
"Bagaimana apa kamu sudah ingat siapa aku?" tanya Elmo dengan suara serak menahan gairah, sembari memegang kedua bahunya Lili.
Lili memandang Elmo dengan kedua mata menggelap karena, kabut hasrat yang begitu besar tanpa dia pungkiri telah menguasai dirinya. Lalu Lili menggelengkan kepalanya.
"Aku mengingat ciuman yang kamu berikan, harum napas kamu dan suara merdu kamu tapi bayangan wajahmu masih samar di dalam benakku" ucap Lili dengan desah kekecewaan yang begitu dalam.
Elmo masih terengah-engah akibat dari kencangnya detak jantungnya saat dia berciuman dengan Lili. Ciuman yang begitu intens, manis namun, menuntut itu, sungguh membuat seorang Elmo Elruno melemas dan hampir kehilangan akal sehat untuk melanjutkan ciuman ke jenjang yang lebih lagi dan lagi.
Lili menatap Elmo, "kenapa menatapku terus?"
"Jika aku meminta penyatuan kita malam ini, apa kamu bersedia?" suara serak Elmo terdengar begitu menggoda di telinganya Lili. Karena, jika mau jujur, Lili pun menginginkannya namun, nalarnya masih bekerja dengan baik. Lili masih ingat dia sudah bertunangan, dia seorang dokter, dan putri dari Maha Adijaya, seorang yang terpandang. Tidak mungkin dia akan ber-one night stand dengan seorang laki-laki yang masih asing baginya.
Melihat tidak ada respons dari Lili, Elmo kemudian mengelus pelan pipinya Lili, "maaf aku hanya bercanda! jangan dianggap serius! tapi jika kamu berkata oke, aku juga nggak akan mampu menolaknya"
Lili merona dan langsung menepuk dadanya Elmo Elruno.
Elmo Elruno tertawa lepas kemudian berkata, "aku akan buat kamu mengingatku secara bertahap"
Elmo kemudian menarik tangannya dari pipinya Lili, memasang kembali sabuk pengamannya sambil berkata, "aku akan mengantarkanmu pulang"
Lili menegakkan badan lalu memakai sabuk pengamannya.
"Kamu sering lembur?" tanya Elmo untuk membunuh suasana canggung yang menguar di sekeliling mereka setelah mereka berciuman dengan penuh gairah.
"Iya. Untuk itulah aku merasa butuh seorang supir wanita namun pandai bela diri. Aku merasa kalau, ada yang mengikuti aku beberapa hari ini dan ternyata benar"
"Bintang anak baik dan bisa dipercaya. Dia juga pandai bela diri. Dia punya sasana dan melatih kungfu ke anak-anak di sekitar sasana-nya"
"Terima kasih sudah mengenalkan aku ke Bintang. Aku juga yakin kalau Bintang orang baik. Bahkan sangat baik dan sangat bisa dipercaya"
"Sama-sama. Andai aku tidak bekerja, aku bersedia mengantar jemput kamu setiap hari, hehehehe" sahut Elmo.
"Kamu juga orang baik. Walaupun aku belum bisa mengingat siapa kamu namun, di lubuk hatiku, aku bisa merasakan kalau kamu bisa dipercaya dan bukan orang jahat" ucap Lili sambil menoleh ke Elmo.
Elmo menoleh sekolah ke Lili dan berucap, "terima kasih"
"Apa benar kita saling kenal dan kata kamu, kita lebih dari sekadar kenal. Berarti, kita dekat, kan?"
"Kau bilang kau mengingat suaraku, wangi tubuhku kan" Sahut Elmo.
__ADS_1
"Tapi itu masih belum cukup untuk membuatku yakin kalau kita pernah dekat" ucap Lili.
"Kau masih memakai kalung emas putih dengan liontin berbentuk capung?" tanya Elmo sambil menoleh sekilas ke Lili.
Lili sontak menoleh ke Elmo dengan sorot mata penuh tanda tanya lalu dia bertanya, "ba....bagaimana kau bisa tahu? saat ini aku pakai sweater dan kalungnya tidak kelihatan karena, dingin aku pakai baju dua lapis"
Elmo menoleh sekilas sambil melempar senyum lalu berucap, "tentu saja aku tahu. Kalung itu pemberian dariku. Apa kau ingat apa yang aku ucapkan saat memasangkan Kakung itu di leher cantik kamu?"
"Tidak" ucap Lili tanpa mengalihkan tatapan matanya dari wajah tampannya Elmo.
"Aku katakan kalau cintaku akan abadi dan tidak akan pernah mati. Seperti capung yang abadi dan tidak pernah mati. Kamu ingat?" tanya Elmo.
"Tidak" jawab Lili.
"Apa kamu pernah jatuh? kamu tidak benar-benar menjawab pertanyaanku yang ini saat aku tanya waktu kamu memeriksaku" tanya Elmo.
"Tidak. Aku tidak pernah jatuh dan itu sungguh-sungguh adalah jawabanku. Aku tidak berbohong atau tengah menutupi sesuatu" ucap Lili.
"Baiklah! kita masih punya banyak waktu. Aku akan mencari tahu penyebab hilang ingatanmu itu" ucap Elmo.
"Caranya?" tanya Lili.
"Kata itu tidak asing di telingaku. Kata aku seorang Elruno aku merasa udah sangat sering mendengarnya tapi kapan aku lupa" sahut Lili.
"Itu kata yang sering aku ucapkan dulu. Setiap kali kamu meragukan keputusanku" ucap Elmo.
"Oh" Lili berucap singkat karena, dia benar-benar masih kebingungan dengan segala yang nampak di depan matanya saat itu.
"Kita sudah sampai" ucap Elmo Elruno.
"Kau tahu di mana rumahku? aku bahkan belum memberitahukan ke kamu di mana rumahku, kan?" tanya Lili dengan wajah heran sambil melepas sabuk pengamannya.
"Siapa yang tidak tahu rumah Maha Adijaya" ucap Elmo sembari melangkah turun dari dalam mobilnya Lili.
Lili menerima kunci mobilnya dengan pandangan seolah enggan melepas Elmo.
Elmo tersenyum, "masuklah! semakin dingin, nih" ucap Elmo sambil mengelus singkat rambutnya Lili.
Lili tersenyum merona dan dengan tidak dia sadari, dia menahan lengannya Elmo saat Elmo berkata, "aku pulang dulu dan segeralah masuk!" lalu Elmo berputar badan hendak meninggalkan Lili.
__ADS_1
Elmo secara spontan menghentikan langkahnya dan melihat lengannya yang dicekal Lili laku menatap Lili, "ada apa? mau ciuman selamat malam dariku?"
"Dasar mesum!" sahut Lili sambil melepaskan lengannya Elmo Elruno.
Elmo Elruno terkekeh lalu berucap, "lalu kenapa kamu tahan lenganku?"
Lili merona dan berkata, "i...itu, emm, kamu pulangnya bagaimana?"
Elmo langsung tertawa, "aku laki-laki jadi nggak perlu kamu khawatirkan. Masuklah!"
"Tapi ini sudah jam dua belas malam dan daerah sekitar sini lumayan berbahaya di jam segini"
"Maka dari itu dokter Lili Adijaya, masuklah! aku akan pulang dengan anak buahku. Tuh! mereka menungguku" ucap Elmo sambil menunjuk ke mobil mini Van berwarna krem yang berada di ujung jalan tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Lili kemudian tersenyum, mengucapkan kata terima kasih sekali lagi, lalu masuk kembali ke dalam mobilnya dan meluncurkan mobil itu ke dalam istananya Maha Adijaya.
Elmo menunggu sampai mobilnya Lili benar-benar masuk ke dalam istananya Maha Adijaya. Kemudian laki-laki tampan putranya Melati Arumi Putri itu, berlari pelan menuju ke mobil mini van-nya. Dia membuka pintu mobil itu lalu melompat masuk dan menutup kembali pintunya. "Jalan! kita pulang" perintah Elmo ke anak buahnya.
"Baik Bos!" sahut sang supir.
Lili langsung dipeluk oleh papanya ketika dia memasuki rumahnya.
"Kenapa pulang selarut ini? mana Ivan? dia biasa antar kamu pulang kan?" tanya Maha Adijaya.
"Ivan sekarang jadi kepala ruang klinik umum jadi kita jarang bisa pulang bareng sekarang, Pa" ucap Lili sambil melepaskan diri dari pelukan papanya.
"Lalu kalau kamu pulang selarut ini siapa yang mengantarmu?" tanya Maha penuh dengan rasa khawatir karena, dia sungguh-sungguh menyayangi putri tunggalnya itu
"Aku udah sewa supir cewek. Dia baik, bisa dipercaya dan pandai bel diri. Dia akan mulai mengantar jemput Lili, besok. Pa, maaf Lili capek dan besok masih harus bangun pagi. Lili pamit ke kamar ya? mau mandi lalu tidur"
"Oh iya. Cepat naik ke kamarmu sana dan cepat tidur"
Lili bergegas naik. Lili sengaja tidak menceritakan ke papanya apa Yanga baru saja dia alami di hati itu karena, dia tidak ingin papanya menjadi khawatir yang berlebihan.
Setelah mandi, Lili melompat di atas ranjangnya. Dia memegang bibirnya dan senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
"Kenapa aku merindukan dia, Elmo Elruno. Dasar gila!" Lili menepuk pelipisnya lalu bergumam kembali, "aku bahkan tidak merindukan Ivan Goh sama sekali dan kenapa benak dan hatiku saat ini dipenuhi dengan Elmo Elruno. Gigi gingsulnya kenapa bisa membuatku berdegup kencang" Lili kemudian berguling ke kanan dan ke kiri sambil senyum-senyum sendiri membayangkan gigi gingsulnya Elmo Elruno.
Lili kemudian memegang liontin capungnya. Dia mencium liontin capung itu kemudian tertidur dengan sangat lelap dengan senyum terlukis indah di wajah manisnya.
__ADS_1