
"Aku nggak akan ke mana - mana dan nggak akan kenapa - kenapa, aku cuma pengen semua aset aku menjadi milik kamu. Tanda tangan ya, please, biar aku tenang"
"Tapi........."
"Ayolah sayang, percaya sama aku, aku akan baik baik saja, aku bisa jaga diriku dengan baik selama ini, kan?"
"Hmm, sebelumnya apa? kamu ketangkep sama cewek gila kan, kemarin"
"Nah, makanya itu, kalau kamu tanda tangani formulir itu, semua aset kekayaanku akan jadi milik kamu, kalau aku main gila sama cewek lain, kamu bisa langsung menendang aku dari rumah ini dan aku akan jadi gelandangan, hahahaha"
"Apaan sih, nggak lucu!" Melati langsung menurunkan kedua sudut bibirnya.
"Hahahaha, iya nggak lucu, maaf kalau bercandaku kelewatan ya? oke, aku jujur sama kamu. Duniaku bukan dunia yang biasa. Dunia bisnis yang aku geluti adalah dunia bisnis yang ganas, penuh persaingan dan kejam"
"Lalu?" Melati masih menautkan alisnya.
"Banyak hal yang tidak bisa diprediksi dari awal, itulah kenapa aku ambil langkah ini. Kamu yang ambil alih semua aset kekayaanku jadi kalau ada hal buruk yang menimpa aku, kamu dan Chery akan aman dan tidak kehilangan apapun"
"Aku tidak mau jika hal buruk menimpa kamu, sayang" kedua pelupuk matanya Melati mulai tergenang air mata.
Moses mengecup kedua kelopak mata indah milik istrinya dan berujar "kalau sayang, hanya kalau dan hanya untuk berjaga jaga, aku terbiasa bertindak untuk selalu sedia payung sebelum hujan, jadi sekarang tolong kamu tanda tangani, demi ketenangan hatiku, katanya kamu cinta sama aku, kamu pengen aku selalu merasa tenang, kan?"
Melati menatap suaminya dengan penuh cinta lalu menuruti apa kata Moses, menanda tangani formulir bermeterai tersebut dan menyodorkannya ke Moses.
Moses meraih map tersebut dan melangkah ke lemari besinya. Moses membuka lemari besinya dengan pin, setelah terbuka lebar dia memasukkan surat tersebut ke dalamnya lalu menutupnya kembali.
Kemudian Moses, melangkah mendekati istrinya dan kembali merebahkan kepalanya di atas pangkuannya Melati.
"Aku bersedia menanda tangani surat tadi tapi kamu harus berjanji sama aku, kamu harus jaga diri kamu dengan baik di mana saja kamu berada"
"Hmm, sayang, kenapa kamu suka sama capung? selain capung, hewan apalagi yang kamu suka?"
"Dulu, papa sering mendongeng tentang binatang, ada kancil, kelinci dan capung. Tetapi Melati paling suka kisah capung dan setiap malam sebelum bobok, Melati selalu meminta papa untuk mendongengkan cerita si capung. Capung itu menggambarkan keharmonisan juga menandakan kemurnian dan kebahagiaan"
"Oooo gitu, indah ya filosofinya, aku suka. Terus?"
"Selain itu aku suka warnanya, heee, aku suka warna hijau dan selain capung, aku juga suka sama kura kura" Melati bercerita sembari memijit pelan pelipis suaminya.
"Kenapa suka sama kura - kura? karena warnanya hijau? kamu suka sama Hulk juga dong, kan warnanya hijau, hahahaha, nyonya Moses Elruno memang anti mainstream ya, biasanya cewek itu suka warna pink, lha ini malah suka warna hijau, terus semua cewek tuh suka sama bunga lha ini malah alergi sama bunga, terus sukanya sama capung dan kura kura, bukannya kitty atau puppy, hahahaha"
Melati ikutan terkekeh geli "iya itulah aku dan iya benar, di antara semua tokohnya Marvel, aku paling suka sama Hulk" Moses tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya. Kemudian Melati melanjutkan ucapannya "aku suka sama kura - kura karena aku mengamati kehidupannya
kura - kura. Aku dulu pernah punya kura - kura kecil dan imut, namanya Kiri, tapi sayangnya kura kura kecilnya Melati, hilang diambil sama anak tetangga"
"Siapa namanya?"
"Siapa?"
"Yang ambil kura - kura kamu, siapa namanya? biar aku samperin dan aku jitak kepalanya"
Melati memukul pelan dada bidang suaminya dan tertawa terbahak bahak "aku lupa namanya, aku juga sudah memaafkannya kok, lagian dia rawat dengan baik kura - kura itu, jadi Melati mengikhlaskannya"
"Jangan terlalu baik sama orang, kamu akan dimanfaatkan, sekali kali lawan dan balas!"
"Hahahaha, Melati nggak bisa seperti itu"
Moses hanya bisa menghela napas panjang untuk merespon ucapannya Melati.
"Apa yang kamu amati dari seekor kura kura?"
Moses kembali bertanya dan masih memejamkan matanya, menikmati pijatan lembut dari istri tercintanya.
"Kura kura itu jalannya pelan, mengandung makna biar lambat asal selamat, terus
kura - kura itu berumur panjang, setia sama pasangannya, dan selalu bersembunyi di dalam cangkangnya kalau terancam, tetapi bersembunyi tidak untuk menjadi kalah,
__ADS_1
kura - kura bersembunyi itu untuk berpikir apa langkah yang akan dia ambil selanjutnya, keren, kan"
"Iya keren, tapi bukan kura - kuranya yang keren melainkan istri aku, sangat keren dan pintar, aku mencintaimu" Moses berujar sembari membuka matanya dan menatap lekat kedua bola mata indah milik istrinya.
Moses menaikkan wajahnya dan merengkuh tengkuknya Melati, dengan penuh cinta dia kembali mencium bibir ranumnya Melati. Bagai seekor singa jantan yang kelaparan dia merengkuh Melati ke dalam dekapannya dan melahap habis bibir indah merekah bak bunga mawar merah, milik Melati.
Mereka berciuman cukup lama, berguling ke sana kemari, dan tanpa mereka sadari Moses kini sudah berbaring di atas tubuhnya Melati.
"Sayang, aku janji aku akan jaga jiwa dan raga aku dengan baik demi kamu dan Chery. Hahahaha, kamu sekarang ini bos aku lho, semua aset kekayaanku sudah jadi milik kamu, jadi, segala perintahmu akan aku lakukan dengan baik, nyonya Moses Elruno" Moses menaruh kedua tangannya di samping kanan dan kiri kepalanya Melati, untuk menyangga tubuh atletisnya.
Melati tertawa renyah menatap suaminya "kalau begitu, aku perintahkan kamu, jangan pernah terluka dan hilang lagi kaya kemarin!"
Moses langsung menggelegarkan tawanya "Hmm, siap delapan enam, nyonya Moses Elruno" Moses kemudian mencium lehernya Melati, menyesap dan menggigitnya, semakin panas dan semakin liar.
Tok Tok Tok
Melati langsung mendorong tubuhnya Moses dan dia bangun dari posisi tidurnya.
Moses mengumpat kesal di dalam hatinya sembari duduk bersila menatap istrinya.
"Itu pasti Ray" Moses merapikan rambutnya Melati dan mencium keningnya Melati kemudian berdiri dan melangkah untuk membuka pintu kamarnya.
"Tuan, berangkat sekarang?" tanya Ray.
"Hmm, masuk dan duduklah dulu, Ray! Aku ganti celana dulu"
Ray melangkah masuk dan duduk di sofa menghadap Melati yang sudah duluan duduk di atas sofa.
"Malam - malam begini mau ke mana, kak?"
"Ada urusan penting dengan klien. Jangan curiga dan jangan berpikiran macam macam, Mel, kliennya tuan Moses kali ini cowok bukan cewek. Cuma kita akan pulang subuh karena, letak pertemuannya di pinggiran kota"
"Aku percaya, kak"
"Kamu keren sekali, sayang" Melati tanpa sadar mengucapkan kata itu sembari terpana menatap suami tercintanya.
Moses langsung merengkuh Melati ke dalam dekapannya kemudian menghujani wajah Melati dengan ciumannya dan di sela sela kecupan panasnya, Moses berucap "jaga diri baik baik di rumah, kunci pintu kamarnya!"
Ray langsung membalikkan badannya dan berucap "saya tunggu di bawah, tuan" sembari melangkah pergi mendahului tuannya.
Moses dan Ray akhirnya masuk ke dalam mobil dan meluncur menuju ke villa mewah miliknya Moses Elruno untuk menjumpai si Scorpio, pembunuh papanya Melati.
Setelah menempuh perjalanan panjang selama satu setengah jam, mereka sampai di depan villa tersebut.
Moses langsung turun dari mobil dan melangkah lebar memasuki villanya. Dia tidak sabar untuk bisa berjumpa dengan si pembunuh papanya Melati dan orang yang sama yang hampir menculiknya dulu.
Ceklek
Moses membuka pintu kamar yang dimaksud sama Ray tadi, sewaktu masih di dalam perjalanan menuju ke villa.
Seorang laki laki berkumis dan berbadan tegap duduk terikat kedua tangan dan kakinya di atas sebuah bangku kayu.
"Ray, lepaskan dia!"
"Tapi tuan, dia berbahaya. Dia mantan narapidana dan pandai bela diri" Ray berbisik lirih kepada tuannya.
"Justru bagus itu! aku pengen duel dengannya terlebih dahulu!" Moses melepas jaketnya dan menatap tajam pria tersebut.
"Tapi, tuan?"
"Ray!" Moses mulai menggeram.
Akhirnya Ray menuruti perintah tuannya dan melepas ikatannya pria dengan tato scorpio di punggung tangannya itu.
__ADS_1
Pria itu terlihat kebingungan kemudian berdiri menghadap ke arah Moses.
"Maafkan kesalahan saya di masa lalu, tuan" ucap pria tersebut sembari menundukkan wajahnya, dia merasa malu untuk menatap Moses.
Moses mengusap kasar wajahnya dan mendengus kesal "lawan aku!"
"Tapi, tuan?" pria bertato itu mendongakkan wajahnya dan nampak ragu.
"Aku sangat ingin menghajar kamu sekarang ini, hah! kamu hampir menculikku dan membunuh bapak Teja Kusuma, brengsek kau! lawan aku! Karena pantang bagi aku, menghajar orang tanpa perlawanan"
Akhirnya pria bertato itu mulai maju dan melancarkan serangannya.
Moses dengan lihai dan lincah bisa menghindari setiap serangan yang dilancarkan oleh pria bertato itu, bahkan akhirnya dia berhasil mendaratkan berpuluh puluh pukulan di tubuh dan wajah pria bertato itu.
Pria itu jatuh terjerembab dengan wajah penuh memar dan sudut bibirnya berdarah.
Moses hendak menghujamkan lagi pukulannya tapi Ray berteriak "tuan hentikan! tuan bisa membunuhnya jika tuan teruskan"
Moses langsung menghentikan serangannya.
"Berdiri kamu!" Moses masih terengah engah di antara lelah dan amarahnya yang begitu membara kepada pria bertato itu.
Pria bertato itu pun berdiri sambil meringis dan kembali duduk di atas bangku menghadap Moses.
"Katakan apa yang mau kamu katakan!" Moses menatap tajam pria itu penuh dendam dan amarah.
"Maafkan saya dan tolong amankan saya! Dipo Herlambang mencari saya dan hendak membunuh saya, tuan"
"Cih! apa untungnya aku mengamankan kamu?"
"Saya akan katakan semuanya, semua yang saya ketahui"
"Lanjutkan! aku akan menolong kamu atau tidak itu berdasarkan dari omongan kamu, ayo lanjutkan!"
"Baik tuan. Dua puluh tahun yang lalu saya disuruh sama Dipo Herlambang dan seorang nyonya besar untuk menculik anda dan juga menyabotase pesawat pribadinya papa anda, sehingga pesawat pribadi itu meledak dan........"
Moses langsung membelalakkan matanya dan bangkit berdiri hendak menghajar kembali pia itu.
"Tuan, ingat Chery dan Melati, kalau anda bunuh orang ini, anda akan masuk penjara, tuan" Ray mencoba mencegah tindakan gegabahnya Moses.
Moses mendengus kesal dan menghenyakkan tubuhnya kembali di atas sofa "Brengsek kau! siapa nyonya besar yang kamu maksud tadi? katakan cepat!!!" Moses berteriak dengan penuh emosi dan merasa sangat geram saat mengetahui kalau ternyata papa dan mamanya meninggal bukan karena suatu kecelakaan tapi karena dibunuh.
"Nyonya itu bernama Brenda Elruno, tuan. Kekasihnya Dipo Herlambang" jawab pria bertato itu.
Bagai terkena sambaran petir, Moses langsung ternganga kaget dan tanpa sadar air mata menggenang di kedua pelupuk matanya.
"Siapa namanya, coba kamu ulangi!?" Moses mulai menggertakkan gerahamnya.
"Brenda Elruno, tuan. Dia wanita yang sangat cantik tapi kejam dan licik, tuan. Maafkan saya, saat itu saya terpaksa melakukannya karena, Brenda berjanji akan membayar saya dengan uang yang sangat banyak untuk biaya pengobatan ibu saya, ibu saya sakit keras kala itu"
"Kamu mengkhawatirkan keselamatan ibu kamu tapi kamu tega memisahkan seorang anak yang masih sangat kecil dengan papanya? dasar brengsek!"
"Saya panik waktu itu, jadi tanpa berpikir panjang saya langsung menusuk bapak Teja Kusuma"
"Lalu aku, kamu juga menyabotase pesawat pribadinya papa dan mama aku, kamu sadar!!? kamu telah memisahkan aku dengan papa dan mamaku, shit!"
" Maafkan saya, tuan" pria bertato itu semakin menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu tidak katakan semuanya kepada polisi sewaktu polisi menangkap kamu? kenapa kamu tidak sebutkan nama Brenda Elruno dan Dipo Herlambang sewaktu menjalani proses pengadilan, kenapa?!" Moses berteriak dengan frustasi.
"Karena di saat itu kondisi ibu saya sudah membaik dan Brenda mengancam akan membunuh ibu saya jika saya mengatakan semuanya. Sekarang ibu saya sudah meninggal, beberapa bulan yang lalu, setelah saya keluar dari penjara. Tidak ada lagi yang saya khawatirkan jika saya ungkap semuanya sekarang ini"
Moses masih terus menatap tajam pria bertato itu dan belum mengambil keputusan apapun.
__ADS_1