
Moses berteriak ke Pramono, "Pram, ke sini!"
Pramono segera berlari mendekati tuan besarnya, "Ada apa Tuan?"
"Kau bawa dua puluh anak buahmu ke rumahnya Elmo untuk menjaga my cute nanny eh istriku, anak, dan cucu-cucuku"
"Bukankah sudah ada Bram dan kesepuluh anak buahnya yang menjaga Nyonya? Kalau saya tinggal, bagaimana dengan keadaan di sini?"
"Masih ada Elmo, aku, dan empat puluh sisa anak buahmu, aku rasa cukup. Lagian bantuan akan segera tiba"
"Baik Tuan, laksanakan!" Pramono segera mengajak kesepuluh anak buahnya pergi meninggalkan markasnya Moses Elruno melalui pintu dan jalan rahasia.
Pramono melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumahnya Elmo Elruno.
Keempat mobil Jeep dan tiga buah mobil Van yang membawa anak buahnya Goh belum berhasil juga mendesak masuk ke dalam markas besarnya Moses Elruno yang memiliki sistem keamanan yang sangat tinggi dan dijaga sumber daya manusia yang memiliki kemampuan di atas rata-rata itu.
Anak buahnya Goh mulai merasa jenuh dan frustasi. Mereka terus melakukan baku tembak dan di pihak Goh sudah ada jatuh korban sedangkan di pihaknya Elruno belum ada satu korban pun yang terkapar. "Buka Gerbangnya!" teriak salah satu dari gerombolan itu yang menguasai bahasa Indonesia dengan baik tetapi mungkin hanya kata-kata kasar dan umpatan yang lebih ia kuasai dengan baik.
Asistennya Pramono yang mendapatkan tugas dari Pramono untuk menggantikan tugasnya memimpin pasukan, berteriak lantang, "Jangan mimpi! pergilah! kalian nggak akan menang melawan kami. Kami bukan orang sembarangan"
Lili terbangun dengan senyum merekah di bibirnya. Perempuan berambut keriting parah itu, meraba lehernya dan memejamkan mata dengan senyum bahagia saat ia teringat kembali kecupan dan gigitan-gigitan kecil yang Elmo daratkan di sana. Lalu Lili membuka mata dan meraba bibirnya, bibir itu bahkan masih berdenyut menyisakan rasa indahnya penyatuan bibir mereka beberapa jam yang lalu.
Lili kemudian menyibak selimut dan tertunduk malu dengan rona merah di wajahnya ketika ia memandang tubuh polosnya penuh dengan tanda cinta di titik-titik sensitifnya. Lili lalu melilitkan selimut itu di tubuhnya dan merapikan tempat tidur yang kekusutannya memberikan bukti percintaan panas dia dan suaminya.
Lili mengusap wajah manisnya dengan senyum yang indah lalu bergegas ke kamar mandi untuk melepaskan kepenatannya di bawah guyuran air hangat. Di bawah kucuran air hangat, Lili terus tersenyum kemudian terkikik geli mengingat candaan yang ia dapatkan dari Elmo di sela peraduan cinta mereka.
Lili kemudian bergumam, "Ternyata kau masih memiliki selera humor yang tinggi juga ya Sayangku" Angan Lili langsung melayang ke wajah tampannya Elmo Elruno.
Beberapa menit kemudian, Lili sampai di ruang dapur dan memeluk Melati yang tengah berdiri menata piring di meja makan. Lili memeluk Melati dari belakang lalu mengecup pipi kanannya Melati, "Selamat pagi, Ma"
Melati terlonjak kaget dan tertawa lirih sambil mengelus pipinya Lili ia berucap, "pagi menjelang siang, Sayang"
Lili melepaskan pelukannya lalu tersenyum malu, "Maaf, Lili kesiangan"
"Hahahaha, iya santai aja. Mama juga pernah mengalaminya jadi Mama pahaaammm betul apa yang kau rasakan, hahahaha"
Lili melepas tawanya lalu melempar senyum penuh cintanya ke Melati, "Mama memang yang terbaik di dunia ini. Lili beruntung memiliki Mama"
__ADS_1
Melati tersenyum penuh kasih dan mengelus rambutnya Lili, "Mama juga beruntung memiliki kamu"
"Aunty, good morning!" teriak Bryna dengan wajah penuh dengan keceriaan.
"Udah pukul sepuluh lebih tujuh belas menit tuh nggak morning lagi" cetus Barnes dan Bryna langsung meringis ke Barnes.
Lili dan Melati tertawa terbahak-bahak melihat tingkah polosnya si kembar.
Lili lalu memangku keduanya, mencium pipi gembul keduanya dan berucap, "Selamat pagi menjelang siang, hehehe"
Bryna memiliki karakter yang santai, polos, sesuka hati, selalu mengatakan apa yang ada di hatinya, dan lebih ceroboh. Mirip dengan Tante Celyn-nya. Sedangkan Barnes lebih serius, segala sesuatunya harus sesuai aturan, lebih teliti, lebih kritis dan kutu buku. Mirip dengan Chery sang Mama cantiknya. Tetapi keduanya memiliki karakter yang ramah dan baik hati, mirip dengan Nenek mereka, Melati Arumi Putri.
Celyn dan Bintang ikut bergabung di meja makan. Celyn dan Bintang pun bangun kesiangan karena, kecapekkan berada lama di pesawat terbang.
"Li, udah bisa kan menguasai pistol yang kemarin dikasih sama Papa kamu untuk berjaga diri?" tanya Bintang. Bintang memberikan tutorial singkat ke Lili cara menggunakan pistol untuk berjaga diri sebelum mereka berangkat ke Tiongkok.
Lili menganggukkan kepalanya, "Iya, aku udah ingat cara pakai pistol tapi, semoga aku nggak akan pernah menggunakannya"
"Aku juga belum pernah memakai senjata berapi. Aku lebih suka memakai tendangan dan tinjuku" sahut Celyn sambil melempar kepalan tangannya ke udara.
"Kamu memang yang terbaik" sahut Lili dengan senyum lebar dan Celyn segera melepas tawa renyahnya.
Celyn segera bangkit dan berlari. Dia memeluk kekasihnya itu. "Kenapa baru ke sini? nggak kangen ya sama aku?" Celyn melepas pelukannya lalu memukul bahunya Gideon.
Gideon tertawa, "Maaf, banyak tugas yang harus aku selesaikan dulu dan.......lho, Kak Lili?"
Lili bangkit dan memandang Gideon dengan sorot mata penuh tanda tanya.
Celyn langsung berkata, "Kak Lili hilang ingatan karena ramuan aneh yang ia minum selama ini. Kak Lili nggak ingat sama kamu, sama aku aja juga belum begitu ingat. Kak Lili cuma ingat sama Kak Elmo dan Mama"
"Oh" Gideon melepas senyum ke Lili dan Bintang, "Dan Kakak itu?"
"Dia sahabatnya Kak Elmo. Ilmu bela dirinya top habis, aku banyak belajar gerakan baru dari Kak Bintang" sahut Celyn.
Gideon menyalami Lili dan Bintang lalu memeluk Melati. Gideon hanya berani memeluk Melati kalau tidak ada Moses Elruno.
Melati menepuk punggungnya Gideon, "syukurlah kau sudah sampai di sini dengan selamat. Ayok! sarapan gih!"
__ADS_1
"Makasih Ma" sahut Gideon sambil duduk di sebelahnya Celyn.
Si kembar langsung merengut, "Om Gideon kok nggak menyapa kami sih?" cetus si kembar secara bersamaan.
"Hahahaha, sengaja, hahahaha. Maaf! tapi Om bawa cokelat dan mainan untuk kalian. Nih" sahut Gideon dengan senyum cerah di wajahnya yang ia lempar untuk si kembar.
Si kembar hendak bangkit dan Melati langsung berdeham, "selesaikan dulu makannya sayang-sayangku!"
Bryna dan Barnes kembali duduk dan Gideon kembali melepas tawanya, "hahahaha, entar selesai makan, Om temani kalian main dan makan cokelat sepuasnya, oke?"
"Yeeeaayyy, hoorraaayy, makasih Om" teriak si kembar dengan kompak.
Mereka makan dengan penuh canda tawa dan tanpa sepengetahuan yang lainnya, tangan Gideon dan Celyn terus terpaut di bawah meja. Kedua sejoli itu saling menyimpan kerinduan yang begitu besar. Mereka sudah lama tidak bertemu karena, Gideon sibuk dengan kuliah dan mulai belajar bisnis dengan papanya. Celyn juga sibuk mengikuti perlombaan taekwondo dan tugas-tugas kuliahnya.
Moses pernah menelepon Greyson ketika ia mendapati Elmo telah menikah dengan Lili dan meminta Greyson segera melamar Celyn. Greyson langsung panik kala itu dan bertanya, "Apa anakku telah menghamili anakmu?"
"Aish otak dan mulut kamu tuh emang perlu dicuci!" kata Moses kala itu. Lalu Moses kembali berkata, "Aku hanya ingin anak-anakku segera menikah semuanya, terus aku akan pensiun menepi dari hiruk pikuknya dunia bersama dengan my cute nanny, istri tercintaku tanpa gangguan"
Dan Greyson menjawab permintaannya Moses kala itu dengan janji, "Oke, tunggu sampai Gideon siap menjalankan Bisnisku. Kasih aku dua tahun lagi"
Moses menawar, "Satu tahun nggak lebih. Entar aku kasih bonus ke kamu"
"Hahahaha, dasar gila! okelah, setahun nggak lebih dan aku tunggu bonus dari kamu, hahahaha. Emang paling enak berbisnis sama kamu, dasar gila!" sahut Greyson Adi Wijaya Simpsons kala itu.
Dan kesepakatan Moses dan Greyson kala itu membuat Gideon secara mendadak mendapatkan tugas yang begitu banyak dari papa tampannya. Belajar bisnis siang dan malam di sela-sela rutinitas kuliahnya, membuat waktu berpacarannya dengan Lili terbengkalai.
Tiba-tiba Bram masuk dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan, "Masuk ke kamar masing-masing! Kita kedatangan tamu tak diundang"
Melati segera memerintahkan Lili dan si kembar masuk ke dalam kamarnya Elmo dan ia bersama dengan Lili, Celyn, Gideon, dan Bintang menyusul Bram keluar.
Bram menoleh ke belakang sembari berlari keluar, "Nyonya, Anda jangan keluar!"
"Tenanglah! Aku ingin berolahraga sebentar Bram, tenanglah aku nggak akan apa-apa!" sahut Melati sambil berlari keluar.
Bram, kesepuluh anak buahnya, Celyn, Gideon, Bintang, dan Melati bersiap menghadang tamu tak diundang mereka yang datang tanpa senjata berapi tetapi membawa berbagai macam dan bentuk senjata tajam.
"Kenapa kalian semua keluar? Tuan Moses akan ngamuk sama saya nanti" Bram menghela napas panjang.
__ADS_1
"Tenang Pak Bram! Papa nggak akan ngamuk. Pak Bram dan anak buahnya Pak Bram akan kewalahan menghadapi orang sebanyak itu tanpa bantuan kami" sahut Celyn.
"Hmm, Celyn benar" sahut Bintang, "Ayok! kita beri mereka pelajaran!"