
Ray dan Moses menunggu Melati dan Chery dengan sangat sabar. Mereka duduk di ruang tamu.
"Kami sudah siap untuk pergi, tuan" kata kata Melati mengagetkan Moses.
Moses langsung berdiri dan berbalik badan. Dua wanita yang sangat cantik ada di depannya saat ini. Chery dan Melati memakai dress dengan warna yang senada yaitu, pink. Sepatu mereka pun warnanya kompak.
Melati menuruti apa.kata tuannya tadi. Dia mengenakan dress pink dan sneakers warna putih polos. Tanpa make-up dan rambutnya yang lurus, hitam dan lebat, dibiarkan tergerai begitu saja. Sangat alami tapi, cantik.
Moses terus menatap Melati dan Chery tanpa berkedip.
"Ehem, tuan?" Ray mencoba menarik kembali tuannya dari alam bawah sadarnya.
"Aahh, iya, kita harus segera berangkat karena, kita akan ke rumah sakit dulu, emm, sebentar" ucap Moses saat tersadar dari lamunannya.
"Ada apa, tuan?" tanya Melati mulai takut,
"Tidurkan Chery ke dalam stroller!" kata Moses.
Melati langsung menuruti perintah tuannya lalu berdiri mematung di samping stroller dan menatap tuannya.
"Kamu, kucir saja rambut kamu!" kata Moses.
Melati menghela napas, berkata "iya tuan," dan berbalik badan menuju ke kamarnya untuk, mengambil kucir rambutnya.
"Dia sangat cantik ya, Ray" gumam Moses.
"Iya, tuan benar" sahut Ray.
Moses langsung menoleh ke samping dan melotot ke Ray "ngapain kamu jawab pertanyaanku tadi? hanya aku yang boleh mengatakan kalau Melati sangat cantik?!"
"Perasaan, saya tadi tidak mengatakan kata cantik, tuan?" tanya Ray dengan polosnya.
"Diam kamu, apa mau, aku potong gaji kamu?!" ucap Moses dengan santainya.
"Iya, tuan, baik" sahut Ray sambil menghela.napas panjang.
Iya beginilah derita seorang asisten, tidak menjawab salah, eh, menjawab pun salah. Batin Ray merana.
Melati melangkah ke arah Ray dan Moses dengan gaya rambut dikucir model ekor kuda. Rambutnya Melati menjadi naik sangat tinggi dan menampakkan leher putih mulus dengan sangat indahnya.
Moses menelan salivanya dengan pelan dan berkata "aaah, lepas saja, jangan dikucir!"
Melati menatap kesal tuannya. Apa apaan sih tadi menyuruh Melati untuk mengucir rambut sekarang, minta digerai saja, huufftt, dasar bos gila. Batin Melati sambil melepas kucirannya.
Moses mulai melangkah ke luar sambil mendorong strollernya Chery dan tiba tiba berkata "kamu bisa jalan pakai sneakers?"
Ray langsung mengambil posisi jongkok di depannya Melati dan menyodorkan punggungnya.
Moses mengerem langkahnya dan melihat Ray dengan heran lalu bertanya dengan sangat kesal "kamu ngapain Ray?"
"Saya, siap sedia tuan, sebelum diperintahkan. Saya siap menggendong Melati, ayok Mel, naik ke punggungku!" kata Ray dengan bangganya.
"Berdiri kamu! enak aja gendong gendong, kalau perlu digendong, tentu saja aku yang harus melakukannya. Gimana Mel, bisa jalan tidak, kalau kesulitan, aku gendong kamu, ya!?"
Melati tersenyum geli menatap keduanya dan menggeleng nggelengkan kepalanya sembari berkata " saya bisa jalan kok, walaupun pelan pelan"
"Bagus! ayok berangkat! kata Moses sembari mendorong strollernya Chery.
__ADS_1
Mereka akhirnya sampai di ruangannya Dokter Erlangga.
Dokter Erlangga (papa asuhnya Moses)
"Lho tumben nih sore sore ke sini, ada apa Mo?" tanya Dokter Erlangga.
"Om, tolong periksa Melati, dia punya penyakit maag dan sering kambuh akhir akhir ini, terus tumit kaki kirinya terkilir, apa sudah boleh lepas deker dan buat gerak lagi?" Moses mulai memberondong papa asuhnya itu dengan pertanyaannya.
"Hufffttt, satu satu Mo, semangat sekali kamu hari ini dan wah wah cucu opa cantik sekali hari ini, kamu juga cantik sekali, Mel" puji Dokter Erlangga sambil melempar senyum ke arah Melati.
"Terima kasih, dok" sahut Melati sambil duduk dan memasang senyum manisnya.
"Ehem, om, jangan memuji Melati, cantik!" kata Moses mulai jengkel.
"Lho kenapa? memang cantik kan, apa salahnya om memuji dia?" kata Dokter Erlangga sambil duduk di sampingnya Melati.
Moses hanya mendengus kesal.
Baguslah kalau kamu sudah mulai punya rasa sama Melati, Mo. Batin Dokter Erlangga senang.
Dokter Erlangga adalah dokter spesialis penyakit dalam dan merupakan direktur dari rumah sakit tersebut.
Setelah selesai memeriksa perutnya Melati, Dokter Erlangga berjongkok dan mulai memeriksa tumit kakinya Melati yang sebelah kiri. Papa asuhnya Moses Elruno itu, membuka deker yang dipakai Melati kemudian menyuruh Melati untuk mencoba menggerakkan telapak kakinya dengan pelan.
"Masih sakit?" tanya Dokter Erlangga sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap Melati.
"Tidak, dok" jawab Melati.
Dokter Erlangga kemudian memijat mijat tumitnya Melati "ada yang nyeri?"
"Sudah aman berarti, tidak perlu deker lagi" kata Dokter Erlangga sembari duduk kembali di sampingnya Melati.
"Tapi kata mantan pacarnya om, harus nunggu dua Minggu baru boleh lepas deker dan boleh buat gerak lagi" kata Moses.
"Aaahh, Emily itu orangnya memang perfeksionis dan selalu berhati hati makanya, dia memutuskan om karena, om kan orangnya terlalu santai, hahaha" kata Dokter Erlangga.
"Iya benar, om memang pribadi yang paling santai dari sekian banyak pribadi yang Moses kenal selama ini tapi, Moses suka" ucap Moses dengan sangat tulus.
"Hahaha, makasih Mo" sahut Dokter Erlangga.
"Lalu maagnya, gimana om?" tanya Moses.
"Harus makan teratur, nggak boleh telat makan! Besok om akan ke rumahmu kasih vitamin dan obat buat Melati" jawab Dokter Erlangga.
"Oke, om terima kasih banyak ya, kami permisi" Moses berdiri dan melangkah mendekati Dokter Erlangga lalu memeluk papa asuhnya itu.
"Oke hati hati ya, tapi sebentar, biarkan om mencium Chery dulu" kata Dokter Erlangga sambil melepaskan diri dari pelukannya Moses dan langsung mencium Chery.
"Oke, hati hati!" kata Dokter Erlangga setelah selesai mencium Chery.
"Terima kasih banyak, dok" kata Melati sambil tersenyum.
"Iya, sama sama" kata Dokter Erlangga sembari melambaikan tangannya.
Ray, yang sedari tadi menunggu di dalam mobil, langsung membukakan pintu mobil untuk tuannya dan Melati. Moses menggendong Chery dan Ray langsung melipat strollernya dan menaruhnya di dalam bagasi.
__ADS_1
"Kita langsung ke rumahnya Awan, tuan?" tanya Ray dari balik kemudi.
"Kita mampir ke toko bunga dulu, Ray!" perintah Moses.
"Sebentar tuan, emm, Melati alergi sama bunga, Melati nggak bisa berdekatan dengan bunga jenis apapun, heee" sahut Melati.
"Hah? kamu unik ya, nama kamu Melati tapi kamu alergi sama bunga?" Moses langsung menoleh ke arah Melati dengan geli.
"Ya, saya memang alergi bunga, tuan, heeee" kata Melati sambil nyengir.
" Lalu gimana nih, tuan?" tanya Ray.
"Ke toko kue saja, kita beli kue!" perintah Moses.
"Untuk apa tuan beniat membeli bunga dan beli kue?" tanya Melati dengan hati hati.
"Untuk mamanya Awan, kabarnya, dia tuh suka sama bunga Mawar dan kue strawberry" kata Moses.
"Aahh, benarkah, hufft, Melati langsung merasa nggak pede nih,tuan" kata Melati dengan nada sedih.
"Kenapa nggak pede?" tanya Moses heran sambil mendekap Chery yang tengah tertidur pulas.
"Dari awal saja, saya sama mamanya Awan sudah tidak ada kecocokan. Saya alergi bunga, mamanya Awan suka bunga. Lalu, saya nggak suka makan strawberry karena, kalau makan buah strawberry, maag saya langsung kambuh. Sedangkan beliau suka buah strawberry" kata Melati.
"Itu nggak penting. Kamu kan pandai berbicara, kalau nanti kalian ketemu dan ngobrol, kalian pasti akan menemukan kesamaan di antara kalian" jawab Moses dengan santainya.
"Jangan takut, ada aku di sampingmu nanti!" kata Moses dengan nada serius.
Mereka akhinya sampai di depan toko kue.
"Beli kue strawberry saja, tuan?" tanya Ray.
"Kamu suka kue apa?" tanya Moses.
"Aahh, nggak usah, tuan, terima kasih" kata Melati sambil tersenyum manis menatap tuannya.
"Kamu beli buat mama dan papa kamu sekalian, Ray. Terus kamu, suka kue apa? kalau tidak menjawab, kita pulang saja!" ucap Moses dengan sangat serius.
"Saya suka kue cokelat dengan taburan almond" jawab Melati dengan sangat cepat.
"Oke, Ray beli itu juga!" kata Moses.
"Baik, tuan" Ray pun turun dari mobil dan masuk ke dalam toko kue tersebut.
"Kamu kenapa, suka kue cokelat almond?" tanya Moses.
"Sebenarnya saya tidak begitu suka semua makanan yang rasanya manis, tuan. Itulah kenapa, saya cuma suka satu jenis kue yaitu kue cokelat almond. Karena menurut saya, perpaduan dari rasa cokelat dan almond mampu menghilangkan rasa manis dari sebuah kue dan bikin tidak eneg" jawab Melati sambil tersenyum manis.
"Oooo" ucap Moses.
"Kalau tuan?" tanya melati.
"Aku pemakan segala Bahkan dulu, aku pemakan cewek juga, hahaha, cuma sekarang sudah insaf" jawab Moses dengan santainya.
"Hahahahaha, tuan ternyata lucu juga, ya" Melati tertawa lepas dengan sangat cantiknya.
Moses menoleh ke samping kanan dan menatap tawa lepasnya Melati.
__ADS_1
Cantiknya kamu Mel, kamu itu begitu polos, lugu, dan apa adanya. Tidak akan aku biarkan siapapun membuat butiran air mata menetes di pipimu. Batin Moses.
Moses sendiri juga merasa heran pada dirinya sendiri. Sejak kapan dia menjadi begitu peduli sama Melati dan ingin terus melindunginya