
"Anda siapa berani beraninya memerintah saya?!" tanya si preman tengik dengan polosnya.
Plaaakk!
Pramono langsung menampar preman tengik itu. "Jaga bicara sembarangan kamu! kamu tidak tahu kalau beliau adalah tuan Moses Elruno?"
"A....apa? ja....jadi yang kemarin saya hadang adalah putrinya tuan Moses Elruno? kenapa wanita itu tidak bilang? shit!" tanya si preman tengik dengan mimik wajah yang mulai ketakutan.
"Wanita? jadi yang menyuruh kamu menghadang kedua putriku adalah seorang wanita? katakan siapa dia?" Moses mulai melotot ke preman tengik tersebut.
"Aahhh shit! keceplosan lagi nih gue" ucap si preman tengik.
"Pram buat dia bicara siapa wanita yang menyuruhnya!" perintah Moses.
"Baik tuan" Pramono mengiyakan perintahnya Moses kemudian berbisik ke telinga si preman tengik itu, bisikannya Pramono berhasil membuat si preman itu langsung membulatkan kedua bola matanya, mulai mematung, dan berkeringat dingin.
"Sa....saya mohon jangan sakiti anak saya!" kata preman itu sambil melemparkan tatapan memohon ke arah Moses Elruno.
"Tuan Moses Elruno nggak sejahat itu. Tapi kalau aku, lain lagi. Aku ini bisa berbuat apa saja semauku. Kamu tinggal pilih menuruti permintaan tuan Moses Elruno atau memilih terus bungkam. Kalau pilih bungkam, maka aku akan bertindak sendiri untuk membuatmu menyesali perbuatanmu" desis Pramono ke arah preman itu.
Pramono tahu kalau preman yang berhasil dia tangkap itu, tidak takut mati dan tidak takut disiksa secara fisik. Preman itu tipe preman yang sangat setia kawan dan tidak akan pernah mengkhianati kawan kawannya jika hanya disiksa secara fisik oleh karena itu Pramono mengancam dia menggunakan anak perempuan si preman yang Pramono ketahui, anak perempuan yang masih berumur enam tahun, putri preman itu tengah terbaring di rumah sakit karena, terkena sakit kanker otak.
Pramono sebelumnya mengirimkan semua informasi itu via pesan text ke Moses Elruno.
"Aku kasih penawaran ke kamu sekarang. Aku yakin wanita yang menyuruh kamu tidak atau belum memberikan bayaran ke kamu kan, karena kamu gagal menyakiti kedua putriku, nah, aku akan membiayai pengobatan anak kamu sampai sembuh, kankernya masih stadium awal kan, kalau cepat ditangani akan cepat tertolong. Dan yang kedua, aku nggak akan menjebloskanmu ke penjara, asalkan kamu mau mengatakan siapa wanita yang kau sebutkan tadi" kata Moses Elruno.
"An....anda tidak akan menyakiti anak saya? tapi anda ingin menolongnya, menolong putri saya? apa anda serius, tuan? saya telah menghadang kedua putri anda dan bermaksud menculik kedua putri anda" ada ketidakpercayaan di nada bicaranya dan tatapan heran di kedua sorot matanya.
"Iya aku serius. Sekarang pilihan ada di kamu. Mau memilih aku atau Pramono yang bertindak? aku nggak akan memaksamu" kata Moses.
Preman itu kemudian tertunduk lesu dan mulai menangis terisak. Dia berada di dalam dilema yang begitu suit. Di satu sisi dia menyayangi teman temannya dan di sisi lain dia juga menyayangi putrinya. Karena jika dia membuka mulut, bukan hanya wanita yang telah menyuruhnya yang akan membusuk di penjara, tapi teman temannya juga akan membusuk di penjara.
Moses menatap tajam ke preman itu. Ada rasa kasihan terselip di dalam sanubarinya yang murni.
Beberapa menit kemudian preman itu menengadahkan wajahnya kembali. Dengan tajam dia menatap ke arah Moses Elruno dan berucap "nama wanita yang menyuruh saya, Natasha Windura, putri dari bapak Walikota, bapak Windura"
"Hah!?" Moses, Ray, dan Raja terlonjak kaget secara bersamaan.
"Natasha yang melakukannya?" Raja berucap lirih dan merasa tidak percaya kalau Natasha akan senekat dan sejahat itu.
Moses menoleh ke Raja "kamu mengenalnya?"
"Iya om, saya mengenalnya. Natasha Windura adalah teman saya kuliah sewaktu di Amerika" kata Raja.
"Lalu apa motif dia menyuruh preman preman tengik untuk menghadang Chery dan Celyn? dan hendak menculik Celyn dan Chery?" tanya Moses heran.
"Entahlah om. Emm, apa saya boleh balik ke Indonesia dulu, saya akan mencoba menemui Natasha dan akan mendapatkan lebih banyak bukti untuk menjebloskannya ke penjara" pinta Raja. "Saya juga nggak bisa tenang berada di sini om. Saya ingin bersama dengan Elmo, menjaga Chery, Celyn, dan tante Melati" kata Raja.
"Aku juga ingin melakukan itu Raja, tapi om masih banyak urusan di sini" kata Moses.
__ADS_1
"Hai! halo! saya masih di sini? bagaimana dengan nasib saya? saya sudah katakan siapa wanita yang menyuruh saya" teriak si preman.
Moses kembali menatap layar TV LED super besar yang tergantung di tembok ruang kerjanya Alfa dan berucap "oke Pram, urus pengobatan putrinya sampai tuntas, aku akan transfer ke rekeningmu sebentar lagi, dan awasi terus dia sebelum kita menjebloskan Natasha Windura dan antek anteknya, ke penjara!" Moses berucap kemudian memutuskan sambungan VC-nya dengan Pramono begitu saja sebelum Pramono menjawab iya, siap sedia, tuan.
"Kalau menurut saya, biarkan Raja balik dulu ke Indonesia, tuan. Sampai kita dapatkan cukup bukti untuk menjebloskan wanita itu ke penjara" kata Ray ketika melihat tuan Moses Erluno-nya masih nampak berpikir keras.
"Baiklah! Ray belikan tiket pesawat sekarang juga! Kalau ada hal penting, aku bisa hubungi kamu lewat ponsel kan?" kata Moses. "Tolong bereskan masalah ini secepatnya agar aku tenang dan tolong jaga keluargaku dengan baik!" pinta Moses.
"Baik om. Raja tidak akan mengecewakan om karena, keluargnya om, keluarganya Raja juga"
Moses menepuk pundaknya Raja dan berucap "terima kasih Raja"
Ray langsung memesankan tiket pesawat untuk Raja via online.
"Om nggak nitip gelang kaki yang om beli untuk tante Melati?" tanya Raja.
"Aaahh, nggak! aku ingin pasangkan sendiri secara langsung di pergelangan kaki istriku, biar lebih sweet, heeee" Moses meringis ke arah Raja.
Raja pun mengulum bibir menahan senyum.
Ray menggeleng nggelengkan kepalanya.
Anda ternyata belum berubah, tuan. Jika terkait dengan Melati, anda jadi nampak konyol seperti itu. Batin Ray terkekeh geli.
Beberapa jam.kemudian Raja pamit kepada Moses, Ray, Rini dan Celestia. "Tolong pamitkan ke om Alfa ya tante?!" kata Raja ke Rini
"Iya pasti tante pamitkan, ati ati ya" kata Rini.
Sepeninggalnya Raja, Moses langsung melakukan panggilan VC ke Melati.
"Ya sayangku?" ucap Melati di seberang sana.
"Rumi, hari ini aku telah mendapatkan nama yang menyuruh preman preman itu menghadang Celyn dan Chery" kata Moses
"Siapa yang membayar para preman itu?" tanya Melati.
"Natasha Windura" kata Moses.
"Hah? Natasha?" tanya Melati heran.
"Kamu mengenalnya?" Moses bertanya dengan lebih heran lagi.
"Iya sayang, beberapa hari yang lalu dia ke sini pengen berkenalan dengan Chery, lalu sebelum perisitwa Chery dan Celyn dihadang preman, Natasha main ke sini dan mengajak Chery keluar untuk makan siang tapi aku nggak ijinkan Chery pergi berdua aja, akhirnya Celyn menawarkan diri untuk menemani kakaknya makan siang dengan Natasha" kata Melati.
"Shit! dia mengincar Chery sebenarnya. Apa karena dia memiliki rasa sama Raja jadi dia ingin menyingkirkan Chery?" Moses berucap lirih.
"Sayang? ada apa? kok malah bergumam nggak jelas gitu?"
"Natasha bilang apa waktu datang ke rumah untuk yang pertama kalinya?" tanya Moses.
__ADS_1
"Dia bilang dia sahabatnya Raja sewaktu mereka kuliah di Amerika" jawab Melati.
"Raja balik ke Indonesia beberapa jam yang lalu, aku pengen pulang tapi belum bisa jadi aku minta tolong Raja untuk menjaga kalian dan Raja ingin menemui Natasha untuk mendapatkan lebih banyak bukti lalu kita bisa menjebloskan Natasha ke penjara bersama dengan antek anteknya" kata Moses. "Dan sementara itu, jangan kamu ijinkan Chery menemui Natasha lagi" tambah Moses.
"Iya sayang, setelah tahu kalau Natasha dalang di balik penghadangannya kedua putri kita, aku nggak akan ijinkan dia menemui kedua putri kita lagi" jawab Melati sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan semua keputusannya Moses.
"Emm, Rumi aku punya kejutan buat kamu. Aku pengen ketemu sama kamu terus kita nge-date berdua dan aku bisa memasangkannya secara langsung di pergelangan kaki kamu" kata Moses sambil tersenyum penuh arti dan sorot mata penuh cinta.
"Di pergelangan kaki? apa itu sebuah gelang kaki?" tanya Melati.
"Aaah, kenapa Rumiku cerdas sekali sih, kenapa bisa langsung tahu kalau kejutannya adalah gelang kaki?" Moses mulai merengut.
Melari langsung tergelak geli tiada henti dan berucap "sayang, tentu saja semuanya akan tahu kalau yang dipasang di pergelangan kaki pastilah sebuah gelang kaki"
"Belum tentu juga. Bisa saja orang lain berpikir itu sebuah kaos kaki, aaahhh iya Rumi, kaos kaki couple keren juga ya?!" Moses langsung berbinar binar bak anak kecil yang merindukan sebuah balon.
Melati kembali tergelak geli "apa kamu beli gelang kaki couple, sayang?" tanya Melati.
Moses tersenyum lebar dan mengangguk anggukkan kepalanya ke arah Melati "iya, kamu tahu arti dari gelang kaki?" tanya Moses.
Melati menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Walaupun sebenarnya dia sudah mengetahui kalau pasangan yang memakai gelang kaki konon tidak akan terpisahkan.
"Kalau kita pakai gelang kaki, kita nggak akan terpisahkan selamanya, Rumi. So sweet kan?" Moses menatap Melati penuh kerinduan.
"Iya sweet sekali sayang. Aku suka" jawab Melati sembari membalas tatapan kerinduan dari suami tercintanya.
"Maaaa!" Celyn tiba tiba masuk ke kamarnya Melati.
"Aiissshh Celyn ganggu aja" kata Moses.
"Hahahaha, itu papa ya?" Celyn melongok ke layar ponsel mamanya "hai papaku yang tampan" Celyn melambaikan tangannya ke layar ponsel itu.
"Hai putri cantikku" kata Moses sembari membalas lambaian tangannya Celyn
"Maaf Celyn tutup dulu ya pa, telponnya. Celyn ada perlu sama mama, heeee" kata Celyn sambil meringis ke papanya.
"Emang kamu tuh sukanya mengganggu papa, ya udah kalian lanjutkan apa yang akan kalian lakukan, peluk cium dari papa untuk kalian mmuuaaahhh" Moses kemudian menutup ponselnya.
Sementara itu di sebuah bar, ada lima orang cowok tengah berkumpul. Mereka membahas mengenai acara reuni Akbar SMA mereka angkatannya Raja.
Ada seorang cowok diantara kelima cowok itu yang merupakan adik dari salah satu teman seangkatannya Raja. Namanya adalah Bagas dan dia berucap "apa kak Raja datang?"
"Iya kata Aurelia, Raja membeli dua tiket, dia akan datang dengan calon istrinya"
"Aku ikut datang boleh kak?" tanya Bagas ke Bima kakak laki lakinya.
"Boleh aja, kakak kan yang bikin tiketnya. Masih ada kalau kamu mau datang, soalnya harus bawa tiket kalau pengen masuk ke dalam hotel nanti jadi harus beli dulu tiketnya" kata Bima.
"Aku beli satu kak" kata Bagas.
__ADS_1
"Satu aja? kamu nggak datang bareng sama Chery pacar kamu?" tanya Bima sambil menyodorkan satu tiket ke Bagas.
"Chery bukan pacarku, tapi sebentar lagi akan jadi milikku kak" Bagas memasukkan tiket itu ke dalam saku celananya sambil tersenyum penuh arti.