
Keesokan harinya........
Tok tok tok
"Ma, pa! kok jam enam belum bangun, sih?!"
Suara Elmo menggema di luar pintu kamarnya Moses dan Melati.
Melati langsung melompat dari selimut dan langsung berlari ke kamar mandi dalam keadaan polos. Moses tertawa terbahak bahak melihat tingkahnya Melati sembari mengenakan kembali kaos dan celana boxernya, lalu membukakan pintu untuk Elmo.
Elmo mendongakkan wajah tampannya untuk melihat wajah papanya "papa belum mandi ya?" tanya Elmo dan Moses tersenyum sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sebanyak dua kali. Elmo mengerucutkan bibirnya sembari melangkah masuk dan duduk di atas sofa "mama mana?"
"Mama masih mandi. Kamu sudah sarapan?" tanya Moses.
"Sudah. Kak Chery, Celyn, dan tante Angel juga sudah sarapan. Semua menunggu mama di bawah. Biasanya mama jam setengah enam sudah rapi dan turun ke bawah, ini kok sampai jam enam belum turun makanya Elmo khawatir, takut kalau mama sakit jadi Elmo langsung naik" Elmo terus berkata kata seolah tak akan ada hentinya.
Moses tersenyum geli melihat keceriwisannya Elmo lalu berkata "kamu tuh ceriwis kayak gitu, mirip siapa sih sebenarnya?"
"Papa" jawab Elmo dengan santainya.
"Hah? papa? mana ada papa ceriwis"
Elmo meringis ke arah papanya dan kembali berucap untuk bertanya "mama nggak sakit, kan?"
"Nggak, mama baik baik aja. Mama cuma kecapekkan jadi bangun agak kesiangan"
Melati keluar dari kamar mandi dan sudah rapi, dia menggulung asal rambutnya dan langsung mencium pipinya Moses dan Elmo secara bergantian.
"Ayok berangkat sekolah!" kata Melati.
Moses menautkan alisnya "sayang, kamu nggak rapikan dulu rambut kamu, nggak pakai bedak dulu?"
"Keburu terlambat" ucap Melati.
Mereka akhirnya masuk ke dalam lift dan turun ke bawah.
Chery, Celyn, Elmo, Angel dan terakhir Melati, mencium punggung tangannya Moses secara bergantian.
"Sayang, kamu nggak sarapan dulu?" tanya Moses sembari mengelus mesra kepalanya Melati.
"Nanti habis mengantar anak anak, aku pulang dulu untuk menemani kamu sarapan"
Tiba tiba Elmo berucap "ma, minta jatah"
Semua langsung menatap Elmo. Elmo memutar bola matanya untuk melihat semua mata yang kini menatapnya "ada apa?" tanya Elmo dengan polosnya.
Melati langsung bersimpuh di depannya Elmo dan menangkup pipi putra tampannya dengan kedua tangannya lalu berucap "sayang, kata itu nggak pantas diucapkan sama anak kecil, jangan kamu katakan lagi ya kata itu?"
"Tapi kenapa papa boleh ucapkan itu, kata mama itu sama aja dengan uang saku kan?" Elmo mulai protes.
"Iya, tapi kurang sopan jika anak anak yang mengucapkannya, jangan ucapkan lagi ya" Melati mengecup keningnya Elmo dan berdiri.
Elmo menganggukkan kepalanya dan masih mengajukan pertanyaan "kalau Elmo sudah besar sama seperti papa, baru boleh ucapkan kata yang tadi, ma?"
Moses menggelengkan nggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat Elmo yang tumbuh begitu cerdas, kritis, dan selalu penuh dengan pertanyaan.
"Iya, tunggu sampai Elmo sebesar papa baru boleh ucapkan kata yang tadi. Yuk berangkat! keburu terlambat, mama akan kasih uang sakunya nanti kalau sudah sampai di sekolahan, ya"
Mereka semua akhirnya masuk ke dalam mobil, Angel sudah duluan meluncur dengan mobilnya, mobil itu hadiah ulang tahunnya yang ketujuh belas dari Moses dan Angel berniat tidak akan pernah mengganti mobil hadiah dari Moses itu.
Melati dan anak anaknya menyusul Angel untuk keluar dari pekarangan istananya Moses yang begitu luas.
Angel sampai di kampusnya dan keluar dari mobilnya.
"Angel" suara seorang cowok terdengar di telinganya. Angel secara spontan menoleh sembari mengunci pintu mobilnya.
Angel menautkan alisnya dan tertegun melihat sesosok pria ganteng yang kini tengah menatap dia dengan sangat lekat.
"Apa kabar dek?" tanya cowok itu.
"Ka....kamu?" Angel tidak bisa melanjutkan ucapannya. Tubuhnya tiba tiba bergetar.
"Aku kakak kamu, Awan" kata Awan sembari tersenyum.
Angel mematung dan terus memandang Awan. Angel tidak tahu apa reaksi yang seharusnya dia tunjukkan ke Awan. Sedih, bahagia, bersyukur, atau takut.
Awan mendekati Angel "kakak kangen sama kamu"
__ADS_1
Angel kemudian berbalik badan dan berlari meninggalkan Awan.
Awan menghentikan langkahnya dan langsung merasa sedih karena Angel justru berlari meninggalkan dia.
Angel terus berlari dan Brug. Dia menabrak seseorang. Angel mendongakkan wajahnya dan terlihatlah wajah tampannya Arkan, terbingkai indah di kedua bola matanya Angel.
Arkan langsung memegang kedua bahunya Angel "Ada apa? siapa yang mengejar kamu, kenapa kamu berlari sekencang ini?" tanya Arkan.
Angel kemudian menghambur ke dalam pelukannya Arkan dan menangis sejadi jadinya. Arkan menepuk nepuk pelan punggungnya Angel. Dia menunggu Angel tenang dan mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dengan sangat sabar.
Arkan memang sosok yang sabar dan kebapakkan, itulah yang membuat Angel semakin mencintai Arkan.
Angel akhirnya berhasil menenangkan diri dan mengajak Arkan untuk duduk di bangku taman yang ada di kampus itu.
Adik perempuannya Alfa itu, berulang kali menghela napas panjang "Kakak Angel selain kak Alfa, ada di sini di parkiran mobil, dia menyapa Angel tadi"
"Benarkah? di mana dia sekarang ini?" tanya Arkan sembari mengedarkan pandangannya.
"Mungkin sudah pergi karena, Angel berlari meninggalkan dia begitu saja"
"Tapi kenapa kamu lari dari dia? dia kan kakak kamu? apa dia jahat?" tanya Arkan.
Angel menggelengkan kepalanya "entahlah, Angel nggak mengenalnya. Angel nggak tahu dia jahat atau tidak"
"Lain kali kalau kamu bertemu dengannya lagi jangan lari! telpon aku, aku akan langsung datang, dan mendampingimu untuk menghadapi Awan, kakak kamu"
Angel terus menatap Arkan, dia kembali tersentuh dengan ucapan dan perhatiannya Arkan dan secara tidak sadar dia mengucapkan kata "Saya mencintai bapak"
Arkan langsung tertegun dan bertanya "apa yang barusan kamu katakan?"
"Saya mencintaimu pak Arkan Wijaya. Sangat mencintaimu" kata Angel.
Arkan menghela napas panjang lalu meraup wajah tampannya dan berkata "sejak kapan?"
"Sejak perjumpaan kita yang pertama, sejak bapak menolong saya di danau biru" Angel terus menatap wajah tampannya Arkan.
Shit! Arkan mengumpat di dalam hatinya.
Arkan memegang kedua bahunya Angel "Angel, kamu yakin dengan perasaan kamu? perbedaan usia kita cukup jauh, lima belas tahun, kamu sadar itu? aku sudah tua, kamu masih sangat muda dan pasti saat ini banyak sekali laki laki di luar sana yang mengagumi kamu dan mencintai kamu, kami tinggal pilih, tapi kenapa aku..............?"
"Angel dengar........."
"Apa bapak sudah punya pacar?" Angel bertanya dengan ragu.
"Aaah, tidak belum. Aku tidak punya pacar tapi itu.........."
"Kenapa bapak tidak menerima saya untuk menjadi pacarnya bapak?" Angel meluncurkan pertanyaan lagi ke Arkan.
Arkan menyisir rambutnya dengan jari jemarinya dan kembali mengumpat di dalam hatinya. Terus terang dia juga masih bingung dengan perasaannya. Dia peduli, sayang, dan selalu mencari Angel kalau sehari saja tidak melihat sosoknya Angel. Tapi untuk mencintai Angel dia tidak punya cukup kepercayaan diri dan keberanian.
"Pak?"
Suara Angel membuyarkan lamunannya Arkan.
Arkan menghela napas panjang dan berucap "beri saya waktu untuk berpikir"
"Berapa lama?" tanya Angel.
"Entahlah, apa kamu bersedia menunggu?" tanya Arkan.
"Saya akan menunggu tapi jangan sakiti hati saya! saya mengharapkan jawaban iya dari bapak"
Arkan hanya diam dan berucap "yuk, kita masuk kelas!"
Arkan dan Angel akhirnya masuk kelas.
Awan mengemudikan mobilnya dengan penuh kesedihan. Awan pulang ke Indonesia. Selama satu Minggu ini dia mengumpulkan keberaniannya untuk menemui Angel dan berniat untuk mendapatkan hatinya Angel. Tapi bagaimana mungkin dia bisa berhasil mendapatkan hatinya Angel jika dia tidak bisa mendekati Angel. Angel saja berlari ketakutan saat melihat dia.
Awan masih single. Dia tidak jadi menikah dengan Miracle karena, ternyata ada begitu banyak ketidakcocokan diantara mereka. Mereka sering bertengkar dan akhirnya putus. Sejak Awan putus dengan Miracle, Awan merasa malas untuk mencari kekasih lagi.
Awan fokus di studinya dan bekerja dengan giat. Kini Awan sudah menjadi eksekutif muda yang cukup kaya. Bahkan dia dan mamanya bisa membuka sebuah toko kue di Jerman dan lumayan laris. Mereka juga bisa membeli sebuah rumah dan mobil di Jerman, berkat dari kerja keras mereka. Mamanya Awan memutuskan untuk tidak menemani Awan pulang ke Indonesia. Mamanya lebih memilih untuk mengurus toko kuenya.
Awan menuju ke penjara untuk menemui papanya. Dia juga merasa merindukan papanya. Walaupun papanya itu jahat dan banyak melakukan kesalahan tapi seorang papa tetaplah seorang papa bagi putranya.
Alfa muncul di rumahnya Moses sambil menggendong Celestia.
Celestia langsung pindah masuk ke dalam gendongannya Melati ketika Melati mendekatinya.
__ADS_1
"Aaah, Celestia, cayangnya mama Melati" Melati menghujani wajah cantiknya Celestia dengan ciuman.
"Aku nitip Celestia ya, mama mertuaku lagi flu jadi nggak bisa menjaga Celestia. Takut kalau Celestia ketularan sakitnya"
Melati menganggukkan kepalanya dan tersenyum sembari mengelus elus rambutnya Celestia.
"Keadaan kamu baik baik saja kan? masih ada keluhan nggak setelah steril?" tanya Alfa.
Melati pernah mengalami keguguran di kehamilannya yang masih berumur enam Minggu kala itu. Karena, Melati telah berumur tiga puluh tahun dan telah memilki dua anak maka dokter menyarankan Melati untuk steril setelah mengalami keguguran.
"Aman kak, sudah nggak ada keluhan apapun". jawab Melati.
"Syukurlah, aku nitip Celestia ya?"
Iya, Celestia aman nih, sama mama Melati, ya cantik, ya" Melati menggesekkan hidungnya ke hidungnya Celestia.
Celestia tertawa senang dan berucap "ya"
"Terima kasih banyak Mel. Aku tinggal ya" Alfa mengecup puncak kepala putrinya dan kembali berucap sebelum benar benar beranjak pergi "nanti sore aku dan Rini akan menjemputnya"
"Iya kak, tenang aja" Melati berucap menenteng tas yang tadi disodorkan oleh Alfa. Tas itu berisi semua perlengkapannya Celestia.
Sepeninggalnya Alfa, Melati mengajak Celestia ke ruang bermain dan bermain dengan Celestia. Melati akhirnya memutuskan untuk tidak mengajar di danau biru saat ini karena, kasihan sama Celestia nggak ada yang jaga. Melati menelepon karyawannya dan membeitahu kalau selama satu Minggu ke depan, Melati belum bisa mengajar di danau biru.
Moses telah sampai di kantor dan melakukan VC ke Melati sebelum mulai bekerja "sayang, aku sudah sampai kantor nih, lho, eh, kamu kok masih di rumah? nggak pergi ngajar hari ini?"
Melati tersenyum dan mengarahkan ponselnya ke Celestia yang tengah bermain di ruang bermain yang berada di ruang keluarganya Moses. "nggak om, karena Celestia ada di sini nih"
"Lho? kenapa Celestia di rumah kita?" tanya Moses.
"Mamanya Rini sakit flu jadi nggak bisa dititipin Celestia. Kasihan juga kalau Celestia ketularan neneknya" jawab Melati.
"Okelah, tapi ingat kamu nggak boleh kecapekkan kalau sampai kamu kecapekkan dan jatuh sakit aku akan ngomel ke Alfa" Moses mulai protes.
"Iya" jawab Melati.
"Bukannya aku nggak sayang sama Celestia tapi bagi aku, kesehatan kamu tuh yang paling penting, aku nggak mau kamu kecapekkan dan jatuh sakit"
"Iya sayang, iya. Aku mencintaimu selamat bekerja ya, mmuuaahh"
" Aku lebih mencintaimu, seribu kali lebih mencintaimu, mmmuuaaahhh" Moses kemudian memutuskan sambungan VC-nya.
"Ray, apa jadwal kita hari ini?" tanya Moses.
Ray diam saja mematung dan nampak melamun.
"Ray! hei bro!" Moses mulai meninggikan suaranya.
"Aaah, i...iya tuan a....ada apa?" Ray langsung tergagap karena kaget.
"Kami tuh yang ada apa? melamun pagi pagi begini. Ada apa?" tanya Moses.
"Saya menemukan chatnya Delia dengan mantannya, tuan" kata Ray lirih.
"Hah? punya mantan juga Delia ya?" kata Moses geli.
"Tuan?!" Ray mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan tuannya.
"Hahahaha, maaf, hahahaha. Terus gimana?" tanya Moses.
"Chatnya mengucapkan selamat pagi, terus apa kabar, terus kamu sudah menikah belum, terus kamu tinggal di mana sekarang, gitu tuan" kata Ray.
"Terus Delia jawab apa?"
"Delia tidak menjawab semua chat itu, tuan. Tapi saya kesal. Apa perlu saya ajak ketemuan cowok itu dan saya bikin babak belur?"
"Iya, setuju! cari cowok itu dan hajar dia, kasih dia pelajaran" kata Moses.
Ray diam saja nampak ragu.
Sepertinya aku curhat sama orang yang salah nih. Batin Ray.
"Apa jadwal hari ini?" Moses bertanya lagi soal jadwalnya di hari itu.
"Tidak ada kegiatan di luar kantor, tuan" kata Ray.
"Baguslah! jadi aku bisa fokus mempelajari berkas berkas ini" Moses mulai memasang kacamata bacanya dan mulai berkutat dengan berkas berkasnya.
__ADS_1