
Mentari muncul masih malu malu untuk kembali menyapa dengan hangat dan ramahnya, segala ciptaan Tuhan di muka bumi ini.
"Masuk!" sahut Moses saat mendengar pintu kamarnya diketuk.
Konglomerat muda mantan playboy tersebut langsung bangun dan duduk di atas ranjangnya.
Ceklek
Ray, masuk dan berkata "selamat pagi, tuan"
Moses mengernyitkan dahinya "ngapain kamu datang sepagi ini, Ray?"
"Tuan tidak pernah mengunci kamar tuan?" kata Ray balik bertanya dan tampak gurat kekhawatiran di wajahnya.
"Itu tidak penting, ngapain kamu sepagi ini kemari?" tanya Moses lagi sambil melangkah menuju ke kamar mandi.
"Kamu duduk dulu! aku mau mandi!" kata Moses.
Ray langsung duduk di atas sofa berwarna merah darah milik tuannya.
Selang lima belas menit, Moses keluar dari kamar mandi dan sudah rapi, memakai baju santainya.
Bosnya Ray itu pun langsung duduk di depannya Ray.
Ray menyodorkan map berwarna cokelat kepada tuannya.
"Apa ini?" tanya Moses sembari melongok ke dalam map untuk melihat apa isinya.
Moses kemudian mengambil berkas berkas dan foto yang ada di dalam map berwarna cokelat tersebut.
"Maaf, saya mengganggu tuan sepagi ini karena, saya merasa informasi yang sudah berhasil saya kumpulkan, sangatlah penting untuk tuan" kata Ray.
"Ray, benar feelingku. Papanya Melati yang menolong aku dulu, sewaktu aku akan diculik, dua puluh tahun silam" kata Moses sembari menatap foto keluarganya Melati.
Di dalam foto itu tampak wajah dari papanya Melati dan mamanya yang sedang menggendong Melati. Mereka melakukan foto keluarga, foto bertiga di sebuah studio foto kala itu.
"Dia menggemaskan waktu masih kecil, Ray. Dan aku yang telah menyebabkan papanya meninggal dunia, meninggalkan dia dan ibunya. Dia masih sangat kecil saat itu, masih berumur tiga tahun, cantik, lucu dan menggemaskan begini, aaah, Mel, maafkan aku" kata Moses dengan tatapan mata yang mulai meredup.
Moses merasa sangat sedih saat menatap foto Melati sewaktu kecil bersama dengan mama dan papanya Melati.
"Tuan, itu bukan salahnya tuan. Tuan waktu itu masih kecil, masih sepuluh tahun. Tuan belum memahami apapun dengan benar saat itu" kata Ray.
"Itu yang bikin aku tambah kesal dan menyesal Ray. Kenapa aku malah lari waktu itu, kenapa aku tidak mencoba membantu beliau, aaarrrgghhhhh sial!" Moses mulai menjambak rambutnya sendiri.
"Tuan berhenti menyalahkan diri tuan!" kata Ray.
"Sepertinya tuan Teja Kusuma papanya Melati, mengirimkan Melati ke sini agar tuan menjaganya. Jadi tuan, berhentilah menyalahkan diri tuan sendiri! sadarlah dan kuatlah! anda punya misi dari tuan Teja Kusuma yaitu menjaga putrinya, Melati" kata Ray panjang lebar, mencoba untuk menangkan tuannya.
"Kamu benar Ray, itulah kenapa secara refleks aku terus ingin menjaga dan melindunginya, ternyata ada ikatan yang tidak aku sadari diantara aku dan Melati" kata Moses dengan suara bergetar menahan tangis.
"Aku harus menemui mamanya Melati, Ray. Aku ingin melihat keadaan beliau saat ini" kata Moses.
"Iya tuan, baik. Saya akan mengatur jadwalnya tuan dengan segera jadi tuan bisa berkunjung ke kota S untuk menemui beliau" kata Ray.
__ADS_1
Moses menyandarkan kepalanya di atas sofa dan menghela napas panjang.
Flashback on
Moses kecil keluar dari kantor papanya. Papanya sedang mengembangkan bisnis barunya di kota S. Moses merasa bosan dan ingin keluar untuk bermain di taman Jaya Wijaya yang berada tidak jauh dari kantor papanya.
Moses yang sedari kecil sudah cerdas dan cerdik bisa mengakali semua pengawal yang ditugaskan oleh papanya untuk menjaga dia
Moses kecil berpikir kala itu, seorang cowok tidak membutuhkan pengawal. Itulah kenapa dia berniat untuk melepaskan diri dari pengawalannya mereka. Dia ingin bebas bermain.
Akhirnya dengan rasa gembira yang luar biasa Moses kecil berlari larian di taman Jaya Wijaya. Dia merasa bebas dan bahagia karena, selama ini dia merasa terkekang dan hanya bisa diam saja di rumah. Keluar hanya untuk pergi ke sekolah itu pun harus dikawal.
Tiba tiba ada yang menepuk pundaknya. Moses langsung berbalik badan dan langsung bertanya "siapa kamu?"
Orang itu hanya tersenyum sinis dan langsung menggendong Moses.
Moses kecil secara spontan langsung berteriak minta tolong dengan sekencang kencangnya.
Laki laki dengan tato kalajengking di punggung tangannya itu, tidak menghiraukan teriakannya Moses. Dia terus melangkah menuju mobil van-nya. Ketika orang itu hendak memasukkan Moses ke dalam mobil, tiba tiba kepalanya dipukul sama seseorang dari belakang. Secara refleks dia pun menurunkan Moses dari gendongannya dan berbalik badan.
Shit, ternyata ada orang di taman ini. Biasanya taman ini sepi kalau jam segini. kata orang itu di dalam hatinya sembari menatap orang yang tadi memukul kepalanya.
Moses kecil berdiri mematung dan terus menatap seorang laki laki yang kini berdiri di depannya dengan membawa ranting kayu.
"Larilah, nak! cepat lari!" kata laki laki tersebut.
"Aaahhhhhh!!!!"
Moses kecil menghentikan larinya dan menoleh ke belakang saat mendengar teriakan tersebut.
"Lari nak!" kata laki laki tersebut yang sudah nampak berdarah perutnya. Laki laki tersebut masih berusaha menahan kaki orang yang hendak menculik Moses kecil tadi agar tidak mengejar Moses.
Moses kembali berlari sekencang kencangnya. Begitu sampai di depan gedung papanya. Moses langsung berlari ke parkiran mobil untuk mencari pak Mus, sopir pribadinya.
"Pak Mus!" teriak Moses sambil berlari mendekati pak Mus.
"Iya, tuan muda, ada apa?" tanya pak Mus setengah kaget dan heran. Kenapa tuan mudanya berlari dengan sangat kencang dan berteriak teriak seperti ini. Batinnya.
"Tolong cepat ke taman Jaya Wijaya, ada orang ditusuk, cepat pak Mus, nggak ada orang di sana, nggak ada yang akan menolongnya!" kata Moses kecil sambil terengah engah.
"Tapi kenapa tuan?" tanya pak Mus.
"Tolong bapak itu, aku mohon pak Mus, cepat bawa dia ke rumah sakit!" kata Moses.
"Baiklah, tuan" jawab pak Mus.
Flashback off
"Aku bahkan lupa membawakan uang sama pak Mus, untuk membayar biaya rumah sakit papamu Mel, aahh, bodoh sekali aku waktu itu" gumam Moses dengan sangat lirih.
"Tuan, anda tidak apa apa kan, apa perlu saya ambilkan obat pusing?" kata Ray saat melihat tuannya mulai mengusap usap keningnya.
__ADS_1
"Aku baik baik saja Ray" jawab Moses lirih dan masih bersandar di sofanya.
"Ray, nanti sekitar jam 9, kamu tolong jaga Chery, satu jam saja ya!" kata Moses.
"Baik tuan. Tuan mau kemana?" sahut Ray.
"Aku akan mengajari Melati teknik bela diri, aku ingin dia bisa menjaga dirinya sendiri di saat aku tidak berada di sampingnya. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Melati. Aku akan terus menjaganya, Ray" kata Moses.
"Baik tuan! Ray juga akan membantu tuan dalam menjaga Melati" kata Ray.
Moses langsung duduk tegak dan berkata sambil melotot ke arah Ray "nggak usah! hanya aku yang boleh menjaganya!"
"Tenang tuan, yang Ray bantu itu tuan, bukannya Melati, tadi saya bilangnya gitu lho" kata Ray sambil menghela napas panjang.
"Oooooo" Moses kembali merebahkan kepalanya di atas sofa.
Hmm mulai posesif nih. Batin Ray.
Tapi baru kali ini aku melihat tuan Moses begitu peduli dengan seorang cewek. kata Ray di dalam hatinya.
"Kita turun Ray!" kata Moses saat mendengar dentingan sebanyak delapan kali dari jam raksasanya.
"Melati masih berjemur dengan Chery kalau jam segini, tuan" kata Ray.
"Justru itu, aku ingin melihatnya. Aku suka kalau Melati dan Chery bercanda berdua. Aku suka melihat tawa mereka, Ray" ucap Moses sambil berdiri dan melangkah pergi meninggalkan kamarnya, mendahului Ray.
Ray kemudian mengikuti langkah tuannya dan menggeleng nggelengkan kepalanya.
Mereka masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai satu.
Ting
Tidak begitu lama pintu lift terbuka dan mereka melangkah keluar langsung masuk ke ruang gym.
Dari dalam ruangan Gym-nya, Moses bisa melihat Melati dan Chery dengan bebas. Melihat keceriannya mereka berdua, membuat Moses merasa seolah mendapatkan suntikan semangat di setiap paginya.
"Ray, setelah Chery selesai berjemur, jaga Chery dan bawa Melati ke sini!" perintah Moses.
"Baik, tuan" jawab Ray.
"Dan Ray, tolong kamu selidiki kasus penculikan dan penusukan yang terjadi di taman Jaya Wijaya dua puluh tahun silam" kata Moses.
Entah kenapa tiba tiba dia ingin menyelidikinya saat ini.
"Pelakunya sudah tertangkap dan sudah bebas lima tahun yang lalu karena, dapat remisi, tuan." jawab Ray.
"Cari dia dan interogasi dia, siapa yang menyuruh dia untuk menculik aku!?" perintah Ray.
"Baik, tuan!" jawab Ray.
"Terima kasih Ray, sekarang suruh Melati ke sini, aku akan mulai mengajari dia teknik bela diri sekarang, kamu jaga Chery sebentar!" perintah Moses saat melihat Melati sudah beranjak pergi dari tempatnya menjemur Chery dan melangkah kembali ke kamarnya Chery.
"Siap, tuan!" Ray pun beranjak pergi dari ruang gym, meninggalkan tuannya.
__ADS_1