
Alfa menemui papanya di rumah sakit. Cowok flamboyan itu merasa malas sebenarnya untuk pergi menengok papanya yang sedang sakit.
Papanya Alfa menoleh ke arah pintu saat Alfa muncul dan melangkah masuk "lama benar baru datang"
"Papa kenapa?" tanya Alfa serius.
"Papa cuma kangen sama anak papa yang tampan ini" ucap papanya Alfa sembari tersenyum.
"Pa, Alfa serius nih"
"Papa cuma kecapekkan"
Flashback on
Mamanya Alfa berada di dalam kamar dan merasa pusing dengan masalah putrinya. Adiknya Alfa, putrinya itu dia kirim ke luar negeri sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar sampai sekarang ini, menginjak usia remaja. Brenda mengirim putrinya itu ke luar negeri karena, dia takut suaminya lama kelamaan akan mengetahui dan menyadari kebenarannya kalau putrinya itu sebenarnya adalah anaknya Dipo Herlambang.
Baru saja dia menerima telepon dari putrinya itu, putrinya memohon untuk kembali ke Indonesia. Dia merindukan papa dan Alfa, kakak laki lakinya.
"Dasar anak tidak tahu diuntung, kamu itu aku amankan tetapi malah merengek minta pulang, andai kamu tahu kalau papa kamu yang sebenarnya bukanlah James Elruno" gumam wanita cantik itu lirih sembari menyangga kepalanya dengan telapak tangannya.
Tanpa dia sadari James Elruno mendengar gumaman lirih dari istri cantiknya itu. James kemudian melangkah mundur tanpa bersuara, keluar dari kamarnya, kemudian menutup pintunya dengan sangat pelan. Tetapi baru beberapa langkah dia meninggalkan kamarnya, tiba tiba dia merasa sangat pusing dan jatuh pingsan.
Flashback off
"Pa, maaf kalau Alfa kurang perhatian sama papa selama ini. Itu juga karena.........."
"Kamu masih ingin jadi dokter? mulailah mendaftar di salah satu rumah sakit atau mintalah Erlangga untuk merekomendasikan kamu!"
"Hah? papa serius?" manik mata Alfa langsung berbinar binar senang.
"Hmm, papa serius. Maafkan papa kalau selama ini, papa egois. Papa selalu menuruti kehendak mama kamu karena, papa sangat mencintai mama kamu. Sekarang papa merasa kalau sudah waktunya untuk papa, mencintai anak laki laki tampannya" James Elruno tersenyum lebar menatap Alfa.
Alfa langsung melompat memeluk papanya "thank you pa, I Love You" Alfa mendaratkan ciumannya di pipi kiri papanya.
"Hahahaha, papa juga mencintaimu, maafkan papa selama ini, ya" kata James sembari mengusap kepalanya Alfa.
"Lalu mama? kalau mama tidak mengijinkannya?"
"Soal mama kamu, biar papa yang urus"
"Lalu soal perusahaan?"
"Hahahaha, biar papa juga yang urus, selama ini kamu juga ogah ogahan mengurusnya"
"Selama papa sakit, biar Alfa yang urus. Nanti setelah papa sehat dan bugar lagi, baru Alfa mendaftar di salah satu rumah sakit untuk memulai debut Alfa Elruno sebagai dokter, heeee. Oke, pa?"
"Oke" papanya Alfa terkekeh geli.
"Emm, kalau kamu ada waktu, tolong kamu temui Moses ya? papa pengen ketemu sama dia dan ngobrol panjang sama dia"
"Siap pa! Alfa pengen papa bisa menerima Moses sebagai keponakannya papa, Moses itu baik orangnya, Alfa saja sayang sama dia, masak papa nggak bisa sayang sama dia, kita kan sedarah" ujar Alfa serius.
"Iya, kamu benar. Sepertinya papa baru sadar sekarang kalau papa telah banyak melakukan kesalahan"
"Kalau begitu, Alfa pamit dulu, Alfa temui Moses sekarang, oke?"
__ADS_1
"Hahahaha, oke!" James kembali terkekeh geli.
Alfa kemudian memeluk dan mencium pipi papanya kembali dan pamit untuk menemui Moses.
Alfa keluar dari kamar VVIP tempat papanya terbaring sakit dengan sangat bahagia "yes! akhirnya sebentar lagi aku bisa jadi dokter dan sebentar lagi aku bisa bertemu dan akrab dengan Moses, bisa menemui Moses kapan saja tanpa ada yang melarang lagi, yes! terima kasih, Tuhan!"
Alfa kemudian teringat dengan Rini. Entah kenapa saat ini dia ingin sekali berbagi kebahagiannya dengan Rini.
Alfa melakukan panggilan VC.
"Hai manis" sapa Alfa dengan senyum cerah cerianya.
"Hai, ini Rini ada di kelas ngapain VC?"
"Ups sorry. aku ke kampus kamu ya? kelas kamu selesai jam berapa?"
"Sebentar lagi" kata Rini lirih sembari menunduk karena saat ini ponselnya di taruh di atas pangkuannya, takut kalau ketahuan sama bu dosen super killer yang tengah mengajar saat ini.
Untung Rini duduk di barisan paling belakang.
"Oke, I am on my way" Alfa langsung menutup sambungan VCnya.
Rini menggeleng nggelengkan kepalanya. Alhasil setelah menerima sambungan VC dari Alfa, cewek manis sahabatnya Melati itu pun tidak bisa berkonsentrasi. Tanpa dia sadari saat ini wajahnya terus menyunggingkan senyum manisnya dan angan angannya menerawang jauh membayangkan wajah tampannya Alfa yang sebentar lagi akan dia temui.
"Kamu, baju kuning, barisan belakang tengah!" Suara Bu Dosen killer menggelegar di tengah kelas.
Rini tersentak kaget dan buyarlah lamunannya. Cewek manis itu menunduk melihat baju kuningnya kemudian menunjuk wajahnya dengan jari telunjuknya "saya, Bu?"
"Saya mendengarkan kok Bu, saya nyimak kok" kata Rini.
"Kalau begitu, kamu kasih ringkasan mengenai pembahasan yang saya berikan tadi!"
Rini kemudian bangkit berdiri dan mulai memberikan ringkasan yang tadi disampaikan oleh bu Dosen killer, itu.
"Ternyata betul kalau kamu menyimak, duduk dan jangan senyum senyum nggak jelas lagi!"
Rini duduk, tersenyum sembari menganggukkan kepalanya ke arah Bu Dosen super killer itu.
Tidak begitu lama, kelas pun usai.
Rini keluar kelas dengan penuh semangat dan mulai mengedarkan pandangannya mencari Alfa Elruno.
"Manis!" suara Alfa terdengar sangat indah dan merdu di telinganya Rini.
Rini menoleh dan langsung berlari kecil menghampiri Alfa Elruno.
"Sudah lama nunggunya?" kata Rini.
"Kamu aja bersedia menunggu aku untuk waktu yang belum pasti, masak aku menunggu kamu sebentar aja keberatan" Alfa mengusap kepalanya Rini dan tersenyum.
Blush
Pipinya Rini langsung memerah bak kepiting rebus.
Rini pun masuk ke dalam mobil sport kesayangannya Alfa dan langsung protes "kalau bisa jangan manggil manis dong?"
__ADS_1
Alfa mulai meluncurkan mobilnya dan bertanya dengan heran "kenapa, kamu memang manis kok?"
"Kalau manggil manis, manis, kok kayak manggil seekor kucing, ya?"
"Hahahahaha" Alfa langsung tertawa terpingkal pingkal.
"Kamu lucu dan menggemaskan, ya. Beda banget sama Ray, memang Ray itu sebelas dua belas sama Moses, kaku, jarang senyum, dan aneh, hahahaha"
Rini ikutan tertawa mendengar ocehannya Alfa.
"Oke, kalau begitu aku panggil kamu apa?"
"Rini aja"
"Ahhh, jangan dong! nggak spesial nanti, emm, gimana kalau aku manggil kamu Sweety?"
Blush
Kembali pipinya Rini merona merah mendengar kata Sweety keluar dari mulutnya Alfa Elruno.
Bukankah Sweety itu artinya pacar? Batin Rini senang.
Alfa melirik Rini dan bertanya "oke, Sweety?"
"Terserah kakak aja, asal jangan manis, manis" Rini berucap sambil terkekeh geli.
Alfa kembali mengusap kepalanya Rini penuh sayang.
"Aku pengen ajak kamu ke suatu tempat, ada yang pengen aku bagi sama kamu tapi, kita ke kantornya Moses dulu, ya?"
"Baiklah, Rini juga belum pernah ke kantornya tuan Moses dan melihat kak Ray waktu bekerja, heee"
"Aahh, benarkah? Ray kalau bekerja menakutkan wajahnya, serius banget, cepat tua pastinya kalau begitu terus"
"Hahahaha" Rini tertawa geli.
"Moses sekarang sudah mendingan, sudah mulai bisa tersenyum sejak me....."
Alfa hampir saja kelepasan bicara dan hampir saja mengatakan kalau Moses telah menikah dengan Melati.
"Sejak apa?" tanya Rini sembari menoleh ke Alfa.
"Aaaaa, aku lupa mau ngomong apa tadi, emm, sepertinya Ray belum pernah punya pacar, ya?"
"Belum, kak Ray selalu sibuk jadi lupa pacaran sepertinya belum kepikiran juga sama kak Ray untuk mencari seorang pacar"
"Kasihan Ray. Aku akan carikan dia pacar, aku punya kenalan cewek banyak banget"
"Ya, banyak banget ya cewek kamu" Rini mendengus kesal karena cemburu.
"Hahahaha, aku sudah nggak berhubungan lagi dengan mereka secara spesial, sekarang ini. Mereka semua hanya teman bagiku. Aku akan kenalkan salah satu teman cewekku yang baik, bibit, bebet, dan bobotnya sama Ray. Semoga Ray cocok"
"Kenapa nggak kamu pacari sendiri tuh cewek, yang bibit, bebet, bobotnya baik itu?"
"Wow aroma cemburu nih"
"Apa?! aku nggak cemburu kok" jawab Rini.
"Aku sudah punya kamu. Aku suruh kamu menunggu, itu karena aku serius mau membuka hatiku untuk kamu. Jangan khawatir, aku nggak akan melirik cewek manapun!" Alfa kembali mengusap kepalanya Rini.
__ADS_1
Rini tersenyum bahagia.