai melakukan presentasi dengan penawaran yang cukup menggiurkan bagi pihak rumah sakit swasta tersebut karena, dia menawarkan harga yang lebih murah, maintenance tiap bulan dan dia memberikan garansi selama satu tahun. Semua penawaran Elmo tidak ada di dalam kontrak kerja sama dari si pemasok utama dan pihak rumah sakit swasta tersebut.
"Oke, saya kasih orderan lima puluh persen dulu. Kalau selama setahun ini kerja sama kita lancar maka saya akan pertimbangkan anda untuk menjadi pemasok utama di sini" ucap sang direktur utama sambil menyalami Elmo lalu pamit pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Elmo berhadapan dengan sang direktur penjualan yang nampak tidak senang dengan Elmo karena, direktur penjualan itu telah menikmati hidup enak berkat kucuran suap yang diberikan oleh sang pemasok utama di rumah sakit swasta tersebut selama bertahun-tahun. Dia sungguh tidak menduga akan ada pesaing baru bagi bosnya itu.
Mereka menandatangani kontrak dan direktur penjualan itu pergi begitu saja tanpa pamit meninggalkan Elmo dan kawan-kawannya.
"See! I did it guys!" Elmo tersenyum lebar ke Linda dan Bagas.
"Kamu berhasil tapi kamu juga telah membangunkan seekor beruang. Kamu harus siap-siap dikejar dan menghadapinya" sahut Linda kesal sambil merengut dia pun melangkah lebar meninggalkan Elmo dan Bagas langsung mengikutinya.
"Cih! kalian tidak tahu kalau aku memiliki seekor singa yang garang, yaitu papaku dan seekor capung yang gigih, yaitu mamaku dan aku adalah putra mereka, untuk itulah aku tidak takut menghadapi apapun di dunia ini" ucap Elmo pada dirinya sendiri sambil melangkah keluar dari ruangan itu.
Elmo melangkah sambil menenteng tas yang berisi notebook super mahalnya sambil mengedarkan pandangannya. Dia mencari seorang wanita yang berambut eksentrik.
"Bingo! itu pasti Loly" Elmo kemudian melangkah lebar mendekati sosok wanita berambut keriting yang tengah memunggunginya dan sedang berbicara dengan koleganya.
"Loly?" sapa Elmo.
Wanita itu berbalik badan dan koleganya menatap Elmo dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
Pria itu bergeming, satu-satunya gerakan yang dia lakukan adalah tatapannya yang hinggap di rambutnya Jelita Adijaya. Ketika tatapan itu turun ke mulutnya, Lili langsung berucap, "anda siapa?"
Elmo mengerutkan keningnya dan mengalihkan pandangannya dari mulut Lili ke kedua manik hitamnya Lili, "selamat ya, akhirnya impianmu menjadi seorang dokter bisa terwujud tapi, kau.....kau tidak mengenaliku? kau Jelita Adijaya, bukan? maaf jika tadi aku memanggilmu Loly"
Lili merasa tidak asing dengan suara merdu pria tampan yang berdiri di depannya itu namun, dia terus menautkan alisnya ke arah pria itu di saat dia berusaha mengingat sosok laki-laki itu di dalam benaknya karena, dia merasa tidak pernah berjumpa dengan laki-laki itu dan tidak mengenal pria tampan itu sama sekali tapi kenapa, dia merasa nyaman dan tenang mendengar suara merdu pria tampan itu.
"Kau benar-benar tidak mengingatku?" Elmo memegang kedua bahunya Lili lalu menunduk untuk melihat lebih dalam kedua bola mata indahnya Lili yang begitu dia rindukan selama ini.
Lili mendorong Elmo, "jangan kurang ajar!" lalu di melangkah mundur beberapa langkah untuk menjauhi Elmo.
"Ini aku. Kenapa kamu tidak mengenaliku dan kenapa kau takut padaku? apa sebegitu bencinya kamu sama aku? maafkan aku! maafkan semua kesalahanku di masa lalu. Maafkan aku Loly eh Lili" Elmo mencoba melangkah pelan mendekati Lili namun, Lili segera berbalik badan dan menarik tangan koleganya untuk pergi meninggalkan Elmo.
Elmo menghentikan langkahnya seketika dan terus menatap punggungnya Loly sampai Loly menghilang dari pandangannya. Laki-laki tampan itu kemudian mendesah panjang dan berucap penuh kesedihan, "kenapa dia memandangku seperti orang asing? kenapa dia tidak mengenaliku? apa dia pura-pura tidak mengenaliku karena, dia sangat membenciku?
Elmo kemudian melangkah menuju ke mobilnya. Linda dan Bagas langsung melayangkan protes, "kenapa lama sekali keluarnya? kami kepanasan nih" Linda memekik kesal lalu membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil itu dengan kesal.
Bagas mengikuti langkahnya Linda. Elmo menyerahkan tas-nya ke Bagas lalu dia kembali masuk lagi ke dalam rumah sakit itu alih-alih masuk ke dalam mobil.
"Hei! Elmo! kamu mau ngapain lagi?" teriak Bagas namun, Elmo mengabaikannya dan terus berlari masuk kembali ke dalam rumah sakit swasta itu.
"Teman kamu gila! dan kau lebih gila karena, jatuh hati padanya" ucap Bagas lalu memerintahkan supirnya untuk melajukan mobil itu sambil menelepon supir Elmo yang satunya lagi untuk menjemput Elmo di rumah sakit swasta itu.
Klik.....Bagas mematikan ponselnya lalu menoleh ke Linda, "tahu lah. Terpampang nyata kalau kau jatuh hati pada Elmo. Semua orang kantor juga tahu itu"
"Hah? terlihat jelas banget ya? tapi Elmo kok tidak menyadarinya?" tanya Linda.
"Kamu tahu kan, Elmo itu emang nggak peka anaknya. Aku malah curiga jangan-jangan dia tidak tertarik sama cewek dan ......."
Linda langsung memukul kepalanya Bagas, "ngaco kamu! Elmo tuh cowok normal"
Bagas mengelus kepalanya lalu tertawa lepas, "iya aku tahu. Aku cuma bercanda"
Elmo bertanya ke resepsionis rumah sakit tersebut, "dokter Jelita Adijaya praktek jam berapa aja? apa boleh saya minta jadwal beliau?"
"Aaah, dia masih magang di sini dan masih praktek di klinik umum. Dokter Jelita Adijaya belum memiliki jam praktek sendiri" ucap petugas resepsionis itu.
"Klinik umumnya ada di mana?" tanya Elmo.
"Oh. Anda ke arah kanan, ikuti Selasar itu dan klinik umumnya ada di pojok sebelah kanan anda" sahut petugas resepsionis yang satunya lagi.
"Ah. Terima kasih banyak atas bantuannya" ucap Elmo sambil memberikan senyuman tampannya yang selalu membuat mata semua gadis meleleh. Elmo kemudian melangkah pergi menuju ke klinik umum.
__ADS_1
"Ahhhh! dia tampan sekali" ucap petugas resepsionis itu.
"Iya! senyumnya, gigi gingsulnya, aduh, aduh, bikin kaki ku lemas" ucap petugas resepsionis yang satunya lagi.
"Iya benar. Ibu juga ikutan lemas memandang ketampanan pemuda tadi dan sepertinya penyakit ibu langsung sembuh nih" sahut seorang ibu-ibu yang sedari tadi mengantre di belakangnya Elmo, "mana wangi lagi" tambah ibu-ibu tadi.
Kedua petugas resepsionis rumah sakit swasta itu pun terkekeh geli lalu bertanya, "jadi mendaftar nggak Bu?"
"Jadi dong. Emm, dia bukan dokter sini ya?" tanya ibu-ibu tadi sambil menyerahkan kartu pendaftarannya ke petugas resepsionis itu.
"Bukan Bu" sahut petugas resepsionis itu sambil mengulum bibir menahan geli.
"Sayang sekali ya. Kalau dia dokter sini, ibu akan lebih bersemangat periksa di sini, heeeee"
ucap ibu-ibu itu dengan polosnya dan disambut tawa oleh semua petugas resepsionis di rumah sakit swasta yang bertugas kala itu.
Elmo mengetuk pintu klinik umum itu dan seorang perawat keluar untuk menjumpainya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat itu.
Gila! tampan sekali pria ini. Batin perawat itu.
"Emm, saya ingin bertemu dengan dokter Jelita Adijaya"
"Boleh, mana kartu pendaftaran dan nomer antrean anda?" tanya perawat itu.
Elmo menepuk jidatnya, saking semangatnya ingin bertemu dengan Loly, dia lupa mendaftar dan dia juga belum memiliki kartu pendaftaran.
"Ada apa?" tanya perawat itu sambil memegang tangannya Elmo, "duduk dulu mas. Anda merasa pusing sekali ya? sampai memegang kening anda begitu"
Elmo menepis sopan tangan perawat itu lalu berucap, "emm, saya belum punya kartu pendaftaran dan......."
"Oh. Anda duduk saja biar saya yang urus semua administrasinya, saya perlu KTP-nya mas"
"Aaahh, baiklah! terima kasih dan ini KTP saya" ucap Elmo.
Perawat itu meraih KTP-nya Elmo lalu tersenyum dan berkata, "duduk dulu! saya akan segera kembali"
Elmo menganggukkan kepalanya dan tersenyum kemudian laki-laki super tampan putranya Melati Arumi Putri itu pun duduk.
Perawat itu menatap KTP-nya Elmo dengan penuh senyum, "aku nggak akan menawarkan diri membantunya kalau dia nggak tampan, heeee dan gila nih! bahkan fotonya di KTP pun sangat tampan. Biasanya tuh ya, orang foto di KTP pasti jadinya jelek dan tidak sebagus aslinya tapi orang ini, bisa setampan ini di foto KTP. Orangnya ramah lagi murah senyum dan gigi gingsulnya itu, hmm, menggemaskan" perawat itu terus bergumam mengagumi Elmo sambil berjalan menuju ke ruang pendaftaran pasien baru.
__ADS_1