
Chery bersembunyi di belakang tembok yang berada di teras belakang hotel Rajaswa sedangkan Raja menuju ke lobi hotel tersebut. Raja mengusap kasar kepalanya sambil celingukan ke kanan dan ke kiri.
Abi menyusul Raja, "tuan nggak berhasil mengejar nyonya Chery?"
Raja menggelengkan kepalanya, dia mulai menelepon nomor ponselnya Chery tetapi tidak aktif, "sayang, jangan kayak gini dong, please aktifkan ponsel kamu, kakak khawatir nih, kita di negri orang" Raja terus mencoba menelepon ponselnya Chery dan gagal tersambung untuk yang kesekian kalinya.
Raja mengusap kasar wajahnya, "kita cari di sekitar hotel ini yuk! aku yakin Chery belum jauh dari hotel ini"
Abi menganggukkan kepalanya dan berlari keluar ke arah kanan sedangkan Raja ke arah kiri.
Chery melihat kalau Raja dan Abi telah keluar dari hotel. Chery kemudian bergegas masuk ke dalam lift. Asal pencet nomor lantai dari hotel tersebut.
Setelah keluar dari dalam lift, Chery langsung duduk di bangku yang berada di selasar lantai lima dari hotel tersebut sambil terengah engah.
"Tega kamu kak! tega banget sama Chery, kenapa nggak pernah cerita soal cewek seksi itu ke Chery. Bahkan cewek itu tahu semua kebiasaannya kakak" Chery mulai menundukkan wajahnya dan terisak lirih.
Tiba tiba ada seorang cowok asli Turki mendekatinya. Dia berbahasa Turki dan Chery sama.sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh cowok itu. Tetapi Chery bisa memahami gelagat dari cowok tersebut tidaklah baik untuk keselamatan dirinya.
"Don't touch me!" Chery memekik kesal dan menepis kasar tangan pria tersebut sambil mendorong dan melompat untuk menjauhi pria tersebut.
Sang pria menyeringai dan nampak semakin bersemangat untuk mendapatkan Chery sebagai teman kencannya malam itu.
Chery langsung memasang kuda kuda, siap untuk mencincang habis pria kurang ajar tersebut.
Nathan yang secara tidak sengaja melangkah menuju ke salah satu kamar hotelnya untuk memeriksa AC dari kamar yang akan dia datangi, melihat Chery tengah dihadang seorang pria berkulit putih, berambut keriting dan berbadan tinggi. Nathan melangkah lebar hendak menolong Chery namun, langkah dia langsung terhenti ketika melihat Chery berhasil menjatuhkan laki laki tersebut terkapar di atas lantai dan tidak sadarkan diri hanya dengan satu tendangan saja.
Nathan secara tidak sadar bertepuk tangan, "waaahhh! nyonya Darmawan ternyata sangat hebat ya?"
Nathan kemudian menyuruh security-nya untuk membawa pergi sesosok pria yang telah terkapar akibat dari tendangan mautnya Chery itu. Lalu Nathan kembali ke Chery.
"Anda kenapa sendirian di sini? kamar anda di mana? suami anda ada di dalam kamar?" tanya Nathan.
"Saya tidak menginap di sini dan suami saya.............."
"Oke, maaf jika saya ikut campur, tapi saya bisa merasakan kalau anda ingin menjauh dari suami anda saat ini. Emm, saya akan membuka kamar di lantai ini untuk anda, bagaimana?" tanya Nathan.
"Apa anda juga mau merasakan tendangan maut saya?" Chery mulai bersikap waspada dan mengepalkan kembali kedua tinjunya ke arah Nathan.
"Ooooo, no no no! Anda jangan salah paham!" Nathan melambaikan kedua tangannya ke Chery, "saya cuma ingin menolong anda. Anda seorang cewek dan anda di Turki saat ini. Tidak banyak orang di sini yang bisa berbahasa Inggris ataupun berbahasa Indonesia dan ini sudah jam delapan malam, tidak aman bagi seorang wanita secantik anda berada di luar sana. Maka saya sarankan anda menginap di hotel saya semalam ini saja, untuk selanjutnya terserah anda" kata Nathan serius.
Chery akhirnya menganggukkan kepalanya dan memberikan black card-nya ke Nathan. Nathan menerima black card tersebut lalu mempersilakan Chery mengikuti langkahnya menuju ke kamar VVIP yang berada di ujung selasar lantai lima hotel Rajaswa itu.
Nathan berinisiatif membuka kamar VVIP untuk Cheey karena, dia melihat black card-nya Chery dan dia paham betul siapa Raja Darmawan, suaminya Chery.
Nathan membuka pintu kamar 560 dan mempersilakan Chery masuk sambil menyerahkan kunci chip dari kamar tersebut. Chery melangkah masuk dan mengucapkan terima kasih ke Nathan sebelum dia menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
Nathan kemudian bergegas turun menuju ke ruang pusat CCTV dari hotelnya itu. Dia mencari rekaman di restorannya pada menit Raja dan Chery saat masih berada di restoran tersebut. Nathan penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi karena, dia melihat Chery dan Raja saling mencintai dengan sangat dalam namun kenapa mereka bertengkar, pertanyaan itu yang menari nari di dalam benaknya Nathan.
"Aaahhh, cewek seksi itu penyebabnya. Sepertinya nyonya Darmawan cemburu dengan cewek itu. Hmm! menarik" Nathan bergumam sendiri dan tersenyum tipis di depan layar televisi yang mempertontonkan adegan Chery menggebrak meja dan berlari pergi meninggalkan Raja begitu saja.
Nathan kemudian menuju ke bagian pembayaran, "gesek kartu ini untuk kamar VVIP 560 dan jika nyonya yang berada di dalam kamar itu inginkan makanan dan minuman jangan kau tarik biaya! aku kasih gratis ke nyonya Darmawan untuk semua makanan dan minuman yang dia pesan nanti" ucap Nathan ke karyawannya.
Karyawan tersebut menggesek kartu black card-nya Hery lalu menyerahkannya kembali ke Nathan, "sudah tuan dan ini kartunya"
"Oke! terima kasih" kata Nathan.
Dion asisten pribadinya Nathan, menghampiri Nathan, "tuan kenapa anda senyum senyum sendiri kayak gitu?"
"Aaahh, aku baru saja melihat seorang bidadari. Baru kali ini hatiku berdegup dengan sangat kencang saat melihat seorang wanita berdiri depanku" kata Nathan sambil tersenyum lebar penuh kebahagiaan.
"Mana wanitanya tuan?" Dion bertanya sambil celingukkan, "ini saya yang berdiri di depannya tuan, nggak ada wanita" ucap Dion kebingungan.
"Aiiish! mengganggu lamunanku saja kau. Aku mau ke lantai lima dulu, kamu tunggu di sini!" perintah Nathan sambil memutar badan dan pergi meninggalkan Dion.
Nathan mengetuk pintu kamarnya Chery untuk mengembalikan black card-nya Chery, "maaf saya mengganggu anda, emm, saya ingin mengembalikan kartu anda" Nathan berucap sambil menyerahkan black card-nya Chery.
Chery tersenyum dan menerima kartunya, "terima kasih banyak atas bantuan anda, emm, saya harus memanggil anda apa ya?"
"Kak boleh" kata Nathan.
Chery merasa ragu untuk memanggil Nathan yang baru dia kenal beberapa jam yang lalu, dengan sebutan kakak.
"Baiklah kak Nathan aja kalau begitu. Terima kasih kak" kata Chery.
"Sama sama" Nathan tersenyum.
Chery menganggukkan kepalanya dan hendak menutup pintu kamarnya...............
"Emm, maaf apa boleh saya mengajak anda mengobrol......di sana" Nathan menunjuk ke bundaran sofa yang berada di tengah tengah selasar lantai tersebut.
Chery melongokkan kepalanya ke kiri lalu menatap Nathan, "emm, baiklah tapi hanya satu jam saja ya kak"
"Oke! satu jam cukup" Nathan tersenyum senang dan berjalan pelan mendahului Chery menuju ke bundaran sofa yang dia unjuk tadi. Mereka duduk berhadapan dan mulai mengobrol.
Raja bertemu kembali dengan Abi di epan pintu masuk hotel Rajaswa.
Mereka saling menatap dan menggelengkan kepalanya dengan frustasi karena, Chery belum berhasil mereka temukan.
"Lalu bagaimana tuan?" tanya Abi.
"Kita balik aja, siapa tahu istri saya sudah sampai di hotel tempat kami menginap" kata Raja.
__ADS_1
Abi dan Raja langsung bergegas kembali ke hotel tempat Raja menginap.
"Anda putrinya tuan Moses Elruno ya? apa anda Chery Elruno? penulis puisi terkenal itu?" tanya Nathan.
"Iya, bagaimana anda bisa tahu tentang buku saya? saya lihat anda bukan seorang yang romantis dan pastinya anda tidak menyukai puisi" kata Chery dengan polosnya.
"Hahahaha, iya anda benar. Saya tidak menyukai hal hal yang bersifat romantis dan saya juga tidak tahu bagaimana bersikap romantis. Emm, saya tahu kumpulan puisi anda dari almarhum istri saya. Istri saya sangat menyukai buku anda, andai dia memiliki kesempatan bertemu dengan anda, dia pasti sangat senang" ucap Nathan.
"Saya ikut sedih mendengarnya" kata Chery, "andai saya bisa bertemu dengan almarhumah istri anda, saya juga pasti akan merasa sangat senang" kata Chery.
Susana menjadi hening seketika untuk beberapa menit lamanya.
"Pasti anda sangat mencintai almarhum. Anda nampak begitu sedih saat bercerita tentang istri anda tadi" kata Chery.
Nathan hanya membalas ucapannya Chery dengan senyum tipisnya. Dia masih belum menyadari apakah ada cinta untuk Denisa.
"Maaf kalau boleh saya tahu, istri anda meninggal karena apa?" tanya Chery.
"Almarhum istri saya, Denisa namanya. Denisa meninggal sehabis melahirkan putra kami" ucap Nathan dengan muka datarnya.
"Istri anda ternyata wanita yang sangat kuat dan hebat. Dia berjuang mati matian demi kehidupan putranya. Saya sangat mengagumi istri anda. Bahkan tanpa bertemu dan mengenal.almarhum, saya sudah bisa mengenalinya. Beliau pasti pribadinya lembut, keibuan namun kuat dan tegar" ucap Chery.
Deg
Nathan merasa seolah ditampar dengan ucapannya Chery. Dia bahkan tidak mengenali istrinya secara pribadi namun Chery, yang belum pernah bertemu dan mengenal Denisa bisa mengenali Denisa dengan begitu baik.
"Emm, sudah satu jam. Saya pamit kak, saya masuk ke kamar dulu" ucap Chery sambil bangkit dan mulai melangkah pergi menuju ke kamarnya.
Nathan ikutan bangkit lalu mengikuti langkahnya Chery, "apa besok kita bisa sarapan bersama?"
"Saya tidak janji, mungkin besok saya sudah balik ke hotel tempat saya menginap karena, tidak baik seorang istri meninggalkan suaminya terlalu lama" Chery kemudian tersenyum dan menutup pintu kamarnya dengan sangat sopan.
Nathan menatap pintu kamarnya Chery cukup lama.
Dion menepuk pundaknya Nathan dari belakang, "siapa nona tadi, tuan? sangat elegan dan sangat cantik padahal tidak memakai make-up sama sekali"
"Iya, dia memang sempurna. Cantik, cerdas, pemberani, kuat, dan elegan" ucap Nathan.
"Kenapa nggak tuan sosor aja langsung? biasanya juga begitu" kata Dion dengan santainya.
Nathan mulai melangkah meninggalkan kamarnya Chery dan Dion langsung mengikutinya.
"Dia beda. Dia sudah menikah dan dia tipe setia. Aku hanya bisa mengaguminya dalam diam. Tapi jujur, baru kali ini jantungku berdegup dengan sangat kencang ketika berhadapan dengan seorang wanita" kata Nathan.
"Hah?! kalau sudah menikah kenapa anda berani mengajaknya mengobrol tadi?"
__ADS_1
"Jangan tanya lagi! aku plester mulut kau, mau?"
Dion langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya sambil terus mengikuti langkah tuannya.