
Melati langsung berdiri "silakan dipakai mejanya, kita sudah selesai. Ayok sayang!"
Moses tersenyum senang mendengar perkataannya Melati, dia pun langsung berdiri.
Awan memegang lengannya Melati "Sayang? kenapa kamu memanggil tuan Moses dengan sebutan sayang?"
Moses menggeram "lepaskan Melati!"
Melati langsung menarik lengannya untuk lepas dari cengkeramnya Awan dan berkata "bukan urusan kamu, ayok sayang!" Melati menggandeng tangannya Moses.
Awan duduk dengan tatapan yang masih melekat ke sosoknya Melati.
Miracle duduk di depannya Awan dan namok cemburu "kamu masih mencintainya?"
Awan membisu dan masih terus memandang Melati.
"Wan!" Miracle mulai meninggikan suaranya.
"Apa?" Awan mulai memandang kekasihnya.
"Nggak jadi" Miracle bersedekap dan mengerucutkan bibirnya.
"Jangan ngambek terus dong! masak dalam sejam kamu sudah ngambek sebanyak seratus kali, aku tuh capek tahu nggak?"
"Jadi kamu capek berpacaran sama aku? kamu udah bosan gitu sama aku?"
Awan mengusap wajahnya dengan kasar lalu berdiri "kamu mau makan apa? aku akan mulai mengantre.
"Sama kayak kamu aja. Minumnya juga sama" Miracle masih memasang muka kesal karena, cemburu.
Awan melangkah untuk mulai mengantre dan berjarak tiga langkah saja dari tempatnya Melati dan Moses yang tengah berdiri untuk membayar makanannya mereka.
"Sayang, jangan kamu yang bayar! Melati kan sudah dapat gaji dari kamu, jadi biar Melati yang bayar. Melati yang traktir"
"Hmm" Moses mengusap lembut rambutnya Melati.
Deg
Secara mendadak jantungnya Awan berdebar dengan sangat kencang. Dia teringat akan janji yang Melati buat untuknya dulu. Jika Melati gajian maka Melati akan memberikan first kissnya. Awan menghembuskan napasnya dengan sangat berat. Banyak sekali penyesalan yang dia rasakan di dalam hatinya untuk Melati. Betapa inginnya dia berbicara berdua saja dengan Melati untuk meminta maaf atas kelakuan papanya dan meminta maaf atas kelakuannya, tega berselingkuh.
"Mbok berapa semuanya?"
Mbok Tum mendekati Melati dan berbisik "mbak Mel, suaminya berasal dari mana to? kok nggak ngerti semua sayuran yang mbok Tum masak? tadi nanya sayur gudeg tuh yang mana, terus semua sayur juga ditanyakan, bahkan sayur kreceknya mbok Tum yang melegenda pun dia nggak tahu namanya, aduh aduh aduh, mbok Tum ngelu alias pusing"
Moses bisa mendengarkan bisikannya mbok Tum "aku dari luar angkasa mbok" sahutnya.
"Eh kedengaran sampe ke sampeyan ya mas ganteng? heeee. Pantesan gantengnya nggak ketulungan wong dari luar angkasa"
Melati tertawa ngakak melihat mbok Tum yang polos dan melihat wajah canggung suami tampannya.
"Semua berapa mbok?"
"Tiga puluh ribu rupiah, mbak" jawab mbok Tum.
"Hah!!?? apa???" Moses kaget mendengar total semua makanan dan minuman yang dia nikmati, berdua dengan Melati tadi.
"Kaget aku mas'e, kenapa? kemahalen yo? Yo wis tak korting. Karena sampeyan ngganteng tak kasih korting, bayarnya dua puluh ribu rupiah aja mbak Mel"
"Apa? nggak nggak, jangan dikorting! tadi itu sudah sangat murah mbok, aku kaget aja karena, baru kali ini aku makan dengan totalan yang begitu kecil nominalnya"
"Apa kuwi eh apa itu nominal?" mbok Tum menoleh ke Melati.
__ADS_1
"Harga atau nilai mbok, artine" jawab Melati.
"Oooo, lha biasane sampeyan kalau makan habisnya berapa to?"
Moses hanya bisa tersenyum. Dia khawatir kalau Mbok Tum akan pingsan jika dia sebutkan nominal yang biasanya dia harus bayar setiap kali dia makan siang dengan Ray, di sebuah restoran mewah atau di sebuah hotel mewah. Sekali makan dia harus membayar lima ratus ribu rupiah, itu pun nominal yang paling kecil buat seorang Moses Elruno, terkadang bisa sampai dua juta rupiah bahkan lebih.
Melati terkekeh geli melihat ekspresinya mbok Tum dan suami tercintanya, akhirnya dengan segera Melati berucap "Melati pamit ya mbok, emm entah kapan Melati bisa ke sini lagi. Boleh Melati peluk mbok Tum?"
Moses tersenyum menatap istrinya. Melati memang berhati lembut dan bisa dengan sangat mudahnya menyayangi orang lain.
Mbok Tum langsung keluar dan langsung memeluk Melati "memangnya meh ning ngendi eh mau ke mana to cah ayu?"
"Melati sekarang kan sudah punya suami jadi harus ngurus suami di rumah, nggak bakalan bisa sering sering ke sini kayak dulu"
Mbok Tum melepaskan pelukannya "mbok doakan kalian berdua selalu bahagia dan langgeng sampai kakek nenek"
"Amin, makasih ya mbok" Melati dan Moses berucap secara bersamaan.
Mereka pun kembali bergandengan tangan dan meninggalkan warung makannya mbok Tum.
Awan menoleh dan menatap kepergiannya Melati dengan hati yang merana.
"Lho, mas Awan to? sama siapa mas? si mbok nanya karena, simbok dah paham kalau mas Awan dah putus kan sama mbak Melati"
Awan tersenyum kecut "iya mbok, aku dah putus sama Melati. Aku sama pacar aku yang baru sekarang, tuh orangnya" Awan menunjuk Miracle yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya.
"Lho kok mirip mbak Melati ya? wah seleranya mas Awan ternyata nggak jauh jauh ya dari wajahnya mbak Melati"
"Iya mirip memang. Tapi......"
"Tapi opo mas?"
Awan tersenyum "nggak papa mbok"
"Lama banget sih! warung ini tuh panas, kepanasan nih aku, kenapa nggak ajak aku makan di restoran yang biasanya?"
Awan mulai mengeraskan bibirnya dan mulai berkata dengan kasar "kalau kamu nggak suka di sini pergi saja! aku akan makan sendiri"
"Wan! nggak nyangka ya, kamu tuh berubah" kata Miracle.
Awan hanya diam membisu dan mulai memakan makanannya.
Miracle akhirnya mengalah dan mulai memakan makanannya juga. Miracle juga merasa capek harus ngambek terus sedari tadi.
Awan masih penasaran, ada hubungan apa di antara Melati dan Moses. Sayangnya dia tidak bisa mendengarkan bisikannya mbok Tum ke Melati tadi.
Melati dan Moses berjalan bergandengan tangan dengan penuh keceriaan.
"Sayang, terima kasih ya untuk hari ini. Melati senang sekali makan berdua dengan kamu, bisa jalan berduaan seperti ini dengan kamu"
Deg
Moses menoleh ke Melati dan langsung merasa bersalah. Melati masih sangat muda tetapi karena dia, Melati harus mengasuh seorang bayi seharian penuh, seorang bayi yang bukan merupakan anak kandungnya sendiri. Bahkan rela mengorbankan masa mudanya hanya untuk mengurus Chery. Tidak seperti gadis muda lainnya di luaran sana, yang bisa pergi ke mall, jalan jalan atau nongkrong di kafe dengan santainya.
Mereka akhirnya masuk ke dalam mobil. Moses langsung menghidupkan AC mobilnya.
"Kamu pengen ke mana lagi?"
"Melati sebenarnya pengen ke suatu tempat tapi ini sudah mepet waktunya. Kak Alfa kan harus meeting jam satu dan ini sudah jam setengah dua belas. Kasihan Chery juga, kalau aku tinggalkan terlalu lama"
Moses mengusap kepalanya Melati dengan tangan kirinya dan tangan kanannya sibuk memencet layar ponselnya.
__ADS_1
"Halo, Fa. kamu kirimkan nomer ponsel Klien yang akan meeting dengan kamu! aku tunggu" Moses langsung memutuskan sambungan ponselnya dengan Alfa.
Tidak begitu lama Alfa mengirimkan nomor ponsel kliennya ke ponselnya Moses via pesan text.
Moses langsung menghubungi nomor ponsel kliennya Alfa. Moses langsung melancarkan kemampuannya di dalam bernegosiasi dan mempengaruhi seorang klien, akhirnya, bingo! Moses berhasil memenangkan sebuah tender besar untuk Alfa.
Setelah itu dia menelepon Ray.
"Ray, kamu pulang gantikan Alfa untuk menjaga Chery!"
"Tapi tuan? sebentar lagi akan ada tamu dari......."
"Jam berapa tamunya datang?"
"Jam dua, tuan"
"Kamu pulang aja, tolong jaga Chery sebentar! setelah urusanku dengan Melati kelar, aku akan langsung mengajak Melati ke kantor sebentar, untuk menemui tamu itu"
Moses menarik tengkuknya Melati dan mencium keningnya Melati "sebentar ya sayang, bentar lagi selesai dan aku bisa mengantarkan kamu ke mana saja"
Melati tersenyum senang.
Moses kemudian melepaskan Melati dan mulai menelepon Alfa.
"Fa, klien kamu sudah memakan umpannya. Aku sudah dapatkan tendernya untuk kamu. Kamu tinggal ke kantor papa kamu untuk menemui pak Dermawan dan tanda tangan kontrak. Jam dua nanti, pak Dermawan akan ke kantor kamu karena saat ini dia harus mempersiapkan berkas berkasnya terlebih dahulu"
"Waaahh thank you so much brother"
"Tapi kamu tolong tunggu sampai Ray datang ya, jangan tinggalkan Chery sebelum Ray datang!"
"Oke, tapi Lo mau ke mana?"
"Mau pacaran sama istri gue" Moses menjawab dengan santai.
"Aaahhh, curang Lo, happy happy, eh kita yang kena repotnya"
"Mau aku cabut tendernya?"
"Aaah iya brotherku, terserah kamu aja, silakan nikmati waktu kalian untuk berpacaran sepuasnya"
Moses langsung memutuskan sambungan ponselnya dengan Alfa.
"Fiuhhh kelar nih, kita mau ke mana sayang?"
"Maaf kalau Melati merepotkanmu, sayang"
"Enggak kok, semua sudah beres sekarang katakanlah bu bos, anda mau ke mana, pangeranmu akan mengantarmu dengan senang hati" Moses meraih tangannya Melati lalu menciumnya dengan penuh cinta.
"Hahaha, kalau pangeran tuh cocoknya sama puteri, ini kok sama bu bos, hahahaha"
"Aku kan anti mainstream, heeee. Katakanlah mau ke mana?"
"Melati cuma pengen ke halte bus yang biasa Melati singgahi"
"Hah? cuma ke halte? kirain mau ke mall, kafe atau ke pantai" Moses nampak heran dan kecewa.
"Hahahaha, iya maaf"
"Kenapa pengen ke halte?"
"Kita ke sana dulu, nanti kamu akan tahu"
__ADS_1
"Okelah, aku turuti semua perintahmu hari ini. Aku milikmu seutuhnya sepanjang hari ini" Moses langsung meluncurkan mobil sedan merahnya menuju ke halte bus yang dimaksud oleh Melati.