
Ivan memapah Lili ke ruang istirahat mereka sebelum mereka menuju ke klinik umum. Ivan memijit kedua pelipisnya Lili, "aku pijit kayak gini terlalu keras nggak?"
Lili menepis pelan kedua tangannya Ivan lalu berucap, "aku sudah nggak apa-apa"
"Kenapa orang tadi ke sini lagi? dia pasien kamu yang kemarin, yang kamu kasih rujukan ke dokter jiwa kan? dia berbahaya Li, kenapa kamu malah menghampirinya tadi?" Ivan bangkit dan menatap Lili dengan kepanikkan.
Lili bangkit dan memandang lekat kedua manik hitamnya Ivan, "dia tidak sakit jiwa ternyata. Aku salah diagnosa kemarin, maaf. Dia di sini karena, dia pemasok alat medis yang baru di sini"
"Hah? dia seorang marketing ternyata. Tapi cukup perlente untuk seorang marketing dan wangi parfumnya bukan wangi parfum murahan" ucap Ivan sambil mencubit dagu bagian bawahnya.
"Entahlah. Mungkin dia yang punya perusahaannya" ucap Lili sambil mulai berjalan menuju ke ruang klinik umum.
Ivan segera mensejajarkan langkahnya dengan langkahnya Lili lalu berucap, "bagaimana pun jangan mendekatinya lagi. Kalau berpapasan dengannya, kamu langsung menghindar ya?! entah kenapa aku merasa kalau dia berbahaya untuk kamu"
Lili hanya menoleh sekilas ke Ivan untuk memberikan senyum manisnya dan Ivan langsung merasa tenang melihat senyum manis terlukis indah di wajah wanita yang sangat dia cintai itu.
Ivan dan Lili memasuki ruang klinik umum dan mulai bertugas di sana.
Elmo menemui Bintang di markasnya Bintang. Bintang adalah orang pertama yang Elmo jumpai saat dia pertama kali menginjakkan kaki di Tiongkok. Waktu itu Elmo hampir saja kena jebakan taksi online dan hampir dirampok habis-habisan. Untung saja ada Bintang yang memergokinya dan Bintang menolong Elmo melawan gerombolan perampok wisatawan asing.
Bintang adalah seorang wanita tomboy, dia berdarah campuran Tiongkok-Jawa. Dan cowok tomboy yang kemudian bersahabat dengan Elmo Elruno itu adalah seorang guru beladiri di daerah sekitar tempat tinggalnya Elmo Elruno.
"Hei Bro! lama nggak ke sini kau" sapa Bintang sambil memeluk Elmo sebentar lalu setelah dia lepas pelukannya, dia meninju pelan bahunya Elmo.
"Iya maafkan aku yang terkesan mengabaikanmu, heee. Aku sibuk akhir-akhir ini jadi jarang main ke sini. Sasana aman kan? murid-murid kamu nambah nggak?" tanya Elmo.
"Sasana ini di ambang kebangkrutan. Muridku menipis, kini hanya tersisa tiga orang saja, heeee. Dan terus terang aku hampir kehabisan dana pengembangan karena, aku harua membiayai pengobatan ibukku. Kau tahu kan, aku anak tunggal dan sudah tidak memiliki ayah"
Elmo menyandarkan tangannya di atas pundaknya Bintang, "aku kasih kucuran dana kenapa kamu tolak, hah? atau paling nggak, ijinkan aku membiayai pengobatan ibu kamu"
Bintang tertawa kecil, "tidak usah. Aku nggak suka menerima bantuan finansial secara gratis. Itu beban tersendiri buatku. Kalau bisa kamu kasih aku kerjaan tapi jangan di kantor kamu, aku nggak bisa ngetik, tulisanku pun kayak cakar ayam, dan aku tidak pandai berhitung, heeee"
Elmo langsung melepas tawanya kemudian berucap, "aku ada kerjaan untuk kamu. Sebentar lagi dia akan menghubungi kamu. Aku udah kasih kartu nama kamu ke dia"
"Apa kerjaannya?"
"Supir pribadi. Dia bernama Jelita Adijaya. Putri tunggal seorang konglomerat dan ketua mafia terkenal yang bernama......."
"Maha Adijaya" sahut Bintang.
"Yups, betul! tapi jika kamu menerima tawaran kerja itu, aku butuh pertolongan kamu, heeee"
__ADS_1
"Apa? katakan saja!" ucap Bintang.
"Well, Jelita Adijaya adalah kekasihku yang hilang lima tahun yang lalu. Aku mencarinya selama ini dan akhirnya kami bisa bertemu kembali tapi, dia hilang ingatan. Dia tidak mengenaliku" ucap Elmo.
"Terus?"
"Aku minta bantuan kamu, memantau situasi di rumahnya, aku curiga dia pernah kecelakaan atau terbentur sesuatu tapi, bisa jadi dia mengkonsumsi sesuatu yang membuatnya mengalami amnesia disosiatif kalau kata mamaku. Semacam hilang ingatan akan hal tertentu saja"
"Oh begitu. Oke! aku akan bantu kamu mengawasi semua gerak gerik orang di kediamannya Maha Adijaya. Aku juga ada masalah pribadi dengan Maha Adijaya jadi pastinya aku akan terima tawaran pekerjaan itu" ucap Bintang.
"Masalah pribadi apa?" tanya Elmo dengan nada penuh kepanikan.
"Maha membuat ayahku meninggal karena, ketergantungan narkoba. Ayahku dulu bekerja untuk Maha Adijaya, sebagai asisten pribadinya Maha dan menjadi pecandu narkoba karena, Maha" ucap Bintang geram.
"Jangan cari masalah dengan Maha. Aku akan menolong kamu menyelesaikan masalah kamu dengan Maha tapi, jangan bertindak sendiri. Aku tahu kamu jago kungfu tapi, Maha bukanlah lawanmu"
"Yeaaahhh, gampang lah! jangan terlalu mengkhawatirkan aku" ucap Bintang sambil memukul pelan bahunya Elmo.
Jelita Adijaya masih terus terbayang-bayang akan sosoknya Elmo Elruno. Suaranya, wangi parfumnya, begitu nyaman bagi seluruh indranya Jelita Adijaya. Namun, setiap kali Jelita berusaha keras untuk mengingatnya, kepalanya kembali berdenyut nyeri.
"Aku penasaran sama kamu. Hanya penasaran saja, nggak tertarik kurasa Karena, aku sudah punya tunangan dan tunanganku nggak kalah keren, tampan, dan hebat dari kamu. Aku akan terus mencari tahu siapa kamu sebenarnya karena, kamu mengatakan kalau kita tidak sekadar saling kenal" gumam Jelita sambil memakan makanannya di kantin rumah sakit tersebut.
Ivan tidak bisa menemani Jelita makan siang karena, ada rapat dengan direksi. Ivan dipilih sebagai ketua ruang klinik umum karena, kecerdasan dan kedisiplinannya jadi, makan siang pun sering Ivan lakukan dengan jajaran direksi.
Lili menganggukkan kepalanya tanpa dia sadari.
Elmo tersenyum senang bukan main dan segera duduk di depannya Lili. Elmo menatap piringnya Lili dan menautkan alisnya saat dia melihat cake cokelat almond lalu berucap, "kamu sekarang menyukai makanan manis, ya? cake cokelat almond itu bukan makanan favoritmu tapi, makanan favoritnya mama Melati"
Deg, deg, deg, dada Lili bergemuruh dengan kencangnya saat dia mendengar kata mama Melati. Lili merasa hangat sekaligus sedih mendengar kata mama Melati.
"Si......siapa mama Melati? dan kenapa anda sok tahu? cake cokelat almond ini kesukaan saya dan hampir setiap hari saya memakannya" dengus Lili kesal.
Elmo tersenyum, "mama Melati adalah mama saya"
"Kalau mama Melati adalah mama anda lalu apa hubungannya dengan saya?" hidung Lili kembang kempis menahan emosi yang terasa ambigu bagi dirinya sendiri.
Elmo mendesah panjang dan berucap, "kita makan saja, oke!?"
Lili mendengus kesal ke Elmo namun, Elmo terus menatap Lili dengan senyuman mautnya sehingga membuat Lili lama-lama merasa sesak napas melihat ketampanannya Elmo yang begitu sempurna itu. Kemudian Lili mengalihkan pandangannya ke cake cokelat almond-nya sambil berucap, "jangan memandangi saya terus!"
"Karena anda terlalu manis, membuat saya enggan untuk mengalihkan tatapan saya" ucap Elmo.
__ADS_1
Deg, deg, deg, jantung Lili kembali berdetak kencang. Kata-kata yang keluar dari mulutnya Elmo terasa tidak asing bagi dia. Bahkan terkadang di dalam mimpinya dia pernah melihat seorang laki-laki mengucapkan kata-kata itu, sama persis namun, di dalam mimpinya, dia tidak bisa melihat jelas wajah laki-laki yang mengucapkan kata-kata itu.
Lili semakin menundukkan wajah manisnya yang tiba-tiba memanas seiring dengan debaran jantungnya.
"Ada apa? kenapa anda semakin menundukkan wajah anda? apa anda merasa pusing?" tanya Elmo.
"Jangan pedulikan saya!" Lili berucap tanpa mengangkat wajahnya dan dengan nada serius dia kembali berucap, "saya sudah memiliki tunangan jadi anda jangan memuji saya atau mencoba untuk merayu saya"
Elmo tersenyum, lalu bangkit dengan tanpa bersuara dan berjalan mendekati Lili. Elmo menundukkan wajahnya tepat di samping telinganya Lili yang tersembunyi sempurna di balik lebatnya rambut keritingnya Lili. Elmo kemudian berbisik, "hanya tunangan dan itu tidak berarti apa-apa bagi saya"
Lili sontak berdiri dan menghadap ke Elmo, "anda........"
Elmo menahan tangannya Lili yang sudah melayang di udara hendak menampar wajah tampannya. Elmo kemudian menarik tangannya Lili sehingga Lili menempel sempurna di tubuhnya. Elmo menunduk dan kembali berbisik, "saya sudah katakan kalau kita lebih dari sekadar kenal dan saya akan terus berusaha sampai anda mengingat kembali siapa saya"
Lili menggeram kesal dan meronta, "lepaskan aku!"
Elmo mengecup keningnya Lili dan melepaskan tangannya Lili sambil mundur selangkah dengan anggunnya lalu tersenyum menatap Lili.
Lili sontak menggeram kesal sambil menyentuh keningnya. Kening yang dikecup oleh Elmo Elruno.
"Cobalah mengingat kecupan saya itu" kemudian Elmo berbalik badan meninggalkan Lili sambil melambaikan tangannya.
Lili menggeram, merengut dan berteriak, "awas kau!"
Namun, Elmo terus melangkah meninggalkan Lili.
Elmo tertawa girang buka kepalang, dia berhasil mengecup keningnya Lili dan senyum girangnya itu masih dia bawa sampai dia masuk ke ruang kerjanya. Selama dua jam perjalanan dengan mobilnya, hingga sampai kembali di perusahaannya, dia terus tersenyum girang.
Elmo duduk tanpa menghiraukan Bagas dan Linda yang terus memandang ke arah Elmo dengan heran.
"Kamu kesambet suster ngesot ya? kamu dari rumah sakit, kan?" tanya Bagas kemudian.
Elmo terus tersenyum lebar lalu menaikkan kedua alisnya tanpa bersuara.
"Gila nih teman kamu" Bagas menoleh ke Linda.
Linda terkekeh geli dan bertanya ke Elmo, "apa yang membuatmu begitu girang?"
"Aku mendapatkan yang manis-manis tadi di kantin rumah sakit makanya aku happy, heeeeee" ucap Elmo asal sembari membaca beberapa email di layar laptopnya.
"Oh" sahut Linda dengan raut muka yang masih dipenuhi tanda tanya namun, dia enggan untuk bertanya lebih jauh lagi.
__ADS_1
"Kucing kali manis" sahut Bagas.
Dan Elmo menoleh ke Bagas dengan senyum lebar tanpa bersuara, membuat Bagas hanya bisa mendesah panjang melihat kekonyolannya Elmo di hari itu.