My Cute Nanny

My Cute Nanny
Persahabatan telah dimulai


__ADS_3

Dokter Erlangga mengetuk pintu rumahnya nyonya Teja Kusuma. Gini yang membukakan pintunya.


"Silakan masuk, tuan!" Gini tersenyum ramah.


Dokter Erlangga masuk dan duduk di kursi kayu yang berada di tengah ruang tamu rumah peninggalannya papanya Melati.


"Kamu siapa?" tanya Dokter Erlangga.


"Saya asisten rumah tangganya nyonya Teja Kusuma. Mulai bekerja hari ini" jawab Gini.


"Ooooo, siapa nama kamu?"


"Gini"


"Ya?" Dokter Erlangga menunggu kelanjutan dari kata gini karena, biasanya jika seseorang berkata gini, pasti ada kelanjutannya.


"Ya?" Gini malah balik bertanya.


"Kamu mau menjelaskan apa, kamu bilang gini tadi? kok malah balik bertanya?" Dokter Erlangga mengernyit.


"Hahahaha" Gini malah tertawa renyah.


"Eh, kesambet ya kamu, tiba tiba ketawa kayak gitu?" Dokter Erlangga nampak khawatir menatap Gini.


"Maafkan saya, tuan. Nama saya Gini dan tidak ada kelanjutannya" Gini masih menyisakan senyum lebar dari tawa renyahnya tadi.


"Ooooo, nama kamu Gini to, bikin pusing aja. Nyonya kamu ada di rumah kan, ini hari Minggu pasti beliau tidak ke kantor hari ini"


"Ada tuan, sebentar saya panggilkan" Gini menganggukkan kepalanya dan berbalik badan meninggalkan Dokter Erlangga untuk memanggil nyonya Teja Kusuma.


Beberapa detik kemudian, nyonya Teja Kusuma melangkah dan duduk di depannya Dokter Erlangga.


Dokter Erlangga tersenyum dan nampak canggung saat menatap keanggunan dan kecantikannya nyonya Teja Kusuma.


"Ada apa perlu apa dok?" senyum cerah nyonya Teja Kusuma seolah menggantikan sinar matahari yang belum nampak di langit mendung saat ini.


Dokter Erlangga merasa ragu untuk berkata kata dan hanya bisa menghela napas panjang dan tersenyum.

__ADS_1


"Apakah anda hidup dengan sangat baik selama ini?" akhirnya Dokter yang baik hati dan lembut itu membuka suaranya mencoba untuk berbasa basi sebentar.


"Iya, saya baik baik saja" jawab nyonya Teja Kusuma.


"Emm, maaf kalau sejak hari pemakaman almarhum, papanya Melati, saya tidak pernah berkunjung lagi kemari" kata Dokter Erlangga lirih.


"Terima kasih anda selalu menjaga kami dari jauh" nyonya Teja Kusuma kembali tersenyum kali ini senyum yang mewakili rasa terima kasihnya untuk Dokter Erlangga.


"Bagaimana anda bisa tahu?"


"Kala itu Melati kecil pernah hilang selama satu hari karena diculik. Membuat saya begitu shock dan frustasi saya seolah kehilangan seluruh jiwa saya. Tetapi keesokan harinya datang seorang laki laki yang sangat ramah membawa pulang Melati, saya sangat bersyukur dan berterima kasih pada laki laki yang telah menyelamatkan Melati. Tetapi dia bilang kalau jangan berterima kasih padanya karena, dia hanya menjalankan perintah dari Dokter Erlangga untuk menjaga Melati dan mamanya" mamanya Melati tersenyum hangat menatap Dokter Erlangga.


Dokter Erlangga langsung merona dan menggaruk nggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal dan tidak berketombe. Dia lalu berkata "sama sama, aahh, tapi kenapa si Leo mengatakan nama saya sih. Padahal saya sudah wanti wanti sama dia, jangan sebut nama saya dan jangan bilang kalau saya yang nyuruh dia untuk menjaga anda dan putri anda"


"Terima kasih, dok"


Obrolan mereka terhenti sejenak saat Gini masuk ke ruang tamu membawakan minum dan beberapa camilan "silakan" kata Gini.


"Terima kasih, ya" sahut Dokter Erlangga.


Dokter Erlangga meraih gelas minumannya lalu menyesapnya, menaruh kembali di atas meja, kemudian berkata "emm, maafkan saya kalau saya akan mengucapkan sepatah dua patah kata yang mungkin kurang berkenan bagi anda tapi, saya sudah tidak bisa menahannya lagi setelah kemarin berjumpa kembali dengan anda"


"Sejak perjumpaan pertama kita di ruang UGD dua puluh tahun silam, saya sudah mengagumi anda dan saat anda mengatakan kalau anda memaafkan Moses dan mengikhlaskan kepergian suami anda dan anda berkata kalau anda bersyukur suami anda meninggal sebagai seorang pahlawan, saya tertegun akan ketegaran anda"


"Iya, mau bagaimana lagi, semua sudah ditakdirkan dan sudah terjadi. Lagipula Moses tidak bersalah, dia juga korban" jawab nyonya Teja Kusuma.


Anda cantik secara alami, hati anda baik dan lembut, anggun dan sangat sukses membuat hati saya terasa hangat setiap kali berada di dekat anda, nyonya Teja Kusuma. Dokter Erlangga membisu di saat hatinya mulai berbicara.


"Dok?"


Suara mamanya Melati menyadarkan lamunannya Dokter Erlangga "aaah, iya maaf. Nyonya, emm, ijinkan saya untuk jujur akan perasaan saya karena saya merasa sudah tidak sanggup bila harus menahannya lebih lama lagi"


"Iya dok, silakan!"


"Saya mencintai anda sejak pandangan pertama" Dokter Erlangga berkata serius dan tanpa jeda. Butuh keberanian yang luar biasa untuk bisa mengucapkan kata itu maka Dokter Erlangga mengucapkannya hanya dalam sekali tarikan napasnya.


Nyonya Teja Kusuma tersenyum dan menghela napas panjang "banyak yang mendekati saya selama ini, dok. Tapi selalu saya tolak karena, saya hanya mencintai satu laki laki yaitu papanya Melati. Satu laki laki untuk selamanya walaupun maut telah memisahkan saya dengan mas Teja Kusuma tapi saya masih merasa perlu untuk tetap setia menjaga cinta saya untuk mas Teja Kusuma, maaf kalau saya tidak bisa membalas perasaan anda ke saya"

__ADS_1


"Aahh, iya tidak masalah. Saya bisa memahaminya. Saya cuma merasa perlu untuk mengungkapkan perasaan saya ini karena selama bertahun tahun sudah membuat sesak dada saya, hahahaha, jangan menjadi beban pikiran anda! anggap saja angin lalu" Dokter Erlangga nampak sangat tulus mengatakan semua itu.


"Maafkan saya dok" mamanya Melati merasa bersalah karena sudah menolak pernyataan cintanya Dokter Erlangga, yang sudah sangat baik telah menjaga dia dan Melati selama ini walaupun dari kejauhan.


"Tapi bolehkan saya mencoba untuk masuk ke dalam hidup anda, menjadi lebih dekat dengan anda? saya ingin setiap akhir pekan menghabiskan waktu saya di kota ini, bolehkan saya meminta anda untuk menemani saya sekadar mengobrol?" Dokter Erlangga memamerkan gigi putihnya di depan mamanya Melati.


"Hahahaha, anda lucu kalau meringis seperti itu dok, maaf kalau saya mengatakan Anda lucu,hahaha"


Dokter Erlangga tertegun menatap kecantikan yang luar biasa yang dimiliki mamanya Melati dan secara tidak sadar papa asuhnya Moses Elruno itu berkata "saya tidak keberatan nampak konyol di depan anda jika itu bisa membuat anda tertawa dengan sangat cantiknya, seperti ini"


"Anda pandai menggombal juga ya, dok? hahahahaha, terima kasih untuk pujiannya. Karena anda sudah berhasil membuat saya tertawa maka, saya ijinkan anda untuk berkunjung kemari setiap akhir pekan. Saya juga butuh teman ngobrol" senyum cantik masih terlukis di wajah ayu mamanya Melati.


"Terima kasih banyak. Maaf jika di usia saya yang sudah tidak muda lagi saya dengan tidak tahu malu, mengungkapkan rasa cinta saya untuk anda"


"Tidak apa apa, dok. Saya justru merasa tersanjung seorang Dokter hebat seperti anda berkenan memberikan perasaan yang indah itu untuk saya walaupun saya tidak bisa membalasnya tapi saya ucapkan banyak terima kasih"


Bukannya tidak bisa membalasnya, tapi belum. Batin Dokter Erlangga.


"Anda memang layak untuk dicintai" Dokter Erlangga tidak henti hentinya menatap kagum mamanya Melati.


"Karena kita sudah deal untuk menjadi teman ngobrol gimana kalau mulai detik ini aku memanggil nama kamu dan kamu boleh memanggil nama aku, supaya lebih akrab dan santai"


"Baiklah" kata nyonya Teja Kusuma.


"Heni kenalkan namaku Erlangga" Dokter Erlangga mulai memanggil nama gadis mamanya Melati sambil mengulurkan tangannya.


Mamanya Melati terkekeh geli dan mengulurkan tangannya sembari berkata "terima kasih mas Erlangga sudah bersedia berteman dengan saya"


Dokter Erlangga nampak enggan melepas tangannya mamanya Melati yang kini ada di dalam genggaman tangannya.


Mamanya Melati tersenyum dan menarik tangannya untuk lepas dari genggaman tangannya Dokter Erlangga.


"Bagaimana mas Erlangga tahu nama gadisku adalah Heni?" Mamanya Melati kembali menautkan alisnya.


"Aku tahu semuanya tentang kamu"


Mereka kemudian saling menatap dan tersenyum.

__ADS_1


Persahabatan kita telah dimulai, semoga bisa berlanjut ke tahap berikutnya. Aku bertekad untuk memenangkan hatimu, Heni. Batin Dokter Erlangga penuh semangat.


__ADS_2