
Pagi hari pun tiba. Pukul enam tepat, Moses sudah mandi, memakai kemeja, dasi dan jasmya kemudian melangkah masuk ke ruang kerjanya. Melati dibantu mamanya mengurus Chery dan Elmo. Ijah yang bertugas menyiapkan susu untuk Chery.
"Kamu bersiap saja dulu, mama sudah mendandani Elmo dan Chery sudah dipegang sama Ijah!"
Melati kemudian berganti baju, dia sudah mandi dari jam lima pagi tadi setelah menyusui Elmo. Moses yang membuatkan dan memberikan susu ke Chery pagi tadi.
Setelah selesai, mamanya Melati melangkah mendekati Melati dan mendorong Melati untuk duduk di depan meja rias.
"Mama mau ngapain?" tanya Melati sembari menautkan kedua alisnya.
"Ssssttt diam nurut aja sama mama! mama akan mendandani kamu, biar kamu tampak lebih cantik di depan kamera nanti. Supaya kamu tidak terlihat pucat" Mamanya Melati mulai mendandani Melati.
Beberapa menit kemudian, selesai sudah hasil karya dari ibu Teja Kusuma, mama tercintanya Melati.
"Nah, dah cantik, sekarang temui suami kamu sana! mama akan jaga anak anak" kata mamanya Melati.
"Terima kasih, ma" Melati mencium pipi mamanya kalau melangkah keluar kamar menuju ke ruang kerja suaminya sembari menenteng tas branded berwarna putih yang penuh kenangan.
Flashback on
Waktu itu usia kehamilannya Melati mulai memasuki bulan ke delapan. Entah kenapa Melati tiba tiba suka banget mencium bau dari sebuah tas kulit. Semua berawal dari, ketika dia diajak jalan, Rini sahabatnya untuk membelikan kado ulang tahun untuk Alfa kekasihnya Rini, di sebuah butik tas branded yang menyediakan berbagai macam tas untuk cowok dan cewek, Melati terus menatap sebuah tas berwarna putih. Dia mengambil tas itu, memangku dan terus menciumi tas itu sembari menunggu Rini memilih sebuah tas kerja untuk Alfa.
"Sudah, yuk kita pulang" kata Rini.
"Hmm" Melati menaruh tas branded berwarna putih yang sedari tadi dia pegang dan dia ciumi, kembali ke tempatnya.
Rini nampak heran "lho, nggak kamu beli tas itu?"
"Nggak, sayang aja harganya mahal banget nih lihat, lima belas juta, heeee. Aku cuma suka melihat dan mencium baunya" jawab Melati.
"Oke, yuk kita pulang!" kata Rini sembari menggandeng tangannya Melati.
Keesokan harinya, Melati merasa kangen dengan tas putih yang kemarin dia lihat dan dia ciumi baunya. Ketika Moses pulang dari kantor dan melangkah masuk ke dalam rumah, Melati langsung menitipkan Chery ke mamanya dan langsung menarik tangannya Moses untuk mengajaknya masuk kembali ke dalam mobil.
"Lho lho, eh, ada apa ini? kamu akan ajak aku ke mana?" Moses keheranan ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil.
"Kita mau ke mana nyonya?" tanya pak Joko.
Ray, waktu itu sudah mengambil cuti dan mulai bed rest di apartemennya karena, retak kakinya.
"Kita ke butik tas branded ya pak, yang ada di Jalan Cempaka III" jawab Melati.
"Baik nyonya" pak Joko langsung meluncurkan si Blacky menuju ke jalan yang dimaksud oleh nyonya besarnya.
Moses tersenyum geli menoleh ke Melati "oooo, pengen beli tas? kok nggak nitip aja tadi, aku bisa mampir untuk belikan?"
Melati hanya tersenyum menggelengkan kepalanya lalu merebahkan kepalanya di pundak suaminya.
Moses tersenyum penuh cinta kemudian merangkul bahu istri tercintanya "tadi makan banyak enggak? sudah minum susu, sudah minum vitamin?"
"Sudah" jawab Melati.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di depan butik yang dimaksud oleh Melati. Melati langsung menarik tangannya Moses untuk turun dengan tidak sabar.
"Hahahaha, iya sayang jangan buru buru, ingat kamu lagi hamil" Moses terkekeh geli melihat tingkah Melati yang mirip sekali dengan anak kecil.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam butik tersebut dan Melati langsung menuju ke tempat tas putih yang kemarin dia pegang dan dia ciumi baunya. Dia raih tas itu kemudian dia duduk di samping suaminya dan dia ciumi tas itu.
Moses menatap penuh heran kelakuannya Melati.
"Maaf tuan, perlu saya bikinkan nota untuk tas itu?"
"Hmm" Moses langsung menyerahkan kartu goldnya ke pelayan butik tersebut.
Moses menunggui Melati yang masih belum puas menciumi tas itu, dengan penuh kesabaran dan tidak berani bertanya atau berkata apapun.
"Ini tuan, tanda terima dan kartu gold anda" kata si pelayan butik.
Moses meraih kartu goldnya dan dia masukan kembali ke dalam saku kemejanya.
"Perlu saya bungkus tasnya nyonya?" tanya si pelayan.
"Nggak perlu, saya nitip tas ini di sini ya, besok saya datang lagi"
"Hah?!" Moses dan si pelayan toko berucap secara bersamaan.
"Sayang, aku sudah bayar tasnya, kita bisa bawa pulang tasnya" kata Moses.
"Lho, kenapa dibayar? aku nggak pengen beli tas itu, aku cuma suka melihat, memegang dan mencium baunya" Melati mengerucutkan bibirnya.
Moses hanya bisa meringis dan menggaruk nggaruk kepalanya saat melihat si pelayan butik mulai mengulum bibirnya menahan tawa.
"Kalau kamu suka kenapa nggak kamu bawa pulang, aku sudah beli tasnya? kan bisa kamu ciumi sepuasnya nanti di rumah" Moses masih belum bisa memahami tingkah konyol istrinya.
"Aaahh, kenapa harus beli sih, kan sayang uangnya. Lagian beda sayang. Aromanya dan aura dari tas ini beda kalau sudah di rumah" jawab Melati dengan santainya sembari menyerahkan kembali tasnya ke pelayan butik itu.
"Tapi ini..........." si pelayan toko nampak kebingungan kemudian menatap Moses.
Moses memasang jari telunjuknya di atas bibirnya dan menoleh ke pelayan butik. Sebagai kode agar si pelayan butik itu menuruti apa maunya Melati. Si pelayan butik langsung paham "Oke, saya akan rawat dan jaga baik baik tas ini, nyonya"
Dan Melati terus datang ke butik itu untuk sekadar menciumi tas itu. Moses dengan penuh kesabaran meladeni semua keinginannya Melati, sampai Melati melahirkan beberapa Minggu kemudian. Moses langsung menelepon pihak butik untuk mengirimkan tas branded berwarna putih itu ke rumahnya. Sebagai hadiah karena Melati sudah melahirkan seorang pangeran tampan untuknya dengan sehat dan selamat.
Flashback off
Melati melangkah menuju ke ruang kerja suaminya sembari mengelus elus tas putihnya yang penuh dengan kenangan lucu dan romantis bagi dia. Bukan karena harganya yang sangat mahal yang membuat Melati sangat menyayangi tasnya itu. Tetapi karena cinta, perhatian dan kesabaran suaminya, seolah terpatri nyata di tas branded berwarna putih itu.
Ceklek
Melati membuka pintu ruang kerja suaminya dan langsung membuat Moses tertegun kala memandang wajah cantiknya Melati.
"Ayok kita berangkat" Melati berkata sambil menatap suaminya"
"Sayang, kamu kalau berhias diri seperti ini, cantik sekali" kata Moses masih menatap kagum istri cantiknya.
"Mama yang mendandaniku tadi, kata mama aku harus dandan biar tidak nampak pucat di depan kamera" Melati merona malu.
"Andai kita tidak sedang dikejar oleh waktu saat ini, aku akan memakanmu sekarang juga" Moses mulai melangkah mendekati istrinya.
__ADS_1
Melati terkekeh geli dan menepuk pelan dada suaminya "nanti setelah acara kan bisa"
Moses merangkul pinggang ramping istrinya dan mengajak Melati melangkah keluar dari ruang kerjanya lalu masuk ke dalam lift "nanti, kamu sudah jadi milik duo krucil, aku pasti tersingkirkan dan teronggok tak berdaya di pojokan"
"Hahahaha, mana ada seperti itu? aku janji nanti, aku akan berikan waktu untuk kamu, aku sudah lama nggak pakai lingerie, masih muat nggak ya?" Melati mulai mengerlingkan matanya ke arah suaminya.
"Waaaah, kamu sekarang ini memang sangat pandai menggoda dan menyiksaku, sayang. Janji ya, nanti kamu akan berikan waktu kamu, spesial untuk aku" Moses mencium bibir Melati.
Ting
Pintu lift terbuka dan Moses melepaskan ciumannya.
Moses dan Melati menautkan jari jemari mereka dan melangkah masuk ke dalam mobil sport hitam kesayangannya Moses.
"Haaaiii, Blacky, lama ya aku nggak menyapa kamu" Melati mengulas senyum cerianya.
"Hahahaha, iya sayang, Blacky pastinya kangen banget sama kamu" kata Moses sembari mencium tangannya Melati yang masih terpaut erat di jemari tangannya.
"Kita ke tempatnya Harry dulu ya Ko!" kata Moses.
"Baik, tuan" jawab pak Joko.
"Siapa Harry?" tanya Melati.
"Kamu akan aku kenalkan nanti" Moses mencium pucuk kepalanya Melati.
"Kamu harum sekali, sayang. Aku harus bisa menahan diri untuk tidak memakanmu saat ini juga"
"Jangan keras keras ngomongnya, ada pak Joko"
"Kamu nggak dengar kan Ko?" tanya Moses ke pak Joko.
"Nggak, tuan" jawab pak Joko.
Oooo, jadi ini yang dimaksud sama tuan Ray, kalau sedang bepergian bersama tuan dan nyonya, serasa ingin menggigit setir mobil, hiks hiks, aku merasakannya sekarang ini, tuan Ray. Kata pak Joko di dalam hatinya.
Moses mulai menjahili istrinya dengan tangannya yang mulai nakal bergerilya ke mana mana.
"Sayang, hentikan! rusak semua nanti riasan rambutku" Melati mulai protes sembari menepuk pelan tangan suaminya yang nakal.
Plak
Pak Joko mendengar nyonya besarnya berkata jangan dan ada bunyi plak, membuat pikirannya melayang ke mana mana. Dia langsung merindukan istrinya yang berada di kampung.
"Kalau rusak, gampang, kita tinggal mampir ke salon sebentar untuk menata lagi rambutmu, hahahaha" Moses berucap dengan santainya.
Melati hanya bisa menghela napas pasrah.
"Aku merindukan saat saat berduaan seperti ini dengan kamu, sayang. Sekarang sangat sulit bagi kita untuk bisa berduaan seperti ini" Moses berucap sembari menggerakkan tangannya secara gerilya kembali.
"Sayang, jangan begini ah! sayang! rusak semua nih tatanan rambutku, aku bilangin ke mama entar" Melati mulai protes.
"Hahahaha, salah sendiri kamu begitu cantik dan wangi hari ini, hahahaha" Moses berucap dengan santainya.
Pak Joko hanya bisa menahan napas mendengar polusi udara yang datang dari jok belakang mobil sport yang tengah dia kendarai.
__ADS_1