My Cute Nanny

My Cute Nanny
Alfa dan papa mertua


__ADS_3

Tepat jam empat pagi Alfa terbangun dan mencium telinganya Rini, lalu pundaknya Rini yang tengah tertidur menyamping membelakanginya.


Rini melenguh pelan kemudian terbangun dan langsung memutar badan, menghadap ke Alfa. Rini tersenyum dan meraba alisnya Alfa, hidungnya Alfa dan bibirnya Alfa. Aku baru sadar kalau kamu tuh ternyata tampan sekali, sayang. Aku beruntung bisa menjadi wanitamu dan sekarang sudah sah menjadi istri kamu.


Alfa tersenyum bahagia dan berkata sembari mengusap lembut pipinya Rini "kamu juga manis sekali, sangat manis dan menggemaskan di saat bangun tidur seperti ini" Alfa kemudian mencium bibirnya Rini penuh damba dan meningkat menuju ke sensasi liar dan dan memabukkan. Alfa serasa menggelegak, dia kemudian menyapukan bibirnya di sekujur tubuhnya Rini dan mulai melepas pelan lingerienya Rini secara bertahap dengan irama yang begitu indah terasa di jiwa dan raganya Rini. Rini mendesah pelan karena, takut kalau suaranya akan terdengar sampai di luar kamar.


Sentuhan Rini, aroma seksi yang menguar dari tubuhnya Rini, menguasai udara di sekelilingnya Alfa. Alfa menghisap kulit lembut lehernya Rini yang harum sambil terus bergerak menuju ke area yang lebih sensitif.


Alfa mulai menggeram dengan gairah yang mulai tidak terkendali dan semakin mendekati ke permukaan..........


Tok tok tok


Suara ketukan pelan terdengar kembali di pintu kamar pengantinnya Alfa dan Rini.


Alfa menjauhkan wajahnya dari tubuh istrinya dan kembali mengumpat kesal.


"Lanjutkan saja, jangan hiraukan!" Rini mendesah parau.


Alfa melanjutkan serangannya tetapi suara ketukan di pintu menjadi semakin keras.


Alfa kemudian mengecup keningnya Rini, menyelimuti Rini dan memakai kembali kaos dan celana boxernya. Alfa menghela napas panjang dan berjalan ke arah pintu.


Dokter tampan itu membuka pintunya dan wajah yang seolah terpatri di benaknya muncul kembali di depannya saat ini. Wajah meringis dari papanya Rini.


"Papa, ingin masak cumi pedas khas Thailand, seperti yang kamu masak bulan kemarin, enak banget!" Sammy mengacungkan jempolnya ke Alfa dan kembali berucap "tapi papa lupa cara masaknya, heeee, papa sudah siapkan cuminya, dan bumbunya, papa baru aja jalan jalan ke pasar"


Letak pasar dari rumahnya Rini memang cukup dekat dan bisa ditempuh dengan jalan kaki selama sepuluh menit.


Alfa mencoba untuk tersenyum walaupun di dalam hatinya dia ingin sekali menepuk keras pundak papa mertuanya itu yang selalu saja usil mengganggu waktunya dengan Rini.


"Kok malah bengong? Ayok ajari papa!" Sammy dengan polosnya menarik tangannya Alfa menuju ke dapur.


Ooooo, Tuhan beri hambaMu ini kesabaran. Batin Alfa.


Alfa kemudian memakai celemeknya dan mulai memperagakan cara dia memasak cumi pedas khas Thailand. Ketika Alfa memberikan instruksi sembari memasak, Alfa merasa heran karena dapur tiba tiba menjadi sunyi dan secara refleks cowok tampan suaminya Rini itu pun menoleh ke belakang untuk melihat apa yang sedang dikerjakan oleh papa mertuanya.


Alfa kemudian menghela napas panjang ketika melihat papa mertuanya itu membuat adonan tepung "pa, katanya pengen belajar masak cumi pedas tadi, kok nggak memperhatikan arahannya Alfa?" Alfa mencoba untuk terus bersabar dan menjadi waras di dalam menghadapi semua tingkah laku papa mertuanya yang suka seenaknya sendiri itu.


"Ooooo, aku dengar kok instruksi dan arahan kamu tadi, aku sudah mencatatnya di dalam ingatanku, teruskan, teruskan!" kata Sammy sembari meringis dan mengaduk adonan tepungnya.


"Nanti lupa lagi" Alfa kembali menumis cumi pedasnya.


"Nggak dong! kalau sudah dengar dua kali, aku akan ingat, hahahaha" papanya Rini tersenyum lebar ke arah Alfa.


"Hufft, okelah! terserah papa aja" kata Alfa kembali mengalah. Semoga stock kesabarannya Alfa tidak pernah habis karena dia akan terus bergaul dengan seorang Sammy Wijaya untuk seumur hidupnya.


"Aku sudah masak nasi goreng tadi sebelum ke pasar, kamu kan sudah masak cumi pedas, jadi aku mau bikin bakwan jagung" kata Sammy dengan santainya.


"Nasi goreng, cumi pedas dan bakwan jagung? bukannya tidak cocok, pa? bakwan jagung itu cocoknya sama sayur sop" kata Alfa.


"Ya dicocokkan aja, heeee. Aku lagi pengen bikin bakwan jagung, sudah lama aku nggak makan bakwan jagung" Sammy mulai menggoreng adonan bakwan jagungnya.


Alfa hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mulai menata cumi pedas khas Thailand yang sudah selesai dia masak.


Mama dan Rini yang sudah mandi dan wangi masuk ke dalam dapur. Rini melepaskan celemek dari badannya Alfa dan ketika papa dan mamanya tidak memerhatikan mereka, Rini mengecup bibir suaminya dan berkata "mandilah!"

__ADS_1


Alfa tersenyum senang dan kemudian masuk kembali ke kamar pengantinnya untuk mandi.


Malam nanti aku harus berhasil bermain petak umpet dengan Rini. Batin Alfa sembari mandi.


Tepat jam tujuh pagi, Moses, Melati dan kedua anak mereka telah berkumpul di meja makan untuk memulai sarapan. Moses sekarang ini memanggil Gini untuk membantu Ijah di dalam mengasuh anak anaknya karena, akhir akhir ini Melati sering mengeluh kram dan sakit di dadanya.


"Sayang, kita ke dokter ya hari ini" kata Moses. Moses masih merahasiakan percakapannya dengan Alfa kemarin.


"Anak anak gimana dong? nggak mungkin kan kita ajak ke rumah sakit karena, kita nggak akan ke klinik khusus anak anak" Melati merasa nggak tega meninggalkan anak anaknya.


"Kan, ada Gini dan Ijah" kata Moses.


"Aku masih merasa nggak tega meninggalkan Chery dan Elmo ke tangan mak Ijah dan Gini tanpa aku awasi"


"Aku juga sudah suruh Ray untuk ke sini. Ray bersedia untuk menjaga anak anak kita"


"Baiklah kalau ada kak Ray, aku tenang. Mama masih enjoy di Jepang, jadi sekarang ini aku sering merasa malas kalau keluar rumah tanpa anak anak, soalnya nggak ada orang yang aku percayai untuk menjaga mereka, selain mama, Rini, kak Alfa, Kak Ray, dan om Erlangga"


"Iya, tapi kesehatan kamu tuh lebih penting. Harus segera periksa"


"Iya sayang" kata melati.


Mereka akhirnya meluncur ke rumah sakit.


Melati merasa heran ketika Moses mengajak dia ke dokter Laksmi, dokter kandungan yang membantu persalinannya ketika dia melahirkan Elmo dulu.


Mereka langsung dipersilakan masuk ke dalam dan masih harus menunggu kedatangannya dokter Laksmi.


"Kok ke sini?" Melati merasa heran.


"Soalnya kamu mengeluh sering kram, terus dada kamu sakit dan aku perhatikan kamu belum haid kan selama ini?" kata Moses dengan santainya.


Moses mengusap lembut rambut indah nan wanginya Melati dan hanya tersenyum menatap Melati.


Dokter Laksmi kemudian nampak masuk ke ruangannya dan langsung melempar senyum ramahnya ke Melati dan Moses. "selamat pagi tuan Moses, nyonya Moses, apa yang bisa saya bantu"


"Saya sering merasa kram akhir akhir ini dok, sejak anak saya Elmo berhenti menyusu ke saya di usianya yang kelima bulan, terus saya juga sering merasa lelah dan kedua dada saya nyeri, yang saya takutkan, kok ada benjolan kecil ketika saya merabanya, apa itu berbahaya, dok?"


Dokter Laksmi tersenyum penuh arti. Dia sudah bisa meraba kalau nyonya Moses sudah isi lagi saat ini.


"Silakan menuju ke bed, nyonya!" kata suster yang merupakan asistennya dokter Laksmi.


Beberapa menit kemudian, suster tersebut berkata "sudah siap, dok!"


Dokter Laksmi kemudian memeriksa Melati dan tersenyum senang. Kemudian mencuci tangannya dan kembali duduk di kursinya.


Melati telah selesai merapikan bajunya dengan bantuan suster dan kembali duduk di samping suaminya.


"Bagaimana dok, benjolannya tidak berbahaya kan?" tanya Melati.


Dokter Laksmi tersenyum lebar dan berkata "benjolan itu normal, tidak berbahaya nyonya itu merupakan salah satu gejala dari seorang ibu ketika dia kebobolan, selamat ya nyonya, anda isi lagi"


"Hah?" Melati menutup mulut dengan kedua tangannya dan kemudian mematung. Wanita cantik itu tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Di satu sisi dia bahagia karena ada bayi mungil di rahimnya buah cintanya dengan Moses suami tercintanya, tapi di satu sisi dia merasa kasihan dengan anak anaknya yang masih kecil kecill, masih butuh perhatian penuh dari dia.


"Berapa usia kandungannya, dok?" tanya Moses.

__ADS_1


"Dua belas Minggu, tuan" jawab dokter Laksmi sembari menuliskan resep beberapa vitamin untuk Melati.


Melati hanya diam membisu.


"Sudah bisa dilihat apakah cewek atau cowok, dok?" tanya Moses penuh semangat.


"Sudah pak, tadi sudah kelihatan jenis kelaminnya" jawab dokter Laksmi.


"Apa dok?" Moses hampir memekik kegirangan saking bahagianya.


"Selamat, anak tuan, cewek"


"Aaaahh, terima kasih Tuhan, terima kasih sayang" Moses menghujani wajah Melati dengan ciuman.


Dokter Laksmi ikutan tersenyum bahagia melihat wajah sumringahnya Moses.


Dokter Laksmi kemudian menyerahkan resepnya dan berkata "bulan depan datang kontrol ya nyonya, jaga baik baik kandungan nyonya"


Moses terus mengulas senyum bahagia ketika merangkul istrinya melangkah keluar meninggalkan ruang prakteknya dokter Laksmi.


Mereka masuk ke dalam mobilnya Moses. Moses memasangkan sea beltnya Melati dan menyadari wajah mendungnya Melati.


"Rumi? kamu nggak bahagia ya?" Moses mengerucutkan bibirnya memandangi wajah cantiknya Melati


"Aku merasa bahagia sekaligus sedih, aku kasihan anak anak. Kalau aku teler di kehamilan yang ini, siapa yang akan menjaga anak anak?" Melati akhirnya menangis dengan sangat derasnya.


Moses kemudian memeluk Melati "Rumi, maafkan aku ya, aku kebablasan dan tidak berpikir panjang, aku melupakan anak anak dan aku melupakan impian kamu yang ingin segera mengajar anak anak jalanan" Moses kemudian menghapus air matanya Melati dengan bibirnya.


Moses menempelkan keningnya di atas keningnya Melati.


"Aku akan telpon mama, biar mama pulang ya, untuk jaga kamu"


Melati menganggukkan kepalanya.


Moses kemudian memencet nomor ponsel mama mertuanya. Begitu Moses mengatakan kalau Melati hamil lagi, langsung saja mamanya Melati mengomel dan menceramahi Moses.


Moses berkali kali mengucapkan kata maaf karena ceroboh dan kebablasan.


Mamanya Melati kemudian menghela napas panjang dan akhrinya memutuskan akan pulang ke Indonesia dalam beberapa hari ke depan.


Moses kemudian memeluk Melati lagi "kamu pengen apa? pengen ke mana?" tanya Moses.


"Aku pengen pulang" Melati masih terisak.


"Sudah Rumiku sayang, Jangan menangis terus!" Moses masih terus memeluk melati dan mengusap lembut keningnya Melati.


"Aku mau pulang sekarang!" kata Melati.


"Iya baik" Moses kemudian memasang seat beltnya dan meluncurkan si Blacky menuju ke istananya.


Mereka melangkah masuk dan ketika Chery hendak melompat minta gendong ke mama cantiknya, Moses langsung menangkap tubuh mungilnya Chery ke dalam gendongannya dan berkata "sayang, di perutnya mama ada dedek bayi, sekarang mama nggak bisa gendong kamu lagi"


Chery langsung tersenyum lebar dengan mata berbinar binar ketika mendengar kata dedek bayi, Chery sangat menyukai adik, dia sangat menyayangi Elmo dan ngemong sama Elmo jadi ketika mendengar kata adik lagi, dia sangat senang. Chery kemudian mencium pipi mamanya dan berkata "Chely, cuka dedek, Chely, cayang mama"


Melati menciumi wajahnya Chery dan kembali menangis. Moses mencoba menenangkan Melati dan mengecup puncak kepalanya Melati. Chery juga mengusap kedua pipinya Melati dengan kedua tangan mungilnya dan berkata "jangan nangis ma, Chely nggak cuka kalau mama nangis"

__ADS_1


Ray, hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tuannya.


Hmm, tuan tuan, lama lama penuh rumah ini jika anda terus mencetak bayi, hmm. Batin Ray.


__ADS_2