
Ray menangkup kardus berukuran sedang dan hendak melangkah keluar dari kamar tuan besarnya tetapi suaranya Delia langsung menghentikan langkahnya Ray "itu apa?"
"Ini baju, beberapa lingerie, tas, sepatu dan perhiasan milik mantannya tuan Moses dulu. Kalau tidak dibuang, akan terjadi perang dunia ketiga di rumah ini, nyonya kamu bisa pingsan menahan amarah dan kecemburuan nanti" kata Ray ke arah Delia yang tengah duduk di tepi ranjang sembari menjaga Chery.
"Bawa sini!" kata Delia.
"Untuk apa?" Ray melangkah mendekati Delia kemudian menaruh kardus itu di depannya Delia.
Delia melihat lihat isi kardus tersebut dan melotot "barang mahal dan bermerk semua nih! gila bener! dan semuanya akan kamu buang?"
"Iya" Ray menjawabnya dengan santai.
Delia langsung memukul pundaknya Ray.
"Aduh, Del.......sakit!" kekesalan terdengar di nada suaranya Ray karena, Delia tiba tiba memukulnya cukup keras
"Hahaha, maaf terlalu keras ya pukulanku? buat aku aja ya, kan sayang nih kalau dibuang, oke, deal!? aku ke kamar dulu sebentar ya, menyimpan semuanya ini" Delia memeluk kardus itu dan mengangkatnya.
Ray hanya bisa menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah polosnya Delia "tunggu!"
Delia mengerem langkahnya dan menoleh ke arah Ray.
"Kalau kamu simpan barang barang itu, pas kamu pakai nanti di depannya nyonya, jangan bilang kalau itu milik mantannya tuan Moses"
"Siap" Delia mengulas senyum dan kembali melangkah menuju ke kamarnya. Beberapa saat kemudian cewek manis pacarnya Ray itu kembali masuk ke dalam kamar tuannya.
"Nona muda belum bangun juga ya? apa perlu dibikinkan susu sekarang? tanya Delia sembari duduk di sampingnya Ray.
Ray terus menatap layar laptopnya yang sedang dia pangku dan menjawab "nanti aja"
Setelah menyelesaikan penyatuan cinta mereka yang sangat luar biasa dan penuh sensasi baru nan indah, Moses memakaikan kembali dressnya Melati di atas tubuh istri tercintanya itu. Kemudian dia memakai kembali kemeja dan celana panjangnya.
Moses kemudian membuka pintu pondok itu dan langsung membopong Melati.
"Aaahh, sayang turunkan aku! aku berat lho, dan jalan kita menuju ke rumah cukup panjang"
Moses tersenyum dan mengecup keningnya Melati. "Kamu nggak berat kok, kamu tuh ringan seperti bulu angsa, kecantikanmu pun seperti angsa, putih, indah dan cantik" Kekaguman terdengar di nada suaranya Moses.
Moses melangkah menuju ke rumahnya dengan sangat pelan, dia ingin menikmati kebersamaan yang jarang dia dapatkan bersama kekasih hatinya itu. "Kamu ingin melihat pantai dulu?"
Melati menggelengkan kepalanya "aku takut kalau Chery terbangun dan rewel kalau aku tidak berada di sampingnya, kita langsung pulang saja, ya. Kamu kok jalannya pelan pelan gini sih, keburu Chery bangun lho"
"Chery masih bobok, tenang aja. Aku tadi sudah bertanya sama Ray" Moses mengecup hidung mancung milik istri imutnya.
"Sayang, sejak kapan kamu tahu kalau aku alergi sama asap rokok?" tanya Melati.
"Hahahaha, aku sudah dibayar di muka barusan, jadi aku berkewajiban untuk menjawabnya ya, hahahaha"
Melati tersenyum lebar memandangi wajah tampan Moses saat tertawa lebar.
"Oke, aku berniat untuk berhenti merokok saat kamu datang pertama kali ke rumah, untuk menjadi my cute nanny, heeee" Moses terus melangkah dan terus membopong tubuh ramping istri terkasihnya.
"Kok bisa?" Melati mulai menautkan kedua alisnya.
"Waktu itu aku keluar dari lift sambil menghisap cerutu. Emm, sepertinya hidung kamu memang sangat peka ya sayang, hahahaha, kamu langsung bisa merasakan asap cerutunya dan waktu itu kamu langsung membekap mulut dan hidung kamu. Aku langsung mengerem langkahku saat itu dan melihat tingkahmu secara diam diam"
__ADS_1
"Terus?"
"Awan langsung paham kalau kamu mencium bau rokok karena, reaksi kamu berbeda ketika kamu mencium bau bunga, kalau mencium bau bunga maka kamu akan bersin bersin. Lalu Awan bertanya ke Ray, apa ada yang merokok di rumah karena, Melati tidak tahan sama asap rokok"
"Entah kenapa aku langsung merasa perlu untuk mematikan cerutuku saat itu juga di atas asbak yang terletak di atas meja yang berada di dekat lift" Moses mencium keningnya Melati.
"Lalu?"
"Niatku untuk berhenti merokok semakin kuat saat kamu bilang ke Ray waktu itu, asap rokok tidak baik juga untuk tumbuh kembang seorang bayi. Kamu membawa pengaruh positif di dalam hidupku, sayang. Itulah kenapa aku sangat mencintaimu, aku rela lakukan apapun demi kamu"
"Benarkah? apa saja?" Melati mulai tersenyum jahil.
"Hmm, apa saja" Kata Moses.
"Aku pengen makan sushi, tapi tidak mau kalau beli"
Moses mengerutkan dahi dan mulai curiga dengan senyuman yang tergambar di wajah cantik istrinya itu "lalu?"
"Kamu belanja bahan bahannya, terus kita masak bersama sama, emm, aku juga ingin kita bakar bakaran di teras belakang rumah nanti malam. Tapi, kamu yang belanja. Untuk bakar bakarannya, nanti kamu beli sosis, baso, sama daging sapi ya?"
Moses menghela napas lega dan terkekeh geli "fiuuuhhh, aku pikir kamu akan menyuruh aku melakukan sesuatu hal yang ekstrem ternyata cuma belanja, oke! aku akan belanja setelah ini" Moses kemudian tersenyum senang melihat Melati berbinar binar penuh sukacita.
"Sayang, aku mencintaimu" ucap Melati.
"Aku seribu kali lebih mencintaimu" kata Moses.
"Aku seribu kali seribu kali mencintaimu?" Melati tertawa geli.
"Hahahahaha" Moses mengecup mesra bibirnya Melati.
Tiba tiba ada serbuk putih turun dan jatuh di tubuh mereka berdua. Melati menatap heran dan langsung mendongak ke atas menatap langit. "sayang, apakah ini salju?"
"Aaahh, indahnya! baru pertama kali ini aku melihat dan merasakan salju. Indah sekali sayang!" Melati memekik lirih penuh kegirangan.
Moses semakin mempererat pelukannya. Tidak begitu lama mereka sampai di teras belakang rumahnya Moses. Moses menurunkan Melati dan langsung mengajak Melati untuk masuk kembali ke dalam kamar.
Di rumahnya Rini..........
"Aku sudah selesai masak nih, aku taruh dulu di atas meja makan" ucap papanya Rini langsung menuju ke ruang makan.
Alfa masih menghias nasi gorengnya. Setelah selesai dia menyusul langkah papanya Rini ke ruang makan dengan setengah berlari.
"Ini nasi goreng kreasiku" kata papanya Rini lalu menaruhnya di atas meja makan.
"Keren kan?" Sammy menaikkan kedua alisnya dan mengulas senyum bangga di wajah gantengnya.
Alfa tersenyum dan menaruh nasi goreng kreasinya di atas meja makan "ini kreasiku, heeee"
Sammy melirik nasi goreng kreasinya Alfa
Keren juga bentuk kreasi nasi gorengnya. Batin Sammy.
__ADS_1
Mamanya Rini dan Rini mulai mencicipi nasi goreng.
"Gimana? enak kan?" tanya papanya Rini.
Mamanya Rini dan Rini menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Tuh kan, lihat! masakanku memang Numero Uno, mamanya Rini masakannya kalah enak sama masakanku" Papanya Rini menepuk pelan dada bidangnya.
Alfa semakin tidak percaya diri setelah mendengar ucapan dari calon papa mertuanya.
"Tunggu pa, jangan dulu berbangga diri, kita belum mencicipi nasi gorengnya Alfa nih" kata mamanya Rini.
"Iya setuju ma" sahut Rini.
Alfa hanya bisa mengulas senyum di wajah tampannya.
"Oke, coba aja cicipin!" papanya Rini langsung menarik kursi dan duduk di atasnya kemudian bersedekap dan mengulas senyum lebar.
Mamanya Rini dan Rini langsung menyendok nasi goreng hasil masakannya Alfa. Mata mereka berdua langsung bersitatap dan terbelalak heran. Nasi goreng yang mereka cicipi ternyata sangat enak, lezat dan ada sensasi rasa unik, beda dari semua nasi goreng yang pernah mereka makan.
Kedua cewek manis dari keluarga Wijaya itu pun terus manggut manggut dan tersenyum lebar sembari mengacungkan jempolnya ke arah Alfa.
Alfa pun tersenyum lebar dan langsung merasa lega.
Papanya Rini langsung berdiri, mencicipi nasi gorengnya Alfa dan memberikan reaksi yang sama, membelalakkan matanya dan manggut manggut. Nasi gorengnya Alfa sangat enak, lezat dengan sensasi rasa unik yang tidak bisa digambarkan dengan kata kata.
Papanya Rini secara spontan menoleh ke Alfa dan mengacungkan jempolnya.
"Selamat, aku mengaku kalah. Nasi goreng kamu terbaik seantero Nusantara nih, mantul!" papanya Alfa kemudian mengambil piring yang berisi nasi goreng hasil masakannya Alfa "sepuluh point awal untuk kamu, good job anak muda" papanya Rini berucap sembari menyendok kembali nasi goreng bikinannya Alfa.
"Terima kasih pa eh om" Alfa tersenyum lega dan merasa senang, cowok tampan itu menatap kekasihnya dan melempar senyum penuh cinta, Rini membalasnya dengan tatapan penuh kekaguman dan cinta. Rasa percaya dirinya Alfa kembali muncul dan kembali menjadi seorang Alfa yang selalu ceria dan optimis di dalam menghadapi setiap masalah yang ada di depannya.
"Pa, Rini juga masih mau nasi goreng itu, jangan dimakan sendiri dong!" Rini mengerucutkan bibirnya menatap papanya yang tengah asyik menyantap nasi gorengnya Alfa.
"Iya papa iihhh, mama juga masih mau nasi gorengnya" mamanya Rini ikutan mengerucutkan bibirnya.
Papanya Rini berucap dengan santai "kalian makan aja tuh nasi goreng bikinanku, lumayan kok rasanya, biasanya kalian juga makan nasi goreng bikinanku, kalau aku ada di rumah"
Mamanya Rini dan Rini tetap mengerucutkan bibir mereka dan menghela napas dalam dalam memandang Sammy Wijaya nampak lahap memakan nasi goreng bikinannya Alfa.
Alfa tersenyum kemudian melangkah kembali ke dapur, beberapa detik kemudian muncul kembali di ruang makan sembari membawa dua buah piring nasi goreng kreasinya "Ini masih ada kok, Alfa bikin tiga porsi tadi, heee. Ini untuk kamu dan ini untuk mama" Alfa menaruh piring yang dia bawa di depannya Rini dan mamanya Rini.
"Waaahhh, terima kasih sayang" Rini tersenyum lebar menatap wajah tampan kekasihnya itu.
"Terima kasih ya nak, untuk kamu mana?" ucap mamanya Rini.
"Kita makan berdua yuk!" Rini menyodorkan piring nasi goreng yang ada di depannya ke arahnya Alfa yang sudah duduk di sampingnya.
"Papa nggak mengijinkan kalian makan sepiring berdua, enak aja! belum sah sebagai suami istri tuh nggak boleh makan sepiring berdua!" papanya Rini langsung protes sembari mengunyah nasi goreng.
Rini hanya bisa menghela napas panjang dalam kekecewaan dan memandang Alfa.
Alfa tersenyum dan berucap "aku makan nasi goreng bikinannya papa eh om aja ya, boleh om?" Alfa menoleh ke arah Sammy.
Sammy mendongakkan wajahnya menatap Alfa dan berucap "boleh"
__ADS_1
Alfa tersenyum senang bukan main melihat respon positif dari seorang Sammy Wijaya.
Harapanku merekah indah nih, chayoo, Alfa! Alfa menyemangati dirinya sendiri di dalam hati.