My Cute Nanny

My Cute Nanny
Aku yang lebih pantas memilikinya


__ADS_3

"Siapa kamu?" tanya Alfa saat melangkah masuk ke dalam ruang tamunya Moses dan melihat seorang cowok sudah duduk manis di atas sofa mewah kakak sepupunya itu.


Awan menoleh ke arah suara tersebut dan tersenyum "pagi, saya pacarnya Melati pengasuh bayinya tuan Moses Elruno."


Awan belum pernah bertemu dengan Alfa sebelumnya. Dia pun bersikap ramah dan sopan.


Alfa langsung duduk dan menaruh buket bunga mawar putih yang dia bawa di atas meja sofa.


Aaah, sial! Melati sudah punya pacar rupanya. Kata Alfa di dalam hati sembari mengamati Awan.


Keren dan ganteng juga nih bocah, ya. Batin Alfa mulai kesal.


"Maaf, Anda siapa?" tanya Awan.


Akan ada perang dunia keseribu nih. Batin Ray sembari mengusap usap kepalanya.


"Aku?" sahut Alfa sambil bersedekap dan menyandarkan tubuhnya ke sofa "hahahaha, aku pacar masa depannya Melati"


Awan langsung berdiri tetapi tangannya langsung ditarik sama Ray yang sedari tadi duduk di sampingnya Awan. Awan pun secara spontan terduduk lagi di atas sofa akibat dari tarikan tangannya Ray.


Awan langsung menoleh ke Ray dan melotot kesal.


"Jaga sikap Wan, jangan bikin keributan! ingat kalau kamu saat ini ada di rumahnya tuan Moses dan dia adik sepupunya tuan Moses!" kata Ray.


Awan kembali menoleh ke arah Alfa dan mendengus kesal menahan emosi.


"Apa Lo natap gue, Cih!" kata Alfa sambil nyengir.


Awan menghela napas panjang dan sangat berhasrat untuk mendaratkan tinju di wajahnya cowok yang tengah duduk di depannya saat ini.


"Tahan emosi Wan, dia memang seperti itu orangnya!" kata Ray.


"Melati mana Ray?" tanya Alfa dengan santainya kepada Ray.


"Melati sedang istirahat, nggak boleh diganggu!" sahut Moses sambil duduk di atas kursi single yang berada di tengah tengahnya Alfa dan Awan.


"Selamat pagi om Erlangga, waahh om awet gagah dan ganteng ya" kata Alfa sambil tersenyum lebar menatap Dokter Erlangga dan Alfa mengacuhkan kata katanya Moses.


Dokter Erlangga duduk di atas sofa di dekat sofa single yang sudah didudukki Moses dan berkata"hahaha, makasih ya Fa"


"Mau apa kalian kemari?" tanya Moses sembari menatap bergiliran kedua tamu yang tidak pernah dia harapkan kedatangannya.


"Saya ada perlu sama Melati, tuan. Penting!" kata Awan sambil menoleh ke kiri ke arah Moses.


"Aku juga ada penting sama Melati" sahut Alfa tidak mau kalah dengan Awan, sambil menoleh ke kanan ke arah Moses.


Moses Elruno menghela napas panjang dan wajahnya mulai nampak kesal saat menatap kedua tamunya itu.


Ray kembali mengusap usap kepalanya dan Dokter Erlangga pun tersenyum.


"Kamu pulang Fa! Melati sedang istirahat dan untuk apa bunga mawar putih itu, Fa?" tanya Moses.


"Kok kamu bisa langsung tahu, bunga itu aku yang bawa?" tanya Alfa heran.


"Karena dia pacarnya Melati jadi nggak akan mungkin bawa bunga" jawab Moses dengan nada datar


"Hahahaha, kamu sudah tahu kan, dia itu nggak romantis seperti aku, aku sangat memahami cewek, aku paham apa itu romantis, jadi aku yang paling pantas untuk Melati, dan dia tidak pernah membawa bunga untuk pacarnya, Cih! cowok apaan Lo" Kata Alfa sambil tersenyum sinis menatap Awan.


"Anda tidak tahu kalau Melati alergi sama bunga? Cih! romantis dari Hongkong" kata Awan tidak kalah kesalnya.


"Hah? benarkah begitu? aaahhh, sial! percuma dong aku beli bunga seindah dan semahal ini, hufffttt" kata Alfa mulai mendengus kesal.


"Anda bilang apa tadi? Anda yang lebih pantas untuk Melati, apa maksud anda?" tanya Awan mulai mengepalkan tangannya.


"Iya Fa, apa maksudmu?" Moses ikutan bertanya.

__ADS_1


"Hahahaha, aku jujur saja. Baru kali ini aku begitu tertarik sama seorang cewek dan merasa ingin memilikinya. Setelah aku renungkan beberapa hari belakangan ini, aku pun paham kalau ternyata aku telah jatuh cinta sama Melati" kata Alfa dengan polosnya.


Moses dan Awan langsung berdiri dari tempat mereka duduk.


"Mo, sabar! Dia memang wataknya seperti itu" kata Dokter Erlangga.


Dan Ray kembali menarik tangannya Awan untuk duduk.


Moses pun kembali duduk.


"Woooowww nggak ada yang berdiri di pihak gue nih, hahahaha. Wajah kalian kenapa selucu itu menatap aku?" tanya Alfa dengan polosnya.


"Fa, om tahu karakter kamu karena, dulu kamu itu muridnya om, tapi kakak sepupu kamu ini kan emosian orangnya, mendingan kamu pulang dulu deh!" kata Dokter Erlangga kepada Alfa.


Awan dan Moses masih menatap tajam ke arah Alfa.


"Baiklah om, karena om yang meminta Alfa untuk pulang, Alfa nurut deh. Emm, ini bunganya buat om aja ya, om bisa mendekati seorang cewek dengan bunga mawar putih ini om, ditanggung tokcer. Arti bunga ini kedamaian dan keromantisan keren kan. Huffft sayangnya Melati alergi sama bunga" Alfa nyerocos sembari berdiri dan memberikan bunga mawar putihnya kepada Dokter Erlangga.


"Hahahaha, oke oke, makasih ya Fa" Kat Dokter Erlangga sambil menerima bunga mawar putih yang disodorkan oleh Alfa.


Alfa pamit sama Dokter Erlangga dan mencium punggung tangannya Dokter Erlangga, lalu melangkah pergi meninggalkan rumahnya Moses tanpa pamit sama Moses,Ray dan Awan.


"Dia memang gila" kata Moses.


Dokter Erlangga kembali duduk dan menaruh bunga mawar putihnya di atas meja.


"Sebenarnya om merasa kasihan sama Alfa, dia seorang anak yang sangat cerdas, di usianya yang masih sangat muda, dia sudah berhasil menyelesaikan S2 nya di bidang kedokteran. Kalau dia menjadi dokter, dia akan menjadi dokter yang sangat hebat, tapi sekarang ini dia malah jadi seperti ini, nggak ada arah untuk hidupnya" kata Dokter Erlangga.


"Iya om benar. Dia menjadi gila karena keegoisan mamanya dan papanya hanya nurut aja sama istrinya, Cih! omku itu memang bodoh, mau aja dijadikan boneka sama istrinya" sahut Moses.


"Wan, kamu ikut aku!" kata Moses kemudian kepada Awan.


Awan menoleh ke arah Moses dengan wajah kaget dan heran "kemana, tuan?"


"Om, tunggu sebentar ya. Setelah ini Moses juga ingin ngobrol banyak sama om, emm, om nggak sibuk kan hari ini?" tanya Moses.


"Om, cuti hari ini" jawab Dokter Erlangga.


"Oke, tunggu Moses ya. Moses naik dulu,Wan ikut aku!" kata Moses sambil berdiri dan melangkah meninggalkan ruang tamu.


Awan langsung berdiri dan mengikuti langkahnya Moses.


Mereka masuk ke dalam lift menuju ke lantai paling atas menuju ke ruangannya Moses, dalam kebisuan.


Ting


Pintu lift terbuka dan mereka melangkah keluar dan langsung masuk ke dalam ruang kerjanya Moses.


Moses dan Awan telah duduk saling berhadapan.


"Aku langsung saja nanya sama kamu, sejauh mana kamu mencintai Melati?" tanya Moses.


"Saya sangat mencintainya, tuan. Sepenuh jiwa dan raga saya" kata Awan serius.


"Oke, lalu apa implementasi dari rasa cinta kamu yang sepenuh jiwa dan raga itu?" tanya Moses tidak kalah seriusnya.


"Saya sudah banyak berjuang untuk Melati, saya selalu mendukung semua keputusannya Melati, walaupun terkadang tidak sesuai dengan keinginan saya tapi, saya selalu mengalah kalau itu baik untuk Melati dan Melati bersikeras untuk menjalaninya" kata Awan.


"Contohnya apa?" tanya Moses.


"Saya selalu keberatan kalau Melati kuliah sambil bekerja. Melati punya sakit maag dan kalau kecapekkan akan kambuh. Saya sudah bilang sama Melati untuk uang kost dan kebutuhan sehari hari saya bisa menanggungnya" kata Alfa.


"Kamu sudah bekerja?" tanya Moses.


"Belum" jawab Awan.

__ADS_1


"Lalu uang siapa yang kamu pakai untuk membayar kostnya Melati dan biaya sehari harinya?" tanya Moses kemudian.


"Itulah kenapa Melati selalu menolak bantuan dari saya selama ini, tuan" jawab Alfa.


"Karena kamu masih mengandalkan uang papa kamu, benar begitu?" tanya Moses.


Awan menatap Moses dalam diam.


"Kalau kamu benar benar mencintai Melati, aku minta satu hal sama kamu!?" kata Moses.


"Apa tuan?" tanya Awan.


"Kenali dulu papa kamu. Aku kasih waktu tiga bulan kenali dulu papa kamu, sebelum kamu kenal betul siapa papa kamu, jangan datang ke sini untuk menemui Melati!" kata Moses serius.


"Hahahaha, anda bercanda kan tuan? mana ada seorang anak tidak kenal sama papanya sendiri. Tentu saja saya kenal betul siapa papa saya, kenapa anda melarang saya untuk menemui Melati?" tanya Awan heran.


"Kalau kamu benar benar mencintai Melati kenali dulu papa kamu, setelah kamu kenal siapa papa kamu yang sebenarnya, datanglah kemari dan temui Aku! aku akan mendukung kalian berdasarkan keputusan kamu nanti! tiga bulan, balik ke sini lagi temui aku!" kata Moses serius.


"Apa maksud tuan? apa ada yang salah dengan papa saya?" tanya Awan heran.


"Cari tahu jawabannya! kamu cari tahu sendiri apa yang salah dengan papa kamu! setelah ketemu jawabannya balik lagi ke sini temui aku!" kata Moses.


"Aku akan beri dukungan untuk kamu dan Melati berdasarkan jawabanmu nanti" kata Moses.


"Memangnya anda siapanya Melati bisa kasih peraturan seperti itu untuk hubungan saya dan Melati, toh anda bukan papa atau walinya Melati, kan?" tanya Awan.


"Papanya Melati menitipkan Melati ke aku. Jadi aku akan menjaga Melati dengan baik. Untuk calon suaminya pun, akan aku seleksi dengan hati hati. Aku sebenarnya tidak ada masalah sama kamu tapi, aku tidak mau Melati memiliki mertua yang tidak mencintainya kalau, kalian sampai menikah nanti. Maka aku minta sama kamu, kenali dulu papa kamu sebelum kamu melangkah lebih serius dengan Melati!" kata Moses.


"Bagaimana Anda bisa kenal dengan papanya Melati? beliau meninggal dunia waktu Melati masih berumur tiga tahun?" tanya Awan.


Moses hanya diam menatap Awan.


"Kalau setelah tiga bulan saya kembali dan saya sudah lebih mengenali papa saya, anda akan merestui kami?" tanya Awan lagi.


"Iya, aku akan merestui hubungan kalian bahkan aku akan menikahkan kalian dan akan aku tanggung semua biaya pernikahannya kalian. Aku juga akan kasih kamu pekerjaan" kata Moses.


"Baik saya bersedia, tuan" kata Alfa.


"Oke, kita tunggu Ray naik untuk membawa surat perjanjian kita, kamu dan aku kan menanda tanganinya" kata Moses.


Tidak begitu lama Ray pun naik dan membawa surat perjanjian untuk ditanda tangani Awan dan Moses.


Moses tadi sengaja menelepon Ray dan membiarkan sambungan teleponnya tetap aktif. Tetapi sebelum itu, Moses mengirim pesan text sama Ray, agar Ray membuat surat berdasarkan percakapannya dengan Awan. Ray yang super cerdas pun langsung paham maksud dari tuannya, yang memang suka membuat keputusan secara dadakan.


Awan dan Moses sudah menanda tangani surat perjanjian di antara mereka di atas meterai.


"Saya sebenarnya masih belum paham apa maksud tuan. Mengenali papa saya lebih dekat, apa saya masih kurang mengenali papa saya selama ini?" tanya Awan.


"Cari jawabannya selama tiga bulan ke depan, dan balik ke sini untuk memberikan jawaban kamu ke aku, dan ingat selama tiga bulan ke depan, jangan temui Melati!" kata Moses.


"Kalau video call boleh, tuan?" tanya Awan.


"Boleh" kata Moses.


"Aneh, bukankan video call tuh kita bertatap muka, tidak sama ya dengan saling bertemu?" tanya Awan mulai pusing dengan peraturan yang dibuat oleh Moses.


"Beda, kalau bertemu tuh, kamu datang ke sini. Nah dengan kedatanganmu ke sini untuk menemui Melati, itu berbahaya bagi Melati" kata Moses.


"Kenapa?" tanya Awan.


"Cari jawabannya sendiri dan sekarang pulanglah! pusing aku lama lama dengar kata kenapa dari mulut kamu!" kata Moses sambil berdiri meninggalkan Awan.


Moses menuju ke kamarnya untuk sarapan. Dia telat sarapan gara gara kedua tamu tidak diundangnya.


Awan pun meninggalkan rumahnya Moses dengan penuh tanda tanya di benaknya.

__ADS_1


__ADS_2