My Cute Nanny

My Cute Nanny
Ditakdirkan untuk saling bertemu


__ADS_3

Moses melangkah masuk ke dalam kamarnya. Dokter Erlangga sudah menunggu anak asuhnya itu. Dokter berusia empat puluh lima tahun yang masih sangat gagah itu, duduk di atas sofa sembari mengunyah sandwich.


Moses langsung duduk di samping papa asuhnya itu dan menaruh dagunya di pundak papa asuh yang sangat dia cintai itu.


Ray, duduk di depan mereka.


Moses menghela napas panjang dan berkata "aku ingat semuanya om. Sekarang aku merasa menyesal dan sangat sedih"


Dokter Erlangga mengusap usap pelan kepalanya Moses, menaruh sandwichnya di atas meja dan bertanya "ada apa?"


"Tuan Moses mengingat kejadian pada saat dia akan diculik dulu, dok" sahut Ray.


"Bagaimana bisa, kamu tiba tiba mengingatnya?" tanya Dokter Erlangga.


"Aku ngobrol sama Melati kemarin malam, aku tanya tentang papanya dan Melati bercerita kalau papanya meninggal kena tusuk karena menolong seorang anak laki laki yang hendak diculik. Kejadiannya di kota S di taman Jaya Wijaya" jawab Moses lirih.


"Akhirnya kamu ingat semuanya" kata Dokter Erlangga dengan nada datar.


Moses menegakkan kembali kepalanya dan menatap papa asuhnya itu dan berkata "om, dari nada suaranya om, aku merasa kalau om sudah mengetahui semuanya"


"Iya" jawab Dokter Erlangga singkat.


"Tapi kenapa om, tidak cerita selama ini. Lalu kenapa aku bisa lupa akan kejadian itu? hal yang sangat penting malah aku lupakan" kata Moses dengan nada menyesal.


"Om, nggak ingin kamu shock lagi" kata Dokter Erlangga.


"Bagaimana om bisa tahu? seingatku, waktu itu aku hanya menemui pak Mus, aku minta tolong sama pak Mus untuk membawa bapak yang kena tusuk di taman Jaya Wijaya ke rumah sakit, pak Mus pergi membawa mobil, lalu aku berlari masuk ke dalam gedungnya papa lagi" kata Moses.


Flashback on


Moses kecil berlari masuk ke dalam gedung besar yang baru dibangun di kota S. Anak perusahaan milik papanya.


Moses masuk kembali ke dalam ruang kerja papanya.


"Mo, kamu dari mana saja sih?" tanya mamanya Moses yang nampak khawatir dan lansung memeluk Moses.


Moses hanya diam dan masih terengah engah mengatur napasnya.


"Mo, papa sama mama akan terbang ke Jepang sebentar lagi. Kamu sama om Erlangga dulu ya" kata papanya Moses.


Moses mengalihkan pandangannya ke om Erlangga, sahabat papanya. Om Erlangga sama papa memang seperti perangko. Dimana ada papa, di situ pasti ada om Erlangga. Batin Moses.


Dokter Erlangga yang kala itu belum menjadi seorang direktur, tersenyum menatap Moses.


"Bro, aku titip Moses ya, kalau nakal kamu jewer aja nggak apa apa, hahaha" kata papanya Moses kala itu.


Moses menatap senyum papanya dan merasa sangat bahagia melihat senyum papanya saat itu.


"Iya, tenang saja mas, Moses akan aman sama aku. Aku akan jaga dia dengan segenap jiwa dan ragaku" jawab Dokter Erlangga sembari menepuk pelan dadanya.


"Makasih ya" kata papanya Moses yang langsung memeluk singkat sahabatnya itu.


"Ma, ayo berangkat!" kata papanya Moses kepada istrinya.


Moses semakin mempererat pelukannya. Moses merasa enggan melepaskan diri dari pelukan mamanya kala itu.


Mamanya Moses langsung mencium kening, hidung, bibir dan kedua pipi gembulnya Moses lalu berkata "Mo, mama berangkat dulu. Besok lusa papa dan mama sudah balik kok. Setelah balik kita piknik ya, ke pantai tempat kesukaan kamu, ya"


Moses kecil malah menggeleng nggelengkan kepalanya dan semakin mempererat pelukannya.


"Mo, jangan gitu ah, papa dan mama perginya nggak lama kok!" kata papanya Moses sambil mencium pucuk kepalanya Moses.

__ADS_1


Moses beralih masuk ke pelukan papanya. Entah kenapa Moses tiba tiba menangis. Dia ingin menceritakan kejadian yang baru saja dia alami tapi tidak bisa berkata apa apa.


"Mo, jangan cengeng dong! kamu itu cowok harus kuat, kalau toh harus nangis tuh, harus di tempat tersembunyi yang tidak bisa dilihat orang. Seorang cowok itu pantang nangis di depan orang banyak kayak gini, hahaha" kata papanya kala itu.


Papanya Moses mencium keningnya Moses dengan sangat lama, mengusap air matanya Moses dan melepaskan dengan pelan kedua tangan Moses dari pinggangnya.


"Papa sama mama berangkat ya" kata papanya Moses. Mamanya Moses menaruh dagunya di bahu suaminya dan mereka tersenyum menatap Moses. Lalu melangkah pergi meninggalkan Moses dan Dokter Erlangga.



Moses hanya diam membeku menatap senyum papa dan mamanya kala itu.


Dokter Erlangga lalu mendekati Moses dan mengajak Moses untuk duduk.


Moses nurut dan memilih duduk di depan Dokter Erlangga.


"Kamu kenapa?" tanya Dokter Erlangga kala itu.


Moses kecil hanya menatap sahabat karib papanya itu dalam diam. Moses masih terbayang bayang kejadian mengerikan yang baru saja dia alami. Hampir diculik dan dia melihat darah juga wajah bapak yang menolongnya tadi yang meringis menahan sakit. Tapi Moses belum bisa bercerita.


"Kamu mau jalan jalan? kita cari es krim dan burger, gimana?" tanya Dokter Erlangga.


Moses kecil terus menatap Dokter Erlangga dan menggelengkan kepalanya.


Dokter Erlangga tersenyum geli melihat wajah gembul dan cemberutnya Moses kala itu.


Tiba tiba telepon yang ada di dalam kantor papanya Moses berbunyi.


Dokter Erlangga berdiri dan melangkah menuju ke telepon tersebut dan mengangkat gagangnya.


"Halo, tuan" kata suara di seberang sana.


"Siapa ini?" tanya Dokter Erlangga.


"Ya, ada apa pak Mus, ini aku Erlangga, ngomong aja ada apa?" tanya Dokter Erlangga.


"Saya tadi dimintai tolong sama tuan muda Moses, dok. Tuan muda Moses ternyata tadi mau diculik dan ada seorang bapak yang menolongnya dok, sayangnya bapak yang menolong tuan muda Moses kena tusuk dan lukanya sangat parah. Saya menuju ke rumah sakit Pelita. Sepertinya tidak akan tertolong, dok. Tolong susul saya ke rumah sakit Pelita ya, dok" kata pak Mus panjang lebar.


"Oke, tunggu sampai aku datang ya pak Mus!" Dokter Erlangga langsung meletakkan kembali gagang telepon tersebut pada tempatnya.


Dokter Erlangga menoleh ke arah Moses, dia langsung paham arti dari sikap diamnya Moses. Lalu mendekati Moses dengan hati hati.


"Mo, kamu ikut om ya. Om harus ke rumah sakit. Om nggak bisa meninggalkan kamu sendirian di sini" kata Dokter Erlangga.


Moses berdiri dan langsung menganggukkan kepalanya.


Mereka berdua akhirnya sampai di rumah sakit Pelita.


Pak Mus berada di dalam ruangan UGD bersama dengan istrinya bapak Teja Kusuma yang tadi menolong Moses dari si penculik.


Putri kecil mereka menunggu di luar ruangan UGD. Dokter Erlangga menyuruh Moses untuk duduk di luar di samping cewek kecil itu lalu Dokter Erlangga masuk ke dalam ruang UGD untuk menemui pak Mus.


Itulah pertama kalinya Moses kecil bertemu dengan Melati. Melati membawa layang layang berbentuk capung kala itu.


Moses bertanya dengan polosnya "itu beli atau bikin sendiri?"


"Apanya?" jawab Melati kecil.


"Layang layang yang kamu pegang itu" jawab Moses sembari melempar pandangannya ke arah layang layang yang digenggam sama Melati kecil.


"Oooo, ini papa aku yang bikin" jawab Melati kecil.

__ADS_1


"Kita keluar di situ yuk, kita coba terbangkan layang layangnya, boleh?" tanya Moses kala itu.


"Emmm" jawab Melati kala itu.


Mereka pun bergandengan tangan menuju ke teras yang berada di depan ruangan UGD tersebut.


Mereka bermain layang layang, berlari ke sana kemari dan tertawa dengan sangat riangnya kala itu.


Tiba tiba dokter Erlangga mendekati mereka "Mo, om cari kemana mana rupanya kamu di sini, siapa gadis cantik ini?"


"Dia............"


Ucapan Moses terpotong bunyi ponselnya Dokter Erlangga.


"Om terima telpon dulu ya" kata Dokter Erlangga sembari menerima panggilan masuk tersebut.


"Halo, apaaaaaaaa??? mana mungkin??? ya Tuhan" Dokter Erlangga langsung meraup kasar wajahnya dan secara spontan menatap Moses.


"Mo, kita duduk dulu" kata Dokter Erlangga sembari menutup sambungan ponselnya dan langsung mengajak Moses dan Melati kecil untuk duduk.


Dokter Erlangga menahan tangisnya dan dengan suara bergetar dia mencoba untuk memberitahukan kepada Moses kecil kalau pesawat pribadi papa dan mamanya jatuh dan terbakar.


"Mo, kamu yang kuat ya. Om harus memberitahukan hal ini. Pesawat pribadi papa dan mama kamu jatuh terbakar saat ini dan..............."


Brrruukkkkk


Moses pun jatuh pingsan.


"Mo, mo??!!" Dokter Erlangga langsung membopong tubuh gemuknya Moses, masuk ke dalam UGD. Meninggalkan Melati kecil di luar ruangan UGD sendirian.


Dokter Erlangga lumayan pusing kala itu. Mengurus papanya Melati, mengurus Moses dan harus mengurus insiden kecelakaan pesawat pribadi sahabatnya. Dia Harus tegar menerima kenyataan kalau papa dan mamanya Moses telah meninggal. Harus tegar demi Moses kecil.


Dokter Erlangga menemui ibunya Melati yang tengah memeluk putrinya sambil menangis.


Dokter Erlangga meminta maaf, mengucapkan banyak terima kasih dan mengucapkan berbelasungkawa yang sedalam dalamnya atas meninggalnya bapak Teja Kusuma.


"Maafkan anak kami dan terima kasih banyak atas pertolongannya bapak Teja Kusuma." kata Dokter Erlangga kala itu.


"Maaf kalau anak kami tidak bisa menemui ibu saat ini untuk mengucapkan turut berbelasungkawa. Anak kami tengah pingsan saat ini setelah mendengar kabar kalau papa dan mamanya baru saja meninggal. Kami turut berbelasungkawa yang sedalam dalamnya, Bu" ucap Dokter Erlangga kala itu sambil membungkukkan badannya di depan ibunya Melati.


"Terima kasih dok untuk bantuannya. Saya sudah ikhlas menerima kepergian suami saya. Saya malah bangga suami saya meninggal sebagai seorang pahlawan, saya juga bersyukur kalau anak yang hendak diculik tadi bisa selamat. Saya juga turut berbelasungkawa atas meninggalnya kedua orang tua dari anak itu" kata ibunya Melati kala itu.


Dokter Erlangga tersenyum kemudian berjanji akan mengurus semua biaya rumah sakit dan pemakamannya bapak Teja Kusuma.


Ibunya Melati dan Melati kecil kemudian masuk ke dalam ambulans untuk membawa jenazah suaminya pulang ke rumah ditemani pak Mus. Dokter Erlangga meminta tolong pak Mus untuk terus mendampingi istrinya almarhum bapak Teja Kusuma.


Dokter Erlangga kembali masuk ke dalam. Ke ruang perawatannya Moses.


Pada saat siuman dari pingsannya. Moses belum bisa menerima kalau papa dan mamanya sudah tiada. Moses kecil dan Dokter Erlangga akhirnya berada di upacara pemakaman papa dan mamanya Moses kala itu. Tetapi Moses kecil hanya bengong tanpa ekspresi, tatapan matanya pun kosong kala itu. Moses kecil mengalami shock yang cukup parah.


Moses melupakan kejadian sewaktu dia hendak diculik karena shock yang dia alami.


Selesai mengurus pemakaman papa dan mamanya Moses. Dokter Erlangga pergi berkunjung ke rumahnya bapak Teja Kusuma. Memberikan amplop berwarna cokelat yang berisi uang. Uang itu untuk membiayai pendidikannya putri bapak Teja Kusuma sampai lulus kuliah.


Dan PR-nya Dokter Erlangga masih banyak setelah itu. Moses masih mengalami shock dan sampai pada fase denial. Butuh waktu yang cukup lama dan kesabaran yang luar biasa. Itulah kenapa Dokter Erlangga memutuskan untuk tidak menikah dan fokus mengurusi Moses kecil sampai sembuh dari shocknya.


Flashback off


"Kamu ingat semuanya sekarang?" tanya Dokter Erlangga ke Moses.


"Iya, om" kata Moses.

__ADS_1


"Sepertinya kalian memang ditakdirkan untuk saling bertemu dan saling menjaga" ucap Dokter Erlangga lirih.


__ADS_2