
Moses mengantarkan Melati dan Chery ke bandara. Melati naik pesawat umum. Karena, Moses merasa trauma kalau anak dan istrinya memakai private jet tanpa dia temani, maka akan terjadi hal yang tidak dia inginkan seperti yang dialami papa dan mamanya dulu.
"Del, tolong bawa Chery sebentar!" perintah Moses sembari mencium keningnya Chery cukup lama dan menyerahkan Chery ke Delia.
Delia merengkuh Chery dan melangkah keluar dari mobil mewahnya Moses bersamaan dengan Ray.
Moses mengusap pelan bibirnya Melati. "Sayang, ternyata masih ada waktu satu jam, emm, kita belum pernah melakukan di dalam mobil, kan?"
Melati langsung memukul pelan dada bidangnya Moses. "Jangan ngawur! ini di parkiran umum, banyak orang lalu lalang"
"Kaca mobil ini reflektif nggak akan terlihat dari luar" Moses mulai mencium bibirnya Melati dengan penuh damba. Irama crescendo mulai dia lancarkan di dalam ciumannya. Pagutan French kiss memabukkan mereka berdua.
Moses melepas ciumannya, menempelkan dahinya di atas dahinya Melati dan berkata dengan suara parau "aku akan merindukanmu, bolehkah aku meminta jatahku sekarang, sebagai uang saku buatku selama di sini tanpa kamu, heeeee" Moses mengedipkan mata ke Melati.
Melati terkekeh geli dan menganggukkan kepalanya.
Moses kembali mencium bibirnya Melati dan mendesak Melati ke jok belakang mobilnya. "Tempat ini terlalu sempit ternyata, shit! tapi aku menyukainya" Moses menyeringai dan mulai bergerilya memakai tangan dan mulutnya, menyapu wajah dan leher istrinya, cowok tampan itu pun dengan segera menjelajahi setiap jengkal dari tubuh mulus istrinya. Dia melakukan serangannya dengan kilat khusus karena, dikejar waktu.
Setelah menyelesaikan urusannya dengan sang istri tercinta, Moses merapikan kembali dress dan rambutnya Melati, mengecup singkat bibir istrinya dan berucap "terima kasih, sayang. Aku mencintaimu"
Melati memeluk erat suaminya dan mulai terisak "bagaiman nanti aku membunuh rasa rinduku untuk kamu, sayang?"
Moses ikut merasa sedih "aku akan VC tiap malam, oke?"
Moses mengusap air mata yang membasahi pipi cantik istrinya, kemudian mengajak Melati untuk keluar dari mobil, menyusul Ray, Delia dan Pramono yang sudah masuk ke dalam ruang tunggu VIP.
Tuan, anda memang sangat hebat. Bisa bergairah di manapun dan setiap waktu. Batin Ray ketika menatap kedatangan Melati dan tuan besarnya.
Chery langsung berucap "ma ma ma" dan menghambur masuk ke dalam dekapan mamanya.
Moses mencium pipi gembulnya Chery kemudian puncak kepalanya Melati.
Moses mencium bibirnya Melati dengan sangat dalam dan lama ketika Chery sudah dibawa masuk oleh Delia ke dalam pesawat.
Ray hanya bisa memandang kelakuan tuannya dalam diam.
"Masuklah! aku akan menelepon kamu begitu kamu sampai di Indonesia" Moses berucap setelah melepaskan ciumannya, dan mengelus pipinya Melati.
Melati memutar badan sembari mengusap air mata yang kembali turun membasahi wajah cantiknya. Melati berulangkali menoleh ke belakang dan melambaikan tangan ke suami tercintanya, hingga sosok suami tercintanya, tidak terlihat lagi dan dia pun melangkah masuk ke dalam pesawat.
Moses meninggalkan bandara ketika pesawat yang ditumpangi Melati dan anaknya telah take-off.
Ray dan Moses langsung menuju ke pabrik untuk meninjau mesin pabrik yang rewel. Itachi telah menunggu mereka di sana dan Chiko. Chiko melihat Moses dengan senyum ramahnya.
Itachi dan Chiko langsung membungkukkan badan ke arah Moses.
Moses dan Ray membalasnya, kemudian mereka masuk ke dalam pabrik.
Chiko mengiringi langkahnya Moses dan bertanya "kenapa anda tidak mengajak istri anda?"
Moses menoleh ke Chiko dengan sorot mata kesal dan tidak menjawab pertanyannya Chiko.
"Anda tidak mengingat saya di perjumpaan kita pertama dulu, ya? hahahaha, ketika saya melarang anda untuk menemui mama tiri saya lagi. Waktu itu saya masih seorang gangster dan berambut gondrong" Chiko mulai sok akrab dengan Moses
Moses terus membisu dalam langkahnya.
"Anda pendiam ternyata, ya?" Chiko masih terus ceriwis.
Mereka menghentikan langkah mereka di depan sebuah mesin yang sangat besar. Ada dua puluh buah mesin di dalam bangunan hasil renovasi itu dan tiga diantaranya rusak parah. Membuat proses produksi terganggu.
"Apa teknisinya sudah datang?" tanya Moses ke Itachi.
"Sudah, ada teknisi dari pihak.anda dan dari pihaknya tuan Kaage" jawab Itachi.
"Yang mana kepala teknisinya?" tanya Moses.
Ray kemudian mendekati salah satu dari teknisi yang tengah memperbaiki salah satu mesin yang rusak dan mengajaknya untuk mengahadap Moses.
Moses bertanya beberapa hal kepada kepala teknisi itu dan memerintahkan beberapa hal untuk dilakukan teknisi itu. Cowok tampan kekasih hatinya Melati itu bergerak dan berucap dengan sangat cerdas dan cepat membuat Chiko langsung mengaguminya.
__ADS_1
"Anda memang sangat berbakat dan cerdas tuan Moses Elruno" ucap Chiko.
Moses hanya mengulas senyum kecil, memandang Chiko.
Mereka kemudian naik ke atas untuk masuk ke dalam kantor sembari menunggu para teknisi menyelesaikan pekerjaan mereka.
Moses berkata ke Itachi "bagaimana hal ini bisa terjadi?"
Chiko merasa geram karena sedari tadi Moses sama sekali tidak menghiraukannya.
"Aku mencurigai ada sabotase. Polisi juga sudah aku mintai tolong untuk menyelidikinya" ucap Itachi.
"Sabotase?" Chiko berucap sembari menautkan alisnya.
Itachi yang mencurigai Kaage pelakunya, melempar seringai ke arah Chiko.
Chiko mendengus kesal. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Itachi hanya melempar senyum dan diam.
Moses menenggelamkan diri ke dalam berkas kepemilikan tanahnya tuan Hirohito.
Chiko yang duduk di sampingnya Moses berbisik lirih "istri anda tidak menelepon anda? apakah nanti, istri anda akan menyusul ke sini?"
Moses mendengus kesal dan menoleh ke Chiko "kenapa sedari tadi, kamu terus menanyakan istriku?"
Itachi dan Ray yang mendengarkan ucapannya Chiko pun ikutan merasa kesal.
"Hahahaha, kalian kenapa menatap aku seperti itu? wajar kalau aku bertanya dimana istrinya tuan Moses karena, aku laki laki normal jadi, kalau aku ingin menatap wajah ayunya nyonya Melati saat ini, itu normal, kan, hahahaha" Chiko berucap dengan santainya.
Moses mulai berdiri dan mengepalkan tinjunya. Ray dan Itachi langsung berucap secara bersamaan "tuan"
"Katakan! apa niat kamu pada istriku? kenapa kemarin aku mendapati kamu, terus mengikuti aku dan Melati waktu di wahana permainan?"
"Hahahaha, kalau aku berkata jujur, aku menginginkan istri anda, aku jatuh cinta pada istri Anda pada pandangan pertama, apa yang akan anda lakukan?"
Moses langsung memukul wajah gantengnya Itachi dan darah mengucur tipis di sudut bibirnya Chiko.
"Tuan" Ray dan Itachi kembali berucap secara bersamaan tapi Moses sudah menjadi gelap mata dan tidak menggubris ucapannya Ray dan Itachi yang mencoba mengingatkannya untuk tidak bertindak gegabah atas Chiko.
Di Indonesia............
Alfa masih menangani dua pasien terakhirnya tiba tiba suster Rika yang setia menjadi asistennya selama ini berkata lirih "dok, di luar ada seorang bapak bernama Sammy Wijaya bersikeras ingin masuk ke sini"
Alfa menautkan alisnya kemudian berkata "Aku akan menjemput beliau masuk"
"Tapi pasiennya?" tanya suster Rika.
"Suruh tunggu sebentar" kata Alfa sembari beridiri dan melangkah keluar dari ruangan untuk menemui calon papa mertuanya.
"Om, silakan masuk! tapi maaf, om duduk dulu sebentar ya, saya masih ada dua pasien yang harus saya periksa" ucap Alfa sambil tersenyum.
Sammy melangkah masuk tanpa membalas senyumannya Alfa. Papanya Rini itu berjalan memasuki ruang pralteknya Alfa sembari mengempit papan caturnya kemudian duduk di atas salah satu kursi.
Alfa kemudian melangkah menuju ke bed dan mulai memeriksa pasiennya. Sammy mengamati Alfa dan merasa kagum dalam diam. Sammy menyukai keramahan Alfa pada setiap pasiennya.
Ramah dan hangat juga anak ini. Aku suka. Tapi sebelum kamu lulus ujian, aku nggak akan tunjukkan rasa sukaku untuk kamu, enak aja, kamu harus berjuang dulu demi putriku. Batin Sammy.
Setelah pasien terakhirnya Alfa pamit pulang dan meninggalkan ruang prakteknya Alfa. Sammy langsung melangkah dan duduk di hadapannya Alfa sembari membuka papan caturnya.
Suster Rika pamit untuk meninggalkan ruang prakteknya dokter Alfa Elruno.
Alfa menatap papanya Rini lalu mengalihkan pandangannya ke papan catur sembari menautkan alisnya.
"Kita main catur dulu di sini" kata papanya Rini dengan santainya.
"Kenapa di sini om?.kenapa tidak di rumah?" tanya Alfa.
"Istriku itu sangat pandai bermain catur, kalau aku bermain catur dengan orang lain dia suka merecoki, ribet. Kalau di sini kan aman dari gangguannya"
__ADS_1
Alfa tersenyum geli dan dengan penuh kesabaran berucap "baiklah, om. Berapa babak nih permainannya?"
"Tiga babak dong, kalau aku kalah aku akan kasih kamu dua puluh point, ini ujian kedua untuk kamu dan nilainya dua puluh point. Tapi kalau kamu kalah, kamu nggak dapat tambahan point dan harus traktir aku makan siang. Hari ini mamanya Rini ngambek, nggak masak dia"
Alfa mengulum bibirnya menahan tawa mendengar ucapan polos yang meluncur dari mulut calon papa mertuanya itu.
"Baik om, siapa dulu yang melangkah nih?" tanya Alfa.
"Aku dong" Papanya Rini langsung melangkahkan salah satu bidak caturnya..
"Maaf om, Rini kenapa nggak ikut ke sini?" Alfa mencoba mengisi keheningan yang ada dengan pertanyannya.
"Sssttt, kalau bermain catur nggak boleh berisik dan berbicara!"
Ruangannya Alfa masih terdengar sayup sayup musik klasik jadi aman untuk pendengarannya Alfa yang tidak menyukai keheningan yang benar benar sunyi dan senyap.
Babak pertama dimenangkan oleh papanya Rini. "Ternyata seorang dokter itu tidak pandai dalam mengatur strategi, lihat! aku menang, kan" Sammy berucap sembari menata kembali bidak caturnya di atas papan catur "ayok! main lagi!"
"Mamanya Rini tuh aneh, ngambek nggak jelas, apa karena aku secara nggak sengaja menendang pot bunga mawar kesukaannya waktu aku mencuci mobil tadi. Pot dan bunganya hancur, heee" pak Sammy Wijaya meringis di depannya Alfa.
Katanya harus hening dan tidak boleh banyak bicara, kok sekarang om yang terus ceriwis ya? Batin Alfa geli.
"Kamu tahu dimana beli pot dan bunga mawar yang bagus?" tanya papanya Rini serius.
"Tahu, om" jawab Alfa.
"Habis ini, antarkan aku ke sana ya?" kata papanya Rini sembari melangkahkan pion caturnya.
"Baik om, pakai mobilnya om atau mobil saya?" tanya Alfa.
""Mobil kamu dong, aku naik taksi online tadi" jawab papanya Rini dengan santainya.
"Baik, om"
"Kamu sudah berapa lama berpacaran dengan putri kesayanganku?" tanya papanya Rini.
"Satuh tahun lebih beberapa bulan om" jawab Alfa.
"Apa yang kalian lakukan selama itu?" tanya papanya Rini dengan polosnya.
"Aaahh, emm" Alfa mulai kebingungan untuk menjawab pertanyaan ambigu yang dilemparkan oleh papanya Rini.
"Aku dulu pacaran sama mamanya Rini cuma tiga bulan, lalu menikah, kalian terlalu lama berpacaran makanya aku nanya apa yang kalian lakukan selama itu?"
"Huffttt" Alfa menghela napas panjang "makan, mengantar Rini ke kampus, makan lagi, terus kalau malam telponan untuk sekedar melepas rindu dan mengucapkan selamat tidur, om"
"Begitu terus?" tanya Sammy sembari melangkahkan kudanya di atas papan catur itu.
"Iya" jawab Alfa.
"Nggak bosan?" Sammy terus bertanya.
"Karena cinta itu tidak mengenal kata bosan, om"
"Begitu ya? terus sudah sejauh mana hubungan kalian? apa kalian sudah melakukannya?"
Alfa langsung tanggap apa yang dimaksud oleh papanya Rini.
"Saya masih menjaga kesuciannya Rini om. Om tenang saja, saya akan bertahan sampai pernikahan kami nanti, sampai kami sah sebagai suami istri" Keseriusan terdengar di dalam nada bicaranya Alfa.
"Bagus, aku percaya sama kamu tapi kalau sampai kami melanggar janji kamu maka aku akan mencari kamu sampai ke ujung dunia dan mencincangmu, camkan itu!"
"Om bisa jaga omongan saya. Saya benar benar mencintai Rini, om"
Kali ini Alfa yang memenangkan pertandingan catur mereka.
"Waahhh, kamu cepat belajar juga ya. Kita mainkan sekali lagi, ini babak penentuan"
"Baik, om" jawab Alfa.
__ADS_1