
"Pak, saya merasa takut untuk bertemu dengan papa saya" kata Angel.
Arkan memegang tangannya Angel lalu menggenggamnya " jangan takut, ada aku"
"Tapi pak........"
"Kita berduaan aja saat ini, jangan panggil pak dong! aku merasa tua nih, heeee. Panggil mas ya?!" kata Arkan tersenyum dan mengelus mesra kepalanya Angel, sembari terus mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit. Mereka tidak jadi ke penjara karena mendadak mendapat kabar dari Awan, kalau papanya sekarang ini dirawat di rumah sakit.
"Iya, mas. Apa papa akan menyukai Angel dan apa yang harus Angel katakan nanti, mas? Angel belum pernah bertemu dengan papa selama ini" ucap Angel.
"Biarkan saja nanti mengalir apa adanya ya, yang pasti aku akan selalu menjaga dan mendukungmu" kata Arkan.
"Mas, apa mas nggak malu berpacaran dengan aku? papa dan mamaku dipenjara semuanya" Angel berkata lirih dan langsung menundukkan wajahnya.
"Yang terpenting kita saling cinta untuk hal hal selanjutnya akan kita hadapi secara bersama sama dan yang pasti aku tidak malu karena, itu semua bukan kesalahan kamu. Semua orang pernah berbuat salah, aku juga pernah berbuat salah dan kewajiban kita adalah memaafkan" kata Arkan.
"Terima kasih mas" kata Angel.
Mereka akhirnya sampai di kamar tempat papanya Angel dirawat.
Awan telah menunggu mereka di depan pintu kamar tersebut.
"Lho, bukankan anda pak Arkan?" tanya Awan sembari menyalami Arkan.
"Iya, anda Awan ya?" tanya pak Arkan.
"Iya, waaah bapak awet muda dan masih sangat tampan ya, tidak berubah sama sekali" kata Awan.
"Hahaha, terima kasih, anda malah semakin hebat dan tambah keren, nih" kata pak Arkan.
"Hahahaha, terima kasih banyak, pak. Eits, sebentar, kenapa bapak bisa datang bareng sama Angel? apa kalian........?" Awan tersenyum penuh arti ke Angel dan Arkan.
Arkan mengelus tengkuknya dan tersenyum kemudian berucap "saya calon adik ipar kamu, kak Awan" kata Arkan dengan polosnya.
"Aaahhh, benarkah? hahahaha, selamat ya untuk kalian berdua. Saya doakan hubungan kalian bisa beneran sampai ke pelaminan" kata Awan.
"Aaammiinnnn" ucap Arkan dan Angel secara bersamaan.
"Mari masuk! papa sudah menunggumu, dek" kata Awan sembari membuka pintu kamar rawat inap tersebut.
Angel melangkah masuk ke dalam kamar tersebut dengan pelan pelan dan terus menatap papanya yang terbaring lemah dan tengah menoleh memandangnya.
Arkan memeluk bahunya Angel dan mengiringi langkahnya Angel.
Perawat rumah sakit yang menjaga si pasien melarang pengunjung untuk mendekati pasien. Karena, pasien terkena TBC.
Betapa Angel ingin memeluk papanya tapi ternyata tidak diperbolehkan untuk mendekat. Mereka hanya bisa berbicara dan saling menatap dalam jarak satu meter.
Air mata langsung menetes di pipi cantiknya Angel.
"Kamu cantik banget, nak" kata Dipo Herlambang.
"Terima kasih, pa. Papa juga tampan" kata Angel.
"Anda kekasihnya Angel?" tanya Dipo Herlambang sembari menoleh ke Arkan.
"Iya, pak. Saya calon menantunya bapak" kata Arkan.
"Maaf, apa pekerjaan anda?" tanya Dipo Herlambang.
"Saya seorang dosen, pak. Bapak semangat untuk sembuh ya, bapak harus melihat pernikahan putri cantiknya bapak ini, saya akan melamar Angel saat ini juga" kata Arkan sembari meraih sesuatu dari dalam saku jasnya. Cowok tampan itu mengeluarkan kotak berwarna merah dan membukanya di depan Angel lalu dia bersimpuh di depan Angel.
__ADS_1
"Will you marry me?" kata Arkan.
Dipo Herlambang tersenyum bahagia melihat putri cantiknya dilamar seorang cowok yang tampan dan memiliki pekerjaan yang baik.
Angel semakin deras menangis begitu pula Awan. Awan pun menitikkan air mata menahan keharuan.
"Angel mau, mas" kata Angel.
Arkan tersenyum dia pun bangkit dan menyematkan cincin cantik itu di jari manisnya Angel.
"Terima kasih, nak" kata Dipo Herlambang ke Arkan.
"Terima kasih mau menerima putriku apa adanya" Dipo Herlambang berucap sembari terisak.
"Pak, bapak jangan menangis nanti bapak batuk lagi!" kata suster yang terus mengawasi kesehatan dari Dipo Herlambang.
Suster tersebut memakai baju APD lengkap.
"Terima kasih banyak pak Arkan" kata Awan.
"Saya sangat mencintai putri bapak, bapak harus semangat untuk sembuh ya, bapak harus menghadiri pernikahan kami, demi Angel" Arkan memeluk erat bahunya Angel.
"Iya, aku harus sembuh! aku mau sembuh!" kata Dipo Herlambang penuh semangat.
Suster yang menjaga Dipo Herlambang pun tersenyum senang "terima kasih, berkat kedatangan kalian, pasien jadi memiliki semangat untuk sembuh"
Awan, Angel dan Arkan pun tersenyum bahagia.
"Angel, nama yang indah. Mama kamu memberikan nama yang indah sesuai dengan kecantikan kamu, kamu cantik, bersih, dan suci seperti Angel" kata Dipo Herlambang.
"Terima kasih, pa" kata Angel.
"Kamu tinggal bersama papa kamu dan kakak kamu Alfa selama ini?" tanya Dipo Herlambang.
Dipo Herlambang kembali terisak menangis penuh haru. Rasa bersalah kembali menyerang perasaannya dengan sangat hebat. Melati dan Moses yang sudah dia jahati selama ini justru menjadi penyelamat bagi hidup putra dan putrinya. Moses sudah mendidik dan memberi peluang ke Awan sehingga Awan menjadi sukses dan hebat seperti sekarang ini. Bahkan Moses bersedia menampung Angel dan membiayai semua kehidupan Angel bahkan pendidikannya Angel.
"Wan, kapan kamu balik lagi ke Jerman?" tanya Dipo Herlambang.
"Minggu depan, pa. Memang kenapa?" tanya Awan.
"Papa pengen bertemu dengan tuan Moses Elruno. Apa beliau bersedia menemui papa kamu yang jahat dan hina ini ya?" kata Dipo Herlambang.
"Untuk apa pa?" tanya Awan.
"Papa ingin berterima kasih dan meminta maaf secara langsung sama tuan Moses dan juga nyonya Melati" kata Dipo Herlambang.
"Awan akan usahakan pa. Awan akan mencoba menemui tuan Moses kembali" kata Awan.
"Maaf, pasien butuh istirahat. Waktu berkunjung sudah habis" kata suster yang menjaga Dipo Herlambang.
"Pa, semangat sembuh ya. Besok Angel ke sini lagi" kata Angel.
Arkan dan Awan pun mengucapkan kata yang sama dan mereka pun melangkah keluar dari kamar rawat inap tersebut.
"Kak, apa Kakak menyetujui hubunganku dengan mas Arkan?" tanya Angel.
"Asal kalian saling mencintai, kakak menyetujuinya. Lagipula kakak sangat mempercayai pak Arkan kalau dia akan sanggup membuatmu bahagia" kata Awan.
"Terima kasih banyak brother" kata Arkan sembari menepuk pundaknya Awan.
"Kita makan siang dulu? saya akan traktir anda, anda kan calon kakak ipar saya, hahahaha" kata Arkan.
__ADS_1
"Baiklah" kata Awan.
Tidak begitu lama mereka pun telah duduk bersama di satu meja yang berada di dalam sebuah restoran mewah.
"Kak, apa kakak tahu kabar dari mamanya Angel?" tanya Angel.
"Mama kamu sehat dan baik baik saja. Kamu nggak pernah menengoknya?" tanya Awan.
"Angel takut kalau menemuinya. Mama selalu menjelek njelekkan kak Moses dan kak Melati. Angel nggak suka itu, kak" kata Angel.
Awan tersenyum dan menghela napas panjang "mama kamu ternyata belum berubah ya. Jeruji besi ternyata tidak mampu untuk membuat mama kamu bertobat, maaf" kata Awan.
"Iya, nggak apa apa kak, kakak benar kok. Itu yang sering membuat Angel merasa sedih, mama masih merasa paling benar" kata Angel.
"Kita kapan kapan menemui mama kamu ya? mas juga perlu meminta restu sama mama kamu kalau ingin menikahimu, kan?" kata Arkan
Angel menoleh ke Arkan dan tersenyum penuh cinta "baiklah, kalau ditemani mas Arkan, aku mau menemui dan menjenguk mama" kata Arkan.
Awan tersenyum bahagia dan merasa lega bukan kepalang melihat Angel hidup dengan bahagia dan berada di sekitar orang orang yang baik hati dan menyayanginya.
Aku akan kembali ke Jerman dengan tenang nih, Angel hidup dengan sangat baik dan bahagia. Batin Awan.
"Saya sudah mendapat ijin dari kak Awan nih, tinggal menemui kak Alfa dan kak Moses nih, huffttt perjalanan saya ternyata masih sangat panjang" kata Arkan dengan polosnya.
Awan dan Angel pun tertawa lepas.
Claudia berlari masuk ke dalam kamarnya ,dia bermaksud untuk menggendong Chery dan membawa Chery kabur. Tetapi dia tidak menemukan Chery "Cheryyyyyy......tidaaakkkk! jangan ambil Cherryyyyyyy!!" Claudia mulai memekik histeris karena frustasi.
Melati menghentikan langkahnya sejenak ketika mendengarkan teriakannya Claudia.
Ray dan dokter Erlangga akhirnya sampai di TKP. Dokter Erlangga langsung menghampiri Melati "nak, jangan masuk ke sana ya! berbahaya"
"Tapi saya perlu menenangkannya pa, saya perlu berbicara dengannya" kata Melati.
"Tunggu di sini saja, biar papa yang masuk, kamu berbicara dengannya nanti saja kalau dia sudah ditangkap" kata dokter Erlangga.
Melati menghambur masuk ke dalam pelukan papanya dan menangis sesenggukkan.
Dokter Erlangga kemudian mengelus pelan punggungnya Melati beberapa detik kemudian, melepas pelukannya dan berkata "tunggu di sini! jaga Chery! jangan masuk! oke? Chery membutuhkan pelukanmu saat ini"
Melati pun menganggukkan kepalanya.
Melati kemudian berputar badan dan masuk ke dalam mobil dan memeluk Chery dengan sangat erat. Chery masih memakai headset yang dipasangkan oleh Raja dan masih mendengarkan lagu kartun kesukaannya jadi Chery tidak bisa mendengar teriakannya Claudia.
Claudia kembali berdiri di depannya Moses sambil menjambak rambutnya. Claudia menangis histeris.
"Kamu brengsek Mo! kamu jahat! kamu bawa pergi anakku!" Claudia menangis deras di depannya Moses. "tolong ijinkan aku membawa Chery, kita bina keluarga kecil kita ya, Mo. Kita pergi dari sini, pergi jauh, bertiga saja" kata Claudia.
Moses merasa nggak tega melihat Claudia tapi Moses hanya diam mematung dan terus bersedekap.
"Kenapa kamu diam saja! jawab!!!" Claudia mulai berteriak ke arah Moses dengan sangat lantang.
"Harusnya tidak kau tinggalkan begitu saja anak kamu di depan rumahku, dasar egois, dasar kejam!" Moses justru geram dan kesal melihat tingkahnya Claudia.
"Aku mengejar mimpiku! agar aku sepadan dengan kamu apa kamu ngerti hah! aku lakukan semua demi kamu! dasar brengsek!"
"Cih! aku bahkan tidak pernah meminta kamu untuk melakukan itu semua!" Moses menjadi semakin kesal.
Claudia langsung menyambar pisau dapur yang terletak di atas meja yang berada di dekatnya, Claudia langsung menyerang Moses dengan pisau tersebut.
Dengan sigap dan cekatan Moses berhasil mematahkan serangannya Claudia dan Moses langsung memegang kedua tangannya Claudia dan mendorong Claudia untuk melangkah keluar dari pondok itu.
__ADS_1
Dokter Erlangga tidak jadi melangkah masuk ketika melihat Moses telah keluar dari dalam pondok sambil memegang kedua tangannya Claudia yang terus meronta dan berteriak mengumpat.
Polisi langsung menghampiri Claudia dan memborgol tangannya Claudia.