
Alfa dan Rini berada dalam satu mobil dalam perjalanan pulang ke kota J.
"Maaf aku langsung ajak kamu balik tanpa sempat pamit sama Melati karena, papa aku tiba tiba masuk rumah sakit" kata Alfa.
"Iya kak, nggak papa. Semoga papanya kak Alfa baik baik saja ya, tidak parah kondisinya dan cepat pulih"
"Amin, makasih ya untuk doa dan perhatian kamu" Alfa terus fokus nyetir dengan kecepatan yang lebih dari biasanya.
Rini terus menoleh ke kanan dan mengamati Alfa. Rini mengagumi ketampanannya Alfa. Keren, parlente tapi sopan, ramah dan baik.
"Rin, ada yang salah ya sama muka aku? hidung aku memanjang atau malah bengkok?" tanya Alfa sambil melirik sekilas ke Rini.
Rini tersentak kaget dan langsung menatap ke arah depan dan berkata "enggak kok, nggak ada yang aneh"
"Kok kamu pelototin terus? aku bisa ge er lho kalau kelamaan dilihat sama cewek semanis kamu" kata Alfa dengan santainya.
Rini merona dan memainkan jari jemarinya di atas pangkuannya.
"Kak?"
"Ya, ada apa?" Alfa kembali melirik sekilas ke Rini.
"Terima kasih banyak ya sudah mau menemani Rini untuk menemui Melati, ajak Rini menginap di sebuah hotel mewah dan mentraktir Rini makan" kata Rini.
"Oooo santai aja, aku juga senang bisa jalan jalan kayak gini, aku bosan jadi kacungnya papa aku setiap harinya" kata Alfa.
"Emm, kak?"
"Ya, ada apa manis?" sahut Alfa sembari meminggirkan mobilnya lalu berhenti.
"Kok berhenti sih, kak?" Rini langsung duduk tegak karena heran. Alfa tiba tiba menghentikan laju yellow bee-nya.
"Ya karena kamu sepertinya pengen ngajak aku ngobrol. Kita bisa berhenti sebentar untuk ngobrol. Aku juga sedang nggak fokus nyetir karena memikirkan papaku. Aku pikir kita ngobrol dulu aja, siapa tahu bisa mengalihkan pikiranku tentang kondisi papaku untuk sesaat" kata Alfa.
"Emm, ngobrol apa?" tanya Rini.
"Hahahaha, kok malah nanya sih? bukannya kamu tadi yang selalu manggil aku dan sepertinya ada yang ingin kamu katakan?" Alfa mengulum senyum.
"Eng....enggak kok. Nggak ada yang mau Rini katakan" ucap Rini lirih sambil terus memainkan jari jemarinya.
"Masa sih? ayolah kalau ada yang ingin kamu katakan ya katakan saja, santai aja sama aku, aku juga jago jaga rahasia, katakan saja!" Alfa tersenyum melihat Rini sembari melepas seat beltnya.
Rini menghela napas panjang dan menundukkan kepalanya, kemudian berkata lirih "aku menyukaimu, kak Alfa"
"Apa manis? aku nggak dengar nih?" kata Alfa serius.
"Beneran nggak dengar apa mau menggoda Rini, nih?" kata Rini merona.
"Beneran nggak dengar, ini kan di pinggir jalan banyak mobil lalu lalang jadi suara kamu tadi yang begitu lirih tidak bisa aku tangkap dengan jelas"
Rini lalu menoleh dan menatap Alfa "dulu aku pernah menyukai seseorang tapi tidak pernah menyatakannya dan akhirnya orang itu jadian sama sahabatku. Aku menyesalinya sampai sekarang ini kenapa dulu aku tidak punya keberanian untuk mengakui perasaanku untuknya"
"Terus?" Alfa mulai menautkan alisnya.
"Sekarang aku tidak mau menyesalinya lagi, aku ingin menyatakan perasaanku" kata Rini.
__ADS_1
"Oke, siapa orangnya? kamu mau menemuinya sekarang? bisa aku anter ke sana dulu" Alfa tersenyum menatap Rini.
"Aku menyukaimu kak Alfa" Rini berkata dalam satu napas tanpa jeda.
"Aku?"
"Iya, aku menyukaimu" Rini lalu mengalihkan pandangannya menatap ke arah depan lagi.
"Aaaa, oke, aku shock ini, hahahhaha" Alfa mulai garuk garuk kepala.
"Terima kasih sudah menyukai aku, tapi jujur saat ini aku baru saja patah hati. Aku mencintai seorang cewek, tapi ternyata dia sudah menikah. Huffftt canggung ya, hahahaha" Alfa kini mengelus elus tengkuknya.
"Kakak nggak perlu menyukaiku juga, aku cuma merasa perlu untuk mengatakan perasaanku yang sebenarnya agar tidak menyesal seperti dulu" kata Rini.
"Kamu pantas kok untuk disukai cuma, saat ini aku masih belum bisa. Apa kamu mau menungguku?" tanya Alfa kemudian.
Rini langsung menoleh ke arah Alfa dan menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
"Hahahhaha, sebenarnya aku terlalu pede saat ini. Aku tidak pantas ditunggu lho Rin. Aku ini mantan playboy. Kamu yakin mau menungguku?"
"Rini akan menunggu kakak" kata Rini.
Alfa kemudian mengusap rambutnya Rini "oke, aku berjanji akan mulai memperhatikan kamu detik ini juga. Kamu pantas untuk itu. Kamu manis, baik, dan lembut, aku tertarik juga kok sama kamu"
Rini tersenyum sangat manis menatap Alfa. Kemudian Alfa memakai kembali seat beltnya dan mulai melajukan yellow bee menuju ke kota J.
Moses, Melati, Ray dan Joko masih menunggu pesanan mereka di sebuah warung lesehan pecel ndeso mbok Iyem.
Tiba tiba ada seorang cowok duduk di sebelahnya Melati "hai, kamu Melati kan?"
Melati menggeser letak duduknya menjauhi cowok itu.
"Saya, teman sekolahnya Melati dulu" kata cowok tersebut.
Moses yang tengah menggendong Chery langsung berkata "Mel, pindah sini duduknya!"
Melati langsung berdiri kemudian duduk di samping suaminya.
"Kamu apa kabar?" tanya cowok itu.
"Pergi kamu!" kata Moses.
"Ray, usir dia!"
Ray berdiri dan menghampiri cowok itu "kamu lebih baik pergi, jangan menguji kesabaran bos saya!"
"Saya cuma ingin menyapa Melati. Kamu lupa sama aku, Mel?" cowok itu bersikeras tidak mau berdiri dan terus menatap Melati dengan penuh kerinduan.
Melati hanya diam saja.
Moses menoleh menatap istri cantiknya "siapa dia?"
"Dia sudah bilang kan, kalau dia teman sekolahnya Melati" jawab Melati.
"Kenapa dia terus menatap kamu dengan penuh arti? ada hubungan apa kalian di masa lalu?" Moses menggeram kesal di telinganya Melati.
__ADS_1
"Dia mantanku, oke" Melati akhirnya menjawab dengan jujur setengah berbisik karena, takut cowok yang kini tengah menatapnya terus akan mendengar kata katanya. Tetapi kejujuran Melati, malah membuat Moses semakin kesal.
Moses menghela napas panjang dan langsung membisu.
Ray langsung paham dia langsung membawa cowok tersebut secara paksa untuk meninggalkan mejanya Melati.
Setelah sampai di luar Ray berkata "jangan dekati Melati kalau kamu tidak ingin babak belur dan masuk UGD saat ini juga!"
"Tapi kenapa? saya mencari dia selama ini, saya baru balik dari Jepang satu Bulan yang lalu. Kami putus karena saya dapat beasiswa kuliah ke Jepang, LDR tidak membuat hubungan saya dengan Melati menjadi lancar, jadi kami putus. Ijinkan saya menemui Melati secara empat mata, ada yang ingin saya sampaikan ke Melati" kata cowok tersebut.
Ray menggelengkan kepalanya "pergi atau aku tidak akan menanggung keselamatan kamu!"
"Siapa orang yang berada di sampingnya Melati itu? apa dia suaminya Melati? bayi itu? apa bayinya Melati?" cowok tersebut terus melihat Melati dari luar warung tersebut.
"Bukan urusan kamu, pergilah sekarang!" ucap Ray.
Akhirnya dengan langkah gontai cowok itupun pergi meninggalkan Melati, cinta pertamanya.
Moses kini mengacuhkan Melati. Dia merasa kesal dan cemburu.
Ketika makanan yang mereka pesan telah terhidang dengan sangat manis di meja mereka, Moses diam saja tidak menyentuh makanannya.
Melati yang kini telah menggendong Chery dengan selendangnya akhirnya berkata "sayang, kamu kenapa tiba tiba diam seperti ini?"
Melati melihat Chery sudah bobok, dia lalu mencoba menyuapkan satu sendok pecel ke mulutnya Moses "aaaaaaa"
Tapi Moses malah melengos.
Melati menghela napas dan makan sendiri.
"Kok makan sendiri?" tanya Moses kesal.
"Tadi disuapin nggak mau, sekarang protes" kata Melati yang langsung mengambil satu sendok lagi untuk disuapkan ke Moses "aaaaa"
Moses membuka mulutnya dengan kaku dan mengunyah makanannya dengan cemberut.
"Kamu kenapa sih kaya gitu? kamu kesal?" tanya Melati sembari menyuapi Moses.
Moses menerima suapan dari Melati dan menganggukkan kepalanya.
"Sama siapa? sama aku?" Melati mengunyah makanannya.
Moses menggelengkan kepalanya.
Ray dan Joko langsung diam diam melipir untuk pindah meja. Mereka khawatir kalau mereka akan kena imbas dari perangnya bos mereka dan istrinya.
"Lalu jengkel sama siapa?" Melati kembali menyuapi Moses.
Moses hanya diam dan cemberut.
Melati akhirnya ikutan jengkel. Dia langsung berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Moses lalu masuk ke dalam mobil sambil menggendong Chery.
Moses langsung panik. Lha kok malah dia yang ngambek harusnya kan aku yang ngambek, Shit! Moses langsung berdiri dan berlari mengejar Melati.
Ray dan Joko saling bersitatap kemudian menggelengkan kepala secara kompak dan melanjutkan menyantap kembali makanan mereka.
__ADS_1