My Cute Nanny

My Cute Nanny
Kamu tampan kalau tersenyum


__ADS_3

Moses berpindah tempat duduk. Dia duduk di atas sofa kecil yang ada di dalam ruangan dosen pembimbingnya Melati. Satu jam sudah Melati dan dosennya membahas makalah yang diajukan oleh Melati.


Moses merasa bosan. Dia kemudian mengirim pesan text ke Ray.


Kalau ada masalah di kantor kabari aku, aku akan handle dari sini. Aku masih menemani Melati menemui dosen pembimbingnya.


Ray mengetik, siap tuan.


Moses mulai mengecek beberapa pesan text dari klien kliennya yang masuk ke dalam ponselnya dan mulai membalasnya satu per satu. Lalu membuka email-nya, ada beberapa email dari luar negeri, dia mulai membalasnya dan mulai bekerja secara daring.


Tanpa Moses sadari, Melati sudah duduk di sampingnya. Dua jam sudah berlalu. Moses menoleh ke istri cantiknya "sudah selesai?" tanya Moses sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya.


Dosen yang bernama Arkan itu, duduk di depannya Moses "keponakan anda ini sangat pandai, tuan. Makalah yang dia ajukan sangat menarik jadi saya pun langsung menyetujuinya. Hanya perlu sedikit revisi di beberapa bab"


"Apa kamu bilang tadi? keponakan? Melati istri aku" Moses sudah tidak ambil pusing lagi larangannya Dokter Erlangga untuk tidak memberitahukan kepada orang asing perihal hubungan mereka yang sebenarnya yaitu, suami dan istri.


"Aaaaa, maafkan kelancangan saya, tuan" dosen Arkan kemudian berdiri dan membungkukkan badannya.


"Kita pamit" Moses langsung melangkah keluar dan meninggalkan ruangannya dosen Arkan dengan hati yang masih mendongkol.


"Melati pamit, pak. Terima kasih untuk waktunya" Melati berucap sembari melangkah keluar mengikuti langkah kaki suaminya.


Arkan menyeringai penuh arti saat menatap kepergiannya Moses dan Melati.


Enak aja bilang kalau Melati itu keponakanku. Aku harus segera umumkan pernikahanku ke publik nih, biar seluruh dunia tahu kalau Melati adalah istri tercintanya Moses Elruno bukan keponakannya, cih! Moses menggerutu di dalam hatinya.


Mereka akhirnya sampai di parkiran mobil sedan merahnya Moses. Ketika Moses akan masuk ke dalam mobilnya, Melati menarik lengannya Moses.


"Ada apa?" Moses menautkan alisnya dan tidak jadi masuk ke dalam mobilnya.


"Sayang, masih ada kelonggaran waktu nih, Melati mau traktir kamu sekarang, untuk menepati janjinya Melati kemarin"


"Oke, ayok!" Moses kembali membuka pintu mobilnya.


Tetapi Melati menutupnya dan berkata "Melati akan traktir kamu di warung makannya mbok Tum. Sudah lama Melati nggak makan di warungnya mbok Tum, mendoannya enak banget, Melati kangen banget sama tempe mendoannya" ucap Melati sembari menggoyang nggoyangkan lengannya Moses.


Moses menghempaskan napas pendeknya "oke, kita masuk ke mobil dan ke sana, keburu siang"


Melati malah menggelengkan kepalanya "kita jalan kaki"


"Hah!? memang letak itu warung di mana, kok jalan kaki?"


"Dekat kok, di belakang kampus, kita lewat jalan kecil itu" Melati menunjuk pintu belakang kampus yang terletak tidak jauh dari area parkiran mobil.


Moses kembali menghela napas lalu melepas jasnya, dia membuka pintu mobilnya untuk menaruh jasnya di dalam mobil lalu Kik Kik, dia kunci mobilnya dan mengikuti langkahnya Melati yang dengan penuh semangat menarik tangannya.


Moses tersenyum geli melihat tingkah Melati yang mirip anak kecil ketika minta jajan.


Mereka memasuki jalan kecil secara bergiliran karena, jalan itu memang hanya bisa dilalui oleh satu orang saja.


Melati tidak melepaskan tautan tangannya dan melangkah sembari mengayunkan tangan dia dan suaminya. Moses tersenyum bahagia melihat raut wajahnya Melati yang begitu ceria.


"Sayang, Melati kalau mau kuliah pasti ke warungnya mbok Tum dulu. Enak, murah, dan bersih tempatnya. Kalau mau pulang juga mampir dulu dan membungkus mendoannya untuk teman belajar di kost kalau nggak untuk teman bekerja di butik"


"Bukannya mendoan itu berminyak? nggak baik buat kesehatan kalau sering sering memakannya, kamu dulu bekerja di butik sampai malam?" Moses terus menatap keceriaan istrinya dengan penuh cinta.


"Hmm" jawab Melati.

__ADS_1


"Hmm aja gitu, jawabnya?" Moses menggeleng nggelengkan kepalanya.


Melati tersenyum lebar dan menoleh ke Moses dan melanjutkan ocehannya "Mbok Tum tuh sangat baik dan ramah orangnya, nanti Melati kenalkan ya, kalau Melati lupa bawa uang atau kalau kurang, Melati boleh ngutang, heeeee"


Moses merasa terharu mendengar ocehannya Melati. Bahkan dulu, istrinya bekerja di butik sampai malam sambil kuliah, dan pernah ngutang di warung. Moses merasa menyesal kenapa tidak dari dulu dia dipertemukan dengan Melati.


"Nah sudah sampai" Melati menghentikan langkahnya di depan sebuah warung sederhana yang cukup ramai tulisan warung itu "warung pukwe mbok Tum"


Moses mengernyitkan dahinya. Melati dulu, makan setiap hari di tempat sederhana seperti ini? batinnya.


"Mbok Tum!" Melati memanggil seorang wanita paruh baya yang nampak sibuk membuat minuman untuk para pelanggannya.


"Eh, mbak Mel, kok lama nggak ke sini? mendoannya kangen lho sama mbak Mel, mbok Tum juga kangen buangeeett sama mbak Mel" Mbok Tum berkata sambil melangkah mendekati Melati.


Moses mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang di dalam warung pukwe tersebut. Moses kemudian bertanya "pukwe itu apa?"


"Siapa ini mbak Mel, ganteng buangeeett, pukwe itu singkatan dari njupuk dewe alias ambil sendiri, melayani sendiri, mas ganteng" sahut mbok Tum.


Moses tersenyum lebar, akhirnya ada manusia di muka bumi ini yang tidak memanggil dia dengan sebutan paman.


"Mbok Tum sini deh Melati bisikkan sesuatu"


Mbok Tum mendekati Melati dan menyodorkan telinganya "ini suamiku mbok"


"Hah!?" mbok Tum berteriak dan hampir menjatuhkan sendok yang dia pegang karena kaget.


"Ssssttt, jangan bilang siapa siapa dulu ya mbok"


"Siap" jawab mbok Tum sambil melirik dan tersenyum ke Moses "mbak Mel pinter milih suami, ganteng buangeeett, hihihi, mau minum apa mas ganteng?"


Melati terkekeh geli "oke mbok, bikinkan es jeruk manis dua ya tapi yang satu jangan terlalu manis, ya"


"Oke" mbok Tum langsung pergi meninggalkan Melati dan Moses untuk mulai membuatkan minuman pesanannya Melati dan Moses.


Moses menggaruk nggaruk kepalanya melihat tingkah konyol istrinya dengan si pemilik warung itu.


"Kamu mau makan apa? duduklah biar aku ambilkan!"


Moses menatap antrean yang berjajar di depannya. Dia merasa tidak tega kalau Melati harus berdiri lama mengantre dan harus bersenggolan dengan cowok yang ada di depannya.


"Kamu yang duduk, biar aku ambilkan! kamu mau makan apa?"


"Aku mau mendoan dan sayur gudeg. Terima kasih, sayang"


Moses memonyongkan bibirnya sebagai kode minta dikecup.


Melati terkekeh geli lalu berbisik "dilarang keras cium cium jika masih berada tidak jauh dari area kampus" lalu istinya Moses itu ngeloyor pergi sembari tersenyum lebar, menuju ke sebuah tempat duduk yang masih kosong.


Moses hanya bisa menghela napas panjang kembali dan tersenyum geli menatap keceriaan istri cantiknya.


Bos tampan, super kaya, konglomerat muda yang tidak pernah kepanasan dan tidak mengantre, sekarang nampak santai melakukan semua itu, demi istri tercintanya.


Melati menatap penuh cinta suaminya yang sesekali menoleh ke arahnya sembari tersenyum dan melambaikan tangannya.


Akhirnya perjuangan Moses dalam mengantre membuahkan hasil. Dia membawa dua buah piring untuk dia dan untuk istrinya.


Moses menaruh kedua piring tersebut di atas meja.

__ADS_1


Melati mengelap keringat yang menempel di dahi suami tampannya dengan telapak tangannya "maaf sudah menyusahkanmu"


"I love you" Moses tersenyum menatap istrinya.


Melati merona malu penuh cinta.


"Kamu ambil sayur asem?" tanya Melati.


"Ya, karena hanya rasa sayur asem yang sudah aku kenal. Yang lainnya aku belum kenal. Ada pecel tapi aku nggak suka pecel"


Melati menyendok sayur gudegnya "aaaaa, kamu cicipi sayur gudegnya"


Moses menatap sayur berwarna cokelat pekat dan nampak asing baginya, dia nampak ragu untuk membuka mulutnya.


"Baiklah kalau kamu nggak mau" Melati nampak kecewa.


Moses langsung menarik tangannya Melati dan memasukan sendok yang Melati pegang ke dalam mulutnya.


Moses mencoba mengunyah dan memahami rasa dari sayur yang baru saja dia masukkan ke dalam mulutnya.


"Enak?" tanya Melati sembari menyendok makanannya.


"Hmm, manis, tapi aku tetap lebih suka sayur asem" kata Moses sembari memakan sayur asemnya.


Moses tersenyum melihat Melati yang sedang makan. Begitu lahap dan nampak cerah ceria wajahnya.


"Mendoan ini top markotop sayang, aku sukaaaaaa buangggetttt"


Moses tersenyum dan berkata "Makan yang banyak, biar kamu nampak sedikit berisi dan seksi"


Melati mencubit tangannya Moses.


"Aduh, kok malah dicubit sih"


"Itu namanya body shaming sayang, Melati nggak suka"


"Bukannya mau body shaming. Tapi kalau kamu nggak bisa sedikit berisi, terus nanti aku diprotes sama mama gimana? Moses, kamu gimana ngurus Melati, nggak becus ngurus anak perempuannya mama ya, kok Melati masih kurus aja. Nah gimana coba? kalau mama ngomel seperti itu, bisa mati kutu aku nanti"


Melati terbahak bahak saat melihat suaminya berkata dengan lemah gemulai lagaknya seperti seorang wanita, suaranya juga dibikin mirip dengan suara wanita.


"Kok malah tertawa" Moses ikutan tergelak geli.


"Mama nggak kemayu kayak gitu, dan nggak seceriwis itu" Melati kembali tergelak geli.


Moses ikutan tertawa kemudian berkata "kamu sangat cantik kalau tertawa lepas seperti itu, sayang"


"Kamu juga sangat tampan kalau tersenyum"


Mereka bersitatap penuh cinta.


Tiba tiba............


"Mel?" Awan berdiri di dekat mejanya Moses dan Melati bersama dengan Miracle kekasihnya. Awan nampak kusut dan mendung wajahnya. Melati menatap Miracle, dua cewek cantik yang wajahnya hampir mirip itu saling pandang. Seolah mereka bercermin karena, wajah mereka memang hampir mirip.



Moses mendengus kesal saat melihat Awan terus menatap Melati penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2