
Matahari masih malu malu untuk menyembulkan wajahnya. Sama seperti yang terjadi dengan Melati di pagi hari ini.
Melati masih pura pura tidur. Dia masih memejamkan mata karena, malu jika membuka mata, dan merasa kebingungan, harus melakukan apa kalau sudah membuka matanya.
"Jangan pura pura tidur! aku tahu kamu sudah bangun" suara Moses seakan menggelegar di pendengarannya Melati.
Melati membuka mata pelan pelan dan menarik selimut untuk menutupi wajahnya.
Moses tersenyum geli melihat tingkah konyolnya Melati "good morning, cantik, kenapa harus ditutupi selimut kaya gitu?" Moses kemudian berbaring miring dan memeluk pinggang rampingnya Melati.
Melati berkata lirih di dalam persembunyiannya, di bawah selimut "aku malu, aku belum mandi, malu kalau kamu melihat wajah aku ada bekas iler atau ada kotoran di sudut mata aku, aahhh, aku malu, sayang. Kamu keluar kamar dulu, gih! aku mau ke kamar mandi, membersihkan diri"
Moses tertawa terbahak bahak dan langsung merengkuh tubuh Melati ke dalam pelukannya lalu membopong Melati, kemudian melangkah lebar menuju ke kamar mandi.
"Aaaaaa, sayang!" Melati berteriak karena kaget tubuhnya tiba tiba melayang di dalam dekapan hangat suami tampannya.
Moses menurunkan Melati yang masih berbalut selimut di dalam kamar mandi.
Moses menarik selimutnya Melati lalu melempar selimut itu dengan asal. Kemudian menarik tubuhnya Melati yang tampak polos ke arahnya sehingga mereka kembali berhimpitan.
Moses mencium bibirnya Melati dengan sangat lembut. Melati langsung mendorong suaminya dan menutup bibirnya.
Konglomerat muda super kaya itu langsung mengangkat satu alisnya dan bertanya heran "kenapa?"
"A...a..aku belum mandi dan belum sikat gigi" Melati berujar sembari menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
Moses menarik kedua tangannya Melati "aku tidak peduli" lalu kembali mencium Melati dengan sungguh sungguh dan secara terus menerus. Terjadilah pergulatan panas di antara kedua pengantin baru itu.
Setelah puas menyerang Melati sebanyak dua kali, Moses lalu memandikan Melati dan membopong tubuh ramping istrinya untuk dia baringkan kembali di atas ranjang.
Moses mengambil pakaian dalamnya Melati dan sebuah dress, kemudian dengan penuh perhatian dan kasih sayang memakaikan semuanya itu di tubuh istri tercintanya.
Kemudian pria tampan itu mengambil selimut yang baru dari dalam lemari pakaiannya lalu menyelimuti Melati "istirahatlah, aku sudah suruh Ijah untuk naik ke sini, untuk mengurus Chery, kamu tinggal mengawasinya saja!" Moses mengecup kening dan bibirnya Melati dengan singkat, kemudian melangkah ke box bayi untuk melihat putri cantiknya.
"Sayang, tolong baringkan Chery di sebelahku!" Melati berucap lirih.
"Hmm" Moses tersenyum dan merengkuh Chery yang masih tertidur pulas ke dalam pelukannya lalu membaringkan Chery dengan sangat hati hati di atas ranjang, di sampingnya Melati.
"Sayang, mama kangen sama kamu. Semalaman mama ketiduran karena ulah papa kamu nih, jadi mama nggak bisa lihat wajah cantiknya kamu" Melati berbaring miring dan mencium pipi gembulnya Chery.
"Hahahaha, salah sendiri kamu tercipta begitu cantik dan menggoda" kata Moses sembari berdiri untuk mulai bersiap siap pergi ke kantor.
"Kak Ray, sudah datang ya?" tanya Melati.
"Hmm dua jam yang lalu Ray sudah datang dan menungguku di ruang kerja"
__ADS_1
"Hah!?"
Moses terkekeh geli kemudian melangkah mendekati Melati "sayang, aku sebenarnya malas pergi kerja hari ini, aku pengen seharian bersama kamu" Moses kembali mencium bibir Melati lalu mencium Chery dan mencium bibir Melati lagi
"Sudah ah, kasihan kak Ray menunggu terlalu lama" Melati berujar sembari mendorong tubuh Moses dengan pelan.
Moses menatap istri tercintanya dan tersenyum geli "aku ke kantor dulu ya, aku juga suruh Ijah sekalian membawakan sarapan untuk kamu, jangan lupa makan!"
Melati menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Moses keluar kamar dan melangkah menuju ke ruang kerjanya.
Ceklek
Moses melangkah masuk dan mendapati Ray yang tengah duduk memunggunginya bergumam "masih berapa lama lagi, tuan. Duh, derita seorang jomblo ya begini ini hanya bisa menunggu dan membayangkan"
"Makanya cepetan cari pasangan dan menikahlah! aku akan kasih kamu mobil baru dan rumah baru kalau kamu menikah nanti" Moses berujar sembari terkekeh geli.
Ray langsung berdiri dan berbalik badan, kini posisi dia berhadapan dengan tuannya "hahaha, maaf kalau saya bergumam nggak jelas, tuan"
"Hahahaha, iya Ray, aku maafkan. Semua sudah siap?"
"Sudah, tuan. Mari kita berangkat sekarang!"
"Hmm" mereka berdua pun melangkah dengan penuh semangat memulai rutinitas mereka yang bakalan super padat di hari Senin.
Mantannya Melati itu merasa sangat frustasi mendapati sosok asli dari papa kandungnya sendiri. Awan semakin frustasi saat merasakan kerinduan yang tiba tiba dia rasakan untuk Melati. Setiap ada masalah yang dirasanya sangat berat, dia terbiasa curhat dengan Melati tapi kini, Melati bukan miliknya lagi.
Awan merasa segan untuk menelepon Miracle. Entah kenapa dia merasa tidak bisa terbuka dengan Miracle. Dia memiliki Miracle saat ini, bisa melihat, memeluk, bahkan mencium kekasih yang begitu dia rindukan selama bertahun tahun tapi, dia merasa masih belum bisa untuk berbagi masalah apapun.
Berbeda dengan Melati............
Melati sosok yang lembut dan selalu bisa membuat Awan berbagi setiap masalah dengan nyaman dan selalu memberikan solusi yang tepat dan baik untuk Awan.
Sedangkan dengan Miracle, entah kenapa Awan hanya merasakan gairah dan nafsu.
"Seharusnya aku memiliki kalian berdua, baru lengkaplah hidupku" gumam Awan lirih sambil memijat pelan pelipisnya.
Sementara itu Ray sudah meluncurkan Blacky di tengah hiruk pikuknya jalan yang super bising.
"Ray, apakah kamu tahu soal darah yang keluar saat malam pertama?"
"Tahu, tuan. Saya pernah membacanya. Waktu masih sekolah kan, juga diajarkan, ada pelajarannya kan, tuan. Apalagi tuan dulu kelas IPA"
"Iya aku tahu soal itu, yang mau aku tanyakan apa rasanya sakit sekali bagi si wanita? emm, setelah melakukan itu, emm, kamu tahu lah?"
__ADS_1
"Saya tidak tahu, tuan. Maaf, harusnya tuan yang lebih tahu, tuan sudah melakukan hal itu dengan banyak wanita, sedangkan saya ini masih perjaka tong tong, tuan, jadi ya saya tidak tahu"
"Shit! Ray, kamu mengingatkan betapa brengseknya aku dulu"
"Hahaha, maafkan saya, tuan"
Moses merebahkan kepalanya di atas jok mobil dan berujar lirih "aku melakukan dengan banyak wanita tapi tidak satu pun dari mereka yang berdarah, dan mengeluh sakit atau perih, bahkan aku tidak merasa kesulitan untuk memasukinya. Jauh berbeda dengan kemarin malam, apa sakit sekali ya?" Moses masih kepikiran Melati. Dia tiba tiba merasa bersalah karena telah membuat Melati berdarah kemarin malam dan lupa menanyakan keadaannya Melati pagi tadi karena, gairah yang timbul kembali pagi tadi dan karena terburu buru berangkat ke kantor.
"Kenapa tuan tiba tiba menanyakan itu?"
"Apa?! aku ngomong sama diriku sendiri nih, kok nyahut sih kamu!"
"Aaah, maaf tuan" Ray menggeleng nggelengkan kepalanya.
Tadi bertanya kan? giliran aku yang tanya malah nyolot. Huffftt sabar, Ray. Batin Ray.
Moses menelepon Melati "halo, sayang?"
"Iya, ada apa? sudah sampai kantor belum?" jawab Melati di seberang sana.
"Belum. Emm, sayang, aku mau nanya, masih perih nggak? masih sakit? maaf ya kalau aku terlalu brutal kemarin dan pagi tadi"
ooooo ternyata itu. Batin Ray.
"Sudah nggak sakit kok, cuma buat jalan masih terasa janggal, heeeee"
"Apa aku pulang aja, ya? sepertinya sakitnya akan hilang kalau kita sering sering melakukannya" Moses berucap santai tanpa menghiraukan jiwa jomblonya Ray yang tengah meringis kering.
Tuan, jangan sepolos itu ngomongnya, dong! aku tiba tiba pengen menggigit keras keras setir mobilnya nih. Batin Ray mewek.
"Apa, mana ada seperti itu, dasar genit, udah ya aku tutup dulu telponnya, mau bikin susu buat Chery, Mak Ijah sudah selesai nih mendandani Chery"
"Kasih I Love You dulu, dong!"
"I Love You" Melati mengatakan kata tersebut dengan sangar merdu.
Moses lalu menutup sambungan teleponnya dan tersenyum lebar "Ray, cepatlah menikah! menikah itu sangat menyenangkan, Ray"
"Iya, tuan. Sebentar lagi saya akan pasang iklan cari jodoh buat saya"
Moses menepuk bahunya Ray dan tertawa terbahak bahak "ngapain pasang iklan, Lo dekati aja tuh sekretaris Lo si Delia, dia sepertinya cinta mati sama kamu"
"Hahahaha, anda lucu tuan"
Moses kembali menggelegarkan tawanya.
__ADS_1
Delia sekretaris pribadinya Ray sebenarnya sangat cantik dan seksi tetapi Ray merasa cewek itu terlalu berisik dan terlalu agresif membuat Ray merasa aneh setiap berada di dekatnya Delia.
Tetapi kalau jodoh siapa tahu.